
“Isi ruang senjata ini sama banyaknya dengan sisi semua senjata di gudang senjata yang aku miliki.”
Alex menggangguk meskipun dia tidak paham. Matanya mengedar seluruh ruangan dengan mata membulat takjub melihat isi ruangan itu. “Wow!”
“Tapi teman-temanku tahu kalau semua yang ada disini bukan barang untuk dijual! Kita tidak boleh mengambil satupun senjata disini kecuali untuk situasi darurat.”
Mereka terus menyusuri ruangan itu sembari Dante menjelaskan kepada anaknya. “Bunker ini adalah tempat persembunyian Alex! Jadi senjata-senjata ini hanya bisa digunakan kalau kondisi terdesak saja saat kita sudah tidak punya senjata lainnya.”
“Aku mengerti daddy.”
“Baguslah kalau kau paham Alex.”
Wajah Dante terlihat tenang sambil menatap putranya, “Kau harus siap untuk menghadapi semua situasi! Karena kau adalah jagoannya! Kau pahlawan yang akan melindungi mommy dan adikmu dan semua keluarga disini. Kau paham kan Alex?”
“Kenapa kau selalu bilang itu padaku daddy? Apa kau akan lama perginya daddy?”
“Aku tidak ingin pergi lama Alex. Aku hanya pergi sebentar tapi seandainya aku harus pergi lama maka aku hanya ingin menyiapkanmu saja. Aku tidak akan menyerah untuk hidupku Alex.”
“Oh begitu! Daddy, kau harus pulang cepat ya. Adikku kan mau lahir.” ujar Alex spontan sehingga membuat Dante tak bisa menahan senyumnya.
“Hehehehe…..” Dante tertawa mendengar ucapan putranya. “Ingat ya kalau mommy nanti tanya padamu, jangan katakan kalau kau sedang melihat sesuatu yang berbahaya seperti ini Alex! Mommy tidak suka anaknya kenapa-napa. Kau mengerti?” Dante mewanti-wanti Alex untuk tutup mulut dan menjaga rahasia mereka berdua.
“Iya daddy! Hoaaaammmmmm! Daddy sepertinya aku mengantuk.” Alex bicara sambil menguap dan Dante tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
“Kau mengantuk ya?” Dante melirik jam tangannya. ‘Ah ternyata sudah malam.’ bisik hatinya.
“Iya daddy. Aku mengantuk, mau tidur.”
“Ya sudah kalau begitu nanti Sarah akan menemanimu tidur ya?”
“Iya daddy. Apa kami akan tidur ditempat ini? Tempatnya bagus, aku suka.”
“Kau mau tidur ditempat ini?” tanya Dante menatap anaknya yang berulang kali menguap.
“Iya daddy. Bolehkah?” tanya Alex balik mengerjapkan matanya.
“Tidak Alex. Aku sudah menghubungi Henry. Dia akan membawamu kembali ke kamarmu.”
“Oh baiklah.”
“Maafkan aku, aku tahu kau tidak bisa tidur disini malam ini Alex.”
“Iya daddy. Tidak apa-apa.”
‘Aku tahu kau sangat menginginkan untuk tinggal disini sementara Alex. Tapi maafkan aku karena aku ingin melakukan sesuatu dengan mommy-mu. Aku tidak mau kalian disini, aku akan mengajakmu menginap disini besok atau lusa jika aku bisa kembali dalam keadaan selamat!’ bisik hati Dante sambil berjalan keluar dari dalam lift menggendong Alex yang sudah mengantuk berat.
“Besok kita akan keisni lagi tapi kau tidak pakai baju seperti ini. Pakai baju biasa saja dan kau boleh menginap disini besok bersama Sarah dan mommy.”
“Benarkah daddy? Aku senang sekali.” Alex sangat antusias dan rasa kantuknya pun langsung hilang.
“Ya. Tapi sekarang kau harus tidur dikamarmu ya untuk malam ini saja.”
“Oke daddy. Tapi besok kalau tidur disini, bisakan main disini juga?” tanya Alex.
“Iya Alex. Kau bisa main disini, kau juga punya kamar yang bagus disini banyak mainannya. Kau pasti akan suka.” ujar Dante menyemangati anaknya.
“Boleh aku lihat?”
“Tidak sekarang Alex. Besok akan kutunjukkan padamu. Saat aku sudah kembali besok. Bagaimana?”
“Oke. Tapi kau jangan pergi lama-lama ya daddy. Aku dan mommy pasti akan merindukanmu.”
Dante tersenyum kecil. ‘Aku berjanji dua hal padamu Alex, pertama aku akan membuat kereta yang kedua aku akan menunjukkan kamarmu disini. Aku punya alasan kuat untuk hidup dan pulang kerumah.’ gumam hati Dante.
“Selamat datang kembali Tuan!” Henry langsung menyapa mereka setelah keluar dari lift yang terhubung kemansion.
“Henry! Aku sudah mengantuk. Aku tidak kuat jalan lagi. Bisakah kau menggendongku?” Alex berusaha dengan sopan meminta pada pria itu. Dia ingin terlihat seperti pria dewasa didepan ayahnya.
“Tentu saja Tuan Muda. Ayo kuantar kau kembali ke kamarmu.”
“ Bella, ayo pergi!”
“Tinggalkan kakakmu disana. Aku tidak menyuruhnya ikut denganmu.”
Sarah mencibir karena dia sudah berdiri sambil mengulurkan tangannya pada kakaknya. “Pasti aku ingin melakukan sesuatu bersama kakakku bukan?” celetuk Sarah.
“Sarah! Pergilah.” ujar Bella memarahinya. Dia tidak mau membuat keributan dan dia juga ingin berdua dengan Dante karena ada hal yang ingin dia bicarakan.
“Ah baiklah kalau begitu. Pasti kau ingin melakukan sesuatu yang enak-enak bukan?” Sarah bicara seenaknya sambil mengikuti langkah Henry yang sudah duluan menaiki tangga menuju ke kamar Alex.
“Hei kenapa kau menatapku begitu?” celetuk Dante yang menghentikan langkah Sarah. Henry pun ikut berhenti mendengar teriakan marah Dante.
“Habis kau banyak modusnya dengan kakakku.” Sarah mencibir.
“Apa itu merugikanmu? Dia istriku, terserah aku mau melakukan apa dengan istriku.”
“Itu----”
“Sarah! Cukup! Pergilah temani anakku.”
“Iya iya….aku pergi dulu. Gunakan waktu kaluan sebaik mungkin sebelum aku kembali mengganggu.”
“Berani kau menggangguku itu artinya kau tidak akan pernah bisa bertemu Barack lagi!” ancam Dante.
“Hah! Beraninya kau mengancamku seperti itu. Pokoknya kau tidak akan bertemu dengan Alex lagi.”
“Apa yang mau kau lakukan pada anakku?”
“Dante, adikku hanya bercanda saja. Dia tidak mungkin melakukan apapun pada Alex.”
Ucapan itu membuat Dante diam sejenak dan tersenyum lebar.
“Bella adalah kakakku dan dia pasti akan selalu membelaku!” Sarah melambaikan tangannya pada Dante dan berjalan mengikuti Henry.
“Kenapa kau membela adikmu?” tanya Dante setelah ketiga orang itu tidak kelihatan lagi.
“Maafkan aku Dante, sebenarnya aku juga tidak mendukungnya tapi itu caraku supaya dia tidak banyak bicara lagi. Kau tidak pusing ya berantem terus dengannya?” Bella bertanya sambil tersenyum.
“Kau tidak pernah bertengkar dengan adikmu?” tanya Dante.
“Tidak. Aku tidak pernah bertengkar dengannya karena aku selalu mengalah padanya. Tapi kalau aku sudah marah, dia pun diam. Kan aku tidak pernah marah padanya.” ucap Bella.
“Oh jadi begitu caramu mendidik adikmu?”
“Iya hehehe….apakah salah melakukan itu Dante?”
Pria itu menggelengkan kepalanya. “Dia sangat menyayangimu Bella. Tapi dia lebih berani darimu.”
“Hmmm….ya kau memang benar. Dia lebih pemberani menantang ayahku. Tapi karena dia juga aku jadi terus-terusan berselisih dengan ayahku. Aku selalu berusaha untuk melindunginya.”
“Kenapa kau tidak biarkan saja dia menanggung akibatnya?” tanya Dante.
“Aku tidak mau ada yang menyakitinya Dante! Dia adikku, sudah jadi tanggung jawabku untuk selalu melindunginya dan membuatnya bahagia.”
“Tidak akan ada yang menyakitinya apalagi setelah Barack kembali! Dia akan menjaga adikmu dengan baik dan menjamin keselamatannya.” ujar Dante.