ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
AWAL PETAKA


Suasana semakin berubah saat aku semakin jauh berlari mengejar arah suara Azura. Sambil terus memperhatikan sekeliling, aku berharap akan mendapatkan titik terang terhadap apa yang aku lihat. Setidaknya aku tau dimana diriku saat ini.


Tiba-tiba di arah kanan ruangan terdapat cahaya yang terang. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke dalamnya. Saat itu, aku melihat seorang wanita yang sudah cukup tua tapi masih sangat cantik. Ia keluar dari dalam kamarnya menuju ruang tamu dan memeluk seseorang dengan sangat hangat. Saat itu aku melihat Rido berdiri di depan rumahnya.


Sepertinya ini adalah kenangan Rido sebelum berangkat menuju tempat hura-hura pembawa kematian untuk dirinya dan teman-temannya, ucapku di dalam hati sambil terus memperhatikan adegan antara orang tua dan anak tersebut.


"Hati-hati dijalan ya, Nak! Jangan berbuat macam-macam dan pulanglah secepat mungkin."


"Ma ... aku ini bukan anak kecil lagi. Jadi, please deh .... " jawab Rido mengecilkan ucapan Mamanya.


"Tapi perasaan Mama ngak enak, Rido."


"Mama selalu begitu. Terus kapan enaknya, Ma? sudah ah, aku mau berangkat dulu. Mama jaga diri juga. Bay, Ma."


"Bay ... hati-hati ya, Nak," teriak Mama sekali lagi.


"Ya," jawab Rido sambil mengangkat tangan kanannya tanpa menolehkan wajah kepada Mamanya.


*****


Tiba-tiba suasana menjadi gelap dan aku tidak mampu melihat apa pun sehingga aku berputar-putar cukup lama. Tak lama, aku mendengar suara berbisik-bisik cukup riuh dari suara yang berbeda-beda.


"Iiih, aku takut banget."


"Bagas, sini! Dekat sama aku. Sebaiknya kita selesaikan semuanya dengan cepat. Aku benar-benar takut," ujar salah satu gadis yang mengenakan topi ponco sambil memeluk salah satu lengan kanan teman laki-laki yang tidak aku ketahui namanya.


Ternyata aku berada di rumah hantu ini bersama rombongan Rido dan aku dapat melihat Azura berdiri di barisan terdepan. Dia tampak sangat cuek dan berani, selain itu ia punya mulut yang sadis dan judes.


"Zura ... ayo keluar! Aku hampir mau pipis nih," ucap teman yang lain.


"Makanya aku bilang jangan ajak mereka, Rido. Mereka itu cuma nyusahin dan manja ngak jelas. Lagian apa sih yang kalian takutkan? ngak ada apa-apa disini. Cuma ruangan yang kosong dan berbau karena memang tidak pernah dibersihkan."


"Udah dong, Ra. Ngak usah ngegas gitu kenapa? santai aja kali!" kata Rido membela teman-teman yang memang sudah terlihat ketakutan.


"Dengar ya! lagian hantu itu cuma makhluk mitologis atau astral. Mereka ngak bisa nyentuh kita apalagi membunuh. Jadi stop rewel dan bersikap manja!" ujar Azura setengah berteriak saat mereka sudah berada di ruangan yang paling belakang sambil menghadap ke arah teman-temannya (arah belakang).


Belum puas berteriak dan mengejek teman-temannya yang lain, dari arah pandanganku (menghadap ke Azura). Aku melihat sesuatu berambut panjang dengan badan yang terlihat panjang serta kurus, merayap di tembok tepat di belakang Azura.


Saat itu, teman-teman yang lainnya melihat makhluk tersebut sangat jelas dan berusaha mengatakan pada Azura, tapi dia tetap mengomel dan mengejek tanpa henti sehingga tidak mendengarkan ucapan dan teriakan pemberitahuan dari teman-temannya.


"Apaan sih pada berisik banget?" tanya Azura sambil melihat ke arah teman-temannya yang menunjukkan ke arah tembok belakang.


Azura menghadap ke belakang dan saat ia melihat makhluk tersebut, ia berteriak ketakutan apalagi saat makhluk misterius tersebut menarik bagian kepala Azura dan membawanya pergi entah kemana.


Merasa tidak mungkin menolong Azura, Rido memerintahkan seluruh teman-temannya untuk meninggalkan rumah hantu tersebut. Tapi sayangnya mereka terlambat untuk menyadari keadaan kritis yang mereka hadapi.


Saat mereka hendak keluar dari rumah tersebut, pintu bagian depan yang terbuat dari kayu yang terlihat setengah hancur, tiba-tiba tertutup dengan sendirinya dan mereka terkurung dan terkunci dari luar. Mereka berusaha menggedor-gedor dan membuka pintu tersebut sembari berteriak meminta pertolongan, tapi tidak ada satupun bantuan yang datang.


Suasana semakin mencekam setelah beberapa diantara mereka ditarik dan diseret oleh makhluk misterius ke tempat yang berbeda-beda satu demi satu. Teriakan demi teriakan terdengar sangat kuat di telingaku, tapi aku tidak mampu untuk membantu mereka.


Saat aku berusaha menyentuh mereka, aku tidak dapat merasakan tubuh mereka dengan kedua tanganku. Bahkan saat aku berteriak, mereka juga tidak dapat mendengarkan suaraku.


Pandanganku kembali menghilang dan datang kembali sesaat setelah aku berada di sebuah ruangan yang tidak dikenali. Di dalam ruangan ini aku melihat Rido dan salah satu teman laki-lakinya yang terluka di bagian kakinya.


"Gas, Bagas. Kamu nggak papa?" tanya Rido memegang kedua bagian lengan tangan Bagas.


"Rido, kayaknya kaki gue patah deh. Gue ngak bisa berdiri, rasanya sakit banget," ucapnya sambil melihat ke arah kakinya yang tidak bisa digerakkan.


Saat mereka berbicara dan Rido berusaha untuk menyanggah tubuh Bagas, tiba-tiba mereka diserang oleh makhluk misterius tersebut sehingga tubuh keduanya terpental dan terhentak ke belakang.


"Awaaaass!" teriakku sekuat tenaga, tapi mereka tidak dapat mendengarkan teriakan ku.


Bagas berusaha melawan dengan memukul makhluk tersebut dalam posisi duduk, tapi dia tidak mampu melakukannya dan dengan mudah makhluk misterius melempar tubuh Bagus hingga terjatuh dan tergeletak di tembok ruangan.


Disisi lain, Rido berusaha memukul makhluk misterius tersebut dari belakang dengan kayu yang ia temukan di dalam ruangan tersebut. Alih-alih merasa kesakitan ataupun terluka, malah makhluk tersebut tidak dapat disentuh dan ia menjadi tambah sangat marah dengan tindakan Rido tersebut, sehingga ia melempar Rido dengan tangan kirinya ke arah jendela.


Aku berlari dengan cepat ke arah Rido,


dan saat itu aku melihat kepala bagian belakang Rido terbentur kayu penyangga jendela hingga akhirnya dia terjatuh dan tidak mampu bergerak kembali


Tubuh Rido seakan membatu dalam posisi telungkup, namun kepalanya dapat melihat Bagas yang berada di ujung ruangan dan saat itu, ia melihat bagaimana Bagas disiksa oleh makhluk misterius tersebut.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘