
Aku terus menutup mataku, sampai aku tidak lagi mendengar suara Ayah dan juga Ibu. Aku duduk jongkok sambil menahan kedua kakiku yang bergetar hebat. Aku terus menciut karena begitu terkejut dengan semua kenyataan yang sudah aku lihat.
"Sarah .... " Ibu datang mendekatiku, ibu menarik tanganku. "Ayo sarah ! " Aku berdiri dan berlari mengikuti langkah ibu. Sambil menangis, kami menuju pintu keluar tapi saat ibu membuka pintu, ternyata pintunya terkunci. Ibu menarik ku ke kamar ku, " kita tidak bisa keluar saat ini. " Kata ibu.
Kami tiba di kamarku dan ibu langsung mengunci pintu kamarku, kami mendorong ranjang dan beberapa meja serta lemari ke pintu kamarku.
Aku tidak bisa berfikir, hanya melihat ibu yang begitu cekatan bergerak ke sana kemari dengan berpeluh darah. Saat aku melihatnya, air mataku semakin mengalir deras, saat ibu mendekapku erat, air mataku tidak dapat dihentikan.
"Ibu ... Ibu ... Ibu ...." ucapku sambil terus menangis.
"Iya Nak .... " Sambil mengelap darah yang mengalir dari hidung bibir dan juga mulut Ibu.
"Aku sangat takut Bu .... "
"Kecilkan volume suaramu, setidaknya Ibu bisa beristirahat sebentar di sini. " ucap Ibu sambil menghela nafasnya. Aku mengganguk -anggukkan kepalaku dan menyandarkan tubuhku di tembok kamar.
Sebenarnya aku sangat ingin tau apa yang terjadi tapi aku tidak berani menanyakannya kepada Ibu. Ibu menyandarkan kepalanya di tembok belakang, tangan Ibu masih menggenggam erat tangan ku. Aku terus memperhatikan Ibu yang memejamkan matanya dan menarik nafas dengan cepat.
"Ayah mu itu lelaki yang sangat baik Sarah."
"Kenapa Ibu masih membela Ayah setelah perlakuan Ayah pada ibu?" tanyaku sedikit emosi.
"Kamu tidak tau apa-apa nak .... "
"Aku memang tidak tau Bu, aku ingin sekali tau tapi .... " Aku menggantung ucapanku.
"Ibu akan sedikit menceritakan nya padamu Sarah. " ucapnya dengan suara yang lemah
"Baik, aku akan mendengarkannya Bu .... "
"Dulu pada saat kami menikah, Ibu sudah diperingatkan oleh Oma tentang keadaan psikologi ayahmu yang bermasalah. Dia tidak bisa mendapatkan tekanan berat, untuk mengatasi perasaan dan pikirannya, ayahmu rutin berobat ke rumah sakit jiwa dan mengkonsumsi obat penenang. "
Aku terbayang saat aku menemukan obat penenang di kamar, ruangan kerja dan tas ayah. Aku terus mendengarkan cerita ibu sambil membayangkan hal tersebut.
"Ibu sangat mencintai Ayah mu, makanya Ibu bertahan ... Ibu tetap menikah dengan Ayah mu walaupun sudah mengetahui keadaan emosionalnya."
"Hari - hari yang kami lalui saat menikah sangatlah indah, ayahmu pria yang benar-benar baik hati, penyayang, sabar, humoris dan romantis."
Bibir Ibu tersenyum saat menyatakan sikap Ayah, dia terus tersenyum sambil bercerita walaupun darah terus mengalir dari bibirnya yang terluka. Melihat itu semua ... air mataku tak terbendung. Ayah, seandainya Ayah tau betapa Ibu sangat mencintai ayah, ayah pasti tidak akan sanggup menyakiti Ibu, ucapku di dalam hati.
"Masalahnya terjadi pada saat Ibu setelah melahirkan dan anak-anak ibu cukup besar." Aku mendengarkan cerita Ibu dengan baik, ini yang aku inginkan sejak awal.
Air mata Ibu mulai mengalir. "Ibu masih ingat bagaimana anak kecil itu berjalan dan berlari ke sana ke mari, taman di depan rumah ini menjadi saksinya .... " ungkap Ibu.
"Tania. Tania adalah anak pertama Ayah dan Ibu." Aku sangat terkejut mendengarkan perkataan Ibu itu.
"Jadi aku punya seorang kakak Bu?" Lalu Ibu memegang kepalaku dan menyandarkan nya pada bahu Ibu.
"Iya Nak .... namanya Tania." Jadi, Tania itu adalah kakak ku? Bertanya di dalam hati.
"Tania adalah seorang anak yang pandai, ceria, dan dia sangat pandai mengurus kamu Sarah. Dia selalu menjaga kamu dan sangat menyayangi dirimu, saat itu kamu masih kecil Nak, belum pandai bicara, hanya bisa berlari-lari kecil mengejar Tania." Lalu Ibu tertawa.
"Ibu ingat itu, saat kamu terjatuh dan menangis semua orang memarahi Tania tapi Tania tetap tersenyum dan tidak pernah meninggalkan kamu untuk bermain sendiri."
"Kasih sayang si Mbok kepada kalian berdua juga sangat luar biasa. Makanya wajar jika sampai akhir hayatnya dia masih bersamamu Sarah." ucap Ibu.
Aku menangis mendengar setiap cerita Ibu. "Bu, dimana Tania ?"
Ibu menarik nafas panjang. "Pagi itu, saat Ibu pergi berbelanja dengan si Mbok semua biasa-biasa saja. Tapi saat kami pulang ke rumah, kami melihat ayah sedang gelisah mencari keberadaan Sarah dan Tania kesana kemari. "
"Kami ikut mencari dimana keberadaan Tania, tapi kami tidak menemukannya hanya ada kamu Sarah, kamu duduk di pinggir jalan dekat pos satpam sambil menangis dan kami tidak menemukan Tania."
"Ayahmu seperti orang gila mencari-cari Tania. Ayahmu juga memasukkan data Tania di beberapa koran dan melaporkan ke kepolisian dengan berita kehilangan tapi sampai detik ini, belum ada pencerahan untuk kabar dan keadaan kakakmu Tania." Jelas ibu
"Ayahmu sangat merasa bersalah, rasa itu membuatnya semakin tertekan. Kondisi psikologis ayahmu pun memburuk."
"Itu sebabnya selama ini aku di titipkan di rumah Paman dan Bibik ?"
"Itu demi kebaikanmu nak .... " Berbicara dengan melemah.
"A - aku ...." Berbicara terbata-bata.
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok
tok tok tok tok tok tok tok tok tok
tok tok tok tok tok tok tok tok tok
"Sarah ... Sarah ...." Teriak Ayah dengan suara yang bergetar.
"Ibu itu Ayah." Lalu Ibu menghentikan ceritanya.
Suasana menjadi mencengkeram, terlihat ibu sangat tegang untuk menghadapi ayah. Lalu, suara ayah kembali menghilang, ibu berdiri di depan jendela dan memperhatikan sekeliling seperti mencurigai sesuatu.
"Sarah, Sarah ... ayo tolong Ibu! Bantu Ibu menggeser lemari mu pakaianmu. "
"Baik Bu .... "
"Ayo Sarah cepat. "
Tidak lama setelah kami menggeser lemari ke jendela kamar terdengar ayah sudah berada di depan jendela kamar ku. Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok,
" Sarah ... saraah ... saraaahhh. " Teriakan Ayah sangat kencang dan aku menutup telingaku.
Aku sangat ketakutan dan tidak ingin mendengarkan teriakan dari Ayah sedikitpun. Dengan sigap aku merapatkan diriku pada Ibu, aku butuh pelukan Ibu dan aku tidak ingin melepaskannya. Ayah, kenapa Ayah jadi seperti ini? ucapku di dalam hati.
Bersambung...
Bagaimana kelanjutannya?
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘