PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 85. TERINGAT GADIS KECIL


“Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau bilang begitu Tatiana? Kau tidak pernah jadi wanita pengganti siapapun!” Dante mengangkat dagu tatiana dan menatap istrinya.


“Kadang aku merasa tidak percaya diri berada disisimu, Dante.”


“Hei! Jangan bicara begitu, jangan menunduk. Aku selalu mencintaimu. Aku tak mau lagi mendengar kalimat seperti itu lagi, ok?” ujar Dante sambil mendonggakkan wajah Tatiana dan mengecupnya.


“Tapi aku berkata jujur, kadang aku memang merasa tidak percaya diri. Tapi terimakasih kau sudah menyemangatiku.” jawab Tatiana.


“Sudahlah, jangan memikirkan masa lalu lagi. Kau adalah wanita terbaik bagiku! Kau harus ingat itu!” Dante mengingatkan sambil mengajak Tatiana duduk dikursi makan yang berada dikamar mereka.


“Sejak kapan kau makan pisang lagi Dante?” tanya Tatiana terkejut melihat pria itu memegang dua buah pisang ditangannya.


 


“Ah, ini. Aku tadi hanya ingin mencobanya lagi. Aku rasa tidak ada yang buruk dengan rasanya dan aku tidak mau Alex juga membenci makanan tertentu karena aku yang membuatnya membenci makanan.”


“Kau perhatian sekali.” ucap Tatiana tetap memasang senyum diwajahnya.


“Ini, ambillah satu.” perintah Dante memberikan satu buah pisang pada istrinya.


 


“Terimakasih.” ucap Tatiana dibibir tapi dihatinya merasa ketar ketir dan kesal. ‘Huh, bagaimana dia bisa mau makan pisang lagi? Aku rasa dia tidak mau makan pisang lagi karena tak ingin mengingat anak itu lagi! Dia sudah tak menginginkan pisang lagi bukan? Sejak kepergiannya, Dante selalu menghindari pisang tapi kenapa tiba-tiba dia mengambilnya?” hati Tatiana merasa gelisah mengingat masa lalu.


FLASHBACK ON


(Dua puluh satu tahun yang lalu)


“Dante kenapa kau memegang dua pisang di kedua tanganmu? Sama persis seperti yang dilakukan oleh adikku.” tanya Tatiana pada Dante yang kala itu berusia empat belas tahun


“Adikmu lucu sekali! Aku suka cara dia memakan pisang. Dia selalu memegang dua ditangan kanan dan tangan kiri. Setelah menggigit yang di kanan lalu di menggigit yang dikiri! Aku mengikuti caranya makan.” jawab Dante.


“Apa kau suka dengan caranya makan?” tanya Tatiana sambil duduk disamping Dante dengan perasaan tidak suka walaupun dia sangat pandai menutupinya,


“Iya.” jawab Dante mengganggukkan kepala. “Aku juga suka menirunya menggigit dikanan dan dikiri bergantian!” lalu Dante melihat gadis ekcil itu. “Hei kemarilah! Duduk dipangkuanku!”


“Sekarang kau suapi aku ya, kau makan yang kanan dan aku makan yang ditangan kirimu.” ucap Dante ketika anak kecil itu sudah ada dipangkuannya.


Tatiana melirik Dante sambil memicingkan mata tak suka melihat kedekatan adiknya dengan Dante.


“Tadi dia memberikan aku dua buah pisang dan aku memakannya dengan cara yang sama dengannya dan dia tertawa melihatku.”


“Jadi kau sangat menyukainya? Atau kau menyukai caranya makan pisang?” Tatiana kembali bertanya.


“Aku menyukainya! Dia sangat lucu dan dia mirip denganmu. Warna matanya biru membuatnya sangat cantik, kalau kau sudah besar nanti pasti aku akan sangat cantik dan manis, muaaahhh….” Dante mengecup adik Tatiana lalu meliriknya. “Untungnya dia masih kecil, coba kalau dia sudah sebesarmu aku pasti bingung mana yang akan kupilih, kau atau dia ha ha ha ha ha….” celoteh Dante menggoda Tatiana. Meskipun Dante hanya bercanda tapi Tatiana menganggap itu serius dan memasukkan kehatinya.


“Tatiana, apa yang sedang kau pikirkan?”


“Aku? Ah tidak ada.” Tatiana menggelengkan kepalanya menjawab agak gelagapan. ‘Kenapa aku malah memikirkan itu ya? Ah anak sialan itu! Gumam Tatiana mencoba melupakan semua kenangan masa kecilnya.


“Tadi aku bicara denganmu tapi kau hanya diam saja. Kau hanya memperhatikan pisang itu saja. Apa kau tidak mau memakannya?” tanya Dante.


“Ha ha...kau lucu sekali Dante. Aku sering menawarkan pisang padamu tapi kau tak pernah mau. Sekarang buka mulutmu dan makanlah.” Tatiana tersenyum seperti tidak ada apapun yang terjadi.


Dante pun mengupas pisang ditangannya dan mencoba memakannya. ‘Semua ini gara-gara kau Belinda! Kalau kau tidak mengambil pisang ini, aku tidak akan memakan buah yang hanya mengingatkanku pada gadis kecilu. Dia telah pergi….hu, semua ini salahku.’ gumamnya kesal. ‘Kalau aku tidak memakannya maka istriku pasti curiga. Ya sudahlah aku makan saja.’ dengan pasrah Dante memasukkan pisang kemulutnya.


‘Kenapa rasanya sangat menyakitkan saat makan ini?’ keluh Dante lagi yang mengingat masa lalunya yang menjadi alasan dia tidak menyukai pisang. ‘Fuh! Aku sudah lupa rasa buah ini selama bertahun-tahun tapi sekarang aku merasakannya lagi. Tidak buruk! Mungkin masa lalu harus dilupakan.’ gumamnya lagi, dia pun kembali memakan pisang.


‘Meskipun sedikit menyakitkan hatiku tapi aku akan terbiasa, semua sudah berlalu puluhan tahun dan semua manusia pasti akan mati. Aku harus belajar untuk move on dan itu lebih baik daripada terus larut dalam kenangan masa lalu!’


“Oh Dante aku tidak menyangka kau akan memakan buah ini lagi.” seru Tatiana senang tapi sebenarnya didalam hatinya tidak.


“Lihatlah aku sudah menghabiskannya.” ujar Dante memperlihatkan kulit pisang yang tersisa ditangannya.


Tatiana tersenyum pada Dante lalu mereka pun menghabiskan makanannya. Tatiana sengaja tidak lagi membahas soal makanan yang dimakan oleh Dante.


“Apa kau lelah, sayang?” tanya Dante setelah mereka selesai makan dan mengajak Tatiana menonton film sejenak.


“Lelah? Aku ingin tidur.” jawab Tatiana.


“Ayo aku temani kau.”


“Apa kau tidur disini malam ini?” tanya Tatiana lagi.


“Tidak. Mungkin aku akan tidur dikamar Alex untuk memastikan dia tidak sendirian.” jawab Dante.


“Tidak usah. Biar aku saja yang tidur disana supaya kau bisa istirahat!”


Dante menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. “Kau istirahatlah dikamarmu dan aku yang akan pergi ke kamar Alex.”


“Bagaimana kalau kita berdua tidur disana?” tanya Tatiana yang merasa khawatir. Bagaimana mungkin dia membiarkan suaminya tidur dikamar Alex yang bersebelahan dengan kamar Bella.


Dante hanya menjawa dengan gelengan kepala sambil tersenyum. “Sudahlah, sayang. Tidak perlu berdebat soal itu. Aku ingin kau menikmati hidup santai dan tak terlalu sering terbangun dimalam hari karena Alex.”


“Aku mengerti.” ujar Tatiana lalu terlelap sebelum Dante akhirnya terbangun setelah menemani istrinya tidur sekitar tiga jam.


“Sudah menjelang pagi.” ujar dante saat melirik jam didinding yang sudah menunjukkan pukul empat pagi. ‘Aku belum mengecek Alex. Apa dia tadi menangis? Aku juga harus memberitahu sesuatu pada Bella sebelum aku pergi mencari Barack dan Sarah.’ lalu Dante pun bangun, menarik dirinya perlahan menjauhi Tatiana lalu keluar dari kamarnya menuju ke kamar Alex.


Saat dia membuka pintu kamar Alex, dia melihat pemandangan yang menarik. ‘Mereka tidur berdua? Ah….kenapa hatiku merasa senang sekali melihat mereka berdua saling berpelukan?’ Dante tersenyum senang melihat dua orang yang tertidur saling berpelukan diatas tempat tidur Alex.