PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 186. MENGOBATI BELLA


“Apa dia melakukan kesalahan?”


“Mungkin juga tapi aku memang tidak tahu!” setelah itu tidak ada lagi percakapan diantar mereka. Dokter itu fokus mengobati luka-luka ditubuh Bella.


“Bagian belakang sudah selesai dioleskan obat. Sekarang bagian depannya!” ujar dokter itu.


“Berarti kita bisa memindahkannya ke tempat tidur?”


“Iya!” dokter itu mengangguk, “Ayo bantu aku memindahkannya.”


“Aku kuat sendirian mengangkatnya.” ucap Anthony dan dia membawa tubuh Bella lalu merebahkannya ditempat tidur. “Luka dibelakang itu kalau ditindih, apa tidak masalah?” tanya Anthony merasa khawatir.


“Tidak! Luka di punggungnya kan sudah aku perban. Besok akan dibuka lagi perbannya dan setiap hari harus dibersihkan dan diolesi obat lalu perbannya di ganti supaya tidak infeksi.”


“Ah, baiklah!” Anthony perlahan mengatur posisi berbaring Bella ditempat tidur.


“Tubuh bagian depan juga banyak luka walaupun tak seburuk bagian belakang. Tapi sejujurnya tubuh wanita ini cukup indah. Dia juga sangat cantik.” dokter wanita itu meringis.


“Kau ini perempuan tapi masih bisa melihat tubuh wanita lain.” seloroh Anthony.


“Tentu saja aku bisa menilai tubuh wanita ini indah! Lihatlah tanpa operasi sudah secantik ini!”


Kemudian dokter wanita itu menggelengkan kepalanya, “Sayang sekali ya sudah dipukuli sampai seperti ini. Kejam sekali!” celetuknya mendekat dan memberikan obat pada tubuh bagian depan. “Sudah selesai!” ucapnya setelah menutup semua luka-luka Bella.


“Terimakasih Dokter Anna!”


“Aku memberikan dua infus padanya ya. Satu infus ini berisi nutrisi makanan dan satu ifnus lagi adalah darah karena dia kehilangan banyak darah.”


Anthony tak bicara lagi, didalam hatinya dia berulang kali mengucap syukur. “Golongan darahnya A!” dokter Anna mengecek lebih dulu baru dia mengambil sebuah tas berisi banyak darah mencari golongan darah yang sesuai dengan Bella.


“Apa kau sudah mengecek rhesus darahnya positif atau negatif?” tanya Anthony balik.


“Sudah! Dia rhesus negatif. Aku sudah mencampur darahnya dengan antigen juga.”


Anthony mengangguk dan membiarkan dokter itu melakukan pekerjaannya, dia tak lagi mengajukan pertanyaan apapun lagi.


‘Huh! Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang membersihkan luka-luka itu sendirian. Kayaknya aku ngak bakalan sanggup sampai bersih dan serapi itu. Untuk mengobati lukanya saja tadi hampir dua jam. Dan sampai sekarang dia masih belum bangun juga! Ada apa dengannya?’


“Apa ada yang ingin kau tanyakan Anthony?”


“Kenapa dia belum bangun juga?” Anthony menanyakan sesuatu yang mendasar.


“Biarkan saja dulu. Dia sudah diinfus dan sudah tambah darah juga. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi. Biarkan saja dia istirahat dulu.”


“Benarkah dia tidak apa-apa?” Anthony kembali mengulang pertanyaan untuk menyakinkan dirinya.


“Ya. Dia sudah diinfus jadi tidak apa-apa. Nanti kalau sudah bangun, baru berikan dia makanan ya. Mintalah seseorang untuk menjaganya disini supaya dia tidak panik saat bangun nanti.”


“Aku saja yang menjaganya disini.” jawab Anthony.


“Kau?” Dokter Anna meliriknya.


“Hem! Aku akan menajagnya! Hanya aku yang dia kenal, kalau aku pergi maka dia akan panik melihat orang yang tak dikenalnya berada disini. Apalagi saat aku membawanya, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri tadi malam.”


“Baik, aku mengerti! Jadi tidak ada lagi yang perlu aku perhatikan kecuali mengamatinya sampai dia bangun, bukan?”


“Iya! Setelah dia bangun nanti jangan diajak dia bicara dulu, jangan tanyakan dulu apa yang terjadi padanya tapi cobalah mengikuti alurnya saja, apa yang dia inginkan! Dengarkan saja semua ucapannya dan tunggu sampai dia siap bicara denganmu. Apa masih ada yang ingin kau tanyakan lagi?”


“Aku paham! Aku tidak akan bertanya lagi dan aku akan biarkan dia menyesuaikan diri dengan lingkungan disini, benar bukan?”


Dokter mengangguk, “Dan berikan dia obat ini jika dia mengamuk atau dia merasa tidak tenang.”


“Aku langsung suntikkan ke infusnya?” tanya Anthony mengambil obat dari dokter.


“Iya! Langsung saja masukkan ke infusnya nanti.”


“Baik, dokter. Ada yang ingin kau tanyakan padaku?” tanya Anthony.


“Ha ha ha….harusnya kau yang bertanya padaku Anthony!”


“Kemarin saat aku bertemu dengannya dan menyelamatkannya, dia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tidak bicara stau katapun padaku, dia hanya diam saja! Aku tidak tahu harus bagaimana untuk meresponnya tapi aku sudah coba untuk terus mengajaknya bicara sepanjang perjalaan kami/ Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Dia tidak membuka mata dan tak bicara padaku.”


Anthony menatap dokter Anna dengan tatapan tajam setelah mengutarakan isi hatinya.


“Kau pernah mengalami taruma, Anthony?”


“Tidak! Apa dia mengalami trauma?”


“Iya!” dokter anna menganggukkan kepalanya, “Itulah ciri-ciri trauma, dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan dia akan depresi. Sesuatu yang ditakutinya menjadi kenyataan dan dia tidak siap, itulah yang menyebabkannya jadi seperti ini.” dokter Anna menghembuskan napas kasar menatap Anthony, “Apa mungkin sebelumnya dia pernah mengalami trauma?”


“Biasanya kalau dia sampai melihat tapi tak mau merespon, itu karena trauma dari rasa sakit dan ketakutan yang terjadi sebelumnya, Anthony! Sepertinya dia pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya. Kau mengerti maksudku?”


“Hem! Jadi sebelum kejadian kemarin dia sempat mengalami trauma dan keadaan dalam ruangan itu yang membuatnya kembali ke masa lalu, begitu?” Anthony mengambil kesimpulan dari ucapan dokter ana dan dia mendapat jawaban anggukan serta senyum.


“Oh no! Apa dia bisa sembuh?” tanya Anthony serius dengan wajah menegang.


“Tergantung bagaimana dia membawa dirinya! Kalau hanya luka fisik saja, aku rasa itu akan sangat mudah untuk disembuhkan tapi kalau dia sampai ke psikis itu tergantung bagaimana dia mau keluar dari rasa traumanya. Apa yang menyebabkan dia mau keluar dari dunia itu! Bagaimana dia mengendalikan semua rasa takutnya dan dukungan orang-orang sekitarnya.”


Anthony menyugar rambutnya ke belakang lalu menghela napas dalam-dalam.


“Ada masalah Anthony?” tanya dokter anna kembali sambil mengeryitkan dahinya.


“Ada! Jadi maksudmua, aku tidak boleh bersikap kasar padanya atau melakukan tindakan seperti menjadikannya umpan untuk mengeluarkan penjahat, begitu?”


“Ya, tentu saja! Aku rasa untuk hal-hal seperti itu kau tidak bisa melakukannya sekarang Anthony! Segala hal yang bisa memperburuk keadaannya sebaiknya dijauhkan. Jangan membuatnya stress dan tertekan karena kita tidak tahu trauma apa yang dia miliki sebelumnya.” Dokter Anna meringis dan menggelengkan kepalanya.


“Jadi maksudmu, aku harus menyembunyikannya sampai dia  benar-benar sudah sembuh?”


“iya! Tunggulah sampai dia sembuh total, tunggu sampai traumanya hilang baru kau bisa melakukan semua itu. Karena kalau sampai kau menjadikannya umpan untuk memancing seseorang dengan kondisi traumanya ini maka akan sangat berbahaya sekali untuknya. Bukan saja kau yang akan bermasalah tapi juga wanita itu! Karena kau tidak tahu kapan wanita itu akan membuka dirinya!”


“Aku tidak paham maksudmu!”


“Begini Anthony! Saat ini dia menutup dirinya, dia tidak mau bicara dengan orang-orang disekitarnya karena tidak ada yang menariknya! Tapi ketika dia sudah tertarik pada satu hal, dia susah untuk membuka matanya dan dia akan berusaha menggapainya. Sesuatu yang sangat dirindukan yang diinginkan biasanya itu berhubungan dengan keluarga. Kau paham maksudku kan?”


Anthony kembali menggelengkan kepalanya masih tak mengerti.