
“Kenapa kau memotong pembicaraanku terus hah?”
“Sssshhhh! Aku tidak ingin membahas masalah apapun sekarang Dante! Yang aku inginkan hanya fokus untuk menyelamatkan Anna.” jawab Anthony yang terlihat sangat cemas.
‘Aku tidak mau membahas tentang hubungan persaudaraanku dengannya dan tentang orangtua kandungku! Karena ini akan menimbulkan sakit hati yang lebih dalam pada Robert Kane!’
Anthony banyak berpikir tentang semua hal yang terjadi padanya. ‘Aku juga tidak memberitahu Dante bagaimana pria itu memperlakukanku ketika aku kecil! Aku tidak mau Dante berpikir untuk membunuhnya lebih kejam lagi! Biarlah itu menjadi rahasiaku sendiri dan aku tidak mau memperpanjang masalah ini.’ bisik hati Anthony.
Saat ini dia berusaha berbuat baik pada Robert Kane meskipun sikap pria itu tidak sebaik yang diceritakan Anthony pada Dante. ‘Kadang tidak semua hal harus dihakimi di dunia ini. Biarlah itu menjadi urusannya dengan Tuhan nanti dan aku tidak mau Dante mengotori tangannya dengan darah pria itu hanya karena masalahku.’ bisik hati Anthony lagi.
“Kita kerumahku sekarang.” suara Dante kembali memecah keheningan.
“Mau kita kerumahmu?” Anthony memandang Dante tak sabar dalam pikirannya hanya ada Anna dan ini membuat Anthony menjadi semakin gusar.
“Barack temanku! Dia meminta kita untuk menunggu sampai besok. Dia sudah merencanakan sesuatu untuk Jeff! Jadi kita menunggunya.”
“Dante! Aku tidak bisa menunggu lagi!”
“Aku tahu. Tapi percayalah, dia tidak akan kenapa-napa. Barack itu temanku dan tadi dia yang menghubungiku dan dia disana tidak bekerja sendirian. Jadi wanitamu akan tetap aman.”
“Benarkah Dante?”
“Ya, apalagi karena Barack sekarang sudah tahu kalau Bella yang ada disana adalah Bella yang palsu. Pasti dia akan mengajak wanita itu bekerja sama. Jadi kau tidak perlu ketakutan begitu.”
“Baiklah kalau semua yang kau katakan itu memang benar!” Anthony bicara sambil menahan detak jantungnya yang tidak normal karena memikirkan keadaan Anna.
“Setelah ini aku mau kau menunggu dirumahku. Biar aku saja yang membereskannya.”
“Tidak bisa Dante! Aku harus tetap ikut denganmu. Aku juga harus membereskannya dengan para penculik itu.”
“Kenapa kau tidak membereskannya dulu masalahmu dengan anak presiden itu? Setelah urusanmu selesai maka kau bisa membereskan hubunganmu dengan wanita itu.”
“Tidak Dante. Masalahnya cukup pelik.” Anthony sedikit meringis.
“Kenapa pelik? Karena kau sudah sering menidurinya, begitu?”
Anthony mengangguk, dia memilih jujur pada Dante. “Jadi kalaupun aku mencintainya, aku hanya akan mencintai Anna dalam diam. Aku tidak akan mengutarakannya dalam kata-kata. Aku khawatir dia tidak akan menerimaku karena dia tahu seperti apa hubunganku dengan anak presiden itu.” Anthony merasakan sesak didadanya saat mengatakan ini.
“Jadi kau ingin tetap berhubungan dengan anak presiden itu?” Dante menatap Anthony penuh makan dan dengan berat hati dia melihat kalau Anthony menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Aku tidak ingin melakukan itu. Tapi entahlah Dante! Aku tidak punya pilihan lain.”
Mendengar perkataan adiknya membuat Dante pun ikutan galau dan menghela napas panjang.
Dreeettttt Dreettttt Dreeetttttt
Disaat bersamaan ponsel Dante berbunyi.
“Sebentar Anthony! Aku jawab telepon dulu.”
“Ada apa kau meneleponku Henry?”
“Tuan Dante! Kita diserang!” suara Henry terdengar panik dan membuat Dante langsung berdiri dari posisinya yang semula duduk.
“Henry, bagaimana kau bisa bicara begitu? Apa yang terjadi disana?”
“Pasukan federal yang ada didepan rumah kita mulai menyerang tuan! Mereka meminta kita untuk membebaskan Jenderal Robert Kane! Atau mereka akan menghancurkan mansion ini.”
“Sialan!” umpat Dante sambil mencoba memikirkan sesuatu. “Bagaimana bisa mereka berada disana secepat itu? Apa sejak tadi mereka sudah bersiap-siap disana?”
“Saya juga tidak tahu Tuan! Mereka tiba-tiba muncuk dalam jumlah banyak. Bagaimana Tuan? Apa yang harus saya lakukan?” suara Henry terdengar semakin cemas.
“Apa yang sekarang mereka lakukan?” tanya Dante lagi yang masih berpikir.
“Mereka meminta kita memberikan pria bernama Robert Kane dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Kalau tidak maka mereka akan langsung menghancurkan tempat kita Tuan. Saya sudah melihat bagaimana persiapan mereka dan sepertinya mereka memiliki kekuatan untuk membumihanguskan mansion anda.”
“Bella!” kata itulah yang justru keluar dari bibirnya setelah dia memikirkan situasi saat ini.
“Apa yang harus saya lakukan Tuan?” tanya Henry lagi.
“Sebentar Henry! Aku akan menyuruh seseorang untuk menghubungi orang kepercayaanku.”
Lalu Dante pun mematikan teleponnya dan menatap Anthony.
“Ada apa? Apa ada masalah? Kenapa kau menatapku begitu?”
“Masalah berat terjadi. Sepertinya pihak federal memang sudah mengincar rumahku dan sekarang mereka mengancam karena Robert Kane!” kata Dante menjelaskan situasi sekarang.
“Itulah masalahnya Dante. Kau tidak tahu tentang hal ini.”
“Tenang saja! Bisakah kau membantuku untuk menyiapkan sesuatu?”
“Apa yang harus disiapkan?”
“Begini Dante! Henry, dia memiliki tinggi yang sama persis seperti Robert Kane. Postur tubuhnya juga sama persis. Jika kita bisa membuat Henry menyamar menjadi Robert Kane, aku rasa mereka tidak akan pernah tahu.” Anthony mengutarakan rencananya yang terdengar bagus.
“Benarkah?”
“Setiap kali aku memperhatikan Henry, aku sering membandingkannya dengan orang yang kupanggil ayah. Aku merasa postur mereka sama dan aku ragu kalau Henry bukan orang militer. Jadi aku rasa kita bisa menggunakannya. Bagaimana menurutmu?”
“Kalau begitu jangan buang waktu lagi. Kita akan bicarakan masalah ini dengan Henry.”
Dante pun langsung melakukan apa yang tadi direncanakan Anthony. Dia menghubungi Henry dan meminta pria itu menyiapkan topeng wajah mirip dengan Robert Kane dan menunggu sampai Nick datang.
“Jadi anda meminta saya untuk meminta pada mereka diberikan tambahan waktu selama dua jam?” tanya Henry.
“Bisakah kau melakukan itu Henry?”
“Tentu saja bisa Tuan!”
“Kalau begitu pastikan supaya Nick tidak melakukan penyerangan apapun. Aku tidak mau ada kesalahan kali ini. Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”
“Baik Tuan. Saya akan segera mempersiapkannya.”
Setelah Dante menutup teleponnya Omero pun langsung bertanya pada Henry.
“Apa kata Dante? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Dia meminta saya menyiapkan topeng wajah mirip Robert Kane, Tuan.” jawab Henry.
“Hmmm! Baguslah Henry! Lakukanlah perintah dante. Siapkan yang paling bagus, aku sudah membayangkan apa yang direncanakan Dante. Saat ini Robert Kane sudah ada di tangan mereka.”
“Selama kau masih bisa menipu mereka dengan berpura-pura sebagai Robert Kane maka kau bisa memberikan tambahan waktu kepada Dante dan memberikan bantuan untuk menyerang orang-orang federal.”
“Saya paham Tuan. Tapi permasalahannya sekarang hanya sidik jari dan retina mata.”
“Kita harus menunggu sampai Robert Kane datang dan kita akan menyalinnya. Warna matamu memang berbeda dengan warna matanya.”
“Saya sudah paham Tuan.” Henry menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu pergilah, lakukan apa yang diminta Dante.” perintah Omero yang mengerti kesulitan yang sedang dihadapi Dante saat ini.
“Tidak apa-apa kalau saya meninggalkan Tuan sendirian disini?”
“Aku disini dalam kondisi aman dan aku ada didalam bunker. Kau juga sudah memindahkan Alex kedalam bunker. Kami semua sudah dalam kondisi aman. Aku rasa tidak masalah.”
“Kalau begitu saya permisi Tuan.”
“Hmmmm! Mungkin kau akan membutuhkan bantuan dari Hans.”
Henry hanya tersenyum dan berkata, “Biarkan Hans tetap berada didalam bunker, Tuan! Karena saya harus memberikan kunci ini pada Hans. Didalam sana Nick hanya sendiri dan dia membutuhkan seseorang diluar yang bisa membuka kuncinya.”
“Ah, kau benar sekali Henry! Maaf aku sudah merepotkanmu sekarang untuk membantu Dante.”
“Anda tidak merepotkan sama sekali Tuan. Saya juga ingin membantu Tuan Dante andaikan saya punya kemampuan dan sekarang saya hanya akan melakukan yang terbaik untuknya.”
“Bagus!” Omero menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Henry pun undur diri dan dia segera menghubungi orang digerbang depan untuk memberitahukan rencana Dante dan menghubungi orang yang mengurus masalah topeng wajah diluar ruangan Omero.
“Henry, apa kau sudah menghubungi Dante?” Hans berjalan mendekat membuat Henry menoleh kearahnya.
“Sudah Tuan dan Tuan Dante mnyuruhku untuk mengerjakan sesuatu.”
“Dia menyuruhmu untuk membereskan orang-orang diluar sana?”
Tebakan Hans tepat karena Henry langsung menganggukkan kepalanya. Lalu dia pun menceritakan semua yang diperintahkan Dante padanya.
“Kalau begitu ceritanya aku akan tetap disini dan menunggu Dante sampai dia turun bukan?”
“Saya titipkan semua yang ada didalam bunker kepada anda Tuan. Karena yang bisa saya harapkan sekarang hanya ada, Tuan Hans.”
“Aku tidak akan keluar dari bunker ini sebelum Dante datang.”
“Ya, begitu memang bagus Tuan.” Henry pun merasa lega sekarang.
“Pergilah Henry! Berhati-hatilah.”