
Dengan wajah yang lelah, nafas yang tidak teratur, dan keringat dingin yang sudah membasahi dahi, Kak Rio dan yang lainnya terus berserah diri. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya ada di hadapan mereka. Yang mereka pahami adalah Allah pasti memberi ujian yang sesuai dengan kemampuan mereka. Jikapun saat ini mereka kalah lalu menghilang, mereka sama sekali tidak takut.
Cahaya lampu utama mulai menyorot dengan keras dan hal itu membantu Kak Rio dan teman-temannya untuk melihat musuh selanjutnya yang mungkin saja menjadi musuh terakhir bagi mereka.
Sambil mengucap dzikir berulang-ulang, mata mereka terus mengarah kepada satu titik, hingga sesuatu yang tampak sangat lemah jatuh dengan lututnya yang terlebih dahulu menyentuh lantai putih yang terasa keras.
"Saraaah ...." teriak Feli yang langsung berlari kearah sahabatnya tersebut.
"Masya Allah ...." ucap Kak Rio sembari mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang.
"Wajar saja dia tidak mempan dengan ayat-ayat suci Alquran, ternyata dia adalah Sarah. Ya ampun alangkah bodohnya aku, karena sudah berpikir bahwa ada makhluk yang lebih kuat dan lebih tinggi daripada Allah Subhanahu Wa Ta'ala," ujar Pak Handoyo sambil tersenyum seolah mengejek dirinya sendiri yang sudah berani berpikir bodoh seperti itu.
Tak lama, Mia juga langsung berlari menuju ke arah Sarah dan mereka mengangkat wajah dan tubuh Sarah yang sudah basah oleh keringat dan air mata. Saat mereka sudah berdiri menyentuh beberapa titik di bagian wajah Sarah yang tampak memar dan terluka, Saat itu Feli menangis dan mengatakan sesuatu sambil menatap Sarah.
"Jika ada manusia yang mengatakan bahwa kamu adalah manusia yang syirik ataupun musyrik hanya karena bisa menembus dunia lain, maka aku adalah orang pertama yang merasakan sakitnya," ujar Feli sambil menangis tersedu-sedu.
Sarah yang tidak mampu untuk berkata-kata, langsung menghapus air mata Feli dan ia mencium pipi serta dahi Feli yang sudah terasa hangat. Mereka menyatukan dahi seperti biasanya yaitu di saat mereka berdua benar-benar merasa jika hati mereka adalah satu.
Dengan langkah lambat dan terseok, Sarah, Feli dan Mia berjalan ke arah luar gedung kampus. Saat itu Sarah melihat tubuh Kak Rio tepat di hadapannya, tapi seperti yang telah Kak Rio katakan bahwa mereka tidak akan saling bersentuhan sebelum menjadi muhrim dan halal dihadapan Allah.
Perkataan Kak Rio seolah menjadi janji antara dirinya dan Sang Pencipta sehingga mereka berdua hanya dapat saling melihat tanpa menyentuh. Saat mata Sarah dan Kak Rio bertemu, keduanya saling bisa merasakan hati yang terhubung dengan cinta yang semakin erat.
Kak Rio terus menatap wajah Sarah dengan matanya yang menyipit karena terluka di bagian kelopak. Lalu kak Rio tersenyum sambil mengatakan sesuatu kepada Sarah, "Aku akan segera melamar mu, Sarah."
"Seandainya masih bisa ditawar, izinkan aku untuk tetap menuntut ilmu hingga batasnya." Semua ini bukan karena aku ingin menolak lamaran Kak Rio, tapi semuanya lebih kepada keinginan ku untuk menjadi istri dan juga ibu yang pantas untuk anak-anak Kak Rio. Ucapku tanpa suara.
"Apapun yang kamu inginkan, Sarah. Asalkan kamu bisa menjaga diri dan hatimu dengan baik."
"Sekarang, kemari lah! Berdiri lebih dekat," ucap Sarah yang berusaha berdiri di kakinya sendiri dengan tubuh yang gemetaran. "Aku akan segera menutup mata batin kalian sebelum keluar dari kampus ini. Semua ini agar tidak ada trauma dan rasa ketakutan di dalam hati karena melihat banyak sosok berkeliaran di beberapa bagian kampus."
Tak lama, semua berkumpul di dekat Sarah namun tidak menyentuh dirinya. Tak lama, Sarah memejamkan kedua mata dan berkonsentrasi untuk menutup semua mata batin dengan energi yang hanya tinggal sedikit. Sarah berharap usahanya kali ini efektif untuk semua orang, sehingga nasib malang yang menimpa dirinya tidak dirasakan oleh orang lain.
"Tutup mata kalian semua!"
"Baik," sahut yang lainnya.
“Bismillahirohmanirohim, alhamdulillahirobbil ‘alamin wa shollalohu ala sayyidina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wasallam, Ya khoirol mas’uliin, Ya mujiiba da’watil mudtorriin, Ya ilahal ‘alamin bika angzalta hajati wa angta a’lamu biha faqdiha. Allohumma angta laha wal likulli hajatin faqdiha bifadli, Bismillahirohmanirohim ma yaftahillah linnasi mirrohmatin falaa mumsika laha."
"Silahkan buka mata kalian semuanya. Bagaimana?" tanya Sarah setelah membacakan doa untuk menutup mata batin.
"Mungkin kita bisa tau kalau sudah sampai di luar," ujar Pak Handoyo yang menyadari kalau di gedung ini sudah tidak ada apa-apa lagi.
"Tidak, disini masih ada sesuatu. Tidak jauh dari kita semua," jawab Sarah karena saat ini, Datuk dan Kakek Singgih serta beberapa parewangan milik Nenek Nawang Wulan sudah berdiri di sisi Sarah.
"Aku tidak melihat apapun," jawab Pak Handoyo.
"Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Aku juga tidak bisa melihat sesuatu yang kamu maksud itu, Sarah," ucap Feli dan Rian.
"Kak Rio?" tanya Sarah karena melihat ekspresi wajah Kak Rio yang berbeda dari yang lainnya.
"Iya, aku juga tidak lagi bisa melihat apapun Sarah. Kecuali?" Kak Rio menggantung ucapannya.
"Kecuali apa, Kak?" tanya Sarah dengan wajah yang tengang dan cemas.
"Malaikat."
"Malaikat?" tanya Sarah sambil menatap ke seluruh bagian, namun ia tidak melihat sosok yang digambarkan dengan cahaya tersebut.
Sementara Feli tampak tersenyum kecil saat melihat Sarah bingung dan menatap Kak Rio yang sudah malu-malu.
"Em ... em. Malaikat tak bersayap ya?!" goda Rian yang ternyata juga memahami maksud Kak Rio.
Sarah menyadari sesuatu dan hal itu membuat senyum Sarah melebar. "Itu gombalan terbaik yang pernah aku dengar, Kak," kata Feli sambil merangkul tubuh Rian dan mereka berjalan ke arah luar bersama dengan senyuman yang lainnya.
Sementara ditengah-tengah, ada Sarah yang berjalan berdampingan bersama Mia dengan wajahnya yang tertunduk malu. "Ternyata dia pandai menggombal juga," ucap Mia berbisik di telinga Sarah dan hal itu semakin membuat Sarah tertunduk.
Ketika semuanya sudah di depan pintu utama, mereka semua bertemu dengan beberapa dosen senior dan dua lelaki paruh baya berpakaian khas Jawa. Mereka menatap kelompok Sarah yang sudah terlihat lemah dan berantakan.
"Pak Pujo, maaf karena saya sudah melanggar protokol yang anda berikan," ucap Pak Handoyo tanpa berani menatap. "Dan saya siap untuk dipecat."
Kami semua membuka mata lebar-lebar seakan menantang para Dosen senior karena jika mereka mengambil keputusan untuk memecat para satpam ini, berarti mereka melakukan kesalahan besar.
"Kita akan membicarakan ini nanti, setelah tempat ini bersih."
"Tempat ini sudah kosong dan bersih. Satu lagi, mereka semua adalah korban yang selamat. Hanya saja, ada seorang mahasiswi yang sudah tidak tertolong lagi di lantai atas," ujar ku dengan mata besar karena tau persis bahwa semua ini adalah kesalahan dan hasil kelalaian para petinggi kampus ini.
"Saya akan menghubungi polisi dan mengurus semuanya dengan baik." Selain itu, demi kenyamanan, ketentraman dan keberlangsungan kampus ini, para petinggi kampus memohon kepada kami semua untuk merahasiakan tragedi yang baru saja terjadi.
Setelah mendengar hal tersebut, aku dan teman-teman berusaha untuk mengerti. Tapi tentunya dengan beberapa syarat. Yang salah satunya adalah tidak ada kata pemecatan kepada para satpam serta memberikan tunjangan khusus pada ketiganya.
Kesepakatan terjadi dan kami semua akan merahasiakan semua yang kami ketahui tentang kampus ini. Kemudian sebelum kami pulang, aku meminta izin untuk membuka mushalla agar dapat beribadah selama berada di lingkungan kampus.
Kami mulai beranjak pergi, tapi aku dapat melihat dari ujung mataku bahwa kedua laki-laki paruh baya tersebut terus memperhatikan diriku dan apa yang sedang bersamaku (parewangan milik Nenek Nawang Wulan).
Bersambung ....
Nb: Ayat di atas bisa teman-teman baca jika merasa sedang sensitif atau ingin menutup mata batin. Lakukan sesering mungkin agar mata batin kalian terlapisi dan tertutup dengan sempurna.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.