
Bingung, bagaimana mungkin parewangan yang seharusnya sangat mengenal ku dan bertugas untuk menjaga ku bisa lupa kepada diriku? Apa Mbah Siji terlalu marah kepadaku atas apa yang menimpa Nenek Ratih dan juga putrinya?
Tubuhku seakan kaku, entah berapa lama waktu yang aku habiskan untuk berpikir? Tak lama, aku mendengar suara jerit tangis dari seorang Ibu disusul beberapa orang lainnya yang memanggil-manggil nama seseorang yang tidak aku kenali.
"Amanda ... Amanda ... Amanda .... " teriak wanita muda yang mengenakan baju kaos berwarna kuning berambut panjang yang bergelombang. Aku menatap jam tangan, ternyata ini hampir memasuki waktu magrib.
"Amanda ... Amanda ... Amanda .... " ucap seorang laki-laki muda yang tampak bersimbah peluh dari kejauhan di sisi jalan yang lain.
"Amanda ... Amanda ... Amanda .... " teriak kelompok lain dengan anggota 5 orang. Terdiri dari 2 orang lanjut usia, dua orang pemuda dan satu orang gadis sekitar umur 20 tahunan.
Sebenarnya aku tidak ingin tahu dan ikut campur karena takut salah. Namun air mata wanita muda berusia sekitar 29 tahun yang berjalan tampak letih tersebut membuat aku berpikir ulang untuk bersikap tidak perduli dengan orang lain dan keadaan.
"Maaf, ada apa?" tanya ku padanya yang sudah tampak putus asa dan lelah.
"Mbak, apa kamu melihat putriku, Amanda? Dia masih sangat kecil, usianya sekitar 3 tahun. Rambutnya pendek dan keriting dan ... dan ia mengenakan baju setelan Micky mouse berwarna biru laut?" katanya dengan suara yang gemetaran.
"Aku tidak melihat anak kecil seperti itu sejak berdiri di tempat ini. Memangnya apa yang terjadi?"
"Tadi keluarga kami sedang bersantai di taman sana," ucapnya sembari menunjuk ke arah taman kota. "Lalu sekitar setengah jam yang lalu, kami kehilangan Amanda," ucapnya dengan air mata yang semakin deras menetes.
"Memangnya tidak ada yang mengawasi gadis sekecil itu?"
"Rasanya tadi dia masih bermain bersama kami. Tapi saat kami mulai tertawa keras dan menceritakan banyak hal, memang pandangan kami teralihkan dan Amanda bermain sendiri dengan bolanya," jelas wanita tersebut yang ternyata adalah ibu dari si gadis malang itu.
"Baiklah, aku akan membantu. Coba antar kan aku ketempat pertama kalian semua berkumpul!"
"Baru - baik, Mbak," ucap wanita tersebut yang terlihat sangat percaya padaku. Matanya penuh harap, mungkin ia juga merasakan bahwa putrinya tidak mungkin pergi begitu saja atau hilang lenyap tanpa alasan.
"Ayo, Mbak," ucapnya seolah mengajak ku agar bergerak lebih cepat.
Selain aku dan wanita ini, ternyata laki-laki yang kemungkinan besar adalah ayah dari Amanda serta satu kelompok lainnya di arah jalan yang berbeda, langsung berputar arah menuju ke tempat pertama kali mereka berkumpul.
Awal pertama yang aku lihat saat menapaki kedua kakiku di rumput hijau yang tersusun rapi adalah bola cukup besar berwarna merah muda berbintik besar. Seandainya ada Feli di sini, semuanya akan lebih mudah, ucapku di dalam hati sambil memegang dan memperhatikan bola tersebut.
"Dimana kalian semua berkumpul?"
"Di sana, Mbak."
Aku langsung berjalan lebih cepat menuju lokasi yang di arahkan oleh wanita tersebut. Sesampainya di sana, aku masih melihat banyak makanan di atas karpet plastik berwarna biru.
"Terakhir aku melihat Amanda, ia sedang bermain di sana," ucap seorang gadis sambil menunjuk ke arah tengah taman bunga.
Aku langsung bergerak cepat menuju tempat terakhir Amanda bermain. Setibanya di tengah-tengah taman bunga, aku mulai mencium aroma darah. Bagiku, ini aroma yang sangat menyengat. Sedangkan bagi orang lain, mungkin ini hanya seperti bau anyir biasa.
"Bau darah," ucap ku sambil menutup lubang hidung dengan tangan kanan ku.
"Apa, Mbak? tanya mereka yang ternyata mendengarkan ucapanku yang tidak sengaja meluncur begitu saja dari dalam mulutku. "Ya ampun Pa, gimana ini? Apa kita harus lapor polisi sekarang juga? ucap wanita tersebut tampak semakin panik.
"Sebentar! Jika dalam waktu 1 x 60 menit kita tidak bisa menemukan Amanda, baru kita lapor pada pihak yang berwajib," sahut ku yang merasa bahwa ini adalah kerjaan makhluk astral sehingga aku begitu yakin bahwa Amanda tidak akan bisa ditemukan dengan cara di luar gaib.
"Baiklah, Mbak," ucap wanita tersebut dalam kondisi yang masih panik dan aku dapat melihat ketakutan yang luar biasa besar di dalam kedua bola matanya yang basah.
Aku mulai mengikuti arah bau anyir yang tercium tajam di hidungku. Beberapa langkah mengantarkan aku kepada aroma yang jauh lebih tajam daripada sebelumnya. Hal ini membuat aku semakin yakin bahwa Amanda sedang bersama sosok yang populer di Indonesia.
20 menit kami menyusuri jalanan yang berbeda arah dengan dimana keluarga Amanda mencari dirinya. Ini masuk ke dalam taman kota jauh lebih dalam dan ternyata kami melewati beberapa pohon besar yang rindang.
"Ini bukan bagian dari taman kota lagi. Lalu bagaimana mungkin Amanda bisa bermain sejauh ini?" tanya Ayahnya Amanda yang tampak heran.
"Pikirkan sendiri jawabannya! Satu lagi, jika kita berhasil menemukan gadis malang itu, maka kalian harus berjanji untuk benar-benar menjaga dan mengurusnya dengan baik. Jangan hanya mengobrol dan tidak memperdulikan anak yang kalian bawa karena mereka sangat rentan dengan hal apapun, bahkan yang tidak bisa kalian lihat," ucap ku dengan nada yang keras dan membentak.
Semua wajah yang tadinya terangkat penuh kebingungan, sekarang menunduk penuh ketakutan dan penyesalan. Aku yakin mereka tahu kelalaian dan kesalahan mereka karena anak kecil seperti Amanda, tidak mampu untuk mendeteksi ancaman yang datang dari dalam dirinya.
Ketika aku melihat kearah kiri dan ada pohon bambu kuning yang rindang, aku melihat sosok yang sangat mengerikan dengan rambut berantakan dan dadanya yang terlihat panjang hampir menyentuh pusatnya.
Sosok itu memeluk tubuh mungil seorang gadis dengan tangan kanannya yang tampak erat, sementara tangan kirinya menutup mulutnya.
Aku menatap makhluk tersebut dengan tatapan tajam penuh amarah dan sepertinya makhluk itu menyadari arti dari tatapanku tersebut. Tak lama, makhluk buruk rupa itu mengatakan sesuatu yang membungkam tatapan kejam milikku.
"Biar dia untukku saja. Bersama mereka, dia sangat tersiksa." Lalu makhluk tersebut memindahkan tangannya di perut gadis mungil itu sehingga aku dapat melihat bekas lebam di tangan Amanda.
"Apa yang kalian lakukan kepada Amanda?" tanya ku yang beralih pandang. Bahkan tatapan tajam ku tidak lagi untuk makhluk tersebut, melainkan pada keluarga Amanda terutama ayah dan ibunya.
"Maksudnya, Mbak?" tanya Ibunya Amanda yang masih kebingungan dan ketakutan.
"Jujur saja! Apa yang sudah kalian lakukan kepala Amanda?" tanya ku sekali lagi. Aku tidak bodoh." Aku berkata sembari menggenggam kedua tanganku erat-erat.
"Kami tidak mengerti," sahut keluarga yang lain dan aku yakin mereka adalah kakek dan neneknya Amanda.
"Tidak mengerti atau atau pura-pura tidak mengerti?" tanya ku tanpa bahasa sapaan yang santun karena sudah emosional." Saat itu, semua terdiam dan menatapku dengan pandangan ketakutan.
"Aku melihat dengan jelas kalau tangan Amanda lebam dan aku yakin ini ulah manusia."
"Itu semua karena saya. Amanda memainkan dokumen penting perusahaan, jadi saya memukulnya. Lagi pula, saya tidak menginginkan anak perempuan."
"Ya sudah kalau begitu, untuk apa dicari? Biar saja Amanda di sini dan mati." Lalu aku meninggalkan keluarga itu dengan langkah yang cepat.
"Tidak, tunggu! Saya mohon .... " ucap Ibunya Amanda yang hampir bersujud kepadaku.
Aku segera mengangkat tubuh perempuan yang jauh lebih tua dibandingkan diriku. Lagi pula aku ini hanya manusia biasa dan tidak pantas diperlakukan seperti Tuhan. "Jangan bersujud kepadaku! Nanti aku yang berdosa gara-gara ulah anda itu," ucap ku karena tidak ingin lagi berbicara santun saat ini.
"Tolonglah ... aku berjanji, jika suamiku tidak bisa merubah sikapnya, maka aku akan meminta sebuah perceraian darinya. Mbak, aku ini yang sudah menjaganya sejak dari kandungan. Aku sudah memberikan segalanya untuk Amanda dan aku juga tidak bisa hidup tanpa putriku," ujarnya dengan air mata yang membasahi hampir setengah wajahnya.
"Kamu yakin?"
"Iya, selama ini saya memang sangat takut dengan suami saya dan saya juga takut diceraikan, makanya selama ini saya selalu diam ketika dia memukul atau pun membentak serta mengurung Amanda di dalam gudang gelap. Tapi sekarang tidak lagi, saya berjanji. Lebih baik saya kehilangan dia dari pada harus kehilangan putri saya."
"Rosa!!" bentak laki-laki yang sudah sering menyiksa tania tersebut. Sementara keluarga yang lainnya hanya bisa menangis.
"Seharusnya di zaman sekarang ini, tidak ada lagi manusia yang berpikir bahwa anak laki-laki dan anak perempuan itu berbeda. Apalagi Nabi Muhammad sudah mengubah segalanya dan di alam yang terang benderang seperti saat sekarang ini, pentingnya anak perempuan dan anak laki-laki sudah sama."
"Jangan memojokkan saya!" sahutnya ketus.
"Anda bukan hidup di zaman Jahiliyah, dimana anak perempuan dibunuh hidup-hidup. Lagi pula siapa yang tahu tentang takdir? Sekarang Anda memang tampak gagah, sehat dan luar biasa. Tapi bagaimana 20 tahun ke depan? Ketika ada tidak mampu lagi berdiri di atas kedua kaki anda? Bisa saja anak perempuan yang tidak pernah anda anggap itulah yang akan jadi penopang untuk anda berdiri, hidup, bahkan untuk makan dan mati. Jangan terlalu angkuh, Tuan," ucap ku dengan bibir yang bergetar.
"Cukup!"
"Atau bagaimana jika Allah tidak percaya lagi kepada kalian berdua dan tidak memberikan kalian keturunan setelah anak itu? Sementara di sisi lain, anda terus menyakiti, menyiksa, bahkan lama-lama gadis mungil itu juga bisa mati karena rasa sakit yang ia derita dan setelah itu, kalian berdua tidak punya apa-apa. Kemudian disaat yang bersamaan, anda berpikir untuk menikah kembali, seperti itu lah adab laki-laki yang memiliki kekuasaan dan merasa dirinya hebat. Mungkin anda lupa bahwa azab dan karma itu ada. Jangan sampai hal itu terjadi kepada diri anda, baru anda menyesal dan memohon pengampunan."
Semua orang terdiam, mereka mengunci mulutnya rapat-rapat dan di sini seolah aku lah orang yang berkuasa. Padahal aku hanya orang asing yang begitu marah ketika melihat sosok kecil terluka. Saat aku melihat tangan Amanda, tiba-tiba aku terbayang tubuh Tania yang lebam karena ulah Tante Rima dan seketika emosiku meledak, seakan aku ingin memukul bahkan menghabisi orang yang sudah menyakiti Amanda.
"Aku siap berpisah dengan suamiku jika ia tidak bersedia merubah sikapnya terhadap putriku," ucapnya sekali lagi dan kali ini ia tampak yakin.
"Baik. Aku akan membantu."
Bersambung.
Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.