
Dalam malam yang gelap, aku berpikir apakah aku harus melangkah satu arah atau malah dua arah? Tapi tidak mungkin, ini sesuatu yang mustahil. Ucap ku di dalam hati sambil melihat bintang-bintang tanpa menyadari bahwa saat ini sudah larut.
"Apa yang kamu lakukan disini? Harusnya kamu masuk dan beristirahat karena besok harus pergi kemana?" tanya Wiro yang tidak tau nama tempat diriku menuntut ilmu/pendidikan.
"Kampus, Wiro."
"Naaah, itu dia. Mulai besok, aku lah yang akan mendampingi mu, Sarah."
"Apa luka Datuk Belang sangat parah?"
"Iya, begitulah." Wiro tampak sedang menutupi sesuatu dariku.
"Wiro, apakah aku ini sangat jahat?"
"Siapa yang mengatakan hal semacam itu?"
"Diriku sendiri karena aku membiarkan kalian semua terluka."
"Kami masih kuat kok, tenang saja!"
"Wiro ...."
"Kami memang sangat berbeda dibandingkan makhluk berpakaian putih-putih dan berjanggut itu. Kamu tau apa bedanya, Sarah?"
"Apa, Wiro?"
"Setahu ku, maksud ku saat melihat mereka bersama Paman, aku bisa melihat mereka lemah. Namun ketika dibacakan aneka mantra dari buku tebal itu, mereka langsung membaik. Semakin banyak paman dan mereka membaca mantranya, maka mereka semakin kuat. Kalau kami dibacakan itu dalam kondisi seperti ini, tentunya kami akan dengan mudah binasa," jelas Wiro.
"Al-Qur'an namanya, Wiro. Bukan buku mantra."
"Iya. Kami kalau mau kuat, ya harus pake darah. Mulai dari ayam cemani. kambing kendit, sapi, kerbau, begitu."
"Kalau sesajen gimana, Wiro?"
"Kalau disuguhkan kopi pahit dan kopi manis ya cuma buat kembong. Ha ha ha ha ha ha ha ha, aku teringat saat masih hidup dulu," tutur Wiro sambil ngelawak agar aku tertawa.
"Nggak lucu, sebel."
"Kalau kemenyan gimana, Wiro?"
"Kemenyan itu ya cuma bisa buat cemilan. Nggak kenyang. Ha ha ha ha ha ha ha," ucapnya sekali lagi sambil terus tertawa. "Kalau madat iya, lumayan. Nek kemenyan itu ibaratnya kerupuk, permen, peyek gitu. Nah kalau madat ya kayak roti, apem, lapis, gitu. Jadi ingat mamak."
"Wiro ...."
"Ndak ada diantara kami yang mau jadi makhluk dalam aliran hitam, Sarah. Tapi sejak awal sampai sekarang, kami ndak ada yang ngajarin. Ditambah lagi resikonya jika saat ini kami mengambil jalan junjungan mu itu."
"Resiko?"
"Iya."
"Aku tidak mengerti."
"Bayangkan saja ya! Jangan kan untuk mengucapkan ayat atau surat itu, mendengarkannya saja kami sudah kesakitan, kepanasan dan bisa-bisa terbakar."
"Oooh, begitu?"
"Iya. Makanya kalau kami ikut aliran kamu itu, misalnya saat suara rame-rame ketika subuh, maka kami akan terbakar. Ya lebih kurangnya sampai tuan kami bangun, terus melaksanakan tugasnya itu (ibadah)."
"Aku batu tahu."
"Kalau sedang kuat ngak masalah, Sarah. Tapi kalau lagi lemah, bisa-bisa kami menjadi abu dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk cuci piring."
"Kalau ngomong coba yang serius! Aku kan jadi bingung," kata ku sambil menghela nafas yang panjang.
"Iya iya iya."
"Wiro, aku ngak bisa dan nggak mau minum darah ayam itu. Apa rasanya coba?"
"Anyir dan manis."
"Sok tahu."
"Kan aku pernah coba. Waktu salah satu parewangan milikku terluka parah hampir binasa," jawab Wiro tegas. "Setelah itu mereka langsung tertidur pulas."
"Lalu?"
"Saat bangun, tenaganya paling kecil ya ,10 kali lipat. Wujudnya juga berbeda dari yang sebelumnya."
"Gimana thu?
"Kalau yang biasa, tampilannya polos. Tapi setelah acara sesaji itu, tubuh mereka jadi penuh perhiasan yang terbuat dari emas. Bukan hanya itu saja, mereka juga semakin besar dan tampak kuat."
"Begitu ya?"
"Sarah, jangan mengikuti kami karena kami lah yang akan mengikuti dirimu. Sesakit apapun, sepahit apapun, semenderita apapun, kami akan terus mendukung mu, seperti Putri Nawang Wulan."
Sesaat setelah mendengar ucapan Wiro, hatiku langsung terenyuh dan tiba-tiba bulir-bulir air mataku menetes tanpa aku sadari. Ternyata mereka sama dengan manusia, walaupun jalan mereka salah tetapi di dasar hati mereka masih tersimpan sesuatu yang lembut dan baik.
Ini seperti kisah seorang preman atau penjahat yang sudah membunuh 100 orang, tapi mereka memiliki rasa belas kasih kepada seorang anak manusia yang terlunta-lunta di jalanan.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi satu lagi pertanyaan ku. Apa lagi bedanya kalian dengan makhluk gaib yang beraliran putih?"
"Kami butuh makanan, Sarah. Sedangkan mereka tidak."
"Terimakasih, Wiro."
"Sama-sama."
"Aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, tapi pada saat yang bersamaan aku mencium aroma kabel gosong yang sangat kuat. Aroma tersebut memalingkan pandanganku hingga aku memperhatikan sekitar hanya sekedar ingin tahu dari mana asal aroma tersebut.
"Seperti ada yang terbakar, tapi dimana?"
"Tenang saja dia tidak mengarah kepada kita, tapi kepada tetangga yang berada di dekat rumah kita," ucap Mbah Pecek sambil melingkarkan kembali tubuhnya pada pagar dan atap rumahku.
"Dia dapat kiriman," kata Wiro dengan suara yang kecil, tapi masih bisa aku dengarkan.
"Banaspati," sambung Mbah Pecek.
"Apa itu?"
"Santet tingkat tinggi dan sebaiknya kamu tidak ikut campur Sarah karena kita tidak tahu, siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Baik, Wiro."
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, tapi aku sangat ingin tahu apa itu banaspati karena bisa saja, suatu saat nanti hal seperti itu akan menyerang ku. Ucap ku sambil berjalan ke arah kamar.
Pink
"Aku segera mengambil Hp yang berbunyi dan ternyata Kak Rio sudah menelpon sejak tadi. "Sarah, kamu kemana? Aku khawatir sekali."
"Maaf, Kak. Sedang ada sedikit urusan."
Pink
"Apa kamu dan yang lainnya baik-baik saja?"
"Iya, Kak. Bagaimana dengan Kakak sendiri?"
Pink
"Aku juga baik, Sarah. Sudah lama tidak bertemu ya? Nanti saat akhir tahun, aku akan segera menemui kamu."
"Tapi memang sebaiknya kita tidak usah bertemu, Kak."
Pink
"Kenapa? Apa ada laki-laki lain?" sahut Kak Rio sambil menyelipkan emogi kecewa.
"Bukan begitu. Tapi susah buat nutupin rindunya."
Pink
"Kamu membuat aku cemas, Sarah. Aku ngak tau kalau ngak ada kamu. Hatiku cuma satu dan sudah terlanjut aku berikan semuanya padamu, Sarah."
"Jangan buat aku tidak bisa tidur malam ini, Kak Rio!"
Pink
"Ha ha ha ha ha ha. Aku akan datang bersama Papa dan juga Mama untuk melamar mu."
"Apa ini tidak terlalu cepat?"
Pink
"Jangan menolak, Sarah!"
Aku dan Kak Rio menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk saling berkomunikasi. Wajar saja jika rasa rindu itu sudah mulai terasa berat karena cukup lama Kak Rio dan aku berpisah untuk bekerja. Kak Rio ditugaskan oleh Papaya dalam mengembangkan bisnis keluarga di luar kota.
Hal itu baik untuk Kak Rio karena sambil bekerja, ia bisa terus belajar bersama orang-orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Selain itu, aku juga sangat mendukung sekali apa yang orangtua Kak Rio arahkan dan Kak Rio perjuangkan saat ini, walau harus bertarung rindu.
Aku hanya berharap dan berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan Kak Rio karena aku yakin dan percaya jodoh ada di tanganNya. Untuk itu aku dan kak Rio berusaha menjalani hari-hari kami dengan baik, tanpa penghianatan maupun pikiran buruk antara satu dan yang lainnya.
Pink
"Sarah, tidurlah! Sudah larut. Besok aku telpon ya? Kalau sekarang ngak enak. Takut mengganggu yang lainnya.
"Baiklah, Kak. Assalamualaikum."
Pink
"Waalaikum salam."
Bersambung.
Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.