PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 216. HANYA MENGINGAT DANTE


‘Laki-laki itu sudah menyiksamu tapi kenapa nama itu terus yang kau ucapkan dibibirmu? Aku tidak mengerti. Aku sudah menyelamatkanmu darinya dan dia hampir saja membunuhmu diruangan itu. Apa kau ingin bercerita tentang perbuatan buruknya padaku makanya kau terus saja menyebut namanya? Mungkin memang begitu ya?’ gumamnya dihati.


 Anthony masih saja terus bicara pada Bella meskipun wanita itu tak merespinnya. Sudah berulang dia mendengar nama Danye disebutkan.


“Kau masih trauma dan kesulitan bicara, kau butuh waktu untuk sepenuhnya pulih dan sadar.” Anthony mencoba mengartikan maksud Bella yang terus saja menyebut nama Dante.


“Dante!” lagi-lagi nama itu kembali disebutkan Bella diiringi airmatanya yang tiba-tiba mengalir deras membasahi wajahnya.


“Bella, kau tidak apa-apa? Bicaralah padaku kalau kau ingin meluapkan semua keluh kesahmu tentang Dante!” ujarnya.


“Dante!” tak ada kata lain yang terucap dari bibir Bella hanya nama itu saja yang masih terus bergulir dari bibirnya walaupun Anthony sudah memberikan banyak pertanyaan padanya. Hal itu membuat Anthony merasa semakin bingung. ‘Apa dia butuh psikiater? Mungkin ada sesuatu yang ingin dia ceritakan tentang Dante, tentang alasan kenapa dia disiksi!’ gumam hati Anthony.


‘Atau apakah Bella mencintai Dante dan ingin bertemu dengannya? Apa dia sudah gila mencintao pria yang sudah menyisanya begitu?’ Anthony pun semakin tak mengerti.


“Bella, apakah kau ingin bertemu dengan Dante?” Anthony memberanikan diri bertanya dan saat Bella mendengar ucapan pria itu, dia langsung diam sejenak menatap Anthony dengan serius.


“Dante!” setelah beberapa menit dia kembali mengucapkan nama itu. Tatapan mata Bella lurus ke depan dan sama sekali tak ada binar dimatanya, kosong tapi bibirnya memanggil nama pria itu.


 Anthony semakin tak mengerti dan hanya memandangi Bella berusaha untuk memikirkan sesuatu karrna dia tak tahu harus bagaimana lagi sekarang.


“Bella, aku tidak mengerti,” Anthony menggaruk dahinya yang tidak gatal, “Dia sudah menyakitimu dan membuatmu sekarat, kau hampir mati diruangan itu. Tapi saat kau sadar justru kau ingin bertemu dengannya?” pria itu mengerutkan dahinya.


“Dante!” lagi-lagi Bella menyebut nama itu.


“Oke Bella. Aku mengerti kau ingin bertemu dengan Dante, iyakan? Kalau salah anggap saja perkiraanku ini benar tapi sekarang kau dengarkan aku baik-baik. Kau tidak mungkin bertemu Dante sekarang.” Anthony menghela napas.


“Dante tidak bisa lagi bertemu denganmu! Kita berada jauh dari tempatnya, ratusan kilometer jauhnya dan kau belum sembuh sekarang. Kalau kau sudah sembuh kau bisa bertemu dengan Dante. Mengerti?”


“Dante?”


Hmmm…..aku sudah mendengar ratusan kali kau menyebut namanya selama satu jam.” Anthony mengangguk-anggukkan kepala. “Kau akan bertemu Dante tapi mungkin pertemuan itu tidak mudah Bella. Jika Dante ingin bertemu denganmu maka dia harus menyerahkan dirinya. Jika dia sudah menjalankan hukumannya baru kau bisa bersamanya lagi.”


“Tapi sekarang aku akan merekam video mu oke? Dan kita akan mengundang Dante datang kesini untuk melihatmu. Bagaimana tanggapannya jika melihat videomu?” Anthony bicara sendiri karena Bella masih tidak meresponnya.


“Dante?” Bella terus-terusan memanggil nama Dante sehingga mempermudah Anthony merekam video dan semuanya tampakalami.


“Kau ingin bertemu dengan Dante? Aku akan mewujudkannya Bella!” ucap Anthony pada wanita itu.


Bella masih terus menyebut nama Dante dan memegang erat ujung selimutnya, wajahnya masih panik dan nama itu terus saja bergulir dari bibirnya, Dante! Dante! Dante! Hingga membuat kepala Anthony jadi pusing mendengarnya.


“Fuuuh!” pria itu tersenyum getir. “Sebenarnya aku tidak ingin menggunakan cara ini Bella! Tapi entah kenapa kau terus saja menyebut nama Dante justru memberiku kesempatan untuk merekamnya dan menjadikan video ini sebagai senjataku. Bukan salahmu tapu aku juga tidak tahu ada hubungan apa kau dengan Dante,” ujar Anthony menatap Bella.


“Tapi kita bisa lihat apakah Dante memang peduli padamu atau tidak, aku akan menggunakan video ini untuk menariknya datang kesini!” ucap Anthony lagi.


“Haaahhhh sebegitu pentingnya kah Dante bagimu Bella?” Anthony menghela napas, “Sabar ya Bella kita lihat saja seberapa peduli dia padamu!” Anthony menegaskan lagi dan berdiri.


“Kau mau makan sekarang? Kau belum makan apapun, hanya nutrisi dari infusan saja yang masuk ketubuhmu. Sekarang kau sudah sadar, harusnya kau makan.”


Bella tetap tidak merespon, dia masih menatap Anthony dengan ketakutan membuat pria itu semakin sakit kepala.


“Tunggulah disini sebentar ya. Aku akan mengambilkan makanan untukmu dan mengirimkan video ini pada Dante.” ucap Anthony yang sudah berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Bella sendirian didalam kamar itu.


“Fuuhhh!” Anthony mengerutkan dahinya, “Wanita itu agak aneh!” ujarnya tertawa kecil. “Apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan Dante setelah disiksa sejauh itupun dia masih saja memanggil nama pria itu. Dari caranya memanggil, aku melihat ada rasa yang terpendam untuk pria itu!” Anthony berusaha berpikir tapi dia masih belum mengerti jalan pikiran Bella.


“Aku mengeluarkannya, menyelamatkannya, menyusuri jalan sejauh tujuh kilometer dengan taruhan nyawa dimakan serigala liar tapi dia tidak mengingat itu sama sekali dan tidak berterimakasih padaku. Eh...malah memanggil nama orang yang menyiksanya! Apa aku salah telah menyelamatkannya? Ah, sudahlah!” Anthony menggelengkan kepala dan berjalan menuju dapur.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan?”


“Bella sudah sadar, tolong buatkan bubur untuknya. Kalau sudah siap berikan padaku.”


Canta pun menganggukkan kepala, “Baik Tuan.”


Dreeetttt dreeeettttt dreeeettttt


Disaat bersamaan handphoneynya bergetar, ‘Ah, kau seakan tahu kalau aku ingin menghubungimu ayah!’ gumamnya didalam hati smabil tersenyum kecil.


“Hali Jenderal Robert Kane.”


“Anthony Kane! Kenapa kau memanggilku seperti itu?”


“Aku hanya ingin memanggilmu begitu ayah. Ada apa meneleponku?” Anthony berjalan menjauh dari dapur agar tidak didengar oleh para pelayannya.


“Hem….aku hanya ingin bertanya padaku apa kau disitu sudah siap untuk membawanya keluar?”


“Biarkan dia tetap disini ayah! Aku tidak terlalu ingin melibatkannya ke lapangan. Tapi aku punya rekaman yang bisa membutamu mungkin bisa dengan mudah mendapatkan Dante.”


“Benarkah? Bisa kau kirimkan padaku?”


“Tunggulah, aku akan mengirimnya padamu.”


“Aku tunggu. Tiga puluh menit lagi aku akan mengadakan penyerangan, ada penyergapan transaksi jual beli senjata yang dilakukan anak buah Dante! Kami masih menunggunya.”


“Ayah, bukankah itu terlalu berlebihan? Kau akan kalah ayah, kenapa harus mengorbankan nyawa anak buahmu?” tanya Anthony mengeryitkan dahinya merasa aneh.


Sejujurnya dia menolak penyerangan yang ingin dilakukan oleh Jenderal Robert, berdasarkan pengalaman selama ini mereka tidak pernah berhasil, malah banyak sekali nyawa anak buah Jenderal Robet yang melayang. Tapi entah kenapa pria itu seperti tak peduli dan terus saja melakukan penyergapan sehingga korban jiwa di pihaknya pun semakin bertambah pula.