ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
Komunikasi Gaib


Saat semua air mata sudah tumpah, saat semua tanya sudah terjawab, saat semua bimbang sudah berkurang, saat semua takut mulai menghilang, aku tetap merasa ada urasan yang belum tuntas diantara Sinta dan Rian.


Apa yang harus aku lakukan sekarang agar semua permasalahannya dapat diatasi dengan baik dan semua hati dapat terjaga? aku bertanya tanpa suara sambil menatap Kak Rio yang masih setia menggenggam jari tanganku dengan kuat.


"Ibu, maaf jika aku lancang. Bolehkah aku ke kamar pribadi Sinta?''


"Silahkan ... mari ikuti saya ...!"


"Baik Bu."


Aku dan Kak Rio jalan berdampingan menuju ke kamar Sinta. Kami seperti melewati terowongan gelap, semakin lama kamar Sinta semakin jauh terasa, padahal rumah ini tidak terlalu besar, hingga kami tiba pada kamar yang terakhir.


Kamar ini terasa sangat berbeda auranya dengan kamar yang lain, aku sangat penasaran tapi Kak Rio meminta agar aku berhati-hati. "Jangan lupa berdo'a di dalam hati, Sarah!"


"Iya Kak."


Aku mengawali langkah masuk ke dalam kamar ini dengan kaki kanan. Aku mengetuk ruang melalui batinku sembari memanggil-manggil namanya. Sebenarnya aku tidak pengalaman soal ini, tapi batin membimbingku untuk melakukan, apa yang aku lakukan saat ini.


"Kakak tunggu di luar saja!"


"Yakin."


"Yakin Kak." Kak Rio pun segera meninggalkan aku di dalam kamar Sinta sendirian.


Aku teringat bagaimana cara ibu berkomunikasi dengan diriku saat itu. Aku membaringkan tubuh di atas ranjang milik Sinta yang terasa berdebu dengan hati yang tenang.


10 menit berlalu, semua terasa biasa-biasa saja. 20 menit berjalan, aku merasa diriku semakin jauh, 30 menit selanjutnya aku seperti berada di sebuah ruang sunyi dan kedap udara. Dimana aku? aku bertanya di dalam hati.


Perlahan, aku merasakan tangan dengan jari yang lengkap berjalan di tubuhku, seperti menggelitik dari pinggir pinggang kanan hingga perutku tapi aku tidak ingin melihatnya karena pasti akan sangat menakutkan.


Aku sadar penuh jika saat ini aku hanya seorang diri, tapi aku dapat melihat sosok seseorang dari samping kanan tubuhku, dari sudut kanan mataku. "Sinta?" tanyaku dengan mata yang melotot.


Jika ada sesuatu yang belum tersampaikan atau keinginan hati yang belum terpenuhi, katakan saja kepadaku! agar kamu bisa lebih tenang ucapku dengan bibir dan nada suara yang gemetaran.


Tak lama, aku merasakan 10 jari merayap di wajahku mulai dari arah dagu dan menutupi kedua mataku. Seketika aku dapat melihat suasana di mana Sinta berada di sebuah taman dan duduk di kursi panjang. Di dalam hatiku berkata, mungkin inilah cerita yang baru saja disampaikan oleh ibunya Sinta barusan.


Cukup lama aku melihat Sinta duduk di kursi itu dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar sembari melihat ke arah dompet miliknya yang terselip foto Rian. Tak lama, aku melihat Sinta memasukkan kertas putih ke dalam dompet tersebut.


Hari sudah mulai gelap tapi belum juga ada tanda-tanda kehadiran Rian. Tiba-tiba Sinta mengalami sesak hingga ia memegang dada kirinya dan berusaha mengatur nafas dengan baik di tengah hujan rintik dan angin yang cukup besar.


Tidak perlu waktu yang lama, Sinta yang tadinya tampak kejang dan tegang perlahan menjadi lemas bahkan menghilang. Aku menangis saat melihat tubuh Sinta mengejang, lalu tiba-tiba melemas. Kakinya yang keras dan kaku, jadi mengerucut dan melemah.


"Apa yang ingin kamu tunjukan kepadaku?" bertanya dengan mata yang mulai basah.


Flashback


Terlihat dengan jelas, Sinta di dalam kamar ini tengah duduk di meja belajar. Sedangkan diriku berada di sampingnya, sehingga aku dapat melihat apa yang sedang ia kerjakan. Sinta menuliskan surat untuk Rian dan ia mencurahkan segala isi hatinya. Ini bukan isi hati seseorang teman terhadap sahabatnya, ataupun saudara terhadap saudara angkatnya, tapi ini adalah surat cinta.


Setelah siap, Sinta mencium surat tersebut dan tersenyum manis kepada kertas yang tidak bernyawa yang merupakan lambang kasihnya kepada Rian.


Back


Tiba-tiba suasana kembali suram dan aku dapat melihat suasana duka di dalam keluarga ini. Tak lama, aku melihat Sinta sudah terbungkus rapi dengan sebuah kain putih panjang dan aku menangis seakan terbayang Ibu, Si Mbok, dan juga Tania.


Aku memandang sekeliling dari setiap sudut jendela dan juga pintu rumah ini. Saat itu aku menyadari bahwa hari sudah siang, ini tidak lagi malam, tapi Rian belum juga terlihat.


Setelah disholatkan, jasad Sinta pun diangkat ke liang lahat. Saat ini semua tampak biasa-biasa saja dan normal-normal saja, persis seperti pemakaman pada umumnya. Yang aku lihat saat ini hanyalah ibunya Sinta tampak begitu meratap dan seolah tidak bisa menerima kepergian anaknya.


*****


Malam harinya tampak banyak orang sedang berdo'a dan membacakan yasin untuk Sinta, tapi ibunya tidak melakukan apapun, ia hanya duduk terpaku di sudut ruang tamu dengan mata yang menatap lurus ke depan namun kosong.


Saat tamu datang untuk mengunjungi dan mengucapkan kata belasungkawa, sang Ibu hanya terdiam dan terduduk lemas tanpa memberikan respon sedikitpun kepada yang datang dan menyapa.


Hari sudah semakin malam dan rumah menjadi sangat sepi. Suasana mulai menggiring hati sang ibu ke dalam titik terendah di dalam hidupnya. Beliau tidak lagi tersenyum, beliau tidak lagi ceria, dan beliau sama sekali tidak tidak tampak mengunyah dan menelan apapun sejak kemarin hingga saat ini.


Tekanan dan rasa tidak terima sangat terlihat nyata di wajah sang Ibu yang terus-menerus memandangi foto Sinta. Mungkin saat itu, ia berharap bahwa apa yang ia alami saat ini hanyalah mimpi, tapi sayangnya ... semua adalah kenyataan hidup yang pahit.


Pukul 22.00 WIB, Ryan datang dengan membawa bingkisan dan beberapa makanan kecil. Rian tampak tidak mengetahui tentang apapun hingga ia bertemu dan menyapa Ibunya Sinta kemudian sang Ibu langsung menceritakan apa yang terjadi kepada Sinta.


Saat itu, Ryan diberikan secarik kertas yang berisi tulisan hati Sinta kepada dirinya selama ini. "Sekarang dimana Sinta Bu?" tanya Rian yang masih belum percaya dengan kata kematian.


"Sinta sudah tiada," jawab Ibu dengan air matanya yang tumpah. "Sinta sudah meninggal dunia."


Seakan tahu dimana Sinta dimakamkan, Rian langsung berlari seperti orang gila. Perasaannya penuh dengan sesal, wajahnya penuh dengan air mata tapi semua sudah berakhir dan Sinta akhirnya dapat mengatakan isi hatinya kepada Rian.


Hari sudah sangat larut, Rian pun berusaha untuk mengikhlaskan semuanya dan pergi meninggalkan makam Shinta dengan langkah yang berat.


Tak lama berselang dari langkah Rian meninggalkan makam tersebut (Beberapa menit saja), tampak sebuah cangkul yang tidak asing bagiku sedang membuat lubang pada gundukan kuburan Sinta dan mengeluarkan jasadnya yang sudah tampak kotor akibat tanah yang basah dari dalam kuburan.


Bersambung....


"Hai Hai para readers yang sudah sangat sabar, hari ini kita crazy up ya. jangan lupa duduk manis buat baca. Bagi kalian yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.


CINTA DAN DOSA, kisah seorang gadis hasil broken home yang mendapatkan perbuatan zholim dari orang dekatnya namun ia mampu melewati masa suram dengan mengayun langkah sambil terseok, sekarang ia menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya.


PERFECTION OF LOVE, merupakan sambungan dari novel Cinta dan Dosa.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘