ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERANG 5


Cahaya memenuhi ruang sepetak yang tampak luas bagi anak cucu Adam yang sudah digelapkan pandangan matanya. Dia tidak lagi tau mana yang benar dan mana yang salah, hanya cahaya iman lah yang mampu menerangi kegelapan didalam sisi hatinya yang paling dalam, hingga ia mampu membuka mata dunia yang dititipkan Allah kepada umatNya.


Gadis ini tidak melakukan perjanjian dengan iblis, dia hanya rindu pada sosok yang sudah memelihara dan menyayanginya sejak dari dalam kandungan. Wajah lama yang sudah sering ia khayalan, nama lama yang sering dia ucapkan di dalam hati ketika ia melihat gadis lainnya masih dalam pelukan sang Bunda. Jari lama yang selalu menyentuh dan memeluk tubuhnya dengan ikhlas dan hangat.


Rasa rindu itu sudah menimbulkan luka yang dalam di hatinya. Rasa lelah itu sudah membuat terbuka lebar bekas luka hatinya. Rasa penasaran itu sudah membumbui jiwanya. Dia hanya seorang gadis biasa yang diberikan sejuta bayangan kelam yang selalu berupaya untuk menghanyutkan dirinya ke dasar lautan dosa.


"Feli, ini parangnya, Sayang. Sembelih lah atas nama Ibu!!" tukas wanita tersebut dengan senyumnya yang menyungging.


"Iya, Bu," sahut Feli sembari mengambil parang ukuran sedang yang tampak mengkilat di bagian yang runcing nya.


Feli menatap parang tersebut hingga ia dapat berkaca pada bagian lebar dari parang tersebut. Sementara Rian masih belum berburuk sangka pada istri yang sudah berniat untuk memotong lehernya (berwujud kambing) hingga hanya meninggalkan sedikit bagiannya saja.


Feli memegang leher kambing (Rian) untuk mencari selah sambil menatap mata kambing tersebut, yang dirasa sangat teduh bagi Feli. Saat hal itu terjadi, Rian baru menyadari bahwa ia akan dibunuh oleh istrinya sendiri. Rian mulai meronta-ronta dan hendak berlari. Tapi sayangnya, kaki dan tangan Rian sudah terikat dengan tali gaib.


"Allahu Akbar .... (mbeeek)."


"Aaakkk .... " Terdengar suara teriakan hebat dari luar ruangan tersebut. Tampaknya itu suara siksaan yang sangat hebat dan Feli mengenal suara tersebut dengan sangat baik, tapi ia lupa. Siapa?


"Siapa itu, Bu?" tanya Feli sambil berdiri dan menatap Ibunya yang terlihat sudah sangat tidak sabar lagi.


"Siapa? Tidak ada siapa-siapa disini, hanya kita saja Feli. Jikapun ada, itu mungkin hanya temanmu saja yang biasa mengajakmu bermain di waktu istirahat mu," ucap wanita misterius tersebut sembari membelai halus kepala Feli.


"Ibu, benar. Tika memang nakal," sahut Feli yang tiba-tiba mengingat nama sahabat masa kecilnya tersebut. Kemudian Feli berniat untuk menyembelih leher Rian kembali. Tapi sekali lagi, suara teriakan Sarah terdengar sangat kuat di telinga kanan Feli dan Feli kembali berdiri sembari menatap seluruh ruangan.


"Apa yang kamu lakukan?" bentak wanita misterius tersebut sambil menekuk ujung kedua alis matanya. Ia tampak sangat marah kali ini dan sikapnya tersebut membuat kedua tangan Feli bergetar, bahkan Feli sangat ketakutan.


"Ibu ... kenapa Ibu membentak?" tanya Feli sambil menangis. "Ibu tidak pernah melakukannya padaku selama ini," ucap Feli sambil mengelap air mata dengan lengan bajunya.


"Jangan membuat Ibu kesal dan menunggu lama, Feli!!" bentaknya sekali lagi dan itu membuat hati Feli bergetar.


"Baik, Bu. Aku akan menyembelih kambing ini di sana," ujar Feli sambil menunjuk ke arah ujung ruangan dengan tangan kanannya.


"Tidak perlu! Lakukan saja disini, dihadapan Ibu."


"Tapi Bu ... nanti Ibu pingsan," kata Feli dengan tatapan cemas.


"Tidak. Lalukan saja!" perintahnya sekali lagi dengan suara yang membentak.


Feli duduk setengah jongkok sambil merebahkan kambingnya hingga bagian kanan tubuh kambing tersebut lekat dengan lantai. Pada saat yang bersamaan, Rian terus beristighfar dan memohon pertolongan kepada Allah. Sementara wanita misterius itu mulai tertawa terbahak-bahak ketika melihat Rian tidak berdaya dan hanya bisa meneteskan air mata.


"Sebelumnya, apakah aku boleh mencium kaki ibu sebagai tanda bakti ku?" tanya Feli yang menahan gerakan parang yang sudah lekat di leher kambing itu.


"Baik, lakukan dengan cepat!" sahut wanita tersebut dengan matanya yang melotot.


"Bantu aku!" ujar Feli dengan suara yang sangat kecil, sembari melepaskan parang dari tangan kanannya dan memegang kedua kaki Ibu misterius nya. "Ibu, aku tidak sepintar yang lainnya. Aku hanya menghafal beberapa ayat pendek saja," ucap Feli sambil menatap mata Ibu dan memegang sangat kuat kedua pergelangan kaki Ibu misterius yang berada di hadapannya dalam posisi duduk.


"Apa maksud kamu, Feli?"


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ


بِسْــــــــمِ اللَّــــــــهِ الرَّحْمَــــــــنِ الرَّحِيــــــــمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}


"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1) Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam (2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) Yang menguasai  hari pembalasan (4) Hanya Engkaulah yang kami sembah,  dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (5) Tunjukilah  kami jalan yang lurus (6) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (7) (surat Al Faatihah : 1-7)"


"Lepaskaaannn!! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin menyakiti Ibumu sendiri?"


"Ibuku adalah wanita yang cukup pandai mengaji, Ibuku adalah wanita yang tidak akan tersenyum apalagi tertawa terbahak-bahak saat melihat makhluk lain terluka dan satu lagi, Ibuku adalah wanita yang cantik luar biasa. Ia selalu merawat dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi coba lihat dirimu, iblis! Bahkan kamu tidak memotong dan membersihkan kuku-kuku kakimu hingga terlihat hitam, kotor dan bau. Ini sangat menjijikkan," ucap Feli sangat marah hingga matanya berkaca-kaca.


Lalu Feli melanjutkan ikhtiarnya dengan membacakan ayat-ayat pendek lainnya yang biasa hafal. Qul Huwallahu Ahad (surat Al Ikhlash), Qul A’udzubirabbil Falaq (surat Al Falaq), dan Qul A’udzubirabbin Naas (surat An Naas).


Hal ini bukan hanya dilakukan oleh Feli, melainkan Rian juga. Dalam kondisinya yang masih terlihat seperti kambing, Rian terus menerus berzikir dan diakhiri dengan membaca Ayat kursi untuk membantu istrinya.


اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."


"Tidaaak .... " teriak wanita misterius tersebut hingga ia menjadi abu di dalam genggaman kesulitan tangan Feli.


Feli menangis terguguh-guguh sambil menggenggam kedua tangan yang ia letakkan di kedua pipinya. "Ya Allah, Ibu ... Ibu ... Ibu .... " teriak Feli sambil melihat ke arah atas.


"Istighfar, Feli! Istighfar, Sayang!!" ucap Rian dari arah belakang tubuh Feli dan saat mendengar suara Rian, Feli langsung membalik badan dan melihat posisi Rian sama persis dengan posisi kambing yang sebelumnya hendak ia sembelih dengan keadaan kedua kaki dan tangannya yang terikat kuat.


"Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim .... " ucap Feli sambil bergerak merangkak mendekati tubuh Rian yang melekat di lantai, kemudian membuka tali yang mengikat kedua kaki dan tangan Rian. "Rian, ini kamu?" tanya Feli sambil memegang kedua pipi Rian.


"Iya, Sayang. Iya .... "


"Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim .... " ujar Rian yang sudah duduk sambil memeluk tubuh Feli yang gemetaran dan sudah basah karena keringat.


"Ya Allah ... aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika aku melakukannya tadi. Ampuni aku, suamiku."


"Sudahlah ... kamu berhasil melewatinya dengan sangat baik, Feli. Aku beruntung memiliki istri seperti kamu," ucap Rian sambil mencium dahi Feli berulang-ulang kali. "MasyaAllah ... alhamdulillah .... "


"Rian .... "


"Iya, Feli. Tenanglah ...! Ikhlaskan segalanya!"


"InsyaAllah, Rian. InsyaAllah .... "


"Ayo kita membacakan Al-Fatihah untuk Ibu! Setuju?"


"Iya, setuju," sahut Feli kembali menangis dan Rian terus menghapus air matanya hingga air benih itu tidak lagi muncul.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.