
Perlahan, suasana yang mencekam kembali normal, udara dingin kembali hangat, suara sunyi dari hewan-hewan kecil mulai riuh. Rasanya semua keadaan sudah kembali pulih seperti sediakala.
Aku membuka jeket tipis yang aku kenakan untuk mengatasi luka cukup lebar di tangan Kak Rio. Walaupun aku sangat khawatir, tapi aku sudah merasa tenang karena semua keadaan sudah bisa di atasi dengan baik.
Rian yang dari tadi tampak berani, sekarang terlihat pucat. Mungkin dari tadi dia juga menahan rasa ketakutannya yang hebat, sama seperti diriku dan Kak Rio.
"Gimana, Senior? kalau memang tidak memungkinkan, sebaiknya segera ke rumah sakit saja!" ucap Rian yang tampak khawatir dengan penampakan darah yang banyak menetes di lantai dan membasahi jaket milikku dengan cepat.
"Aku masih kuat kok, kalian tenang saja! Sebaiknya .... "
Belum usai perkataan dari bibir Kak Rio, kami sudah mendengar suara Feli yang terdengar ketakutan. "Sarah ... Sarah ... Saraaaah .... " teriak Feli seakan tidak sanggup dengan apa yang dia lihat.
"Feli .... " sahut ku dan kami bertiga langsung masuk ke dalam kamar Bu Marisa.
Sesampainya di dalam kamar tersebut, kami hanya melihat Feli terduduk di ujung tembok kamar dalam kondisi seluruh tubuh yang gemetaran. "Dimana Bu Marisa dan Mbok Yani?" tanyaku sambil memegang kedua pipi Feli dengan kedua tanganku yang dibuka lebar.
Mata Feli bergerak dengan cepat, lalu ia melirik ke arah kanan (Arah ranjang Bu Marisa yang tinggi dan memiliki kolong ranjang). "Kenapa? ada apa?" tanyaku sekali lagi sambil memggoyang-menggoyangkan kedua sisi pipi Feli.
Cap ... cap ... cap ... cap ... cap ... cap.
Cap ... cap ... cap ... cap ... cap ... cap.
Terdengar suara kecapan yang begitu liat, seperti seseorang yang sedang menikmati makan malamnya yang sangat lezat.
Semua mata tertuju pada sumber suara, tepat di bawah ranjang Bu Marisa. "Itu ... astagfirullah hal azim .... " ucap Kak Rio dan Rian saling bersahutan.
"Kenapa Bu Marisa bisa seperti itu?" tanya Kak Rio dengan matanya yang melotot saat melihat Bu Marisa sedang asik mengunyah sesuatu yang diselimuti darah segar dengan posisi tengkurep. Tangan dan mulutnya penuh darah yang menetes hingga ke tangan bagian bawah Bu Marisa. Pemandangan yang sangat menjijikkan, hingga membuatku merasa mual.
"Itu bukan Bu Marisa," ucap Rian sambil menggenggam tangannya dengan kuat.
"Benar, wajahnya sangat berbeda bagiku, hanya raganya saja yang sama."
"Maksudnya? Bu Marisa kerasukan?" tanya Kak Rio dengan suara yang cukup kuat hingga menghentikan kunyahan Bu Marisa dan ia langsung mengangkat kepalanya serta melihat dengan pandangan yang sangat tajam ke arah kami berempat.
Feli yang sepertinya trauma, langsung memelukku dan membenamkan wajahnya di dada kiriku sambil menangis. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Feli jadi sangat ketakutan seperti ini? padahal diantara kami berdua, Feli lah yang paling berani, kuat dan tenang. Ucapku di dalam hati sambil terus menatap Bu Marisa.
Saat pandangan kami tertuju kepadanya, tanpa disangka, ia langsung merayap ke arah kami dan menatap kami seperti melihat santapan yang lezat. Bu Marisa bergerak sangat cepat dan agresif seperti hewan kaki empat yang liar.
"Berhati-hatilah teman-teman!" ucap Rian yang tampak sudah siap dengan posisi jongkok seperti ingin mengimbangi terkaman Bu Marisa.
Saat Bu Marisa mendekat, Rian langsung menghalau tubuhnya dengan tandukan dari samping hingga mengenai bagian kiri tubuh Bu Marisa. Hal itu membuat tubuhnya terpental, lalu disaat yang bersamaan, Rian dan Kak Rio langsung memegang tangan dan kaki Bu Marisa dengan kuat pada posisi terlentang.
"Kedah paeh pikeun minuhan kahayang pangéran abdi. Kedah maot ku leutik, lemes lemes sareng seueur deui. Nyiksa anjeunna dugi ka wareg. Kedah paeh ... kedah paeh ... kedah paeh!"
"Apa yang dia katakan? bukannya Bu Marisa orang Sumatra? tapi ini kenapa pake bahasa Sunda?" tanya Kak Rio sangat heran.
"Dia bilang, harus mati untuk memenuhi hasrat tuanku. Harus mati dengan luka kecil yang halus dan banyak. Siksa dia sampai puas. Harus mati ... harus mati ... harus mati!" ucap Feli menganalisa ucapan iblis yang sedang bersemayam di tubuh Bu Marisa.
"Diam kamu iblis! Aku anak cucu Adam, aku perintahkan kamu untuk keluar dari dalam tubuh ini, wahai iblis!" ucap Rian sambil menatap mata Bu Marisa yang hanya tinggal bagian putihnya saja.
"Aaaaggggg ... aaaggggg ... aaaggggg .... " ucap Bu Marisa mengerang.
"Keluar atau aku akan membinasahkan kamu dengan ayat-ayat suci Al-Quran!!"
"Anjeun murangkalih anyar kamari soré, kumaha wani nantang kuring. Abdi ratusan taun lami, milari anjeun paéh."
"Dasar bocah baru kemarin sore, berani-beraninya menantang ku. Usiaku sudah ratusan tahun, cari mampus kalian!" ujar Feli sambil mengatur nafasnya yang sesak.
"Aku akan membakar mu dengan ayat suci Al-Quran, seperti aku membakar helaian kertas," ujar Rian tampak sangat serius.
"Sarah, Feli, bantu dulu! Aku harus mensucikan diriku kembali," ucap Rian yang sudah hangus air wudhu nya karena memegang tangan Bu Marisa.
"Iya .... " Tak lama, Rian kembali ke dekat kami dan ia mulai menatap Bu Marisa dengan tajam.
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) Yang menguasai hari pembalasan (4) Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (5) Tunjukilah kami jalan yang lurus (6) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (7) (surat Al Faatihah : 1-7)"
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
Lalu dilanjutkan dengan dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, Qul Huwallahu Ahad (surat Al Ikhlash), Qul A’udzubirabbil Falaq (surat Al Falaq), dan Qul A’udzubirabbin Naas (surat An Naas).
Selesai membaca Ayat-ayat suci Al-Quran tersebut, Rian mendekati Bu Marisa, lalu ia memberikan tiupan kepada Bu Marisa dan mengulangi bacaan tersebut sebanyak tiga kali.
"Aaaaggggg ... aaaggggg ... aaaggggg ... aaaaggggg ... aaaggggg ... aaaggggg .... "
ucap iblis tersebut sambil meronta-tonta kesakitan, tapi ia tampak kuat dan maaih berusaha bertahan di dalam raga Bu Marisa.
"Kita semua harus membaca ayat-ayat Al Qur’an yang lainnya!" kata Kak Rio. "Sebab seluruh isi Al Qur’an adalah penyembuh bagi apa saja yang ada di dalam hati, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Serta doa-doa ruqyah dari pengobatan sihir."
"Baik, Kak," ucapku, tapi Feli tampak sangat ketakutan saat memegangi Bu Marisa dan saat kami sedang lengah (Bercakap-cakap), Bu Marisa mendorong tubuh kami sangat kuat hingga ia terlepas. Tenaga iblis, ucap ku tanpa suara.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... " tawanya terdengar sangat keras dan disaat yang bersamaan, dengan jalan merangkak, Bu Marisa memanjat tembok dengan santai dan lihai seperti seekor cicak.
"Astagfirullah hal azim."
Tampak sangat jelas jika wajah Bu Marisa tidak lagi wajahnya. Sambil memasang tampang bengis dan membuka mulutnya lebar-lebar, iya meneriaki kami sehingga semua air liur dan darah di dalam mulutnya jatuh berceceran di atas lantai putih.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " ucap Rian sambil memegang dadanya sangat kuat.
"Rian." Kak Rio memanggil Rian dan mereka tampak berpegangan tangan, lalu mereka berbisik mesra. "Ayo!"
"Ikuti kami!" ucap Kak Rio sambil menatapku dan Feli.
"Iya .... "
Kak Rio dan Rian terdengar kembali membaca Surah Al-Fatihah, Ayat Kursi, dan terakhir Surah An-Naml.
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ , اَلَّا تَعْلُوا عَلَىَّ وَاْتُونِى مُسْلِمِيْنَ
Bismillahirrahmanirrahiim, allaa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu berlaku sombong kepadaku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. (QS An-Naml: 30-31)
Kak Rio dan Rian secara bersamaan kembali mengulang Surat An-Naml dan saat bacaan ketiga, aku melihat Bu Marisa berteriak histeris seperti ketakutan dan kesakitan.
Tidak hanya sampai disitu, aku juga melihat banyak makhluk berjubah putih dan bersorban putih dengan wajahnya yang bercahaya putih, mengelilingi kami sambil menatap Bu Marisa dan aku sangat mengenal salah satu diantara mereka. Ia adalah sesepuh yang biasanya mengawal Rian disaat tertentu.
Tak lama, tubuh Bu Marisa jatuh ke lantai sambil berteriak histeris. Tubuhnya menjadi poros, sementara kedua kakinya berputar-putar seperti membuat lingkaran.
Disaat yang bersamaan, para makhluk berjubah berwujud manusia seperti ulama tersebut, terus-menerus membaca ayat-ayat Al-Quran yang tidak aku ketahui, bersama Rian dan Kak Rio.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘