
"Satu kata untukku malam ini: Aku harus menang. Walaupun aku tidak tau pasti, siapa lawanku dan harus ku ganti dengan apa kemenanganku nanti? Rasanya aku punya jiwa petualang yang sangat berani saat ini. Atau malah mungkin, jiwa misterius yang tiba-tiba hadir. Karena aku merasa seperti mayat yang baru saja bangkit dari kuburnya."
Di atas motor, aku berusaha menelpon Ayah berkali-kali tapi Ayah sama sekali tidak mengangkatnya. Itu kebiasaan buruk Ayah Setibanya di rumah, Ayah selalu meletakkan hpnya di dalam kamar sementara beliau entah dimana.
Hari memburuk, hujan dan angin bertiup menerpa tubuhku seakan saling menyahut. Hal ini membuat aku harus menyimpan telepon genggam di dalam kantung celana dan aku tidak berniat untuk mengeluarkannya kembali jika kondisi cuaca masih memburuk.
"Maaf bang, ini kondisi genting. Ayahku dalam bahaya, aku mohon tolong aku dan jangan berhenti! Teruslah melaju .... " ucapku sembari menggenggam kedua sisi pinggang ojek online yang saat ini tengah membawaku pulang ke rumah.
"Iya, iya Mbak ... tak usahakan tetap melaju." sahut driver ojek online yang menerpa hujan bersamaku tanpa alas maupun jas yang membatasi antara tubuhnya dan tetesan air hujan yang besar serta lebat.
Aku tersenyum kecil mendengarkan ucapan supir ojek yang berada di depanku saat ini. Aku akan mengingat nama dan wajahmu bang, walau sampai kapanpun. Ucapku di dalam hati.
Gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ....
Suara gemuruh dan petir di langit seakan memberikan aku jeritan penyemangat seperti suporter sepak bola yang sangat menyayat di setiap sisi tubuhku sehingga membuat seluruh tubuhku gemetaran tidak berhenti.
Disambut dengan kilat yang luar biasa berkilau, sehingga aku merasa seperti di foto dari langit dengan nuansa alam nan mengerikan. Apakah langit marah padaku? Tapi apa salahku? Tanyaku di dalam hati sambil terus berdoa agar kami tiba di rumah dengan selamat.
25 menit berlalu. "Sebentar lagi kita tiba bang. Lampu merah, kita ambil jalan ke kiri, lalu masuk lorong Citra. Rumahnya yang paling belakang." ucapku sembari menarik dompet dari dalam kantung celanaku.
Aku menggulung-gulung uang ratusan ribu yang mungkin jumlahnya sekitar Rp. 1.000.000,-. Tapi aku tidak tau pasti, karena aku tidak menghitungnya. Setelah tiba, aku langsung memasukkan uang tersebut ke dalam kantung kanan jaketnya (Memberi dengan paksa).
"Makasih Mbak, makasih .... " ucap tukang ojek tersebut tanpa memeriksa isi kantung jaketnya.
"Sama-sama Bang, " sahut ku, lalu aku berlari menuju pintu rumahku.
Ada yang aneh saat ini, kenapa Ayah tidak menghidupkan lampu luar? Apa mungkin Ayah lupa? Tanyaku di dalam hati. "Ayah ... Ayah ... Ayah ... apa Ayah di dalam?"
Aku berjalan ke samping dan mengetuk jendela yang berhubungan langsung dengan ruang kerja Ayah. "Ayah ... Ayah ... Ayah ... Ayah .... " teriakku sembari mengetuk kaca jendela. Ayah tidak memberikan tanggapan dan itu membuatku semakin cemas.
Ya Tuhan ... kenapa aku bisa lupa? Toh aku juga membawa kunci cadangan rumah ini, jadi aku bisa masuk dan memeriksa keadaan di dalam. Ucapku di dalam hati.
Dengan tubuh yang basah kuyup aku membuka pintu rumah dan langsung masuk untuk mencari Ayah ke setiap sudut ruangan tapi Ayah memang tidak ada di dalam rumah. Aku kembali menelpon Ayah dan kali ini Ayah mengangkatnya.
"Halo ... Ayah, Ayah dimana? "
"Sarah, maaf Nak. Ayah sedang berada di restoran tidak jauh dari rumah, Papanya Indah ingin bertemu untuk bertukar file dan laptop. "
"Ya ampun Yah ... syukurlah kalau Ayah tidak apa-apa. "
"Iya, Ayah baik-baik saja kok. Kamu dimana?"
"Di rumah yah. "
"Ok, kalau gitu Ayah akan segera pulang setelah urusan Ayah ini selesai ya Nak?"
"Ok Yah. "
Aku menutup telpon ku dan merasa lega karena Ayah dalam keadaan baik-baik saja. Untuk menenangkan diri, aku menyandarkan tubuhku yang basah di tembok rumah. Baru 5 menit aku merasa tenang, tiba-tiba aku mendengar suara pintu depan yang tertutup.
"Hah, siapa disana? " tanyaku dengan lugunya. Aku lupa untuk segera mengunci pintu setibanya di dalam rumah tadi karena aku berpikir, bisa saja aku membutuhkan bantuan dari orang lain.
Perasaanku mulai tidak enak, hatiku tidak tenang, jantungku berdegup kencang. Ditambah lagi dengan suasana yang gelap akibat listrik padam, sehingga aku hanya dapat melihat ruangan dan isi rumahku sesekali dari sinar kilat yang masuk melalui celah-celah jendela rumahku.
Gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ... gelegar ....
Angin dingin bercampur air hujan masuk ke dalam rumh melalui pentilasi dan semua itu menambah rasa takutku. Aku terus mengatur nafas sambil bergerak mundur ke belakang pintu untuk mengambil sapu yang nantinya akan aku jadikan senjata alternatif. Jika itu Rima, kayu ini cukup untuk melepaskan gigi depannya. Ucap diriku yang lain guna menyemangatkan jiwaku.
Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Tawaku keras di dalam hati membayangkan penjahat satu itu menangisi giginya yang lepas satu- persatu dan semua imajinasi ku itu mampu membawaku lebih santai.
Aku berjalan ke arah pintu luar dan aku memeriksa sekelilingnya, tapi tidak ada siapa-siapa disini. Mungkin tadi pintunya tertutup akibat angin yang sangat keras. Tapi jika itu angin, bukannya pintu depan rumahku harusnya terbuka? Bukan malah tertutup. Aku harus tetap berjaga-jaga.
Situasi Feli:
Di alam bawah sadarnya, Feli melihat perputaran waktu yang cukup kuat. Disana Feli melihat dengan jelas masa depan Sarah dan semua yang berhubungan dengannya.
Berkali-kali bayangan kematian Sarah mengejutkan jantung Feli seakan diberikan sentuhan dari alat kejut jantung yang biasa dokter gunakan untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.
Feli berteriak di dalam mimpi dan penglihatannya. Tampak sekali, ia tengah berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk bangun dan membantu sahabat satu-satunya milik Feli.
"Saraaaah .... "
Dengan tangan dan bibir yang gemetaran serta tubuh yang bersimbah peluh, Feli berusaha mengatur nafasnya dengan baik sambil menatap sekelilingnya.
"Dia sudah sadar ... dia sudah sadar ... panggil dokter! " Itulah kalimat yang Feli dengar dari beberapa manusia yang memakai pakaian putih-putih di sekelilingnya.
"Suster tolong ... hubungi nomor saudara saya sekarang! Ini genting sekali. "
"Maaf Mbak ... sebaiknya anda tenang dulu supaya bisa kita periksa. "
"Tolong hubungi dulu nomor ini! Saudara saya akan dibunuh. Bagaimana saya bisa diam dan tenang saja disini. "
"Tingkat halusinasinya tinggi, tapi sebaiknya kita tetap menghubungi nomor saudaranya dan meminta agar segera kesini agar pasien bisa tenang, " ujar perawat yang tampak lebih senior.
"Baik Kak. "
"Silahkan sebutkan nomor telponnya! "
"Saya tidak sedang berhalusinasi. Tekan nomor 085382200500."
Tampak Suster tersebut menelpon berkali-kali tapi sepertinya Sarah tidak mengangkat telepon tersebut. "Nomor HPnya tidak aktif Mbak dan saya sudah mencoba untuk menghubunginya berulang kali. "
"Tolong bantu aku, aku harus pergi dari sini, " ujar Feli entah berkata kepada siapa.
Tak lama, suasana di ruang ICU menjadi riuh dan heboh. Kak Linda mengalami kejang dan ia berteriak seperti orang gila serta tampak ketakutan. Beberapa orang suater segera memberikan pertolongan kepada Kak Linda agar dia tidak mengganggu pasien yang lain, termasuk 2 orang perawat yang tengah mengurus Feli.
Saat semua perawat sedang lengah, Feli langsung turun dari ranjang perawatannya dan mencabut semua alat bantu termasuk jarum infus dari tangan kirinya. Dengan kaki kiri yang diseret, Feli berusaha keluar dari ruang ICU hanya untuk menyelamatkan Sarah.
Bersambung....
Mampukah Feli melakukannya? Bagaimana cerita perjalanan dan perjuangan Feli?
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘