
‘Apa dia pikir dengan merajuk begitu, aku akan menggodanya dan membujuknya?’ Dante semakin kesal dan memilih keluar dari kamar Alex. “Kau mau marah berhari-hari bahkan bertahun-tahun pun aku tidak akan menyentuhmu. Jangan harap dengan marah padaku maka aku akan datang dan membujukmu! Huh tidak akan pernah! Kau harus tahu siapa dirimu.” ujar Dante dalam hatinya.
“Dante! Kau lama sekali, kami sudah selesai makan.” ucap Tatiana.
“Tidak apa-apa, lagipula aku tidak lapar. Aku baru saja selesai mengurus Alex. Maafkan aku.” Dante menghempaskan tubuhnya dikursi makan.
“Sepertinya ada yang mengganggumu Tuan?” Lorenzo menimpali.
“Ya memang ada. Anakku Alex minta tidur dengan lampu dimatikan.” jawab Dante.
“Apa? Kau serius Dante?” Tatiana mengerjapkan matanya tak percaya.
“Mungkin yang kau lakukan itu bagus untuk terapinya. Sekarang dia malah sudah berani tidur dengan lampu mati.” jawab Dante sekenanya sambil menyunggingkan senyum.
“Wah aku tidak menyangka Alex sekarang sudah berani pada gelap. Ini sebuah keajaiban! Aku bersyukur sekali Dante!” Tatiana tersenyum.
“Ya Tatiana, aku pun senang sekali makanya aku tadi menemaninya sebentar. Maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama.”
“Tidak apa-apa Dante! Aku sudah membicarakan dengan Lorenzo masalah Bella dan dia mau membantu mengajarinya piano.” ucap Tatiana masih tersenyum.
“Sungguh? Kau serius dengan apa yang dikatakan istriku?” Dante melirik Lorenzo.
“Iya benar Tuan! Aku akan membantu wanita itu, kurasa itu ide cemerlang karena Alex akan semakin menyukai belajar piano karena ada temannya.”
“Bagus sekali! Tolong kau urus Bella ya. Bujuklah dia agar mau.” ucap Dante melirik Tatiana.
“Tentu saja Dante! Aku akan mengurus semuanya, nanti aku akan memberitahunya dan aku akan memastikan dia tidak akan menolak.”
“Tenang saja. Aku yakin dia tidak akan menolak.” ujar Dante mengelus punggung tangan Tatiana.
“Kalau begitu, saya pamit dulu Tuan Dante. Terimakasih untuk jamuan makan malamnya.”
“Maaf karena kami terpaksa memintamu datang, sedangkan anak kami tidak mau berlatih piano hari ini.”
“Tidak apa-apa, aku juga senang karena mendapat kesempatan mengajarnya lagi. Besok latihan akan lebih menyenangkan bersama Alex dan Bella.” ujar Lorenzo.
“Aku mohon bantuanmu Lorenzo.” ucap Dante.
“Tidak masalah Tuan Dante. Saya pamit dulu.” Lorenzo berdiri dan mengulurkan tangan pada Dante dan Tatiana sebelum meninggalkan ruang makan.
“Kau yakin tidak mau makan Dante?” Tatiana menatap suaminya.
“Tidak usah. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus, kembalilah kekamar dulu nanti aku akan menyusulmu.” jawab Dante.
“Baiklah! Selamat bekerja Dante.” ucap Tatiana masih tersenyum.
“Terimakasih, sayang.” Dante mengecup kening Tatiana lalu menatap istrinya yang berjalan pergi kekamarnya. Setelah Tatiana sudah tidak terlihat lagi, Dante menghela napas panjang.
“Henry! Apa kau sudah menyampaikan pesanku padanya?” Dante bicara sambil melirik orang disampingnya.
“Sudah Tuan, aku sudah memberikan informasi padanya.” jawab Henry.
“Bagus.” Dante menganggukkan kepala mengerti lalu dia berdiri. “Antarkan aku padanya.”
Dante berjalan mengikuti Henry menemui seseorang. ‘Aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan padamu! Sesuatu yang mudah tapi aku akan bermain-main sedikit. Membuatnya merasa melambung tinggi sebelum aku membantingnya jatuh ke neraka terdalam!’ jar Dante didalam hatinya sambil berjalan tenang mengikuti Henry.
“Selamat malam Tuan Dante! Kepala pelayan tadi memberitahuku kalau anda ingin bertemu denganku. Apa ada sesuatu hal yang penting ingin anda bicarakan denganku?”
“Hem...aku memang mencarimu Anthony!” ucap Dante menatap pria itu dingin seperti yang biasa dia lakukan pada setiap pelayan dirumahnya.
“Bolehkah saya tahu, ada apa Tuan? Apakah saya membuat kesalahan?” tanya Anthony.
Anthony mencoba tenang dan tersenyum, tak peduli sedingin apapun wajah Dante tapi setiap pelayan yang diajak bicara olehnya selalu memberikan senyum seperti yang dilakukan oleh Anthony.
‘Huh! Pandai sekali kau berpura-pura didepanku! Kau bahkan tidak takut sama sekali ketika aku memanggilmu! Apa kau belum tahu nasib temanmu itu? Berbeda sekali sikapmu dengan orang yang pertama kali dikirim oleh federal padaku.’ ucap Dante dalam hati, dia mengamati ketenangan yang ditunjukkan Anthony. Dante menghembuskan napasnya lalu kembali menajamkan tatapannya pada Anthony.
“Sudah berapa lama kau bekerja denganku?”
“Sekitar tiga bulan, Tuan.” jawab Anthony masih tersenyum.
“Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu malam-malam? Dan memintamu menemuiku di halaman belakang begini?”
“Tidak tahu Tuan.” Anthony menimpali dengan jawaban jujur meskipun didalam hatinya dia pun heran dan bertanya-tanya. ‘Apa yang sedang direncanaknnya? Aku tidak pernah berurusan dengannya dan tiba-tiba dia memanggilku, apakah pekerjaanku buruk? Atau...masalah surat yang kukirim untuk Bella? Apa dia mendapatkan surat itu? Wah ini berbahaya sekali kalau dia yang mendapat surat itu. Atau jangan-jangan dia yang membacanya sehingga Bella tidak datang menemuiku.’ gumamnya.
“Haruskah kau bertanya padaku? Apa kau tidak bisa berpikir sendiri?” Dante menatap Anthony, baru kali ini Dante bicara banyak pada pelayannya, tidak mudah membuat Dante bicara banyak dan dia memang seperti itu, sangat jauh berbeda jika dia bersama Bella.
“Tidak Tuan! Apa saya ada membuat kesalahan dengan pekerjaan saya?” Anthony mencoba menebak.
“Henry!”
“Ya Tuan.” jawab Henry cepat.
“Apakah selama bekerja disini Anthony pernah membuat kesalahan?”
“Tidak pernah Tuan! Pekerjaannya selalu selesai dan tidak pernah ada masalah bahkan dia tidak segan membantu pelayan lain mengerjakan pekerjaan mereka. Selama dia bekerja di mansion, dia banyak sekali memberikan bantuan.” jawab Henry yang tahu semuanya sebagai kepala pelayan.
“Hem…..” Dante menganggukkan kepalanya.
‘Huffff…...syukurlah kepala pelayan itu memberikan dukungan padaku, aku tidak bisa membayangkan kalau aku membuat kesalahan, entah hukuman seperti apa yang akan kudapatkan. Tapi sekarang aku ada disini tanpa tahu ada apa sebenarnya.’ hati Anthony meringis masih mempertanyakan nasibnya.
“Sudah kau dengar kan? Tidak ada masalah dengan pekerjaanmu.” ucap Dante tersenyum tapi dengan suara yang masih datar.
“Benar Tuan! Berarti anda memanggil saya tidak ada hubungannya dengan masalah pekerjaan, bukan?” dengan berani Anthony menjawab tidak menunjukkan berbagai reaksi diwajahnya padahal didalam hatinya dia sudah merasa tidak nyaman dan didalam kepalanya banyak pertanyaan. ‘Apa sebenarnya yang ingin dia katakan? Apa benar dia memanggilku karena masalah surat itu ya? Duh! Gawat kalau begini kalau dia memang mendapatkan surat itu.’ Anthony merasa semakin tidak tenang apalagi melihat sikap dante yang dingin.
“Apa kau bisa menembak?” tanya Dante tiba-tiba.
“Menembak?” Anthony mengulang pertanyaan itu lalu tersenyum tapi dia tidak menjawab.
“Hemmm. Apa kau bisa menembak?” tanya Dante lagi.
“Mungkin anda lebih bisa menilai Tuan Dante karena aku memang pernah pegang senjata tapi tidak tahu apakah itu bisa disebut mahir atau tidak.” jawab Anthony.
“Dimana kau belajar menembak?” Dante kembali bertanya dengan tatapan semakin dingin.
“Oh aku pernah ikut kelompok berburu.” jawab Anthony tanpa melepaskan tatapannya dari Dante.