PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 557. MEREBUT PESAWAT


“Ya sudah. Sekarang kita menuju ke helikopter.” Dante bicara dan mereka langsung mengarah ke landasan yang tadi ditunjukkan oleh Barack.


“Lihatlah, itu tempatnya Dante. Dan pria yang berjalan bolak balik itu pasti pilotnya.”


“Baiklah, kita akan masuk kesana. Darimana kita tahu kalau dia bukan android?” tanya Anthony.


“Kita akan uji coba dulu.” jawab Manuel.


“Kalau pilot yang android dia pasti bisa mendengar apa yang sudah aku persiapkan.” lalu dia mengklik. “Kita akan menyerang sekarang.” ucap Dante.


“Kau yakin kita akan menyerang sekarang Dante?” tanya Manuel lagi.


“Ini satu-satunya kesempatan kita menuju ke helikopternya.” kata Dante, “Hei lihatlah reaksinya.” dia melihat hanya ada pilot itu saja disana bersama beberapa orang lainnya.


“Sepertinya dia tidak mendengar kita.” kata Manuel.


“Aku juga tidak tahu. Seingatku pilotku dulu juga tidak banyak bicara dan tidak ada masalah apapun. Tapi tiba-tiba saja dia berubah menjadi android. Kita harus tetap waspada.” kata Dante.


“Yang penting sekarang kita ambil alih pekerjaannya.”


“Tunggu dulu! Apakah itu pesawat yang akan digunakan Jeff untuk melarikan diri?”


“Ya jelas dia mengatakan helikopter.” Dante bicara tapi dengan suara sangat lirih.


“Kau yakin dia tidak ada di pesawat itu?” tanya Barack.


“Aku rasa tidak.” Dante memastikan.


“Bagaimana kalau kita bagi dua tenaga kita? Satu di pesawat itu dan satu lagi di helikopter.” Barack memberikan saran.


“Tidak! Aku tidak menyarankan itu.” Dante bicara sambil menatap Manuel. “Aku akan menjadi co-pilot dan Barack yang menjadi pilotnya.


“Lalu apa yang kau rencanakan selanjutnya?” tanya Manuel lagi.


“Kalian berdua naik setelah pesawat itu akan berangkat. Disaat aku mulai menaikkan pesawatnya.” Dante pun menjelaskan rencananya pada teman-temannya.


“Baiklah kalau begitu tidak perlu lama-lama.” ujar Barack menganggukkan kepala.


“Aku juga tidak mau lama-lama. Aku ingin mengakhiri semua ini. Menyelesaikan semuanya dan membangun kehidupanku dengan keluarga baruku.” kata Dante.


BUG!


Dante melancarkan satu pukulan keras pada co-pilot yang membuatnya langsung pingsan. “Amankan dia!” perintah Dante.


“Kau yakin tidak ada orang lain di pesawat ini?”


“Tidak! Mereka semua sedang fokus ke depan dan melindungi Jeff. Kita masih selamat disini.” ucap Dante yang dari tadi menggunakan drone. Dan dia melihat kalau semua anak buah Jeff sedang fokus menghadapi pasukan FBI yang tidak ada habis-habisnya.


Saat ini Dante mendapatkan banyak keuntungan. Kemudian Dante dan Barack pun mengganti pakaian mereka dan langsung menuju ke pesawat.


“Pesawat yang satunya itu kenapa tidak ada orang disana ya?” celetuk Barack.


“Belum ada pilot yang kesana juga.” sahut Dante lagi saat mereka sudah keluar dengan mengenakan baju pilot.


“Dante, apa kau yakin kalau diikat seperti itu saja cukup?” terdengar suara Manuel di earspiece.


Dante tidak tahu dimana keberadaan Manuel saat ini tapi dia bisa mendengar jelas suara petir.


“Aku yakin.” jawab Dante.”


“Lihatlah itu mereka semua sudah datang.” teriak Barack.


Keduanya memakai masker yang menutupi sebagian wajah mereka. “Apa yang akan kau lakukan padanya Dante? Apa kau akan membunuhnya diatas pesawat?”


“Tidak! Bukan itu yang aku inginkan. Lagipula kita belum bisa membunuhnya. Mungkin kau masih membutuhkan retina matanya atau sidik jarinya kan?” kata Dante lagi.


Keduanya saling berkomunikasi menggunakan alat canggih milik Barack yang tadi diberikan kepada teman-temannya. Sehingga orang lain tidak akan bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


“Hmmm! Kau ada benarnya juga Dante. Aku yakin retina mata dan sidik jarinya akan dibutuhkan untuk mematikan semua manusia android itu.” sahut Barack lagi.


“Ya, robot-robot itu harus dihancurkan semua. Karena itu aku akan menggunakan cara lain untuk membunuhnya nanti, sesuatu yang spesial untuknya.” kata Dante tersenyum tipis.


“Ini kejahatan manusia terbesar Dante! Kau yakin tidak mau menyerahkan dia kepada petugas hukum saja? Biarkan mereka yang menghukumnya.”


“Aku tahu Barack! Aku rasa tidak akan seperti itu. Kau tahu apa status kita di hukum kan? Bagaimana cara mereka mengatasi orang sepertinya?” Dante menegaskan kepada Barack dengan senyum kecilnya. Lalu dia memindai Barack sebentar dan berkata lagi, “Dia akan mati ditanganku hari ini.”


“Hei! Kalian berdua jangan banyak bicara. Telingaku pekak ini! Jangan bilang masalah mati dan pembunuhan terus. Lama-lama kau mendoktrin jadi pembunuh.”


Anthony berkomentar karena dia tidak suka terlalu banyak membicarakan masalah kekerasan. Itu sangat mengganggu konsentrasinya sehingga dia protes. Dan posisi Anthony saat ini sedang berada didalam pesawat bersama Manue yang sudah masuk lebih dulu untuk mengamankan tempat mereka.


“Iya, kami akan diam.” sahut Barack.


Disaat bersamaan Jeff sudah naik keatas pesawat dengan dua orang ilmuwan yang mengikuti dibelakangnya. Mereka berjalan cepat dan terburu-buru dengan wajah serius.


“Siapa dua pria itu?” tanya Anthony.


“Mereka adalah ilmuwan kepercayan Jeff.” jawab Manuel yang baru saja duduk di pesawat. Tadinya dia duduk bersebelahan dengan kedua ilmuwan itu tapi kemudian dia merubah posisinya duduk didekat Jeff.


Dia punya kepentingan sendiri disana sehingga dia mulai mencari tempat paling strategis.


“Anthony, kau dan Manuel sudah naik kepesawat?” Dante memastikan. Mereka tidak bisa saling melihat apalagi Anthony sudah mengaktifkan hologram di jam tangannya.


“Sudah. Aku duduk disamping dokter ini.” jawab Anthony.


Anthony dan Manuel tidak mau mencari masalah untuk duduk dikursi. Walaupun mereka tidak terlihat namun tubuh mereka masih bisa diraba.


“Tunggu! Jangan berangkat dulu. Biarkan pesawat itu berangkat lebih dulu.” tiba-tiba Jeff memprotes saat Barack akan menghidupkan mesin pesawat. Jeff memiliki rencana lain saat ini.


“Anda akan menerbangkannya sekarang Tuan Jeff?” tanya ilmuwan.


“Tentu saja. Drone itu harus diterbangkan. Ini bukan pesawat yang memiliki awak. Jadi biarkanlah pasukan FBI yang mengikutinya. Aku akan mengarahkannya ke samudera Atlantik! Dan aku akan megajak mereka berputar disana hingga mereka kehabisan bahan bakar dan akhirnya jatuh kelaut.” Itulah yang direncanakan oleh Jeff yang didengar oleh Dante dan teman-temannya.


“Lihatlah pesawat yang sudah berangkat itu. Aku yakin mereka akan segera mengikutinya.” ucap Jeff. Dia menyalakan laptopnya dan memasukkan sidik jarinya dan mengaktifkan drone itu. Semua yang dilakukan Jeff diperhatikan oleh pria yang ada dibelakangnya yang tak dapat dilihat Jeff.


“Sekarang baru jalan!” perintah Jeff. Barack pun segera mengendarai helikopter itu.


“Kita akan pergi ke vila ku. Cepatlah bawa aku kesana secepatnya. Itu tempat teraman saat ini.” kata Jeff lagi memberikan perintah kepada pilotnya. Dia masih belum tahu kalau Barack lah pilotnya.


“Dante, kau tahu dimana vila itu berada?” tanya Barack.


“Peduli amat dengan itu Barack! Kita bukan ingin pergi kesana. Memangnya kau pengikutnya dan harus mengikuti semua perintahnya?” protes Dante.


“Hehehee aku lupa.” Barack terkekeh.


“Barack, jangan bercanda. Kita harus tetap fokus sekarang!” ucap Anthony.


“Nah, sekarang kemana aku harus membawanya?” Barack bertanya lagi  karena dia pun tak tahu dimana lokasi vila Jeff itu.


“Bawa nak pesawat ini dulu. Nanti akan kita pikirkan dimana kita akan turun.” ucap Dante. Barack pun mengangguk dan menaikkan helikopter itu.