
Jika tidak, maka Omero pun tidak akan pernah tahu jika anaknya itu memiliki penyakit yang sama seperti ibunya dan kondisinya juga semakin parah. Saat menerima laporan anak buahnya itulah, Omero memutuskan agar mengobati Tatiana dan menjauhkannya dari Dante sampai dia sembuh dan normal.
“Tapi ibu sudah tidak sanggup menjalani hidupnya! Kau mengekang dan memaksanya untuk berobat sedangkan ibu tidak mau! Dan aku bisa merasakan apa yang ibuku rasakan! Aku mengerti kenapa dia memintaku melakukan itu karena aku juga mengalaminya!” Tatiana kembali memaksakan kehendaknya bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.
“Andai ayah tidak terus menerus memaksanya berobat dan mengekangnya dirumah! Ibu tidak akan berakhir seperti itu, dia merasa lebih baik mati daripada harus kehilangan kesenangannya! Kenapa ayah tidak membiarkan saja ibu melakukan apa yang dia inginkan untuk menyalurkannya?”
“Apa kau bilang? Apa kau sudah gila Tatiana? Membiarkan istriku dinikmati laki-laki lain? Cih! Dan aku harus menerimanya katamu? Aku rasa tidak ada seorangpun didunia ini yang sanggup!”
“Fuuh!” Omero membuang napas dengan kasar dan mulai sadar jika emosinya sedang tidak stabil dan dia memilih untuk menepikan mobilnya. ‘Bagaimana mungkin aku hanya diam saja saat mengetahui istriku setiap hari bersama laki-laki lain diluaran sana! Cih! Tak sudi aku menyentuhnya apalagi melihatnya setiap kali dia pulang kerumah dengan wajah letih dan rasa sakit!’ bisik hatinya. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa jijik saat mengingat masa lalu itu.
“Apalagi yang mau kau katakan padaku ayah?”
“Ayo ikut ayah! Ayah akan antarkan kau pergi terpi, aku akan membantumu sampai kau benar-benar sembuh Tatiana! Itu tidak akan memakan waktu yang lama, hanya satu tahun saja kalau kau serius menjalani terapi. Kau bisa merubahnya semuany! Hidupmu akan jauh lebih baik dan kau tidak akan membutuhkan hal-hal macam itu lagi.” ujar Omero memperhatikan reaksi anaknya.
“Tapi itu semua takkan pernah berubah kalau kau tidak mau menarik dirimu dari sana! Kau akan menghancurkan hidupmu sendiri dan rumah tanggamu nantinya! Jangan mengulangi kesalahan ibumu, Tatiana! Ayah mohon, jangan mengulanginya!” Omero memaksa Tatiana.
“Tidak mau ayah! Aku tidak bisa ayah! Jangan memaksaku, biarkan aku dengan hidupmu! Semuanya akan baik-baik saja seperti sekarang. Jangan pernah ayah mengatakan apapun pada Dante! Maka semuanya akan baik-baik saja!” Tatiana bersikeras menolak saran ayahnya. Kedua tangannya kini meremas rambutnya sendiri seperti orang gila.
“Tatiana!” teriak Omero penuh amarah lalu menarik tangan Tatiana.
“Lepaskan aku ayah!”
“Tidak akan kulepaskan sampai kau mendengarkan aku!” ucap Omero lagi.
“Aku tidak mau mendengarkan apapun lagi! Aku tidak mau bicara padamu!” ujar Tatiana dengan airmatanya yang sudah berderai sambil menggelengkan kepalanya berusaha menutup diri dari semua yang ingin dibicarakan oleh Omero.
Tatiana sudah terlalu jauh dalam siksa dan nikmat penyakitnya, perlahan dia semakin merasa nyaman dan menikmati kelainan yang dimilikinya. Otaknya sudah tidak bisa dikendalikan seolah-olah hal semacam itu saja yang bisa membuatnya bahagia dan itu yang tidak diinginkan oleh Omero.
Karena dia mengingat bagaimana istrinya dulu yang semakin hari semakin parah dan menjadi-jadi sehingga Omero pun mencari pelampiasan lain diluar sana karena dia sudah jijik pada istrinya.
Namun dia tidak tega menceraikannya hingga akhirnya mereka hidup sebagai suami istri bak orang asing dan tidur di kamar terpisah. Omero ingin menjaga istrinya dan mengobatinya tapi mendapat penolakan hingga berakhir dengan kematian. Wanita itu lebih memilih mati daripada sembuh dari penyakit masokisnya.
“Aku ingin kau mendengarkanku! Ini untuk kebaikanmu Tatiana!” Omero membujuknya lagi, “Dante sangat baik padamu dan dia sangat mencintaimu, sangat perhatian padamu Tatiana. Dia bahkan jauh lebih baik daripada aku memperlakukan istriku! Aku membalas perbuatan istriku dengan mencari wanita lain sedangkan Dante setia padamu! Apa kau tidak kasihan padanya?”
Omero terus saja berusaha membujuk Tatiana, yang dia takutkan adalah jika Dante tahu dan pria itu akan menceraikan putrinya. Lalu apa yang akan terjadi pada Tatiana tanpa ada yang melindungi?
“Sebaik apapun Dante sekarang yakinlah dia tidak akan sudi berbagi dengan laki-laki lain! Apalagi dia seorang pria terhormat dan ditakuti semua orang! Dengan kelakuanmu sama saja kau merendahkan dan menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang pria dan suami! Orang-orang diluar sana akan menertawakannya dan mencibir! Bisa saja musuhnya menggunakanmu untuk melawannya. Apa tidak kau pikirkan itu semua?”
“Aku juga mencintainya ayah!” Tatiana bicara sambil menatap Omero.
“Kau mencintainya tapi kau menyakitinya, kau tidak mau berobat Tatiana! Penyakit mental masih bisa diobati asal belum terlambat!”
“Aku tidak bisa! Aku tidak sanggup ayah!” teriaknya lagi.
“Dulu ibumu juga berkata begitu.” Omero menghela napas harus mengingat kembali seseorang yang dulu pernah dicintainya namun sikap wanita itu pula yang membuat perasaan cintanya perlahan hilang.
“Tapi ibumu memang tidak pernah mau melakukannya! Kalau kau mau kau pasti bisa Tatiana! Ayolah bantu dirimu sendiri untuk melakukan ini demi kebaikanmu di masa depan. Jangan sampai Dante mengetahui dari orang lain dan dia salah paham denganmu!” ujar Omero.
Dia mencoba menjelaskan pada putrinya konsekuensi dari penyakitnya. Masokis masih bisa diobati asalkan memang pengidapnya mau. Masokis adalah penyakit kejiwaan yang bisa disembuhkan dengan melakukan terapi. Tapi Tatiana dengan keras menolak, dia masih enggan melakukannya.
Dia menentang keras seperti ibunya dulu sekuat apapun Omero membujuk tetap saja Tatiana menggelengkan kepala menolak. “Sudahlah ayah! Jangan membujukku lagi. Aku tidak mau melakukannya dan asal ayah tahu ya,” Tatiana sejenak menatap wajah ayahnya dan menghembuskan napas kasar.
“Bukan aku yang membunuhnya tapi kau! Kalau kau tidak membawa anak haram itu kerumah. Kalau kau tidak jatuh cinta dan menikahi wanita itu sampai punya anak dengannya, ibuku tidak mungkin menjadi depresi! Itu semua salahmu! Kau tidak setia pada ibuku dan tidak mengizinkan dia melakukan apa yang dia inginkan! Kau malah mencintai wanita lain dan malah membawa Cassanda itu pulang kerumah!” Tatiana memicingkan matanya menatap Omero.
Wajahnya penuh amarah dan kebencian yang membuat Omero tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Aku tahu itu kesalahanku membawa Cassandra kerumah. Tapi sebelum aku membawanya aku sudah membicarakannya dengan ibumu! Aku tidak akan membawanya kalau ibumu tidak mengizinkan!”
“Tapi ibu tidak menyukai anak haram itu!” teriak Tatiana yang sejak kecil membenci Cassandra.
Omero membawa Cassandra semasa berusia satu tahun dan Tatiana sangat membencinya karena cinta ayahnya pada ibu Cassandra jauh lebih besar daripada cintanya pada ibu Tatiana. Tanpa dia mau mengerti bahwa semua itu terjadi karena ulah dari ibunya sendiri.
Andai sejak awal dia mau berobat, tidak mungkin Omero jatuh cinta pada wanita lain. Bagaimana pun dia seorang pria normal yang membutuhkan sentuhan wanita sedangkan dia merasa jijik melihat istrinya yang disentuh pria lain setiap hari diluar sana. Lantas, kenapa dia harus disalahkan?