
“Apa kau yakin?”tanya Hans.
“Ya aku yakin. Ini adalah negaranya dan daerah kekuasaannya. Barack yang lebih paham tentang Indonesia dan Asia.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungi Barack dulu.” Ujar Hans lalu mencoba menghubungi sahabatnya.
“Halo! Ada apa kalian menghubungiku?” tanya Barack yang menerima telepon dari Hans.
“Kami membutuhkan bantuanmu. Istri Julian berhasil melarikan diri.”
“Aku sudah tahu soal itu tapi aku tidak bisa membantumu sekarang karena aku sedang berusaha menghindari orang-orang yang mengikutiku. Aku sedang bersembunyi untuk sementara.” jawab Barack.
“Kenapa bisa begitu? Apakah kau dalam kondisi sulit?” tanya Hans yang khawatir.
“Tidak juga. Dibilang sulit juga tidak, dibilang mudah pun tidak. Tadi ada beberapa orang yang mengikutiku, meskipun aku berhasil lolos tapi saat ini aku masih bersembunyi dan memikirkan strategi.” ujar Barack.
“Apakah kau baik-baik saja disana?”
“Ya aku baik. Tidak perlu khawatirkan aku. Untuk sementara ini kami menginap dihotel.”
“Tapi masih bisakah kau mengarahkan anak buahmu untuk membantu kami?” tanya Hans lagi.
“Sudah pasti bisa. Tapi kalau aku tidak bisa.” jawab Barack.
“Kalau begitu segera perintahkan anak buahmu untuk datang menemui kami.”
“Oke akan kuhubungi mereka segera!”
“Ok. Kami menunggu kabar darimu. Jaga dirimu baik-baik dan berhati-hatilah.”
Telepon terputus dan secepat mungkin Barack mengirimkan pesan pada anak buahnya untuk mengurus semua yang diinginkan oleh Hans.
“Apa kau sedang dalam masalah?” tanya Sarah yang terbangun.
“Oh kau sudah bangun? Kau lapar?” tanya Barack.
Sarah menggelengkan kepala.
“Apa kau membutuhkan sesuatu? Kau mau minum?” tanya Barack sambil mendekat.
“Sebenarnya kita mau kemana?”
“Kenapa kau bertanya? Apa kau takut padaku?” tanya Barack lagi. “Kenapa kau malah tersenyum?”
“Kau mau aku bantu mengobati lukamu?” tanya Sarah yang melirik keluka di tangan Barack.
“Tidak usah. Aku tidak apa-apa, lagipula aku sudah mengoleskan obat dilukaku. Lihatlah sudah kuperban. Nanti aku akan mengeluarkan timah panasnya.” ucap Barack tersenyum.
“Aku bisa membantumu kalau kau mau. Itupun kalau kau percaya padaku.” ucap Sarah menatap pria itu.
“Baiklah kalau memang itu mau mu.” Barack mengambil kotak P3K diatas meja yang selalu dibawanya lalu membuka kotak itu.
“Mendekatlah biar kuobati.” dengan telaten gadis kecil itu melihat luka Barack lalu membersihkannya dan mengambil sesuatu dari sana. “Apa terasa sakit?”
Barack menggelengkan kepala. “Terima kasih atas bantuanmu.” ucap Barack dengan menyunggingkan senyum.”Dari mana kau belajar melakukan ini?”
“Aku belajar sendiri untuk berjaga-jaga seandainya kakakku terluka maka aku bisa mengobatinya.” ucap gadis itu pada Barack.
“Hem….kau tidak takut padaku? Apa kau tidak khawatir kalau aku akan berbuat jahat padamu?” tanya Barack lagi.
“Tidak mungkin kau akan berbuat jahat padaku. Jika kau memang orang jahat, kau sudah melukaiku sejak tadi.” kata Sarah menggelengkan kepalanya.
“Kau gadis yang pintar Sarah! Supaya kau tahu, aku juga bukan orang baik.” jawab Barack dengan senyum diwajahnya menatap gadis cantik itu.
“Aku tahu. Tapi kau tidak akan melukaiku kan?”
“Kau tidak takut?”
“Meskipun aku takut, bagaimanapun aku harus menghadapimu. Kita mau pergi kemana setelah ini?” tanya Sarah yang tadi tiba-tiba dibawa lari oleh Barack dari asrama sekolahnya tanpa sempat menjelaskan apapun padanya.
“Apakah kakakku aman?”tanya Sarah agak khawatir.
Barack meliriknya dan mengangguk. “Kau tidak perlu mencemaskan kakakmu. Dia baik-baik saja, dia yang mengirimku untuk melindungimu.” jawab Barack.
“Terimakasih. Aku harap kau menjaga kakakku dengan baik.”
“Bukan aku yang menjaganya tapi ada orang yang lebih hebat dariku yang menjaga kakakmu.” ujar Barack menjelaskan pada gadis kecil itu.
“Apakah dia seorang pria? Apa dia mencintai kakakku?” tanya Sarah lagi.
“Ha ha ha ha….” Barack yang sedang duduk ditempat tidurpun tertawa mendengar pertanyaan konyol gadis itu.
“Kenapa kau tertawa? Apa pertanyaanku lucu?”
“Tidak lucu. Aku hanya heran saja melihat anak seumurmu yang sudah tahu soal cinta.”
“Pastilah aku tahu soal cinta, seperti kakakku yang mencintaiku.”
Ucapan Sarah yang polos dan apa adanya membuat Barack tergelitik lalu melirik Sarah yang duduk disampingnya. “Kau belum mengantuk?”
“Aku sudah tidur lama tadi saat kau membiusku.” ujar Sarah.
“Maafkan aku. Tidak seharusnya aku melakukan itu tapi aku hanya jaga-jaga saja dan ingin cepat-cepat membawamu pergi dari sana tanpa masalah. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan apapun dan hanya dengan cara membiusmu aku bisa membawamu.”
“Tidak masalah. Aku paham kok kenapa kau melakukan itu karena kau tidak mau aku melihat kejadian itu dan ketakutan, iyakan? Sekarang aku tidak mengantuk.”
“Apa kau ingin aku temani mengobrol?” tanya Barack lagi.
“Boleh, kalau kau tidak keberatan.” Sarah menjawab sambil melemparkan senyum manis pada Barack.
“Coba kau ceritakan padaku apa saja yang telah dilakukan kakakmu Bella sehingga kau bilang kakakmu mencintaimu.”
“Ah maaf. Aku lupa kalau kau memanggil kakakku dengan nama Bella.”
“Maksudmu?” tanya Barack mengeryitkan dahinya.
“Sudahlah tidak perlu dibahas. Intinya, aku bisa hidup sampai sekarang karena kakakku.”
“Bisa kau ceritakan lebih jelas lagi padaku?” tanya Barack yang penasaran seperti apa sosok Bella.
“Kakak yang mengurusku sejak ibu meninggal. Aku masih bayi saat itu. Dia yang mengasuhku sampai besar dan mengajariku menulis dan membaca karena aku tidak pintar di sekolah. Kakakku sangat pintar tapi nasibnya saja yang kurang baik.” jawabnya melirik Barack.
“So?”
“Apa kau ingin mendengar kisah tentang kami?”tanya Sarah tersenyum.
Barack menganggukkan kepala. “Ceritakan semuanya padaku, aku mau dengar.”
“Waktu itu aku masih dibangku sekolah dasar dan tiba-tiba kakak meninggalkan rumah.”
“Apa kau tahu kemana dia pergi?” tanya Barack.
“Tidak tahu. Setelah kakakku pergi, aku hidup sendiri karena ayah selalu diluar dan ayah tidak pernah menyayangiku, sepertinya ayah tidak terlalu peduli padaku. Dia tidak mempedulikanku seperti kakak yang sangat peduli dan menyayangiku. Untunglah kakak kembali padaku, aku senang sekali waktu itu.” Sarah tersenyum menceritakan perjalanan hidupnya.
Barack merasa gelisah setiap kali melihat senyum manis dan polos Sarah. ‘Gila! Sadar diri Barack! Apa yang sedang kau pikirkan, ha? Usiamu dan gadis itu terpaut jauh dan aku harus menjaganya seperti adikku sendiri. Dante pasti akan membunuhku kalau aku sampai melakukan hal buruk pada gadis ini.’ gumam Barack dalam hati. Usia Barack saat ini dua puluh enam tahun dan dia adalah anggota termuda dari klub sedangkan Dante berusia sembilan tahun diatas Barack.
“Apa sekarang kau senang karena Bella sudah kembali?”
“Ehem….ya aku senang sekali. Dia sangat mencintaiku dan selalu melindungiku. Saat kami kesusahan ada orang yang datang kerumah menagih hutang dalam jumlah yang besar. Lalu mereka membawa kak Belinda tapi untungnya mereka mengembalikannya lagi. Kata kakak, dia hanya perlu membayar hutang setiap malam saja.”
“Oh jadi begitu ceritanya.” ujar Barack yang akhirnya mengerti kenapa Bella berakhir ditempat itu.
“Aku tahu apa yang dilakukan kakak tidak baik tapi demi melindungiku dia bekerja disana. Pekerjaan yang tak layak bagi wanita baik-baik, tidak seharusnya kakak melakukan pekerjaan itu.”
“Jadi kau tahu pekerjaan kakakmu?”
“Ya aku tahu. Aku tak sengaja mendengar saat ayah akan menjualku kalau kak Belinda tidak mau memberi uang pada ayah.”