
Sudah larut malam, aku berusaha untuk tidur. Butuh waktu yang panjang dan lama untuk menenangkan hatiku dan melupakan semua tentang Ibu dan Tania.
Aku sangat ingin tau tentang mereka, dimana mereka, walaupun yang tersisa hanya tulang belulang nya saja terutama ibuku dan aku masih berharap Tania masih hidup.
Aku mulai mengantuk dan ingin terlelap. Semoga malam ini menyenangkan Sarah ... berbicara sendiri di dalam hati. Aku harus tidur, aku ingin lekas sembuh. Aku harus makan, aku harus cepat sembuh. Aku terus mengulang perkataanku tanpa suara.
--------------------------------------
Aku mendengar suara mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku, lampu mobil tersebut menyinari mataku dan aku merasakan silau yang luar biasa. Tanpa dapat bergerak, aku merasakan mobil itu menabrak dan tubuhku terpental hingga berhenti di sudut pohon besar.
Aku memperhatikan sekeliling ku, ini adalah tempat di mana aku dan ayah menabrak makhluk misterius malam itu saat pulang mengantarkan mayat si Mbok.
Cahaya remang-remang membuat aku kelabakan dan mulai ketakutan. Aku berlari menuju mobil yang menghantam pohon tersebut. Saat aku hendak membuka pintu depan, aku melihat seseorang dengan wajah yang aku kenali. Tante Rima keluar dari mobil tersebut dan aku mundur beberapa langkah.
Rasa takutku terhadapnya ternyata masih besar, ucapku di dalam hati.
Tante Rima memandang ke arahku dengan pandangan yang sayup, kepalanya terluka karena benturan yang kuat, lalu dari arah belakangku, aku melihat sebuah mobil berhenti dan mendekati mobil Tante rima yang sudah berhenti terlebih dahulu karena menabrak pohon besar itu.
Mataku tertuju pada mobil kedua tersebut. Dari mobil itu, keluarlah seorang wanita yang sangat mirip dengan Tante Rima. Jantungku mulai berdegup kencang. Aku melihat keduanya secara bergantian. Air mataku mulai menetes, hatiku mulai bertanya. "Yang mana ibuku?"
"Rima ... aku mohon, jangan lakukan ini, apa salahku padamu? selama ini aku selalu mengalah kan? " uUap wanita yang sudah terluka karena menabrak pohon (wanita dalam mobil pertama).
"Aku tidak perduli dengan apapun Rina, yang aku mau hanya Ardy. Kamu punya pilihan, pergi dari Ardy dan membawa anak-anak bersamamu dan artinya kalian semua akan selamat, atau kamu tetap bersama Ardy tapi hanya beberapa saat karena yang akan kembali saat ini adalah mayat mu Rina?" Dengan suara yang keras dan mengnacam
"Aku mohon padamu Rima ... anak-anak ini butuh ayahnya." Ucap ibuku
"Kalau begitu tinggalkan mereka padaku dan kau pergilah dari sini, setuju? " Tanya Rima
"Jangan Rima ... aku mohon padamu, aku sangat mencintai Ardy dan anak-anak ku. " Sahut ibuku
"Sama saudaraku. Aku juga begitu. Coba kamu bayangkan saja! bertahun-tahun aku menderita melihat kebahagiaan kalian, tidak bisakah kita bergantian?" Ucap tante Rima
"Rima, ini salah menurut agama ... tolong jangan jadi orang yang berdosa." Dengan suara yang memelas dan hampir tertunduk.
"Berarti kamu tidak mau meninggalkan Ardy?"
Tante Rima berjalan mendekati ibu, dan dia mulai memukuli ibu. Ibu yang sudah lemah tetap berusaha melawan Tante Rima, tapi Tante rima lebih kuat dan kejam. Tante Rima sanggup memukuli ibu dengan kayu besar yang panjang.
Ibu terus menjerit kesakitan dan menangis, aku berusaha mendorong Tante Rima tapi aku tidak kuasa, tanganku seakan tembus melewati tubuh Tante Rima.
Aku memukul-mukul Tante Rima sekuat tenagaku, aku menendangnya tapi sedikit pun dia tidak merasakan sakitnya. Aku terus melihat ibu yang terus dianiaya oleh Tante Rima. Saat ibu terjatuh, Tante rima menendang-nendang kepala ibuku seenak perutnya.
Aku tidak kuasa melihatnya, air mataku berjatuhan. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak mampu membantu ibu. Aku menarik-narik rambutku hingga lepas dari kepalaku. Aku tidak sanggup melihat penderitaan ibuku.
"Ibuuuuuu ibuuuuuu ibuuuuuu. " Teriakku
"Tidak tidak ... jangan sakiti ibuku. Tante Rima, pukul saja aku, pukul saja aku." Aku terus berteriak seperti orang gila tapi tetap saja, tidak ada satupun yang mendengarkan aku.
Aku berputar-putar hingga merasa sangat pusing dan terjatuh di aspal. Aku melihat ibu dari tempat yang sejajar. Mataku dan mata ibu bertemu, untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat mata ibuku dengan jelas. "Dia ibuku ... jangan sakiti dia ... ." Aku terus meratap.
Aku terus memandangi ibu, aku menjulurkan tanganku ke depan, ibu selalu menatap ke arahku. "Raih tanganku Bu ... pegang tanganku. " Ucapku sambil menangis
Kemudian Tante Rima menarik rambut ibuku dan menyeret nya ke dalam mobil, ibuku sudah tidak berdaya tapi pada saat itu ibuku masih dalam keadaan hidup. Aku berdiri dan mengejar ibu. Aku melihat wajah ibu sudah bersimbah darah.
Tante Rima membawa ibu masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Tante rima, dan mengarahkan mobil tersebut ke dekat jurang, lalu Tante Rima turun dan mendorong mobil tersebut ke dalam jurang.
"ibuuuuuuuuuu ... ibuuuuuuuuuu ...
ibuuuuuuuuuuu ... ibuuuuuuuuuu ...."
"Aku melihatnya, aku melihat semua kejadian itu. Aku hanya bisa berteriak. Aku terduduk dan kepalaku menyentuh aspal. Aku tersungkur, sambil menagis dengan keras. Rasanya tulang-tulang ku tidak ada lagi, tubuhku melemah. Aku tidak tau apa-apa lagi.
Aku terkejut, tersentak, dan terbangun. Saat terbangun, aku menatap langit-langit kamar rumah sakit. Nafasku terasa berat dan sesak. Aku melihat seorang dari atas sana turun menyentuhku.
Matanya mendekati mataku, hidungnya menyentuh hidungku, perutnya menyentuh perutku, kakinya menyentuh kakiku. "IBU .... " Air mataku mengalir deras. "Ibu, Ibu, Ibu, ibu, Ibu. " Lalu aku melihat ibu tersenyum padaku,
aku melihatnya dengan jelas.
"Apakah ini petunjuk dari Ibu? apakah mimpiku tadi adalah petunjuk dari Ibu? jawab bu .... " Tapi Ibu hanya diam dalam senyum.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘