
Craaat
Darah segar mengalir seperti kran besar yang bocor. Semakin lama semakin banyak dan besar pancuran nya. Mataku membesar dan nafasku terkunci.
"Puji ....!!" teriak Pamannya Sinta dengan ekspresi yang sangat marah karena melihat kaki tangannya (Orang kepercayaann) terluka akibat tusukan pisau yang dihantamkan bu Puji tepat di perutnya. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali.
"Aku sudah menghabisi satu, sebelum pukul 00.00 WIB, habisi dia. Karena jika terlambat, kalian semua akan mati," ujar Bu Puji dengan suara yang sangat pelan hingga terdengar samar-samar di telingaku.
Sepertinya kali ini beliau tidak ingin melancarkan aksi saudaranya. Dalam hal ini, aku juga sangat yakin bahwa apa yang terjadi sebenarnya di luar janji dan ekspektasi Bu Puji. Beliau hanya ingin Sinta, bukan yang lain. Tapi semua itu dimanfaatkan oleh saudaranya sendiri.
Dari jarak yang cukup jauh, Pamannya Sinta berlari sambil mengayunkan tongkat kepala tengkorak miliknya dengan sangat kuat dan menghantam bagian kepala depan (Dahi) Bu Puji. Beliau benar-benar tidak berdaya kali ini. Dalam kondisi terjatuh di lantai dan mata yang hampir tertutup, beliau mengatakan sesuatu.
"Kalian sudah membuat aku menjadi orang yang sangat kejam dan jahat. Padahal sudah ada empat lilin yang menyala, hanya tinggal satu lagi untuk Putriku. Tapi ternyata kalian berbohong. Dengar! jika cahaya itu mati, maka kalian akan kembali ke titik Nol."
"Cahaya itu, tidak akan pernah padam," ucap laki-laki biadap tersebut sambil mengangkat setinggi-tingginya tongkat yang ia pegang lalu menancapkan nya pada perut Bu Puji, hingga darah mengucur seperti mata air yang baru saja ditemukan dan digali.
"Aaaaaaakkk ... maafkan aku, Mas Seno." Lalu suara Bu Puji sama sekali tidak terdengar lagi.
Aku menangis sambil memeluk lutut kakiku yang bergetar hebat. Rasanya aku tidak sanggup lagi untuk berdiri. Tak lama, ia meninggalkan Bu Puji ke sebuah ruangan yang tepat berada di hadapanku (Sejajar dengan pandanganku).
Disana pasti ruang khususnya, ucapku di dalam hati sambil berusaha berdiri di atas kedua kakiku yang masih bergetar hebat. Tiba-tiba, suara Bu Puji terdengar kembali di telingaku. "Dengar! jika cahaya itu mati, maka kalian akan kembali ke titik Nol."
Rasanya apa yang Bu puji katakan, adalah petunjuk untukku. Tapi, cahaya apa? dimana cahaya tersebut? apakah ada hubungannya dengan pola rasi bintang yang tadi sudah aku lihat? aku terus berdiskusi di dalam hati tanpa tahu jawabannya.
Aku melewati tubuh Bu Puji dan duduk jongkok di hadapannya. Aku menutup mata beliau yang melotot dengan tangan kanan ku. Tiba-tiba saat aku hendak berdiri, mata Bu Puji kembali terbuka dan ia muntah darah sambil memegang perutnya yang sudah berlubang seperti lubang untuk menanam bibit jagung.
Aku terkejut hingga tubuh ku terdorong ke belakang, aku sangat takut sepertinya jantungku mau copot. Ia memegang pergelangan tanganku sangat kuat dan ia mengatakan kepadaku, "Bakar tas Sinta secepatnya!"
"Kenapa, Bu?"
"Saya, sudah memasukkan jimat untuk menukar jiwa Sinta dengan dia (Feli). Maaf, saya pikir ... ini semua bisa menghidupkan Sinta kembali," ucapnya lirih sambil menangis dan tampak menyesal. "Cepat! sebelum ... terlambat."
"Ba-baik, Bu," ucapku terbata-bata.
"Di sana, ada sinyal." Lalu Bu Puji tidak bergerak lagi, tidak bernafas lagi dengan matanya yang tidak tertutup.
Aku berlari ke arah pintu yang ditunjuk oleh Bu Puji, ternyata itu adalah pintu ke arah ruang yang lainnya. Dindingnya terbuat dari tanah, berarti ini ruang bawah tanah. ucapku di dalam hati.
Pink
"Jangan telpon! dengarkan aku baik-baik Feli." Pesan terbaca (Centang 2). "Kita dalam bahaya, bakar tas yang diberikan oleh Rian padamu! secepatnya! jika tidak, kita tidak akan bertemu kembali."
Pink
"Aku mengerti."
"Aku sayang padamu dan aku percaya padamu, Feli." Lalu aku mematikan HP milikku karena tidak ingin posisiku diketahui oleh pasukan iblis tersebut.
Dalam kebingungan, aku berputar-putar di dalam ruangan ini hingga tanpa disengaja, aku menabrak sebuah kursi goyang yang terbuat dari kayu.
Aku menghidupkan senter ponsel ku kembali untuk mengetahui kebenaran akan pikiranku tersebut. Tapi setelah aku dapat melihatnya, bukan hanya kursi goyang dari kayu yang aku lihat, melainkan jasad Sinta dalam bungkusan kain kafan yang diikat pada kedua sisinya (Pocong) di duduk kan di atas kursi goyang tersebut.
"Aaaah ... tidak. Ini benar-benar gila. Apa sampai seperti ini kegilaan seorang Ibu terhadap anaknya?" ucapku dengan suara berbisik. Tiba-tiba aku teringat kegilaan Tante Rima yang membantai hampir seluruh keluargaku.
"Aaaagghh ... ini gila. Benar-benar gila. Feli, aku harus apa?" Aku kembali bercakap-cakap sendiri pada diriku yang terlanjur gemetar hebat. Baru kali ini aku melihat bungkusan manusia yang sudah dikubur kemudian digali kembali.
Rasanya kepalaku mengecil, jantungku seperti ingin melompat kesana-kemari, bahkan nafasku sepertinya berserakan. Aku hilang akal, merasa sendiri, tidak punya pikiran baik dan ingin mengakhiri semuanya dengan cepat. Ntahlah ... rasanya mati lebih baik kali ini, dari pada harus menikmati ketakutan yang mencengkram.
Aku melihat jam di layar HPku. Ini sudah pukul 23.35 WIB. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyaku dengan suara yng lirih sambil terus menatap Sinta yang masih tampak tenang dan menegang.
Ntah apa yang aku pikirkan, aku merasa apa yang berada di hadapanku akan bergerak dan bangkit, lalu melompat dan hidup untuk memberikan aku siksaan yang lebih kejam dan menyiksa lagi.
"Aaaaak ... aaaaak ... aaaak ...." Tak lama, aku mendengar suara teriakan dari Kak Rio. Ia terdengar sangat kesakitan dan tersiksa. Apa yang sedang dia lakukan pada Kamis Rio? tanyaku di dalam hati.
Merasa tidak punya pilihan dan tau dari mana asal suara tersebut, aku keluar dari tempat persembunyian menuju kamar lainnya dimana Pamannya Sinta menghilang.
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.
CINTA DAN DOSA, kisah seorang gadis hasil broken home yang dijual hidup-hidup namun ia mampu melewati masa suram dengan mengayun langkah walau terseok, sekarang ia menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya.
PERFECTION OF LOVE, merupakan sambungan dari novel Cinta dan Dosa.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘