
Pagi menjelang, dengan wajah kuyu dan mata yang masih mengantuk, aku tetap berusaha untuk bangun. Hari ini aku sudah berjanji kepada Bu Marisa untuk membantunya melakukan sesuatu.
"Sarah," sapa Rian yang sedang membawakan bubur dan susu untuk Feli. "Sepertinya kamu akan ke kampus sendiri hari ini, soalnya Feli kurang enak badan."
"Iya, ngak papa. Dimana Feli?"
"Di kamar bersama Ayah."
"Ya sudah, biar aku lihat dulu keadaannya."
Aku langsung ke kamar Feli dan melihat keadaannya. Ternyata dia hanya syok dan merasa mual. Saat itu aku mengatakan kepada Rian untuk memberikan obat yang semalam bidan resep kan untuk Feli dan Rian mengiyakannya.
Merasa kondisinya baik-baik saja, aku langsung meminta izin untuk ke kampus karena tidak ingin terlambat. Sesampainya didepan rumah aku langsung mengarahkan diri tapi di saat yang bersamaan aku juga mendengar suara tangis yang kuat dari salah satu rumah tetanggaku.
"Dia korban banaspati tadi malam," ucap Wiro kepadaku dan aku memperhatikan ke arah rumah tetanggaku tersebut.
Tampaknya di sana masih berkumpul para sanak saudara terdekat dan aku memutuskan untuk melayat setelah pulang dari kampus aja. Hal itu juga didukung oleh Wiro karena menurutnya jika aku datang ke rumah tersebut saat ini, maka aku akan sangat menderita.
Perjalanan ke kampus di mulai. Ini hari yang pendek. Iya, hari Jumat. "Biasanya orang yang meninggal di malam Jum'at atau di hari Jum'at maka meninggalkan itu adalah baik," ucap ku sambil mengendarai mobil.
"Lah, ini malam Jum'at Kliwon dan kamu tau sendiri penyebabnya apa? Sarah. Jadi istilahnya, dia itu dipaksa mati," tukas Wiro.
"Heeemh ...."
"Benar to?"
"Wiro, aku khawatir jika nanti Feli akan dibawa Ayah ke rumah sakit. Soalnya Ayah itu paling ngak tega kalau melihat anaknya menderita. Terus di dekat rumah kita, juga ada yang baru meninggal dunia, khawatir sama Feli."
"Terus?"
"Sebaiknya kamu pulang ke rumah saja Wiro dan temani Feli jika dia dibawa ke rumah sakit!"
"Kamu?"
"Aku ngak apa-apa kok. Lagi pula, aku cuma ingin ke kampus saja."
"Baiklah." Lalu Wiro menghilang.
Aku tiba di kampus dan ternyata Bu Marisa sudah masuk ke dalam kelas. Mungkin aku terlambat sekitar beberapa menit saja karena tampak dari buku materi yang belum dibuka.
"Maaf saya terlambat, Bu. Feli dan Rian pun tidak bisa masuk hari ini karena sakit. Ini surat keterangan dari Ayah," ucap ku sembari menyerahkan amplop putih berisikan surat dari Ayah.
"Baiklah, lain kali jangan terlambat lagi!" ucap Bu Marisa dengan gaya tegasnya yang khas.
"Iya, Bu. Maaf."
"Sarah, kamu ngak apa-apa?" tanya Mia khawatir padaku.
"Tidak, Mia. Aku hanya lelah dan mengantuk."
"Baik, materi hari adalah tentang psikologi manusia," ucap Bu Marisa dan kami mulai fokus.
Pukul 10.00 WIB. Bu Marisa memberikan aku kode untuk segera datang ke padanya dan ternyata pihak kampus sudah mulai melaksanakan program, "Banjir Mushala."
"Sesuai dengan permintaan kamu. Sarah. Dan saat kamu tidak di kampus, para karyawan membersihkan musholla tua yang sudah lama tertinggal itu. Kita memperbaiki dan mempercantik bangunannya. Selain itu, untuk memancing minat untuk shalat berjamaah, kita juga menyiapkan makan siang dan makanan ringan khusus di hari Jumat, serta makanan ringan dan air mineral di hari biasanya," jelas Bu Marisa panjang lebar.
"Luar biasa sekali, Bu. Aku yakin, dengan cara seperti ini, benih-benih iblis terkutuk tersebut tidak akan sempat tumbuh apalagi berkembang."
"Iya, Sarah. Kamu dan teman-temanmu sudah membuka mata batin pemilik kampus ini. Satu lagi, kamu harus tau, korban yang waktu itu adalah cucu dari pemilik kampus ini."
"Innalilahi wa Innailaihi roziun."
"Ayo, bantu saya!"
"Baik, Bu."
Ini adalah hari pertama, ini adalah awalnya. Tentu saja masih sepi, tapi aku mengajak teman-teman satu kelas untuk datang membantu dan hadir di mushala yang tampak sangat elegan setelah diperbaiki.
Dengan senyum yang lebar, teman-teman satu kelas datang untuk membantu pekerjaanku dan Marisa. Para mahasiswi mulai menata makanan, minuman, cemilan dan juga buah-buahan segar di atas meja yang sudah dinaungi oleh tenda berwarna coklat tua.
Sementara teman-teman mahasiswa, selain membantu kami, mereka juga bersiap-siap untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah. Saat ini, masih sangat sedikit sekali orang-orang yang berkumpul, padahal waktu shalat Jumat sudah sangat dekat dan aku cukup kecewa. Tapi seseorang menguatkan aku dan mengatakan, "Sarah, serahkan yang lainnya padaku," ucap Kenzi sambil memegang dadanya.
Aku tersenyum saat melihat semangat Kenzi, walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan dan bagaimana cara dirinya mengumpulkan massa untuk melakukan salat Jum'at berjamaah.
Tak lama, Kang Slamet datang dan ia tersenyum kepadaku. Ia mengatakan bahwa orang yang akan azan pertama kali disini adalah dirinya dan ia melakukannya dengan sangat baik.
Suara azan mulai berkumandang. Suaranya sangat besar, kuat dan bersih hingga dapat menjangkau lingkungan kampus dan juga orang-orang yang lalu lalang serta masyarakat sekitar.
Seiring suara azan, aku melihat orang-orang mulai berdatangan dengan senyum yang lebar dan saling berbicara. Ada juga masyarakat dari luar yang menanyakan apakah boleh shalat di Mushala kampus ini? Dan Mas Yuga mengatakan boleh. Mas Yuga menginzinkan semuanya untuk masuk dan ia mulai membuka lebar gerbang serta mengatur kendaraan.
Selanjutnya, para Dosen dan petinggi kampus juga mulai berdatangan. Saat itu, Bu Marisa lah yang tampak tersenyum lebar. Sambil menganggukkan kepalanya, Bu Marisa berbicara ramah dan mengarahkan semuanya pada pintu utama.
Tam lama, aku mendengar suara berisik dari arah kanan. Ternyata Kenzi datang bersama yang lainnya. Ada juga wajah yang aku kenali, ia mahasiswa lainnya yang sempat menjadi korban tumbal kampus ini. Mereka sangat ramai, hingga mushala ini tidak sanggup menampung semua pengunjungnya.
Saat melihat semua ini, tiba-tiba air mataku menetes dan bibirku bergetar. Mia yang menyadari ekspresi ku, langsung menghampiri dan memberikan pelukan terbaiknya untukku.
"Kamu berhasil, Sarah."
"Tidak. Kita yang berhasil, Mia."
Bersambung.
Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.