
Setelah melewati keramaian dan kepadatan jalan raya, aku dan Kak Rio berhasil menemukan alamat yang sudah kami catat dan kami cari. Sangat canggung rasanya karena berniat ingin mengorek sesuatu tanpa izin tuannya. Tapi aku tidak punya pilihan, hanya ini caranya untuk mengetahui siapa sebenarnya Rian.
Kak Rio memegang pundak kanan ku dengan kuat dan ia mengatakan, "Kita pasti bisa menemukan dan mencari jalan yang terbaik untuk semuanya. Asalkan kita tetap tenang dan berpikir logis."
Aku tahu apa yang Kak Rio katakan adalah benar dan ia melakukannya untuk menenangkan hati dan pikiranku, agar aku tidak gegabah dalam bertindak. Karena menurut Kak Rio, apa yang aku pikirkan bisa saja salah dan Rian tidak memiliki niat buruk terhadap Feli.
Hari mulai gelap, dari dalam mobil aku melihat sosok gadis misterius itu berada di samping rumah putih tersebut sembari menatap ke arah seorang wanita setengah baya yang tampak masih asik membersihkan pekarangan rumahnya.
Gadis misterius tersebut berdiri dan tampak fokus dengan arah pandangannya hanya pada satu titik-titik dan tampaknya ia tidak berniat untuk mengganggu ataupun mengusik. Ia hanya menatap dan sepertinya ia sangat ingin terus bersama wanita tersebut.
"Dia ada di sana," ucapku sambil menunjuk ke arah Gadis Misterius tersebut dan Kak Rio menatap arah jari telunjuk dari tangan kananku.
"Sayang, aku ngak bisa melihatnya. Tapi aku janji, aku akan menemani kamu masuk ke dalam dan mengetahui segalanya."
"Baik, sekarang saja ya Kak, aku tidak ingin terlambat," ujarku sambil berjalan dengan cepat ke arah rumah putih yang sebenarnya tampak abu-abu dan dekil pada pandangan mataku saat ini.
Kak Rio memegang tanganku dan kami turun bersamaan. Aku menyapa wanita paruh baya tersebut dengan santun dan seketika Gadis Misterius tersebut menghilang dari pandanganku.
"Maaf Bu, apa aku boleh bertanya?" ucapku dengan mengatur jarak tubuhku terhadap wanita patuh bayar tersebut.
Saat aku menyapanya, ia langsung menegakkan tubuhnya yang membungkuk sejak tadi dan menatapku. "Ia, ada apa?" bertanya dengan suara yang lembut dan mata yang teduh. Saat mataku menatap matanya, Aku yakin bahwa wanita ini adalah orang yang baik.
"Aku ingin bertanya tentang seorang gadis dengan bibir yang tipis, dagu yang berbelah dan memiliki tas berwarna putih dengan motif bunga tulip. Apakah ibu mengenalnya?" tanyaku dengan wajah yang cemas dan mata yang berkaca-kaca.
"Sinta," jawabnya tegas dengan suaranya yang lembut.
"Siapa Sinta Bu? Bolehkah saya bertemu dengannya karena ada yang ingin saya tanyakan dan bicarakan."
Setelah Aku mengutarakan niatku kepada wanita paruh baya tersebut, Tiba-tiba air matanya menetes perlahan seakan mengeluarkan perasaan luka yang teramat dalam dan aku langsung merasa bersalah untuk hal itu.
"Ayo, mari masuk! Saya akan menceritakannya di dalam. Saat ini hari sudah memasuki magrib dan tidak baik berada di luar," ucapnya.
Aku dan Kak Rio segera masuk ke dalam rumah tersebut tapi dari luar aku memperhatikan setiap celah rumah yang pernah aku kunjungi pada penglihatanku siang tadi.
Jika dilihat dari motif dan juga bentuknya ini adalah rumah yang sama dengan yang aku lihat tadi siang, tapi jika dilihat dari suasana dan tampilannya, rumah ini sangat jauh berbeda dengan apa yang aku lihat sebelumnya.
"Silakan duduk ...! Sebentar, ibu buatkan minum dulu ya."
"Tidak perlu Bu karena kami juga terburu-buru. Kami disini hanya ingin mengetahui tentang gadis tersebut karena ia pernah mendatangiku dan aku memiliki perasaan yang campur aduk ketika itu, sehingga aku berpikir bahwa aku harus mengetahui kebenaran tentang garis tersebut."
Saat aku mengatakan hal tersebut, Ibu itu langsung berdiri dan mengambil sebuah foto yang ia pajang tidak jauh dari kursi ruang tamu. "Apa dia gadis yang kamu maksud?"
Aku melihat dan benar-benar memperhatikan terutama bagian bibir dan dagunya. Aku sangat yakin bahwa ia adalah gadis yang sama, yang aku temui dalam dunia gaib. "Siapa dia Bu? Tolong ceritakan kepadaku dengan rinci dan jelas ...!"
Gadis ini berhubungan erat dengan salah satu teman kami yang bernama Rian dan Rian memiliki hubungan dengan saudaraku yang bernama Feli, untuk itu aku harus tahu tentang dirinya.
"Rian?" ucap Ibu tersebut dengan bibirnya yang tersenyum sangat manis seakan ia sangat menyukai nama itu.
"Tentu saja, Sinta dan Rian adalah teman sejak masih anak-anak. Sinta adalah gadis yang pemalu dan pendiam sehingga ia tidak memiliki teman apalagi sahabat. Setahu saya satu-satunya sahabat Sinta adalah Rian."
Oh jadi begitu, ucapku tanpa suara sambil menatap ke arah Kak Rio yang berdiri di belakangku dalam posisi berdiri.
"Mereka sudah seperti kakak beradik. Sinta sangat manja terhadap Rian dan Rian mampu mengimbangi Sinta. Saat Sinta dan Rian mulai memasuki jenjang pendidikan di SMA, tiba-tiba Sinta pingsan di sekolah dan pihak sekolah membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut."
"Saat itu kami semua baru tahu bahwa Sinta yang ternyata mengidap penyakit leukimia. Sebagai seorang ibu, saya sangat terpukul dengan apa yang baru saja saya ketahui. Lalu disaat yang bersamaan, Ayahnya Sinta meninggal dunia karena terkejut (Serangan jantung)."
"Sejak saat itu hidup kami berubah. Saya sebagai orang tua tunggal sibuk mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan Sinta. Saat itu Rian datang menemui saya dan ia mengajukan diri untuk membantu saya dalam merawat Sinta," ujarnya dan aku terus memperhatikan bola matanya yang tampak fokus.
"Selama ada Rian, keadaan Sinta membaik. Ia bersedia makan obat, makan dengan teratur dan meminum semua vitaminnya. Rian sangat pandai membujuk Sinta," ucap Ibu tersebut sambil menarik air hidungnya dan menghapus air matanya.
"Rian juga selalu menemani Sinta kemoterapi dan berobat ke rumah sakit, makanya dibandingkan saya, Rian jauh lebih mengerti tentang Sinta dan penyakitnya. Tapi pada suatu hari, Sinta mengajak Rian bertemu di suatu tempat yang spesial menurutnya karena Sinta ingin mengutarakan isi hatinya kepada Rian."
"Jadi maksud Ibu, Sinta mencintai Rian?" tanyaku untuk lebih memperjelas keadaan dan ibu tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mereka janjian pukul 13.00 WIB di taman tidak jauh dari sini, tapi hingga pukul 17.00 WIB, Rian tidak juga datang. Saat itu hari sangat dingin karena dari malam hingga siang hari hujan turun begitu lebatnya."
"Entah apa yang dipikirkan Sinta disaat Rian belum juga datang, ia malah tetap bersikukuh menunggu Rian dalam keadaan seperti itu." sambungnya.
"Saat itu saya mencari keberadaan Sinta dan salah seorang tetangga saya mengatakan bahwa Sinta berada di kursi tengah tidak jauh dari sangkar burung merpati di taman tersebut."
"Sore itu saya benar-benar merasa sangat khawatir dengan Sinta, makanya saya menyusul ke taman tersebut. Tapi ternyata saya terlambat. Penjaga taman mengatakan bahwa Sinta telah tiada."
"Kenapa Bu?"
"Akibat rerangan angin duduk yang secara tiba-tiba menghentikan nafasnya," ucap Ibu tersebut dengan suara yang hampir tidak sampai
"Sekitar hampir magrib, Rian menelpon ke JP Sinta dan mengucapkan kata maaf tanpa memberikan saya waktu untuk menjawab. Rian bilang, ia tidak dapat menemui Sinta sore ini karena Papanya kecelakaan dan masuk rumah sakit sehingga dia harus membantu Mamanya untuk mengurus Papanya. Tapi saat itu Rian belum tahu jika Sinta sudah tiada."
"Ya Tuhan .... " sahut ku ikut menangis dan bisa merasakan sakit yang sama dengan Ibu tersebut.
"Tas yang kamu maksud itu adalah milik Sinta. Setau saya, tas itu merupakan hadiah ulang tahun ke-15 dari Rian untuk Sinta."
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.
CINTA DAN DOSA, kisah seorang gadis hasil broken home yang mendapatkan perbuatan zholim dari orang dekatnya namun ia mampu melewati masa suram dengan mengayun langkah sambil terseok, sekarang ia menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya.
PERFECTION OF LOVE, merupakan sambungan dari novel Cinta dan Dosa.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘