
Aku sudah diizinkan untuk pulang, tapi kali ini Ayah tidak menjemput ku. Kata Pak Antok, Ayah menunggu di rumah saja karena kurang enak badan.
Awalnya aku cukup cemas dengan keadaan Ayah, namun Pak Antok mampu meyakinkan aku jika Ayah hanya kelelahan dan semua baik-baik saja. Apalagi Rian sudah merawat Ayah dengan sangat baik.
"Sarah, sudah siap?" tanya Feli yang menahan tangan kanan ku sambil tersenyum.
"Iya." Aku berdiri dengan menumpu berat badanku pada Feli tapi ia sama sekali tidak merasa keberatan.
Aku melangkah perlahan dan merasa sangat pusing. Ditambah lagi dengan tubuhku yang sepertinya remuk. Rasanya, aku butuh pijatan saat ini. Semoga saja, Mbok Yati bisa aku andalkan.
"Non, pake kursi roda saja ya?"
"Nggak, Pak. Aku ingin belajar berjalan. Rasanya sudah lama sekali terkapar seperti ini."
"Ya sudah kalau gitu, Non. hati-hati dan pelan-pelan saja!"
Dengan langkah lambat, aku hampir meninggal kamar perawatan, tapi sesuatu menahan ku dengan sentuhannya yang lembut. Aku menoleh ke samping dan menatap tangan kanan ku. Ternyata ada seorang anak perempuan kecil berambut pendek dengan giginya yang ompong.
Aku mengerenyitkan dahi ku untuk menatapnya dan Feli menanyakan kenapa? Kemudian aku hanya menjawab, "Feli, tunggu sebentar!"
"Baiklah."
Gadis kecil itu menatapku dengan matanya yang redup dan basah. Tak lama, ia menoleh ke arah ranjang perawatan dimana aku berbaring beberapa menit yang lalu.
Melihat ekspresi wajah gadis kecil tersebut, aku merasa harus melakukan hal yang sama dan aku melihat ke arah belakang. Suara tangisan tiba-tiba terdengar memenuhi ruangan. Seorang wanita muda menangis sejadi-jadinya sembari memeluk sang putri yang sudah tidak bernyawa.
"Salwaaa ...." teriak wanita muda tersebut semakin histeris ketika para media menutup wajah gadis mungil yang saat ini berada di hadapanku hingga ujung rambutnya. "Salwaaa."
Mendengar suara kesakitan itu, membuat luka hatiku kembali. Aku tau apa yang wanita muda itu rasakan, hingga tanpa terasa bulir-bulir air mataku menetes dan kedua kakiku melemah
"Pak, ambil saja kursi rodanya! Sarah belum kuat betul ini."
"Iya, Non Feli."
"Duduk dulu di sini!" kata Feli sembari meletakkan tubuhku di atas kursi susun berwarna biru yang berada di depan kamar perawatan.
Feli melepaskan tangannya dari tanganku, tapi tidak dengan gadis kecil tersebut. Tak lama, Feli menyodorkan sebuah permen coklat dan aku segera memakannya.
"Sarah, jika ada apa-apa kasih tau aku! Paham?"
"Iya, Feli." Aku menatap mata Feli yang meletakkan kedua tangannya di kedua bagian pipiku.
"Aku sangat menyayangimu, Sarah," ujar Feli lalu ia memberikan aku kecupan di dahi.
"Terimakasih, Fel."
"Untuk apa?" tanya Feli yang mengambil posisi duduk jongkok di hadapanku dan ia memegang kedua tanganku cukup erat.
"Untuk semuanya."
"Aku merasa kamu itu adalah saudara kandungku, Sarah. Lagipula, harusnya aku yang mengucapkan terimakasih kepadamu. Mungkin di luar sana, hanya sedikit sekali orang yang memiliki perjalanan hidup seperti kita. Dan karena semua ini, kita akan menjadi sahabat lahir batin, sahabat dunia akhirat."
"Sahabat lahir batin, sahabat dunia akhirat?" kata ku sekali lagi, mengulang perkataan Feli dan Feli menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aku kemarin malam, baru saja membaca kisah persahabatan Nabi Muhammad dan Abu bakar serta seekor ular yang sangat merindukan Nabi Muhammad."
"O ya?"
"Aku akan menceritakannya nanti sesampainya di rumah. Aku akan bercerita hingga kamu terlelap. Bagaimana?"
"Ide yang bagus."
"Makasih, Pak."
Pak Antok dan Feli meletakkan tubuhku di atas kursi roda dan pada saat yang bersamaan, aku tidak lagi melihat Salwa ada di sampingku. Aku sama sekali tidak tau kemana perginya anak itu? Yang aku tau, sepertinya ia tidak ingin mengganggu diriku saat ini.
"Ayo kita pulang!"
Kami pulang tanpa hambatan. Bukan hanya karena jalanan yang mulus tanpa kemacetan, tapi juga karena Datuk Belang terus menghalau apapun yang ada di hadapan mobil kami dengan sangat cepat.
Jujur saja, baru kali ini aku tersenyum ketika melihat seekor harimau besar mengaung di hadapanku. Walau ada getaran hebat saat Datuk berteriak, tapi itu seperti perasaan bangga dan takjub, bukan takut.
Kami tiba di rumah, semua menyambut kami dengan hangat. Istri dan anak-anak Pak Antok tersenyum sambil teriak memanggil namaku. "Kak Saraaahhh. Kakak sudah sehat ya? Nanti kita main ya Kak. Aku sekarang sudah hafal ayat seribu dinar," ucap mereka saling bergantian.
"Wah, hebat sekali," puji ku pada keduanya sambil memegang kepala mereka perlahan dan bergantian.
"Gimana keadaannya, Non?"
"Lebih baik, Bi."
"Syukurlah, Non. Tuan ada di dalam kamarnya sedang tidur."
"Iya, Ayah tidak tidur dari semalam. Entah apa yang beliau pikirkan," sambung Rian yang muncul dari dalam rumah.
"Aku akan menemui Ayah."
"Ayo aku antar!"
"Makasih, Feli."
Kami tiba di kamar Ayah dan aku meminta Feli untuk meninggalkan aku dan Ayah berdua saja saat ini. Dengan ringan hati, Feli bergegas keluar dari dalam kamar.
"Ayah," sapa ku sembari memegang dahi Ayah yang memang terasa sangat panas, tapi ayah tidak menjawab sapaan ku.
Rasanya aku sangat sakit seperti ini, mungkin hal ini juga dirasakan Ayah saat melihatku terbaring tidak berdaya. Dan sekarang aku menjadi sangat mengerti mengapa Ayah selalu khawatir padaku, padahal aku semakin dewasa, tapi Ayah semakin mencemaskan ku.
Aku menatap Ayah dengan kesedihan yang mendalam. Tiba-tiba dari dasar hatiku, aku ingin sekali Ayah sembuh dan bisa membuka matanya untuk melihat ku kembali ke rumah ini. Satu hal yang aku tahu, bahwa saat ini Ayah tertidur bukan karena lelah ataupun mengantuk, tapi karena rasa sakit dan mungkin saja obat yang ia minum.
Tangan kanan ku terus mengelus lembut dahi Ayah, saat itu hatiku berkata. Sembuh lah Ayah! Jangan sakit karena aku sangat sedih saat melihat Ayah seperti ini. Belum habis ucapanku, tiba-tiba aku melihat tangan kanan ku yang berada di atas dahi Ayah berwarna putih kebiruan, seperti terkena sorot lampu dan aku tidak tahu apa itu.
Walau begitu, aku terus mengelus dahi Ayah dan berharap Ayah segera sembuh. Sekitar 5 menit berlalu, aku merasa tanganku sudah tidak lagi panas ketika menyentuh dahi Ayah.
Awalnya aku ragu dan aku memutuskan untuk menyentuh dahi Ayah dengan tangan kiri ku dan ternyata aku benar bahkan suhu panas tersebut menghilang sempurna dari seluruh tubuh Ayah.
Aku tersenyum sambil melihat Ayah yang masih terpejam. Pada saat yang bersamaan, aku menatap ke arah samping karena melihat untaian jubah berwarna abu-abu. Ternyata di sana, sudah ada sosok yang pernah aku lihat sebelumnya yaitu seorang tabib warisan dari Nenek Nawang Wulan.
Saat melihat ia terus mengangkat kedua tangannya dan menyerap energi panas dari tubuh Ayah, air mataku mengalir. Tiba-tiba aku melihat wajah dan bayangan dengan Nawang Wulan dan itu membuat aku sangat sedih dan terluka.
Nenek Nawang Wulan bukan keluarga ku, tapi beliau telah meninggalkan ku banyak bekal untuk bertahan dari kekejaman dunia lain yang bisa saja dengan mudah menghancurkan jantungku dan menipu mataku.
"Terima kasih ... terima kasih ... terima kasih ...." ucapku dengan air mata yang terus menetes di atas kasur Ayah.
Bersambung ....
Mohon maaf sebelumnya para pembaca ku. Aku baru bisa up karena dalam keadaan sakit. 5 hari yang lalu, aku ditabrak dari belakang dan bagian tubuh kanan ku terluka berat karena jatuhnya ke kanan.
Sampai sekarang, aku masih belum bisa duduk dan bernafas dengan sempurna. Jadi maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan. Yang jelas aku berusaha memberikan yang terbaik, walaupun harus mengetik dalam waktu yang relatif sangat lama hanya untuk menyajikan satu Bab seperti ini.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.