PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 431. TERPESONA


“Pekerjaan apa yang kau berikan padanya sampai dia pergi begitu lama untuk menyelesaikan pekerjaannya?” protes Sarah kesal sekali. Jika dia tidak mengingat ucapan kakaknya waktu itu, mungkin saat ini dia sudah memanjat punggung Dante dan mengacak-acak rambutnya yang rapi itu.


 


“Nanti kita bahas lagi. Jangan merusak moodku! Ada hal penting yang harus kulakukan sekarang. Apa kau paham, Sarah?”


“Alex! Sini jalan denganku.” ujar Sarah mengalihkan pembicaraan.


“Tidak! Alex akan berjalan bersamaku sampai aku bertemu dengan Belinda!”


 


Dante menggandeng Alex tanpa mempedulikan Sarah yang mengomel sendirian dibelakangnya.


‘Kenapa aku curiga dia menggandeng Alex sampai bertemu Belinda, apa dia sengaja menggunakan Alex sebagai tameng pelindung saat berhadapan dengan kakakku ya? Apa ada yang dia sembunyikan?’


“Kenapa kau tidak mengetuk pintunya?” tanya Sarah saat mereka sudah sampai didepan pintu kamar dimana Belinda berada.


 


“Tunggulah! Kalau dia sudah selesai, dia pasti segera keluar.” jawab Dante.


“Apa harus berdiri didepan pintu begini? Seperti menunggu orang yang membukakan padahal kau sendiri tidak mengetuk pintu, bagaimana mereka tahu kau ada disini?” ucap Sarah lagi. ‘Kenapa dia tidak mengetuk pintu dan berdiri saja disitu?’


“Kemari kau!”


“Kenapa? Kenapa kau menyuruhku mendekat?” tanya Sarah sambil memutar bola matanya.


 


“Cepat ketuk pintunya!” perintah Dante padanya.


“Kenapa tidak dari tadi kau suruh aku yang mengetuk pintu? Pffff percuma badan besar tapi mengetuk pintu saja tidak berani! Kau takut pada kakakku ya?”


“Apa kau bilang? Aku tidak berani? Aku takut pada kakakmu? Cih!”


 


“Ah aku tahu! Kau pasti malu ya? Cuma ada dua kemungkinan, yang pertama kau malu pada kakaku dan yang kedua kau tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kakakku setelah dirias, kau takut tidak bisa menahan dirimu iyakan? Ayo jawab!”


“Eh dengar ya! Saat pertama aku bertemu dengan kakakmu dia sudah memakai makeup menor! Aku juga sudah tahu luar dalamnya! Tidak ada yang aku tidak tahu!” ujar Dante kesal.


“Tapi saat kau bertemu dengannya, kau kan tidak melihatnya memakai pakaian pengantin. Luar dalam yang kau lihat itu tidak saat dia mengenakan pakaian pengantin kan?” ejek Sarah. Bertepatan saat itu pintu kamar terbuka.


 


“Mana kakakku?” tanya Sarah pada orang yang baru saja membukakan pintu.


“Sudah siap Nona. Tunggu sebentar ya biar saya panggilkan.” ucap orang itu dengan ramah lalu masuk kembali kedalam kamar namun dia tidak menutup pintu sehingga membuat Dante menelan salivanya. Dia semakin gugup dan melirik kearah pintu.


 


‘Sarah ini kalau bicara memang selalu ketus dan pedsa tapi apa yang dikatakannya kadang ada benarnya juga. Aku memang penasaran ingin melihat wajah Belinda yang sudah dirias. Aku ingin melihatnya memakai pakaian pengantin dan ingin mengabadikan momen ini bersamanya.’ gumam Dante didalam hatinya.


 


‘Setidaknya foto pernikahan kami akan menjadi kenang-kenangan terindah untuk kami. Sekarang aku belum bisa memberikannya pesta pernikahan yang mewah tapi nanti setelah semuanya selesai aku pasti memberikan yang terbaik untuknya.’ gumamnya lagi. Degup jantungnya semakin cepat menunggu wanita itu keluar dari kamar.


 


Terdengar suara langkah kaki dari dalam kamar, Sarah sebenarnya juga merasa penasaran juga tapi dia tidak membuka pintunya lebar hanya membiarkan saja orang yang berada didalam kamar membuka pintu itu. Saat pintu terbuka lebar, Sarah melihat wajah cantik didepannya dengan membelalakkan matanya menatap takjub.


 


“Belinda! Kau cantik sekali!”


“Kau cantik sekali. Apalagi dengan baju pengantinmu ini. Ahhh aku suka sekali melihatnya.”


Belinda tersipu malu dan tak sengaja pandangan matanya melihat kepada orang yang berdiri dibelakang Sarah.


 


“Halo Alex!” sapa Belinda untung saja wajahnya sudah dirias sehingga rona diwajahnya tidak terlihat.


“Mommy Bella! Kau cantik sekali.” ucap Alex penuh antusias dan melepaskan tangan Dante lalu mendekat pada Belinda. “Kau cantik sekali mommy Bella! Apa aku akan punya adik perempuan? Aku mau adik perempuan yang cantik sepertimu.”


 


“Kau mau adik perempuan, Alex?” tanya Belinda menggoda anaknya tanpa menyapa pria yang ada disamping Alex, Belinda bahkan tidak meliriknya sama sekali.


“Iya. Aku mau adik perempuan cantik sepertimu. Aku akan menikahinya!” jawab Alex antusias.


“Alex! Kau tidak boleh melakukan itu.” suara bariton dibelakangnya langsung memecahkan kesunyian.


 


Belinda maupun Sarah tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Alex barusan. Belinda juga menatap Dante yang membuatnya jadi salah tingkah.


“Sama adik juga tidak boleh menikah?” tanya Alex lagi.


“Iya. Adikmu tidak boleh dinikahi! Kau harus menikah dengan orang lain.” jawab Dante.


 


“Dengan siapa? Daddy sudah mengambil Bella dariku, aku tidak bisa menikahinya karena dia mommy-ku. Adikku juga tidak boleh lalu aku menikahnya sama siapa?”


“Orang lain Alex. Yang tidak sedarah, banyak wanita lain diluar sana.” jawab Dante yang bingung dan mulai emosi melihat anaknya itu.


 


‘Apa-apaan anak ini selalu memikirkan menikah? Dia tidak pernah membahas hal seperti ini sebelumnya? Kenapa dia jadi bertingkah seperti orang dewasa saja? Pasti ini gara-gara Sarah yang sudah mengajarinya cerita-cerita princess.’


 


“Dante, sepertinya dia tidak paham.” ujar Belinda dan menatap suaminya dengan malu-malu. “Sebaiknya kita jangan membahas hal ini lagi oke?” pinta Belinda menatap Dante.


‘Aku tidak mau ada keributan di pernikahanku. Aduh….kenapa Dante tampan sekali dengan penampilan seperti itu? Dia tampak sempurna, lihatlah dadanya sepertinya enak kalau aku tidur didadanya. Belum lagi wajahnya semakin membuatku meleleh saja. Aduh tampannya suamiku!’ gumum Belinda dalam hati.


 


‘Apakah kami akan menghabiskan malam bersama nanti? Apa sesuatu yang indah dan tak terlupakan akan terjadi malam ini? Sesuatu yang kami sukai dan membuatku melayang? Ah, Dante! Kau selalu membuatku tidak berdaya dengan pesonamu. Aku beruntung sekali bisa memilikimu seorang.’


 


‘Apa ada yang salah dengan penampilanku? Kenapa dia menatapku seperti itu?’ bisik hati Dante yang melihat penampilannya jika ada yang salah. ‘Ah semuanya sempurna. Mungkin dia menatapku seperti itu karena dia ingin meminta bantuanku untuk menangani Alex bukan? Dia ingin aku menjelaskan pada Alex kalau adiknya tidak boleh dinikahi.’ bisik hati Dante lagi.


 


“Ehem….baiklah. Kita tidak perlu berlama-lama lagi disini. Sebaiknya kita pergi dari sini.”


“Mau pergi kemana?” tanya Sarah mencengkeram jas Dante.


“Lepaskan tanganmu!” ujar Dante menatap Sarah yang memegang jasnya dari belakang.


“Kau dan kakakku menikah kan? Kenapa kau malah jalan duluan? Lihatlah kakakku kesulitan berjalan dengan pakaian pengantinnya. Harusnya kau menggandeng tangan kakakku.”


 


‘Anak kecil ini berisik sekali. Aku juga tahu soal ini tidak perlu dijelaskan! Kenapa dia secerewet ini? Aku jadi kasihan pada Barack kalau dia benar-benar bersama anak kecil ini! Aihhh….aku saja sakit kepala mendengar ocehannya apalagi kalau Barack bersamanya setiap hari.’