ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
SIAPA


Suasana di dalam kelas masih hening dan sepi, hanya ada aku dan gadis misterius yang tidak aku kenali dan terus memaksa diriku untuk melakukan sesuatu terhadap diriku sendiri, namun tidak aku ketahui.


Aku dapat melihat niat gadis tersebut dari tatapan matanya yang langsung menyorot ke arah mataku. Hanya saja, aku merasa bahwa gadis ini bukanlah makhluk yang jahat, walaupun caranya tampak kasar kepadaku. Mungkin aku harus bertanya sekali lagi, ucapku di dalam hati sambil terus menatap kearah gadis misterius tersebut.


"Siapa kamu? Siapa kamu? Jangan ganggu aku! Jika butuh pertolongan, katakan saja! Tapi tolong, jangan menyiksa ku," ucapku untuk yang ketiga kalinya sambil menatap gadis tersebut dan menahan tancapan pulpennya pada dadaku.


Aku berusaha menarik pulpen tersebut dari dadaku dan saat yang bersamaan, aku merasa sangat mual, pusing, serta ingin muntah. Tak tahan, aku memuntahkan isi perutku yang rasanya sangat bergejolak seperti air panas yang tengah mendidih.


"Uek ... uek ... ueeeek ...." Aku mengeluarkan muntah yang banyak. Aku melihat kumpulan busa berwarna putih bak deterjen yang baru saja dikucek bersama air, kotoran dari mulutku seperti busa dan berbau sangat tidak sedap.


Muntahan ku berceceran di atas kursi milikku yang tadinya diduduki oleh gadis misterius yang secara tiba-tiba menyerangku dan saat ini hilang entah kemana. Aku memperhatikan muntahan ku yang berbentuk busa dan rasanya perutku benar-benar kosong seperti sedang berpuasa 3 hari 3 malam tanpa makan dan minum apapun.


"Sarah, Sarah ... Sarah, " ujar Feli yang melihatku hampir tidak berdaya dan ia langsung berlari dari arah luar kelas lalu menahan kedua ketiakku agar aku tidak tergeletak di lantai.


"Kamu kenapa Sarah?" tanya Rian yang juga tampak cemas sambil menatapku.


"Sarah muntah," ujar Feli sambil melihat ke arah kursi tempat duduk ku.


Dengan sigap Rian memapah tubuhku dan membawa ke kursi belakang, lalu ia menyandarkan tubuhku di dinding ruang kelas. Setelah melihatku nyaman, ia mengangkat kursi belajar milikku keluar dan untuk beberapa saat aku tidak melihat Rian. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dia lakukan di luar sana dengan kursi belajar milikku.


Sekitar 5 menit lebih berlalu, Rian masuk ke dalam kelas dan langsung meminta Feli untuk memasang minyak angin di dada, pinggang dan sekitaran punggungku. Tak lama, Rian meminta Feli untuk menahan lengan bagian depan ku dan ia mulai memijat dari leher hingga ujung dekat bokong dari luar pakaianku.


"Tunggu disini sebentar, jaga Sarah tetap duduk dan hangat!" Rian kembali keluar ruang kelas dan sekali lagi, aku tidak tau dia kemana.


10 menit berlalu, dengan berlari dan keringat yang mengucur cukup deras dari wajahnya, Rian memberikan 2 botol air panas yang sudah dilapisi kain tipis, lalu Rian meminta Feli menempelkan nya di dadaku. Rasanya sangat nyaman sekali.


"Ini angin, angin jahat. Untung saja segera keluar dari tubuh Sarah karena jika tidak, bisa saja angin ini menjadi angin duduk dan menghabisi nyawa Sarah," ujar Rian yang terdengar cukup paham mengenai hal seperti ini.


"Angin duduk?" tanya Feli dengan raut wajah yang bingung.


“Iya ... angin duduk. Biasanya, gejala angin duduk berupa rasa nyeri di dada dan berlangsung sangat cepat hingga penderitanya meninggal dunia. Angin duduk ini terjadi saat suplai darah dan oksigen untuk otot jantung terganggu. Dalam dunia medis, angin duduk disebut dengan angina pectoris atau nyeri dada."


"Tapi tadi pagi Sarah baik-baik saja."


"Angin duduk ini penyakit yang ditandai dengan nyeri dada akibat otot jantung kurang mendapatkan pasokan oksigen dari aliran darah. Pasokan darah ke otot jantung terganggu karena adanya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah. Angin duduk dapat terjadi secara tiba-tiba," jelas Rian yang tiba-tiba menjadi banyak bicara dan ia terlihat sangat pintar.


"Aku sudah enakan."


"Itu karena kamu muntah banyak Sarah, jadi anginnya keluar bersama muntahan kamu."


"Makanya muntah Sarah tadi berbau asam dan seperti banyak gelembung?" tanya Feli tampak ingin tau lebih banyak.


"Tepat sekali dan alangkah lebih baiknya lagi kalau Sarah bisa buang angin (Kentut). Jangan malu Sarah! ini penyakit. Kalau mau kentut, lakukan saja!"


"Iya ... tapi bagaimana kamu bisa tau ini angin duduk?" tanyaku yang sangat penasaran karena sepengetahuan ku, aku seperti ini akibat tikaman pulpen dari gadis misterius.


"Pengidap angin duduk biasanya akan mengalami berbagai gejala, antara lain: Nyeri dada yang dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, dan punggung, dada seperti terhimpit atau tertekan benda berat, sesak napas, tubuh terasa lelah, mual, pusing, gelisah, mengeluarkan keringat berlebih hingga pingsan."


Apa yang Rian katakan memang terasa pada diriku, hanya saja aku sangat yakin dengan apa yang aku lihat bahwa aku seperti ini akibat menahan rasa sakit karena tertusuk pulpen tepat di dadaku yang dilakukan oleh gadis misterius beberapa menit yang lalu.


"Lalu apa yang harus dilakukan?" tanya Feli melanjutkan percakapan diantara kami.


"Kita sudah melakukannya tadi. Pertama adalah oleskan minyak angin di bagian perut, dada, pinggang, dan punggung. Lalu tempelkan 2 botol air hangat di bagian ulu hati atau bagian perut depan tempat angin duduk tidak mau keluar. lagipula anginnya sudah keluar kan?"


"Jika angin tetap tidak mau keluar?"


"Pakailah jaket hangat dan selimut tebal. Tunggu sampai tubuh kita mengeluarkan keringat dingin dan bisa bisa buang angin. Selain cara itu, kita juga bisa mengonsumsi obat yang mengandung nitroglycerin. Sebab zat ini berfungsi untuk mengendurkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah."


"Kalau obat itu ngak ada?"


"Selain itu kita bisa mengonsumsi obat Antiplatelet (sel pembeku darah) untuk melonggarkan sumbatan yang terjadi. Obat Antiplatelet yang paling murah dan paling umum dijual adalah Aspirin. Selain membantu untuk melonggarkan penyumbatan, aspirin juga bermanfaat untuk mengatasi nyeri yang terjadi," jelas Rian panjang lebar.


"Kamu tampak sangat mengerti tentang penyakit ini Rian."


"Iya ... aku punya pengalaman buruk dengannya."


Aku menatap Rian yang masih memijat kaki dan telapak kakiku dengan lembut namun terasa menusuk hingga ke dalam tulangku. Ia seperti seseorang yang sangat ahli dalam hal terapi. Ucapku di dalam hati, seakan menepis kecurigaan ku pada dirinya.


"Tidak Rian, aku sudah terlalu banyak izin dan libur."


"Kamu yakin Sarah?"


"Iya Feli .... "


Siap dengan memijat kaki ku, Rian langsung berdiri dan mengangkat kursi miliknya ke belakang meja belajar ku dan ia berjalan keluar ruangan kemudian masuk kembali dengan membawa kursi belajar milikku yang sebelumnya ia bawa keluar. Ternyata tadi Rian sedang membersihkan kursi belajar milikku yang terkena muntahan.


Bel masuk sudah berbunyi, dibantu Feli aku kembali ke meja belajar ku dan berusaha untuk duduk dengan tenang dan konsentrasi dalam menerima materi pelajaran yang diberikan oleh dosen ke-3 hari ini.


Rasa tidak percaya masih menyelimuti hati dan pikiranku. Sesekali aku melihat sekitar tempat aku duduk karena aku merasa gadis misterius yang sebelumnya muncul, saat ini tengah mengawasiku tapi aku sama sekali tidak bisa melihat dirinya di dalam ruang kelas ini. Siapa dia sebenarnya? Tanyaku di dalam hati.


Bel panjang kembali berbunyi, tandanya waktu pulang sudah memanggil. Kami membiarkan teman-teman satu kelas lainnya berdiri dan keluar dari ruang kelas terlebih dahulu agar kami tidak bergerak dasarkan mengingat kondisiku yang masih kurang baik.


Setelah ruangan kosong, Feli dan Rian membantu aku untuk berdiri dan kami bertiga berjalan keluar dari dalam kelas menuju parkiran. "Sebentar, aku ambil mobilnya dulu," ucap Rian sambil berjalan cepat ke arah mobil berwarna merah mengkilap miliknya.


"Rian ternyata bawel juga ya," kata Feli yang terlihat heran dengan sikap Rian hari ini.


"Iya."


"Kak Rio masih rapat ya?"


"Sepertinya begitu Fel, makanya dia belum sempat menyusulku di dalam kelas."


"Iya, sabar saja ... memang begitu nasib nyonya BEM kan (Badan Eksekutif Mahasiswa)."


"Hemh .... " keluh ku.


"Ayo masuk!" ucap Rian sambil membukakan pintu tengah mobilnya.


"Aku di belakang saja ya Rian, aku ingin bersama Sarah."


"Tentu saja, tidak masalah bagiku."


Rian menutup pintu mobil kemudian kami mulai berjalan menuju arah rumahku. Sesampainya di depan rumah, Feli dan Rian terlebih dahulu membawaku ke dalam kamar dan membaringkan aku di atas ranjang.


"Sudah nyaman?" tanya Feli sambil memegang tangan kiri ku.


"Sudah. Kamu antar saja Rian ke depan dulu Fel! "


"Iya Baiklah."


*****


Setelah setengah jam sendirian di dalam kamar tanpa bisa memejamkan mataku, Feli masuk ke dalam kamar dengan membawa kotak kado ukuran sedang berwarna merah muda. Feli tampak sangat bahagia dan aku sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


"Apa itu Fel?" tanyaku sambil tersenyum dan menatap kado yang berada di dalam pelukan Feli.


"Aku ngak tau Sarah ... kan belum dibuka."


"Kalian sudah jadian?" Lalu Feli tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Syukurlah ...." ucapku dengan senyum yang serupa dengan Feli.


"Kita buka yuk! " ajak Feli dan senyumku semakin lebar.


Aku memiringkan tubuhku dan membantu Feli membuka bungkus kado pemberian Rian. Tapi, setelah aku membuka kotaknya, aku sangat terkejut melihat isinya. Itu adalah tas berwarna putih bermotif bunga tulip yang gadis misterius tadi siang kenakan di dalam kelas. Ucapku tanpa suara.


Bersambung....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘