ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
MIA


Suasana hampir tenang dengan hati yang damai, seketika berubah jadi mencekam. Teriakan dan ketakutan Mia terdengar sangat dalam hingga membuat kami panik, bahkan hampir tak mampu berpikir.


"Jangan!!" teriak Feli yang masih menahan tangan Mia, tapi kekuatan Feli tak sebanding dengan manusia yang sudah dirasuki iblis tersebut.


Kami mengejar Mia yang sudah sangat ketakutan, dengan posisi tangan masih menggenggam erat kedua tangan Feli, sementara kedua kakinya sudah dipegang kuat dan seperti siap di seret ketempat yang tidak kami ketahui.


Aku hampir mendapatkan tubuh Mia, tapi aku terlambat. "Tidaaak .... " teriakku sampai seluruh isi perutku rasanya hilang, akibat tenaga yang sangat besar ketika berteriak.


Aku tidak mendapatkan Mia, begitu juga dengan yang lainnya. Walaupun mereka semua sudah berlari sangat cepat. Tiba-tiba dari arah belakang, datanglah beberapa orang yang diantaranya para Dosen yang aku kenali dan dua orang berpakaian hitam-putih dengan topi kuncir yang memiliki sudut segitiga di bagian depannya.


Mereka sudah tampak sepuh dan berpengalaman. Bahkan mereka berdua terlihat sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini. "Kalian semua, pergi dari sini. Aku akan membawakan teman kalian, hidup-hidup," ujarnya dengan suara yang serak namun tegas.


"Kalian, tunggulah di luar!!"


"Baik, Pak," ucap Kak Rio sambil memberi isyarat kepadaku, agar aku keluar dari kampus ini.


Perasaanku tidak tenang, aku yakin begitu juga dengan teman-teman yang lain. Bahkan tiga orang teman wanita yang lainnya, terus-menerus menangis dan gelisah. "Gimana dengan Mia?" tanya Lia sembari menangis sesegukan.


"Sabar, kita doakan yang terbaik untuk Mia," ucapku sambil merangkul Lia yang masih saja menangis.


"Kak Rio, sebenarnya ada apa? apa hubungannya Mia dengan semua ini? maksudku, kenapa harus Mia?"


"Aku juga tidak tau, Sarah. Tapi mungkin kita bisa tau, kalau kita mencari tau kebenarannya."


"Tunggu sebentar!" kata Rian yang menahan langkah Kak Rio. "Sebaiknya kali ini kita mengikuti perintah dari para Dosen. Jangan sampai kita menjadi penghalang dan sikap kita malah dapat mencelakai diri kita sendiri. Aku yakin, semua ini ada alasannya dan kita akan segera tau dengan cara yang baik dan tenang."


"Bukan cuma Mia, tapi ada yang lain juga. Sekitar 5 orang di dalam sana," ucap Putra yang baru berjalan dari arah pos jaga.


"Kamu yakin?" tanya Rian."


"Iya, itu info dari satpamnya loh. Nggak mungkin bohong kali."


"Kita harus apa?" tanya Feli yang sudah sangat gusar.


"Tidak ada, kali ini kita harus tetap tenang diam saja sambil menunggu apa yang bisa kita bantu," ucap Rian dengan nada yang cukup tenang.


"Tapi aku takut sekali dan ingin pulang," ujar Kayla sambil menangis.


"Teman-teman, dengar! Yang mau pulang silahkan pulang! Kami akan menunggu Mia disini untuk beberapa saat."


"Nanti kabari kita ya, Rian," ujar Putra yang memang sudah tampak pucat sejak tadi. "Aku antar Keyla pulang dulu."


"Bagus, kita memang mesti kerjasama dan saling membantu."


"Yang lain juga, yang mau pulang ... silahkan."


"Iya, Kak Rio .... " ucap teman-teman yang lainnya.


*****


Kami menunggu hingga lewat tengah hari, tanpa rasa bosan ataupun lelah. Hinga kami dapat melihat beberapa Dosen keluar dari gerbang utama sembari merangkul beberapa orang mahasiswa yang terperangkap di dalam gedung kampus.


"Itu Mia," ucap Feli dan kami berempat langsung berlari ke arah Mia.


"Sebaiknya bawa dia pulang!!"


"Baik, Pak."


Tanpa pikir panjang, kami langsung membawa Mia pergi dari lingkungan kampus menuju ke rumahnya. Walau sangat lemas, tapi Mia dalam keadaan sadar dan dapat berinteraksi dengan baik pada kami berempat.


"Rumahnya ke arah mana, Mia?" tanya Rian sambil memperhatikan Mia dari kaca.


"Tidak jauh dari super market fresh sun," jawab Mia dengan kondisi sangat lemas, bahkan wajahnya tampak pucat.


"Minum dulu, Mia," ujar Feli sambil membuka tutup botol air mineral yang berada di kantung /saku mobil.


Mia membuka mulutnya sangat kecil, tapi cukup untuk memasukkan beberapa tetesan air ke dalamnya. Tak lama, Mia menangis dan mengatakan bahwa di dalam sana sangat mengerikan. Ia mendengarkan suara teriakan yang sangat misterius dan ia merasa tubuhnya dibelenggu oleh sesuatu yang tidak mampu ia lihat.


Melihat reaksi Mia, Feli langsung mencari tau tentang kebenaran semua cerita yang Mia utarakan kepada kami. Kemampuan Feli memang meningkat pesat, bahkan saat ini ia sama sekali tidak membutuhkan pulpen, kertas, atau alat bantu tulis lainnya.


Aku melihat Feli sedang sangat fokus hingga dari wajahnya turun beberapa tetes bulir-bulir keringat dalam ukuran besar. Padahal di dalam mobil ini kami menggunakan AC yang cukup kuat.


"Mia, sabar!! Istigfar kamu!" ucap ku dan Rian secara bergantian.


"Aku nggak kuat, semua sangat menyeramkan. Darah dimana-mana, bau amis bertebaran, suara teriakan mengaung di setiap sudut kelas. Sebenarnya apa yang terjadi di sana?" tanya Mia yang seharusnya menjadi sumber informasi bagi kami, tapi pada kenyataannya ia malah menjadi bingung dan kembali bertanya kepada kami tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Mia, tenang! Istigfar ...!" ucapku sambil memegang tangan Mia cukup erat agar dia tau bahwa dia tidak sendiri.


"Mia, dengar! Rabb Ta’ala berfirman, Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui (QS. Fushshilat: 36)," ucap Kak Rio yang duduk di kursi depan.


وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ


"Wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun fasta'iż billāh, innahụ huwas-samī'ul-'alīm," sambung Rian agar Mia selalu terngiang dengan ucapan Kak Rio dan juga ucapannya.


"Artinya: Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ingat itu Mia? ingat yang kita bicarakan saat di ruang kesehatan tadi? maka kembalikanlah semuanya kepada Allah serta mohonlah perlindungan dari-Nya."


"Kamu tau apa maksud atau tafsir Quran Surat Fussilat Ayat 36 tadi, Mia?" tanya Kak Rio terus berusaha memenuhi hati Mia dengan keyakinan kepada Allah.


"Tidak."


"Konsentrasi, Mia!! Dengar! Jika setan membisikimu kapan pun dengan keburukan maka berlindunglah kepada Allah dan kembalilah kepada-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar apa yang kamu katakan dan Maha Mengetahui keadaanmu."


"Ini diantara doa perlindungan untuk mengusir setan. Kamu mau Mia?" tanyaku sambil merapikan rambutnya. “Dan katakanlah, Rabbi a’udzubika min hamazaati-sy-syayaathiin, wa a’udzubika rabi an yahdhuruuni," ucap ku perlahan agar Mia mampu menghafalkannya dengan baik.


"Rabbi a’udzubika min hamazaati-sy-syayaathiin, wa a’udzubika rabi an yahdhuruuni," ucap Mia terus mengulang-ulang surat dan ayat ini.


"Artinya, wahai Rabb, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan godaan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Rabb, dari kedatangan mereka kepadaku (QS. Al Mukminun: 97-98)." Lalu Mia menangis setelah mendengar arti dari ayah tersebut.


"Doa lain datang dari hadits nabi: Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai Ar-Rahman.” (HR. Ahmad).


"Terimakasih, teman-teman," ucap Mia sambil menarik air hidungnya ketika kami sudah tiba di depan rumahnya.


"Sama-sama, Mia. Jika ada apa-apa, telepon saja aku atau Feli. Kami akan segera datang."


"Baiklah ... terimakasih," ucap Mia sambil melangkah dengan ragu. Sepertinya ia lebih senang dan tenang saat bersama kami dan karena hal itu aku dan Feli saling menatap karena aku juga dapat melihat kecemasan di wajah Feli.


Mia sudah turun dari mobil, tapi ia masih menatap bagian depan rumahnya yang tampak sepi. "Sarah, makhluk itu sangat menginginkan Mia karena weton lahirnya Mia adalah malam jum'at kliwon," ucap Feli dan hal tersebut membuat kamu berpikir dua kali untuk meninggalkan Mia.


"Makhluk apa?"


"Penunggu gedung itu. Dari awal memang sudah ada perjanjian darah dan pihak kampus lalai kali ini. Mereka lupa bahwa waktu weton nya semakin maju dan terus ke depan dan mereka tidak memenuhi perjanjian yang sudah disepakati," jelas Feli.


"Apa Mia akan dijadikan tumbal?" tanya Rian sambil menatap Feli.


"Begitu juga dengan yang lainnya," jawab Feli sambil menghela nafas panjang.


"Tapi dia sudah selamat, dalam arti dia sudah tidak terkurung di dalam sana," ucap Kak Rio.


"Tidak, bukan selamat. Tapi memang seperti dibiarkan karena belum waktunya. Tapi ketika waktu itu sudah datang, maka setan itu akan memburu Mia seperti rusa memburu seekor itik. Paham?" tanya Feli sambil menatapku.


"Jadi Mia dan yang lainnya sengaja dilepas hanya untuk bermain-main dengan kematiannya?"


"Tepat, Sarah."


"Kalau begitu ayo kita bantu Mia, bahkan kalau perlu ayo kita bawa ke pondok pesantren," ujar Rian yang mulai tampak panik dan simpatik.


"Aku setuju. Lebih baik kita bawa Mia ke tempat Paman."


"Setuju," ucap ku, Kak Rio dan Rian.


Kami segera menyusul langkah kaki Mia dan mengatakan kepadanya niat kami terhadap dirinya. Bukan untuk melakukan hal yang tidak-tidak, tapi lebih pada sebuah perlindungan dan Mia langsung menggangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.