PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 376. KEKHAWATIRAN SAHABAT


“Sepertinya kau sudah tahu semuanya! Apa Dante sudah menceritakan semuanya padamu?” tanya Eddie pada Hans sambil menyeruput kopinya.


“Tidak. Justru Barack yang menceritakan semuanya padaku. Temannya yang menyelamatkan Katarina dan setahuku sejak dia diselamatkan oleh lelaki itu, Barack bercerita bahwa mereka punya hubungan khusus!” ujar Hans menjelaskan semuanya.


 


“Kau yakin?” tanya Nick lagi.


“Ya aku sangat yakin. Memangnya kenapa?” Hans menatap temannya dengan serius.


“Aku tidak yakin!” Nick menggelengkan kepalanya. “Wanita itu menyukai Dante! Itu yang aku tahu!”


“Benarkah?”


 


“Hmmm! Aku bisa melihat dari tatapan matanya pada Beella yang penuh kebencian dan dia iri pada Bella. Tapi wanita itu menatap Dante dengan tatapan kagum terpesona dan binar-binar cinta. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti!” ujar Nick menjelaskan apa yang dia lihat sendiri.


Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir, “Apakah perlu kita memberitahukan hal itu pada Dante? Dia sedang pergi bersama dengan wanita itu sekarang! Kita tidak tahu seberapa berbahayanya wanit itu.”


“Tunggu! Tadi kau bilang Barack? Dimana kau bertemu dengan Barack?” tanya Eddie.


 


“Di gudang senjata. Dia menghancurkan gudang kita! Aku sudah mengirimkan fotonya padamu tadi malam kan? Apa kau tidak ingat?” tanya Hans.


“Oh iya! Masalah gudang itu, kau memintaku untuk menyiapkan senjata dari gudang Omero kan?”


“Ya. Dan aku juga harus membicarakan hal itu dengan Dante karena Barack bilang dia harus menggunakan senjata rakitannya! Senjata rahasia yang dia buatnya bersama dengan Dante.”


 


“Tapi Dante sudah berangkat dari tadi. Kenapa kau tidak bilang padanya tadi?” ujar Eddie.


“Bukankah dia akan kembali? Penyerangan tidak akan dilakukan pagi ini kan.” ucap Hans menimpali.


“Tapi seharusnya kalau ada pesan apapun harus disampaikan lebih dulu. Jangan menunda hal sepenting itu. Ini nanti bisa menimbulkan masalah!” ucap Eddie mengkritik temannya yang membuat Hans juga ikut meringis.


 


“Maaf ya. Tadi aku pikir aku bicara dengan Dante kalau situasinya sudah kondusif! Lagipula sepertinya dia sudah mau buru-buru berangkat! Tadinya aku tidak mau menguping tapi aku ingin bicara dengan Dante, hanya saja melihat dia bicara sangat serius dengan Nick dan sepertinya belum ada solusi dari pembicaraan kalian tadi makanya aku menghentikan langkahku dan mencoba bicara dengan Dante di lain waktu saja.” ujar Hans jujur.


 


“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Nick melirik Eddie.


“Sebaiknya kita tunggu saja sebentar.” ucap Eddie menatap kedua sahabatnya itu bergantian.


“Baiklah. Kita akan menghubungi nanti siang saja kalau dia belum kembali. Kalau dia sudah kembali kita akan diskusikan lagi diruang rapat nanti.”


 


“Baiklah kalau begitu.” Hans bicara sambil melirik kearah seseorang sambil tersenyum pada orang itu. ‘Dari tadi aku menunggunya akhirnya aku melihatnya juga! Banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya.’ bisik Hans didalam hatinya.


“Henry! Aku ingin bicara denganmu sebentar!” Hans lalu berdiri dan menghampiri kepala pelayan itu dengan bersemangat.


“Tuan Hans, apa yang ingin adan bicarakan denganku?” tanya Henry agak heran dengan sikap Hans.


“Henry…..santai saja bicara denganku. Biasanya juga kau tidak pernah memanggilku dengan kata tuan. Tumben sekali hari ini kau serius.”  Hans menepuk bahu Henry sambil terkekeh.


 


“Apa yang mau kalian bicarakan? Hei...kenapa pergi? Memangnya kalian tidak bisa bicara disini saja ya? Jangan ada rahasia diantara kita! Hei!” ucap Eddie mengkritik.


“Hehehehe! Sudahlah, ini bukan hal penting. Hanya sedikit gosip saja.” balas Hans tertawa. Mendengar kalau itu adalah gosip, kedua temannya pun tak lagi mengganggu Hans.


 


 


“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Henry pada Hans setelah mereka berdua sudah berada di taman belakang rumah Dante. Tempat itu sepi dan tak ada orang lain hanya mereka berdua saja disana yang bisa mendengar percakapan.


“Ada hal yang ingin kukatakan padamu. Apa kau bisa memberitahu temanmu yang bernama Manuel itu kalau wanita yang bersama Dante itu mengganggunya?” ujar Hans.


 


“He…..anda…..” Henry tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena kaget mendengar ucapan Hans.


“Apa kau pikir aku tidak tahu? Barack sudah memberitahu semuanya tentang dirimu, tentang pekerjaanmu sebagai anggota FBI dan tentang sahabatmu Manuel! Wanita itu mengganggu Dante. Apa kau sudah memberitahu temanmu soal itu? Barack harus tahu tentang masalah ini.” Hans bicara lagi.


 


“Ehm….bisakah kau tidak membicarakan hal ini pada teman-temanmu yang lain?” ujar Henry dengan berbisik pada Hans karena khawatir akan didengar oleh seseorang.


“Tenanglah Henry! Aku paling pandai menjaga rahasia. Rahasiamu aman bersamaku.” Hans sangat percaya diri sekali padahal biasanya mulutnya yang paling tidak bisa diam bergosip.


 


“Aku tahu kau yang paling tidak bisa menjaga rahasia makanya aku bertanya padamu. Ini sangat penting bagiku karena aku tidak mau merusak hubunganku dengan Dante dan kalian semua.” ujar Henry menatap Hans dengan tatapan serius.


“Kau menyakitiku dengan kata-katamu Henry!” ucap Hans tak terima.


“Tapi memang itu kenyataannya kan? Diantara mereka semua hanya kau yang paling mudah untuk bicara dan bergosip, dan yang paling mudah tersulut emosi.” ujar Henry.


“Aku berjanji padamu tidak akan melakukan itu.” ucap Hans berdecak menatap pria didepannya itu.


“Berjanjilah padaku, Hans!”


“Aku berjanji padamu!”


 


“Bagus!” Henry pun merasa lega dan mulai tenang setelah mendengar pernyataan Hans.


“Kenapa kau malah diam saja? Katamu tadi mau menghubungi Manuel?”


Henry menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bisa sembarangan mengirim pesan padanya.”


“Kenapa? Memangnya kau tidak bisa mengirim pesan sekarang? Ini sangat penting! Aku khawatir kalau wanita itu mengganggu Dante lagi!”


 


Sebenarnya Hans memiliki kekhawatiran yang sama dengan Nick hanya saja dia tidak menunjukkannya pada teman-temannya karena Hans berpikir bahwa dia bisa menyampaikan pada Henry dan kemudian pria itu bisa segera menghubungi temannya untuk memberitahukan kondisi Dante saat ini, wanita itu sangat licik dan berbahaya.


 


“Aku tidak bisa melakukannya sebelum dia menghubungiku. Ini adalah aturan yang sudah dibuat dan tidak bisa dilanggar kalau kami tidak ingin merusak semua rencana kami.” jawab Henry yang juga merasa cemas karena dia juga merasakan hal yang sama tentang Katarina. Setelah dia melihat bagaimana sikap wanita itu saat datang ke mansion, Henry langsung tidak menyukainya.


 


“Aduh….jadi bagaimana sekarang? Wanita itu bisa mengganggu Dante dan pekerjaan yang harus diselesaikannya! Aku khawatir wanita itu akan mengacaukan semuanya!”


Baik Henry dan Hans saling tatap karena mereka tidak menemukan solusi untuk saat ini. Keduanya sama-sama punya penilaian jelek tentang Katarina.


 


Sementara itu, Dante yang sudah berangkat meninggalkan rumah bersama Katarina sedang berada diperjalanan menuju lokasi yang dikatakan Barack.


 


“Katakan padaku kemana tempat yang akan kita tuju.” tanya Dante tanpa sedikitpun menatap Katarina dan hanya memandang lurus kedepan. Tak sekalipun Dante melirik kepada wanita itu yang membuat Katarina merasa kesal dan mengepalkan tangannya.