
“Apa orang yang berada dimenara itu menembaki Anthony? Oh tidak! Ada apa ini? Ini sungguh mengerikan seperti dimedan perang saja! Kenapa dia menyerang Anthony dengan brutal seperti itu? Apakah semuanya ini karena aku? Tapi apa kesalahanku?” Bella bergidik ngeri menyaksikan dan mendnegar rentetan suara tembakan tanpa henti itu. Dia pun berusaha menenangkan diri dan memikirkan alasan apa yang membuat Anthony diperlakukan seperti itu.
“Ha….surat! Ya surat Anthony yang belum aku baca! Apa ini semua ada hubungannya dengan surat itu? Aduh kasihan sekali Anthony jadi diperlakukan seperti ini tapi apa yang harus kulakukan?” Bella terus menerus bergumam dengan rasa takut yang menyesali tindakannya yang telah melupakan sesuatu yang penting. ‘Harusnya aku mengambil surat itu bukan menyantap makanannya dulu lalu membuatku lupa tentang surat itu. Aisssss……..’
DOOOOORRRR DOOORRRRR DOOOORRRR
‘Ya ampun! Tidak ada perlindungan lain untuk Anthony. Orang itu benar-benar memburu Anthony tanpa memberikan sedikitpun kesempatan untuk Anthony menolong dirinya sendiri. Aduh gimana ini? Mengerikan sekali! Kepalaku dan dadaku rasanya sangat sakit.’
DDOOORRRRR…...suara tembakan kembali terdengar.
“Kyaaakkkk! Hei keluarkan aku dari arena ini! Tolong keluarkan aku! Aku tidak mau ada disini!” teriak Bella yang ketakutan. Bella menajamkan penglihatannya, dia bisa melihat Anthony yang dihujani tembakan berusaha berlari berlindung dibalik bebatuan. ‘Bahkan batu yang berada diatas kepala Anthony bisa pecah karena tembakannya! Bagaimana jika peluru itu mengenai kepalanya? Ini benar-benar mengerikan, mereka menembakinya dengan peluru sungguhan!” Bella bergidik ngeri.
“Lantas, kenapa aku malah diikat disini? Apa maksudnya semua ini? Apakah aku akan jadi target berikutnya?” Bella mulai merasakan nyeri diskeujur tubuhnya sehingga Bella pun memekik dihatinya. Tatapan matanya yang kosong memicing mencoba mencari keberadaan Anthony. Perlahan butiran airmata jatuh membasahi pipi mulusnya.
“Tuan Dante Sebastian! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau menembaki orang seperti itu? Ada apa ini? Apa ini semua karena kesalahanku?” Bella berteriak kencang tapi dia tak yakin jika Dante bisa mendengarnya.
“Kau memanggilku?” terdengar suara dingin yang dikenali Bella.
“Hahahhhh! Kau bisa mendengarku dari pengeras suara dibelakangku ini?” tanya Bella menoleh ke asal suara yang terdengar sangat dekat dengannya.
“Ya, memangnya kalau bukan kau, aku bicara sama siapa lagi?”
DOOORR DOOORRR DOORRR DOOORRR
“Hiaaaaak!” Bella terkejut saat suara rentetan tembakan terdengar lagi. Bella berteriak dan suara teriakannya terdengar oleh Dante. Dibelakang tempat duduk Bella ada pengeras suara yang terhubung ke walkie talkie yang dipegang oleh Dante sehingga mereka bisa saling berhubungan jarak jauh.
“Dante! Kenapa kau menembaki Anthony seperti itu? Apa kau sudah gila ha? Aku takut sekali. Kenapa aku harus ada disini?” Bella mengomel dan airmatanya mengalir deras karena ketakutan.
Doooorrrr Dooooorrrrr Doooorrrrr Dooooorrrrr
“Ahhkkkk…..oh tidak! Anthony kau tidak apa-apa kan? Dante kenapa temanmu itu terus saja menembaknya? Kenapa kalian melakukan ini semua ha? Kenapa kalian menjadi nyawa manusia sebagai permainan seperti ini? Bagaimana dia bisa melihat dalam kegelapan, oh lampu sorot itu! Kasihan sekali Anthony diperlakukan seperti ini. Ini benar-benar permainan tidak adil, orang yang berada diatas menara bisa melakukan apapun sedangkan Anthony tidak dalam kondisi menguntungkan.” Bella terus menerus menggerutu yang didengar oleh Dante.
“Hei dimana kau sekarang? Kenapa kau tidak bicara lagi denganku Dante? Apa kau bersembunyi ha? Dasar pengecut!” Bella berteriak memaki Dante sambil mengerjapkan mata berusaha menatap kegelapan malam mencari sosok Anthony yang tidak bisa dilihatnya, hatinya diliputi ketakutan.
“Anthony tidak ada disana, ada dimana dia sekarang? Kenapa dia hilang, aku tidak bisa melihatnya. Apa dia tertembak?” Suasana disana gelap sehingga Bella tidak bisa melihat dengan jelas dari atas puncak bukit buatan. Lampu sorot yang menerangi bergerak-gerak tapi jejak Anthony tidak kelihatan.
“Nikmatilah permainan ini, mungkin dengan permainan ini kau bisa sadar siapa aku dan tidak akan berani bersikap cuek padaku lagi! Kau wanitaku! Kau tidak bisa seenaknya mengacuhkanku!” teriak Dante yang didengar oleh Bella.
‘Kau benar-benar tega Dante! Kau...arggggg belum ada laki-laki yang mengikatku dan memperlakukanku seperti ini. Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku, dia yang menamparku, dia yang tidak percaya padaku karena istrinya sudah bebruat tidak baik dibelakangnya tapi sekarang dia malah menghukumku. Bukankah harusnya dia menghukum istrinya itu? Kenapa malah aku yang dihukum, dasar orang gila. Apa yang dia inginkan dariku?’ Bella semakin kesal dan tak bisa lagi menahan dirinya saking marah.
Dooooorrrr Dooorrrrrr Dooooorrrrrr Dooooorrrrr Duuuuaarrrrr!!!!
“Hyaaaakkkk! Itu suara granat.” Bella semakin panik dan tak bisa lagi berpikir jernih. Sekarang dia sangat mengkhawatirkan keadaan Anthony.
“Apakah kau masih hidup?” tanya Bella memanggil orang yang tidak bisa dilihatnya.
“Pria yang kau cari itu masih hidup! Aku masih bisa melihatnya dan detak jantungnya pun masih terdengar.” ucap Dante.
Suara itu membuat Bella cukup tenang meskipun dia merasa kesal. “Kenapa kau lakukan ini pada Anthony? Apa kesalahannya terlalu besar? Apa maksudmu melakukan semua ini? Kau benar-benar gila!” teriak Bella lagi pada Dante.
“Ini hanya sebuah tes untuknya. Kalau dia berhasil melewati permainan ini maka aku akan memberikan hadiah padanya.” jawab Dante.
“Kau gila Dante! Kau ingin membunuhnya dengan cara begini iyakan? Apa ini semua berhubungan denganku? Apa kau tidak hati nurani? Kenapa kau suka sekali menghukum orang lain.”
“Sebaiknya kau diam Belinda Alexandra Amani! Karena kalau jagoanmu itu sudah ada diatas sana dan dia berdekatan denganmu, temanku juga akan mengarahkan senjatanya padamu!”
Glek! Bella menelan salivanya mendengar ucapan Dante.
‘Apa kau juga ingin membunuhku?’ bisik hatinya.
“Jika Anthony tidak bisa menyelamatkanmu, jika dia bersmebunyi dibelakangmu dan temanku pasti mengincar kalian berdua. Itu akan berbahaya untukmu. Kaulah umpannya! Jangan lupa kalau kau yang memakai medalinya dilehermu.” ujar Dante lagi.
“Kauu…..aarrggggg!” Bella berkeringat dingin ketakutan dan sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. “Anthony semoga kau selamat” ujar Bella sambil melihat tembakan yang tidak pernah berhenti dibawah bukit, tidak ada serangan menuju kearah menara membuat Bella semakin frustasi memikirkan nasib Anthony.
Doooorrrr doooooorrr doooooorrrrrrrrrr
“Anthony dimana kau berada? Aku tidak bisa melihat apapun.” suara Bella kembali terdengar, matanya mengerjap mencoba mencari keberadaan bayang-bayang Anthony.
“Anthony dimana kau? Dia tidak menemukanmu kan Anthony? Orang dimenara itu masih mencoba mencarimu Anthony! Aku juga tidak melihatmu.” Bella mencoba mencari orang yang dikhawatirkannya. “Oh tidak! Aku baru sadar kalau kau naik keatas sini maka orang dimenara itu akan melihatmu Anthony! Tidak ada semak ataupun bebatuan dibawah. Lampu sorot itu menyorot padaku membuatku seakan duduk diatas gunung. Kalau kau memanjat kesini maka aku akan bisa melihatmu.” Bella mulai panik memikirkan nasib Anthony.
“Tidak! Apakah ini akan jadi akhir hidupku? Aku tidak akan punya kesempatan bertemu adikku lagi.” Bella bergidik ngeri dan ucapannya masih bisa didengar Dante. “Anthony tidak mungkin bisa lolos dari puncak bukit ini. Hanya ada satu jalur untuk naik kesini dan tidak ada jalur lain. Bagaimana ini?” Bella bergumam lagi mencoba mencari solusi dan membuat dadanya semakin sesak.
“KETEMU KAU!”