
Matanya terlihat dingin dan jahat, tapi dia selalu perduli dengan teman-temannya. Selain itu, pendengaran Mbah Pecek sangat buruk makanya dia terkesan cuek. Walau begitu, jangan tanya kekuatannya karena ia memiliki kulit yang sensitif dan mampu mendeteksi musuh sebelum berdiri di hadapannya.
"Biar aku yang membujuknya, Sarah," ucap Wiro dengan suara setengah berbisik.
"Apa iro sedang mengejek ku?" tanya Mbah Pecek dengan wajah yang sangat dekat dengan Wiro.
"Malas lah ngomongin situ, ndak manfaat," jawab Siro yang tampak akrab dengan makhluk beraura freezer tersebut.
"Kalau gitu, ngomongin apa?"
"Keblek, ra ngerti aku. Ndak pernah tarung," ucap Wiro mulai membuka dan memancing percakapan.
"Keblek itu salah satu legenda yang cukup tersohor di kalangan masyarakat Jawa. Nama itu sebutan bagi burung yang dipercaya merupakan makhluk jadi-jadian. Keblek merupakan makhluk lelembut yang memiliki wujud seperti binatang. Beberapa orang bahkan percaya jika kehadiran burung Keblek merupakan pertanda jika orang di sekitar atau saudara akan ada yang mati."
"Apa makhluk itu yang berniat untuk membunuh Feli?" tanya ku mulai penasaran.
"Bukan berarti burung itu adalah si pencabut nyawa, tidak. Sebagian orang percaya jika burung tersebut hanya menyampaikan kabar."
"Kepercayaan tersebut harusnya tidak dipertahankan. Sebab, yang tahu tentang misteri kematian, tentu saja hanya Allah Subhana Wa Ta'ala," tegas ku.
"Setahuku, sosok keblak memiliki wujud seperti ayam jago, kalkun, kelelelawar yang memiliki warna hitam pekat yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa. Yang pernah aku hadapi dulu, keblek ini merupakan siluman dengan wujud yang mengerikan."
"Mana lebih mengerikan dibandingkan kamu, Pecek?" tanya Wiro, mulai menggoda Mbah Pecek.
"Seeet, jangan memancing ku, Wiro!" desis Mbah Pecek.
"***Sepengalaman ku, keblak merupakan burung gaib yang merupakan bangsa siluman dan perannya sebagai pesugihan. Makhluk itu diberi tugas untuk mencuri beras atau uang untuk tuannya."
"Bener. Seseorang yang berhasil menangkap makhluk tersebut, dan tetap membiarkannya hidup, tak berselang lama akan ada seseorang yang datang untuk menebusnya dengan imbalan yang besar. Namun jika si penangkap membunuh si Keblak, dipercaya bahwa si pemilik juga ikut mati. Meski demikian, untuk menangkap makhluk Keblak tersebut bukan hal yang mudah, sebab sosok gaib tentu saja memiliki kemampuan untuk menghilang. Dibutuhkan orang yang ahli untuk menangkapĀ binatang gaib jenis itu," sambung Wiro.
"Nah, itu iro tau. Mau nguji aku opo yo***?" tanya Mbah Pecek sambil memasang wajah masamnya kepada Wiro.
"Ndak takut aku," jawab Wiro sambil tertawa terbahak-bahak.
"Jadi leak itu mau menghisap sari dari Feli dan bayinya, lalu si keblek mau memberi tanda kematian gitu?"
"Bisa saja mereka melakukannya sekalian. Mau ngisep sari sama persugihan karena menurut Belang, bau mereka sama," jawab Mbah Pecek yang baru kali ini bersedia menjawab pertanyaan dariku.
"Hemh. Di dalam kondisi seperti itu, dimana jin putih-putih milik Rian?" tanya ku mulai kesal karena mereka seperti tidak perduli. "Biasanya mereka datang dan membantu."
"Oh, begitu ya? Pantas aku tidak pernah melihat Mbah Brahma lagi."
"Yang lainnya, ada yang binasa dan terluka parah karena melindungi tuannya. Kemarin yang dihadapi itu kan penunggu cermai. urusan tumbal to?"
"Iya, benar." Satu hal yang aku pahami, walaupun tidak sejalan, tapi mereka tidak berusaha untuk menjelek-jelekkan jin lainnya dan mereka juga perhatian dengan lingkungannya. Sementara aku, aku masih sempat berpikiran buruk pada makhluk lainnya. Otak dan hatiku memang masih dangkal, ucap ku tanpa suara.
"Mereka datang," ucap Mbah Pecek sambil bergerak sangat cepat mengelilingi rumahku (memagari).
Aku yang ingin sangat jelas melihat makhluk jelmaan tersebut, langsung bergerak ke arah pagar rumahku. Benar saja, ternyata dugaan kami tidak meleset. Mereka makhluk yang berbeda dengan tuan yang sama.
Tidak ingin menunda-nunda waktu, aku berniat keluar dari pagar dan menghajar makhluk yang ingin mencelakai Feli. Namun langkahku terhenti.
"Apa yang kamu pikirkan?Apa kamu mau semua penduduk disini melihat kamu melompat dan berteriak seperti orang gila? Ini masih sore, orang-orang masih belum tidur," ucap Mbah Pecek, padahal ini sudah hampir pukul21.00 WIB.
"Bener itu," sahut Wiro.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya ku sambil melihat makhluk tinggi besar di seberang jalan, dengan kedua taringnya yang tampak panjang dan lidahnya yang hampir menggapai perutnya sendiri. Dia tidak sendiri, tampak jelas olehku burung gagak yang sedang mengitari kepalanya.
"Mereka juga ndak berani untuk mendekat, itu artinya mereka sedang menyusun siasat, mencari tau dimana korban, atau sedang menerawang kekuatan kita."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya ku sekali lagi karena memang bingung dengan situasi dan keadaannya.
"Kamu harus masuk dan makan. Sementara aku, aku akan terus menjaga dan memberikan laporan padamu tentang musuh kita itu," sahut Mbah Pecek dengan tenang.
"Baiklah kalau begitu, Mbah. Aku masuk dan makan dulu ya."
"Sing akeh," ucap Mbah Pecek.
"Baiklah ...."
Bersambung.
Para pembaca, mohon maaf jika aku belum bisa membalas komentarnya satu persatu seperti biasanya ya. Bukan sombong, tapi karena keterbatasan penglihatanku pasca kecelakaan kemarin.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya š¤.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.