PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 555. PENYERBUAN


Suara meriam dan tembakan yang saling bersahutan terdengar membuat Dante tersenyum. Posisi mereka saat ini berada dibelakang dan tidak menarik perhatian pasukan Jeff yang fokus ke bagian depan rumah.


Dante sudah melepaskan parasutnya agar bisa bergerak bebas. “Sial! Malah yangkut di pohon! Setidaknya parasutku bisa menutupi wajahku.” ucap Dante yang sudah melepaskan pengaitnya dan turun dari pohon.


“Nasibmu sama sepertiku Dante.” Barack tersenyum sambil menyiapkan senjatanya dan sudah siap siaga mengarahkan senjatanya kesegala arah siap menembak.


“Hanya Manuel dan Anthony saja yang mendaratnya mulus.”


“Mereka itu adalah orang militer. Mereka sudah terbiasa dengan hal seperti ini.”


“Kau tidak fokus Barack! Kau mengganggu pendaratanku! Kau berisik dan sibuk berteriak-teriak saja.”


“Apanya yang kau bilang tidak fokus? Aku hanya menikmati skydivingku.” jawab Barack.


“Sudahlah! Jangan dibahas lagi. Kita sudah sampai ditujuan dan jangan membuat keributan.” kata Dante lalu dia mengalihkan pandangannya pada Manuel. “Katakan!” tanya Dante yang menanyakan arah laboratorium yang harus mereka tuju.


“Aku sudah menunjukkan denahnya padamu bukan? Sekarang kita ada ditaman belakang. Kita harus masuk ke rumah utama. Ini tempat tinggal Jeff dan ditempat itulah yang terhubung dengan laboratorium.”


“Dimana letak laboratoriumnya?” tanya Dante lagi.


“Laboratorium berada dilantai dasar. Kita masuk kedalam ruangan bawah tanah disana itu Dante.”


“Ruang bawah tanah lagi?” Dante mengeryitkan dahinya.


“Iya. Yang sangat menyebalkan itu ruang bawah tanah karena pengamananya cukup ketat. Orang yang masuk kesana tidak mungkin bisa sembarangan keluar melalui jendela. Inilah yang sudah diperhitungkan oleh Jeff.” Manuel menjelaskan lagi.


“Berarti ini hanya ada satu pintu keluar masuk saja.” ucap Dante menegaskan pada Manuel dan pria itupun menganggukkan kepala.


“Kau benar sekali Dante. Tidak ada satu celahpun disana.” Manuel menatap tegas pada Dante. “Dan kau harus memberitahumu. Di lift menuju ketempat itu sudah dipasangi bom. Jadi saat kita ketahuan maka bom itu akan langsung meledak. Kita tidak akan ada jalan keluar dan akan hancur didalam sana.”


“Hah!” Dante terkekeh. “Jangan pikirkan itu! Kita tidak akan ketahuan.” Dante menepuk lengan Manuel. Meskipun setelah mendengar perkataan Manuel tadi, Dante sudah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk.


“Memang aku tidak memikirkannya tapi aku hanya memberitahumu kalau kau harus siap mati!"


“Setiap kali aku melakan misku, aku selalu siap untuk itu! Ayo lakukan misi kita. Tunjukkan jalan!”


Manuel dan lainnya pun berjalan menuju kerumah utama.


“Tidak ada jalan keluar lain? Mungkin kah memang tidak ada jalan keluar lain setelah dia menghancurkan jalur itu? Hmmm…” Barack mulai berpikir dan tersenyum kecil. Baarck tidak bisa memprediksikan karena dia belum pernah masuk keruang bawah tanah itu. Dia memang tahu tempat itu tapi dia tidak pernah sampai masuk ke dalam.


Doooorrr Dooorrrr


“Sepertinya tembakan diluar ramai sekali.”


“Dan penyusup seperti kita bisa masuk kapanpun.” ucap Manuel yang kini membuka tasnya dan mengambil laptopnya sambil berjalan.


“Apa yang kau lakukan?”


“Mematikan CCTV ditempat ini.” jawab Manuel dan dia melakukannya dengan cepat. “Selesai.”


“Kalau kau sudah mengaktifkannya berarti kita tidak bisa berkomunikasi dengan telepon, kau paham tentang itu kan?” tanya Barack.


“Ya aku tahu.” Manuel mengangguk.


Barack pun mengambil ponselnya dan mengaktifkan sesuatu.


“Apa yang kau lakukan Barack?” tanya Anthony penasaran melihat ponsel Barack.


“Mematikan sinyal internet disini. Membuatnya kacau sehingga semua orang disini tidak bisa mengakses jalur internet apapun termasuk telepon.”


“Ah begitu ya? Berarti aku tidak bisa menelepon siapapun kalau kita kesasar?”


“Pakai ini saja.” Barack memberikan sebuah benda kepada semuanya. “Kita bisa saling mendengar dan berkomunikasi dengan alat ini. Jadi tidak akan ada masalah.”


“Jangan kau pikirkan nanti kepalamu pusing! Aku akan menjelaskannya saat kita sudah selesai menjalankan misi ini. Sekarang fokus saja menjalankan misi ini.”


Sebenarnya Anthony masih merasa penasaran tapi setelah Barack bicara, dia pun memilih diam dan mereka semua harus fokus masuk kedalam rumah Jeff.


“Ini yang aku khawatirkan karena mereka melakukan jebakan yang sama seperti yang dilakukannya di Slovenia. Masuk seperti ini dan tiba-tiba saja android itu menyerang. Sedangkan Jeff tidak ada disini dan hasilnya kita terjebak.” gumam Dante.


“Tapi sekarang kita tidak berada di Eropa. Aku tidak memiliki kekuatan disini! Tidak ada senajta ataupun jemputan yang bisa datang menjemput cepat.” Dante pun mulai memikirkan semuanya sehingga dia diam.


Barack menatapnya, ada kecurigaan didalam hatinya yang belum disampaikannya pada siapapun. Karena itu dia memanggil Dante dan mencoba berdiskusi dengan pria itu.


“Apa kau yakin rencanamu ini?” tanya Dante.


“Ya aku yakin sekali!” jawab Barack. Lalu Barack menoleh pada Manuel mencari dukungan, “Bagaimana denganmu?”


“Aku juga sangat yakin.” jawab Manuel.


“Aku tidak.” Dante masih berada ditempat persembunyiannya dan duduk santai.


“Lalu apa yang kau rencanakan?”


“Tidak ditempat ini. Instingku mengatakan tidak dirumah ini.” kata Dante penuh keyakinan.


“Tapi aku tahu ada diruang bawah tanah tempat ini. Aku pernah masuk kesana, aku sering sekali masuk bahkan saat Gabriella operasi, aku yang melakukannya.” kata Manuel.


Dante kembali menggelengkan kepalanya, “Tidak ditempat ini. Aku tidak yakin ada ditempat ini.”


Dante dengan tegas pada keyakinannya dan sudah berjalan menjauh.


“Dante!” Manuel memanggilnya.


“Cari tempat lain.” kata Dante.


“Cari kemana?” celetuk Manuel. ‘Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku sudah melihat sendiri laboratoriumnya ada dibawah sana tapi dia mau mencari ketempat lain? Bagaimana cara berpikir orang ini? Tempat lainnya tidak mungkin ada komputer itu disana.’


Manuel yang tidak mengerti jalan pikiran Dante hanya bisa menatap Dante yang semakin menjauh. Dante malah menuju ketempat lain dan dia pergi tanpa beban meninggalkan rumah utama.


“Kau yakin semua CCTV sudah dimatikan?” tanya Dante saat dia menyadari Manuel sudah mengikuti.


”Sudah semuanya.” jawab Manuel yang hanya bisa mengikuti keinginan Dante.


“Bagus!” Dante mengeluarkan sesuatu.


“Apa itu?” tanya Manuel lagi. Dia memperhatikan benda kecil yang ada ditangan Dante.


“Ini adalah drone.” ucap Dante. Dia pun mulai mempersiapkan drone-nya untuk memulai pencarian.


“Apa benda itu bisa menghilang? Tidak bisa dilacak?” Manuel yang penasaran kembali bertanya.


“Ya, Barack yang membuatnya.” jawab Dante melirik pada Barack. Anthony pun menatap Barack sambil senyum-senyum.


“Kau banyak juga membuat alat ya?” ujar Anthony yang merasa kagum pada Barack.


“Well, hanya hobi saja.” Barack mengangkat bahunya. Dia memilih duduk dibawah pohon menunggu Dante yang sedang memainkan drona dan mengarahkannya kesekitar mereka.


Sementara suara tembakan masih terus terdengar. Dante tidak peduli, dia masih ingin melacak dimana keberadaan komputer utama itu.


“Ceritakan padaku tentang tempat itu.” kata Dante dengan wajah serius.


“Komputer pusatnya ada diruang bawah tanag. Ditempatkan diruangan khusus dan terhubung dengan ruangan lain. Dalam ruangan itu biasanya ditaruh android atau orang-orang yang ingin dijadikan android. Disanalah mereka menyuntikkan serumnya.” kata Manuel menceritakan apa yang dilihatnya.