
“Dante. Ini melelahkan. Aku baru pertama kali berdandan seperti ini.”
“Dari tadi kau selalu saja mengatakan pertama kali.”
“Iya memang benar, pertama kali. Aku sangat menikmati dansa seperti ini denganmu.” ucap Belinda.
“Kau suka?”
“Alex, terima kasih musiknya ya. Kami sangat menikmatinya!”
“Mau lagi mommy Bella?” tanya Alex yang masih bersemangat.
Belinda menggelengkan kepalanya karena dia sudah kelelahan dan sepertinya anak itu masih bersemangat memainkan pianonya. “Aku sudah kelelahan Alex. Aku memakai high heel dan berdansa seperti ini membuatku lelah.” ucap Belinda.
“Jadi sudah cukup pestanya?”
“Belum! Kau mau berdansa dengan Sarah?”
“Aku tidak mau! Aku hanya mau main piano saja tapi aku mau kau dan daddy yang berdansa.”
“Oh jadi kau menginginkan itu Alex? Tapi aku sudah lelah.” ucap Belinda.
“Aku suka melihat daddy dansa dengan mommy Bella.” ucap Alex tersenyum.
“Aduh! Anak ini benar-benar ya tidak mau berhenti kalau sudah main piano. Padahal aku sudah lelah sekali. Masa aku dansa lagi?” ujar Belinda yang menolak tapi dia juga merasa tidak enak pada anaknnya yang bersemangat mengiringinya.
“Baiklah Alex. Kau bisa mainkan satu lagu lagi untuk kami.”
“Iya daddy.”
Datu lagu pun kembali dimainkan oleh Alex. Mereka masih menikmati dansanya dengan Alex yang masih bersemangat memainkan pianonya hingga satu lagu pun selesai dan kedua pengantin berhenti.
“Daddy! Satu lagu lagi ya?” tanya Alex yang masih ingin lanjut.
“Apa? Tapi kami sudah berdansa sepuluh lagu, Alex!”
“Apa kau tidak suka berdansa mommy Bella?” tanya Alex dengan ekspresi protes diwajahnya. Dia masih ingin bermain piano lagi hingga membuat Dante pun berusaha mendamaikan.
“Alex, apa kau masih ingin bermain piano lagi?”
Alex menganggukkan kepalanya dan Dante tahu jika anaknya memang senang sekali jika ada orang berdansa saat dia bermain piano. Tapi Alex tidak pernah seperti ini sebelumnya, kalau dulu Dante dan Tatiana berdansa, dia hanya mau memainkan satu atau dua lagu saja.
Kenapa sekarang Alex malah merasa masih belum puas memainkan pianonya padahal sudah sepuluh lagu? Dante tak paham apa yang diinginkan anaknya itu tapi dia juga tidak mau menghentikan anaknya bermain piano.
“Bukankah sekarang sudah waktunya makan, Alex?”
“Aku belum lapar, daddy!” Alex menolak seolah tahu kalau ayahnya sengaja ingin mengalihkannya.
Anak itu masih bersikerasa main piano tapi Belinda sudah kelelahan dan Dante mengkhawatirkannya. Kandungannya akan terpengaruh sehingga Dante terpaksa putar otak mencari cara untuk membuat anaknnya berhenti main piano.
“Kalau begitu kita kita sama Alex. Aku juga belum lapar. Mungkin aku sedikit lapar tapi kita harus menyiapkan makanan dulu.”
“Harus aku yang siapkan makananya daddy? Bukan kau yang memasak?” tanya Alex yang cukup pintar pun menolak keinginan ayahnya. Itu membuat Dante kehilangan akal menghadapi anaknya itu.
“Iya Alex. Tadi Henry mengatakan padaku kalau kau membantu Norman memasak makan siang.”
Alex tertarik dengan perbincangannya dengan Dante, dia lantas menganggukkan kepala dan menceritakan kepada Dante apa saja yang dilakukannya di dapur.
Begitu bangganya bocah laki-laki itu telah menyelesaikan satu menu makanan.
“Kau hebat sekali Alex! Nanti kalau sudah besar kau pasti lebih hebat dariku.” kata Dante.
“He he he aku memang sudah hebat daddy! Nanti kalau aku tambah besar, aku pasti lebih hebat darimu daddy! Aku akan belajar banyak.” ucap Alex bangga.
“Karena kau tidak ada daddy. Jadi kupikir kau tidak akan makan. Aku minta maaf karena tidak membuatkan makananmu. Aku sudah memakannya.” kata Alex dengan eskpresi serius menatap Dante.
“Ssshhh…..kalau ada satu ton coklat pun kalau kau ingin mekanannya tidak masalah asal kau sehat. Aku akan memberikan apapun yang kau minta Alex.”
“Benarkah daddy? Tapi satu ton coklat aku tidak mau, terlalu banyak nanti sakit gigi kata mommy Bella tidak boleh.”
“Baiklah. Nah, bagaimana kalau sekarang kau yang memasak Alex?”
“Aku?”
“Kita masak berdua tapi kau chef-nya. Kau mau kan? Mommy mu pasti bangga padamu.”
Alex pun semakin bersemangat karena dia selalu ingin membuat Belinda bangga padanya.
Anak itu suka pamer pada Belinda. Dengan cepat dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia segera turun dari kursi pianonya dan menggandeng tangan Dante.
“Bella, Sarah! Kalian tunggu dulu disini ya. Kalian boleh main piano. Aku dan daddy mau masak dulu untuk kalian. Jangan kemana-mana ya?” ucap Alex.
“Baiklah, sayang.” Belinda mengerjapkan matanya dan Dante mengedipkan matanya mengingatkan Belinda.
“Iya Bella! Eh, maksudku mommy.” ucap Alex langsung meralat ucapannya.
“Kalau kau masih belum terbiasa memanggilku mommy, tidak apa-apa Alex!”
“Benarkah?” Alex pun sudah bersemangat.
“Iya Alex. Aku tidak akan marah padamu.” Belinda mengangguk.
“Tapi tetap harus memanggilnya mommy, Alex! Kau harus membiasakan diri karena dia adalah istriku dan dia adalah mommy-mu yang melahirkanmu” Dante tampak tidak setuju dan dia ingin anaknnya tetap memanggil mommy pada Belinda.
“Iya daddy. Aku akan panggil mommy.” ucap Alex dengan terpaksa mengangguk dan mematuhi perkataan ayahnya.
“Ya sudah. Kita mulai memasak saja. Mommy mu pasti sudah kelaparan sekarang.”
“Ayo daddy.” Alex mengangguk dan tanpa berpamitan pada Belinda dan Sarah kedua orang itu sudah pergi menuju kearah dapur. Meninggalkan kedua wanita itu diruang piano.
“Kenapa kau senyum-senyum begitu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Sarah.
“Ya aku baik-baik saja. Memangnya kau pikir aku kenapa?” tanya Belinda mencibir tapi dia tidak lama mengalihkan kembali tatapannya kearah yang ditujunya.
“Apa yang kau lihat Bella? Apa kau memperhatikan mereka memasak ya?”
“Iya. Aku suka memandang Dante saat sedang memasak! Sekarang ada Alex bersamanya jado semakin menarik untuk dipandang.” ucapnya sambil tersenyum.
“Lihatlah Sarah! Aku tidak pernah bohong padamu kan. Dante memang pintar memasak dan masakannya benar-benar enak! Nanti kau juga pasti setuju denganku setelah merasakan masakannya.”
“Daripada kau memangdang dari jauh begini, apa tidak sebaiknya kau bergabung dengan mereka?”
“Tadi dia meninggalkanku tanpa menawarkanku ikut dengannya. Itu artinya dia tidak mau aku kesana bersama mereka Sarah.”
“Jadi dia tidak mau kau melihatnya memasak, begitu?”
“Sepertinya dia ingin memberikan kejutan pada kita, Sarah!”
“Darimana kau bisa menilai begitu, Bella? Apa sekarang kau sudah bisa membaca pikirannya?”
“Dari dulu aku merasa selalu mengenalnya, Sarah! Dan dia memang orang yang aku kenal dengan baik. Dan sulit untuk melupakannya.” jawab Belinda.
“Hei, kau jangan bengong begitu Bella! Nanti kau bisa kesambut.”
“Aku tidak bengong. Aku sedang bicara denganmu. Tapi aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Dia tampan sekali, iyakan Sarah?”