PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 58. AKU CAPEK


Senyum manis pun langsung menghilang dari wajah Bella. Dia menggeleng sambil menutupi keningnya agar tidak disentil Dante. ‘Iss…...baru dipuji kalau tubuhnya sempurna dia malah memarahiku.’ujar Bella. Saat dia melihat Dante melepaskan celana yang dipakainya, mata Bella terbelalak.


‘Aiissss…...kuatkan aku ya Tuhan! Ini cobaan terberat! Dia hanya memakai celana boxer saja sekarang? Aihhh…..kenapa tubuhnya sempurna sekali ya? Bella meremas tangannya sendiri, gemas ingin menyentuh tubuh dante. ‘Aduh….bagaimana ini? Aku ingin menyentuhnya, pemandangan indah!’


“Hei sedang apa kau?” teriak Dante. “Mau olahraga atau tidak? Atau mau kuhukum?”


“Ah…..aku tidak mau olahraga seperti ini. Aku maunya olahraga yang lain.” ucap Bella jujur. Wajahnya cemberut mengikuti Dante menuju alat treadmill.


“Apa sepatunya pas?”


“Sepatunya memang pas tapi rasanya aneh kalau olahraga pakai sepatu tapi tidak pakai baju.”


“Eh….aku sudah memberimu baju tapi kau tidak mau pakai. Berisik sekali!”


“Aku terpana karena kau membuka pakaianmu, Tuan.” tangannya langsung menutup mulutnya karena keceplosan bicara. “Eh….maaf…..maaf.”


“Sekali lagi kau bicara omong kosong aku akan merendammu lagi di air dingin.”


“Maafkan aku,Tuan. Tolong jangan masukkan ke hati ya.”


Huh dasar pria pelit! Ahh…..aku tidak bisa melewatkan mataku dari tubuhnya yg kekar berotot, gumam Bella sepanjang dia berada di treadmill. Di otaknya bukan membakar kalori tapi malah terus-menerus memandangi Dante, sambil senyum-senyum sehingga beberapa kali dia terpeleset dari treadmill.


“Hei! Apa kau tidak bisa serius berjalan di treadmill-nya?” tanya Dante saat dia sedang melakukan cardio disamping wanita yang menganggu konsentrasinya.


“Aku serius ini, tuan.”


“Apanya yang serius? Kau pernah pakai alat itu atau tidak?”


“Pernah! Pernah kok!” jawab Bella yang langsung mematikan alat treadmillnya dan berdiri menatap Dante.


“Lantas kenapa kau jatuh terus dari tadi?”


“Aku tidak bisa konsentrasi memandang tubuhmu, Tuan.” ucap Bella apa adanya. “Tubuhmu indah sekali, ”


“Apa kau bilang?”


“Ups…..hi hi hi…...maaf Tuan kalau aku terlalu jujur.”


“Sini kau!”


‘Waduh aku kena marah lagi deh!’ ujar Bella kesal dalam hatinya tapi dia tidak bisa melawan.


“Duduk sini!” ujar Dante menyuruh Bella duduk di alat beban yang dipakainya. “Posisikan kakimu melebar, ya seperti itu! Letakkan tanganmu di alatnya lalu tarik dan tutup!” Dante menyuruh Bella melakukan olahraga untuk pembentukan bisep dan trisep.


Bella terpaksa duduk tegak dan menggerakkan tangannya terbuka dan tertutup mengangkat beban yang ada dibelakang tempat duduknya yang sudah diatur oleh Dante.


“Kau terlalu cepat! Atur napasmu perlahan saat terbuka kau harus menarik napas dan saat tertutup kau buang napas. Kau paham?”


“Iya, Tuan.”


“Lihat tanganmu terlalu lemah tidak ada ototnya.”


“Maaf Tuan!”


“Aku hitung ya. Lakukan dengan serius.” Lalu Dante mulai menghitung saat Bella menarik napas dan membuang napas berulang-ulang. “Bagaimana rasanya?”


“Capek, Tuan. Aku sudah keringatan.” jawab Bella yang memang sudah basah keringat.


“Lakukan seperti tadi.”


“Iya Tuan.” jawab Bella sambil menggerutu dalam hatinya. ‘Aduh masa harus melakukan lagi.’


Meskipun merasa kesal tapi dia tidak bisa melawan. Bella melakukan gerakan sambil menggerutu dalam hatinya.


“Iya...iya Tuan.”


“Aku suka wanita yang berolahraga dan berkeringat seperti ini.”


Pikiran Bella pun mulai berkelana, ‘Apakah dia akan memberikan sentuhan tangannya? Ehmm….’ gumamnya sambil senyum-senyum saat tangan Dante mulai bergerak menghapus keringat Bella dengan jari telunjuknya.


Jari tangan Dante bergerak dari pangkal leher dan berputar disana cukup lama lalu tangan sebelahnya mulai melakukan hal yang sama. “Teruskan. Jangan berhenti melakukannya. Terus gerakkan seperti tadi.”


“Iya Tuan.” Bella hanya bisa berkata-kata dalam hatinya mengharapan sesuatu. ‘Apa dia akan memberikannya padaku?’ tanya hatinya. Sejujurnya dia merasa senang berharap jika hari ini Dante akan melakukan sesuatu pada tubuhnya.


“Terus bergerak! Saat kau berhenti bergerak maka aku juga berhenti. Mengerti?”


“I---iya tuan.” Bella mengangguk.


“Gerakkan mu seperti anak kecil. Kau bisa olahraga tidak!”


“Iya Tuan!” jawab Bella lalu melebarkan kakinya sesuai perintah Dante. ‘Isss….bukannya dari tadi aku sudah mengikuti intruksinya ya?


Bella bingung saat melihat Dante memposisikan tubuhnya jongkok.


"FOKUS! Terus bergerak. Tanganmu terbuka dan tertutup lebarkan lagi kakimu!” ujar Dante sambil mendongakkan wajah menatapnya.


“Iya tuan….ahhhh…..”


‘Apa aku harus bergerak seperti ini terus? Sedang apa dia? Aihhh bikin aku lemas saja, emangnya dia sedang apa sih? Hmmm…..apa mungkin dia akan memberikannya padaku?’ gumamnya dalam hati. Dia merasa senang dan senyumnya merekah merasakan sentuhan tangan Dante. ‘Ahhh….aku sudah merindukan ini…...aaahhhh…...apa aku kecanduan ya?'


Saat dia melihat otot-otot tubuh Dante dihadapannya dan perbuatannya yang tak mampu ditolaknya membuat Bella kembali berimajinasi.’Kenapa jadi begini?’


“Eh...apa maksudnya Tuan?” tanya Bella bingung. ‘Aduh kenapa wajahnya jadi seperti marah? Aneh sekali pria ini.’ hati Bella bergidik ngeri melihat wajah Dante yang seakan protes tapi Bella tidak tahu apa kesalahan yang sudah diperbuatnya.


“Cih! Ini pasti karena sudah bekas pakai orang lain!” dengus Dante melirik Bella.


“Ahhhh…..” desah Bella sambil menggigit bibirnya saat tangan Dante mencubit dagunya.


“Terus bergerak! Jangan berhenti sampai aku menyuruhmu berhenti!”


“Aaahhhh….iya tuan.” Bella menganggukkan kepala dan terus bergerak membuka dan menutup sambil mengangkat beban dibelakangnya.


‘Aduh….rasa ini membuatku tidak bisa berpikir jernih! Sudah lama aku tidak melakukannya, aku benar-benar menginginkannya….ahh….aku seperti kecanduan.’ lirihnya pelan, dia terus melakukan gerakan angkat beban meskipun tubuhnya sudah berkeringat tapi Dante belum menyuruhnya berhenti.


“Menjijikkan!” maki Dante.


“Apa tuan?” tanya Bella heran. ‘Apa yang menjijikkan? Aneh benar pria ini.’


“Kau yang menjijikkan. Dasar wanita bekas seribu pria! Aku tidak tertarik denganmu, cih!”


“Maaf, Tuan! Aku tidak tahu harus gimana.” ujarnya kesal. ‘Kalau kau tidak tertarik kenapa tidak melepaskanku dan membiarkanku pergi saja? Kau bilang menjijikkan tapi tanganmu terus menyentuhku. Kalau memang tidak menginginkanku jangan mempermainkanku begini.’ protes hatinya.


“Cih! Kau menjijikkan! Melihatnya saja aku tidak tergoda. Sebaiknya kau sadar diri dan tidak mengharapkan sesuatu dariku.”


“Iya Tuan…..ahhhhh….” mata Bella merem melek ditambah suara desahannya membuat Dante memicingkan mata.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau begitu?” tanya Dante tanpa menghentikan tangannya.


“Bisakah aku berhenti? Aku lelah, sudah cukup olahraganya."


“Kau belum selesai? Siapa yang menyuruhmu berhenti ha? Aku menyuruhmu olahraga supaya otakmu benar! Gerakkan tanganmu yang benar!”


“Ahhh…..isssss…..i---iya tuan...aaahhhhh” Bella tak tahan lagi untuk berteriak saat Dante mengencangkan jarinya. Apa dia sengaja menyuruhku olahraga begini biar tulangku patah ya? Aku capek!