
Sisi Feli.
"Hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... sakit sekali. Ya Tuhan, bagaimana caranya agar aku bisa tepat waktu datang ke rumah Sarah dan menolongnya? Aku mohon ... bantulah aku. Aku hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat, " ucapku sambil menyeret kaki dan membantu tubuhku agar tetap berdiri dengan menempelkan kedua tangan di dinding rumah sakit kemudian berjalan melangkah dengan lamban namun tidak berhenti.
Hari sudah malam, tentunya akan Sulit bagiku untuk mencari kendaraan menuju ke rumah Sarah. Tapi coba lihat sisi baiknya, dalam situasi ini penjagaan tidak terlalu ketat dan pengunjung tidak terlalu ramai sehingga aku lebih leluasa untuk melarikan diri dari rumah sakit ini. Ucapku di dalam hati.
Dari kejauhan aku mendengar suara riuh dari beberapa orang yang aku yakini adalah suster yang berjaga di ruang ICU dan mereka sudah menyadari bahwa aku melarikan diri dari ruangan tersebut. Untuk itu mereka mencariku.
"Tidak, aku tidak boleh tertangkap," ujarku sembari melihat jam dinding yang tergantung di atas ruang jaga kelas 1 mawar. Pukul 23.00 WIB. "Aku harus cepat! Tidak ada waktu lagi."
"Lukanya parah, tidak mungkin Jika dia sudah berjalan jauh, aku yakin dia berada di area parkiran atau sekitar rumah sakit dan mencari kendaraan yang dapat membawanya pergi dari rumah sakit ini. "
"Apa yang dipikirkan oleh pasien itu? " tanya Suster lainnya.
"Apa mungkin karena dia tidak mampu membayar biaya perawatan selama di rumah sakit ini? " tanya salah seorang suster yang mencariku.
"Tidak. Itu tidak mungkin karena seluruh biaya rumah sakit hingga biaya operasinya besok pagi sudah di dibayar lunas oleh Ayahnya, " sahut suster kepala. "Saya yakin ada alasan lain dan sangat mendesak. "
Langkah dan suara para suster sudah terdengar cukup dekat denganku sehingga aku dapat mengetahui percakapan mereka dengan jelas. Apa yang harus aku lakukan? Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di otakku dan aku segera membawa diriku ke tempat di mana aku merasa aman untuk sementara waktu.
"Kamar jenazah. " Aku membaca nama ruangan yang sama sekali tidak pernah aku pikirkan untuk melangkahkan kakiku ke dalamnya. Entah apa yang akan terjadi padaku di sana? Aku tidak tahu. Yang jelas aku harus bersembunyi untuk beberapa waktu setidaknya hingga aku merasa aman dari kejaran para Suster tersebut.
Rasanya suara detak jantungku jauh lebih kuat daripada suara tapak kakiku ketika melangkah. Hawa di sekitar aku berdiri pun langsung berubah. "Namamu Felia Zahrini, jangan ganggu aku! Aku hanya ingin menumpang sebentar saja .... " ucapku sambil terus melangkahkan kedua kaki perlahan.
Macam-macam aura dapat aku rasakan disini, terutama aura jahat dan kebencian. Aku yakin, baru saja ada mayat yang menjadi korban kejahatan manusia. Ucapku di dalam hati.
Tiba-tiba bulu kuduk ku berdiri, padahal aku tidak dalam mode terbuka tapi tetap saja tubuhku dapat bereaksi pada gaib. Tak lama, aku merasakan sentuhan tangan lembut tepat dibahu kananku. Sial ... padahal aku sedang tidak siap.
Sambil mengatur nafas yang sudah berat, aku memberanikan diri untuk membalik tubuhku. Setidaknya aku tahu apa yang aku hadapi dan aku harus berbuat apa karena aku tidak ingin terkurung di ruangan ini. Itu bukan tujuan ku berada di tempat ini. Kataku tanpa suara.
Sambil mengepal kedua tanganku, aku mengumpulkan kekuatan dan keberanian.
1, 2, 3. Aku membalik tubuhku dan ternyata pikiranku salah. "Suster .... "
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? "
"Aku harus meninggalkan rumah sakit ini dan segera pergi menuju rumah saudaraku. "
"Apa kamu sungguh-sungguh dan tidak sedang berkhayal? "
"Tidak."
"Baik, saya akan membantumu tapi ingat! Kembalikan jika urusanmu sudah usai. "
"Baik Suster Ana, terimakasih, " ujarku sembari menatap papan nama kecil yang berada di dada kanannya.
"Mari .... "
Aku mengikuti arah langkah Suster Ana yang membawaku berbelok arah ke kiri dari sebelah kamar jenazah dan ternyata itu adalah pintu jalan keluar lewat belakang rumah sakit ini.
"Saya hanya bisa membantu kamu sampai disini. Selebihnya, tinggal usaha dan nasib kamu. "
"Terimakasih banyak Suster. "
Aku jalan setengah berlari sambil menyeret kakiku untuk menuju aspal besar. Dari sini aku diarahkan untuk terus lurus lalu di pertigaan aku harus belok ke kanan karena di sana ada pangkalan ojek yang aktif hingga pagi.
Aku menuruti semua perkataan dari Suster Ana. Ketika aku sudah berbelok ke kanan, aku melihat pangkalan ojek yang cukup ramai. Dari sini aku dapat mendengar suara cakap-cakap driver ojek, sepertinya mereka dalam jumlah yang cukup banyak.
Bulir-bulir air mataku langsung menetes seketika, saat aku sudah merasa sudah mendapatkan jalan keluar terbaik untuk menuju ke arah Sarah. Aku berharap aku tidak terlambat.
"Mau kemana Mbak? "
"Tolong antar saya ke alamat .... "
"Baik Mbak, silakan naik dan gunakan helmnya! "
"Pak, tolong lebih cepat ya ...! "
"Baik Mbak. "
Sekitar 25 menit berlalu, aku pun tiba di depan rumah Sarah. Aku melihat sekeliling dan menurutku semuanya tampak normal. Apa penglihatanku salah karena aku sedang dalam keadaan kotor? Tanyaku di dlam hati.
"Maaf Mbak, semuanya Rp. 25.000.-."
"Maaf Pak, saya tidak punya uang. Sebagai ongkosnya saya akan memberikan ini, " kataku sambil membuka kedua anting-anting pemberian Ibuku (Satu-satunya barangku yang berharga).
"Tapi Mbak, inikah pasti mahal. "
"Tidak apa, Bapak sudah membantu saya. Anggap saja ini harga yang pantas. "
"Terimakasih banyak Mbak .... " Tukang ojek pun meninggalkan aku. Aku benar-benar bingung tapi aku memutuskan untuk tetap percaya pada diri sendiri dan waspada.
Aku memutuskan untuk mengintip ke dalam rumah melalui celah-celah jendela mulai dari buang tamu. Tidak ada apa-apa disini, sebaiknya aku melihat ke ruang kelurga.
Ketika aku melihat ke arah ruang tengah, mataku dapat menangkap bayangan Sarah yang sedang terperangkap di atas kursi kayu dengan tangan yang terikat dan seseorang dihadapannya dengan tampilan misterius.
"Permainan sudah usai ... ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Dengar Sarah! Aku tidak akan menghancurkan Tania kecil. Kamu tau kenapa? Karena bagiku, dari dulu dia adalah mainan yang asik dan lucu. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
Aku tidak dapat berpikir jernih, aku hanya ingat bahwa pintu belakang rumah ini, kuncinya ada di bawah karpet merah yang digunakan sebagai keset kaki. Aku segera ke belakang dan mengambilnya lalu membuka pintu belakang dengan perlahan.
Aku berjalan perlahan agar tapak kakiku tidak terdeteksi oleh manusia setengah iblis tersebut. Dengan berpedoman pada waktu, aku menghitung langkah. Selain itu, aku tidak lupa untuk melengkapi diriku dengan senjata dan aku memilih palu karena tidak berhasil menemukan senjata yang lain.
Perang pun segera dimulai. Saat Tante Rima menaruh kotak hitam di atas meja, aku sudah berada di ujung tembok. Tapi bukan sekarang waktunya, jika aku gegabah, bukan hanya Sarah yang akan tiada tapi juga aku dan Ayah.
Tante Rima tampak sangat senang dan dia sudah merasa menang. Saat ini, ia tengah mempermainkan Sarah dengan menunjukkan pisau di tangan kiri dan parang panjang di tangan kanannya.
"Kamu akan segera menyusul semuanya, lalu aku akan mematahkan tangan dan kaki Ardy. Setelah itu aku akan hidup bersama dirinya selamanya," ujar Tante Rima disambut tawa bahagia seperti baru saja memenangkan judi angka.
Sarah tampaknya tidak menyadari kehadiranku. Dia tampak sangat ketakutan dan terus-menerus menggeleng-gelengkan kepalanya. Jangan takut Sarah ... aku disini. Aku hanya menunggu waktu yang tepat karena jika Tante Rima tidak lengah, maka dia bisa tau tentang kehadiranku melalui bayangan yang dipantulkan cahaya lampu di tembok ruangan.
Aku menggenggam palu dengan sangat kuat dan aku juga merenggangkan pergelangan kakiku agar bisa berlari dengan sangat cepat. Aku sudah merencanakannya dengan sempurna. Aku akan berlari ketika Tante Rima mulai mengayunkan parang panjang yang ada di tangan kanannya tepat di leher Sarah, kemudian aku memukul pundak Tante Rima dengan keras.
Sesuai prediksi ku, semua yang aku bayangkan terjadi dan dengan mudah aku dapat menjangkau Tante Rima sebelum ia berhasil menebas leher Sarah.
Tante Rima terkapar tidak jauh dari Sarah. Aku yang cemas dengan pisau dan parang yang ia pegang, langsung menyingkirkan kedua benda itu dan aku letakkan tidak jauh dari jangkauanku.
"Eeeee ... eeee ...."
"Kamu ngak papa kan Sarah? " ucapku sambil mendekati Sarah dan ingin melepaskan lakban dari mulutnya. Tapi pada saat yang bersamaan, aku tidak tau apa-apa lagi.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘