
"Saraaah .... " Lalu melintas bayangan putih dengan cepat di belakang Sarah yang sebenarnya tidak takut, tapi masih sering terkejut.
"Aha ha ha aha ha ha ha .... " Disambut suara tawa khas anak-anak yang membuat bulu kuduk berdiri. Ternyata begini kampus ku, Sarah berkata-kata di dalam hatinya.
Tak lama, saat Sarah berdiri sambil memperhatikan sekitar. Dari atas, berjatuhan sesuatu yang lembut dan memiliki kaki kecil yang banyak. Karena gelap malam, Sarah tidak dapat melihat dengan baik dan saat ada sedikit cahaya dari pentilasi ruangan, Sarah melihat binatang putih kecil dalam jumlah cukup banyak di atas punggung kedua kakinya.
Rasanya dingin dan geli serta menjijikkan. Oleh karenanya, Sarah mengangkat kakinya bergantian dan menginjak beberapa belatung tersebut dengan cepat. Tapi siapa sangka, jumlah hewan yang menjijikkan dan tidak disukai wanita tersebut bukannya bertambah sedikit, melainkan bertambah banyak bahkan mampu mengubur tubuh Sarah.
Lima menit terbenam di dalam tumpukan belatung, Sarah sepertinya belum dapat keluar dan menyingkirkan sihir tersebut. "Sarah ... Sarah ... Sarah .... " terdengar suara Feli yang sangat kuat hingga memenuhi ruangan tersebut.
"Feli, sepertinya Sarah tidak disini. Kita harus segera mencarinya ke tempat lain." Terdengar suara Rian yang tampaknya sudah sangat lelah.
"Tapi aku merasa Sarah ada disekitar sini."
"Ayo kita ke tempat lain, Feli," ucap Rian pada Feli dan percakapan tersebut terdengar di telinga Sarah.
"Aaah .... " teriak Sarah setelah 3 menit kepergian Feli dan Rian. "Feli ... Rian .... " teriak Sarah, tapi ia hanya sendiri saat ini.
Tak lama, gundukan (tumpukan belatung) yang semula menimbun tubuh Sarah berubah menjadi sangat besar dan jumlahnya pun bertambah. "Maju kalian, tidak sedikit pun ada rasa gentar di dalam hatiku," ucap Sarah sambil menatap ke atas dan memfokuskan pikirannya.
Sarah berniat untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, tapi tanpa ia duga, sepasang tangan asing menyilang tepat di mulutnya, bahkan wajahnya (hanya bagian mata yang tidak tertutup), sehingga mengunci mulut Sarah.
Mata Sarah membesar saat punggungnya dapat merasakan tubuh asing yang menyekap mulutnya. Kali ini Sarah panik, tapi tiba-tiba ia teringat perkataan Paman, bahwa hati yang penuh keyakinan juga merupakan sumber kekuatan yang sebenarnya.
Sarah membaca ayat yang berguna untuk menghilangkan sihir, di dalam hatinya. Ia memejamkan kedua mata dan hanya berserah diri kepada Allah agar ia dilindungi. Allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika, wa fawwadltu amrii ilaika, wa aljaitu dhohrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja’a walaa manjaa minka illaa ilaika, aamantu bikitaabika alladzii anzalta, wanabiyyika alladzii arsalta. Lalu tangan yang terasa dingin tersebut terlepas dari wajah Sarah dan hal itu membuat Sarah tersenyum serta semakin yakin bahwa ia tidak sendiri.
Artinya, Ya Allah, aku pasrahkan jiwaku kepadaMU, memusatkan konsentrasi ku kepadaMU, ku pasrahkan semua urusan ku kepadaMU, kepada Engkau pula badanku ku serahkan, tiada tempat berlindung kecuali kepadaMU, aku mengimani kitab yang Engkau turunkan, dan Nabi yang Engkau utus." [HR. Bukhori-Muslim].
"Allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika, wa fawwadltu amrii ilaika, wa aljaitu dhohrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja’a walaa manjaa minka illaa ilaika, aamantu bikitaabika alladzii anzalta, wanabiyyika alladzii arsalta," ucap Sarah sambil menatap tumpukan belatung yang sangat banyak dan menenggelamkan tubuhnya (batas perut).
"Allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika, wa fawwadltu amrii ilaika, wa aljaitu dhohrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja’a walaa manjaa minka illaa ilaika, aamantu bikitaabika alladzii anzalta, wanabiyyika alladzii arsalta." Lalu semua belatung tersebut menghilang, musnah, bahkan ruangan ini tampak nyaman dan bersih seperti ruangan normal ketika kampus ini dalam keadaan kondusif.
"Mia," panggil Sarah yang segera berlari menghampiri Mia yang terkulai lemah di sudut ruangan. "Mia ... kamu nggak apa-apa?" tanya Sarah, namun Mia tidak menjawab.
Aku mulai berpikir bagaimana caranya agar Mia bisa keluar dari ruangan ini, sementara aku tidak kuat untuk menggendongnya. Aku melihat ke arah luar jendela sambil terus berharap Feli dan Rian kembali lagi ke sini, tapi saat aku melakukan hal tersebut, Mia membuka matanya dengan cepat.
Aku menatap Mia dengan tajam, ternyata benar. Mia membuka matanya, hanya saja ... aku merasa itu bukan pandangan Mia. "Astagfirullah hal azim .... " ucap ku sambil menutup mata Mia dengan tangan kanan ku.
Aku tidak ingin lalai kali ini, jangan sampai kejadian Azura terulang kembali. Ucapku tanpa suara. Oleh karenanya, aku langsung bertindak cepat dan mendekap tubuh Mia sembari membacakan ayat suci Al-Quran sebelum roh jahat menguasai dirinya dengan sempurna.
"A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim ... aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."
بِسْــــــــمِ اللَّــــــــهِ الرَّحْمَــــــــنِ الرَّحِيــــــــمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) Yang menguasai hari pembalasan (4) Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (5) Tunjukilah kami jalan yang lurus (6) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (7) (surat Al Faatihah : 1-7)"
"Bismillahirrahmanirrahim ... qul a'ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad."
"Bismillahirahmanirrohim ... tabbat yadā abī lahabiw wa tabb, ma agna anhu maluhu wa ma kasab, sayasla naran zata lahab, wamra atuhu hamalatal hatab, fijidiha hablum mim masad. Artinya, binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal."
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ , اَلَّا تَعْلُوا عَلَىَّ وَاْتُونِى مُسْلِمِيْنَ
"Bismillahirrahmanirrahiim, allaa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin. Artinya, dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu berlaku sombong kepadaku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." (QS An-Naml: 30-31).
Setelah membacakan ayat yang terakhir, aku dapat merasakan tubuh Mia yang tadinya kejang dan kaku menjadi lemas. Aku berharap roh jahat tersebut terbakar dan tidak ada lagi hal-hal lainnya yang masuk ke dalam tubuh Mia. "Alhamdulillah .... " ucap ku sambil meletakkan Mia kembali bersandar di dekat tembok.
Aku memutuskan untuk keluar ruangan dan berteriak agar mendapatkan bantuan dari siapapun. "Feliii ... Rian ... Kak Rio ... tolooong .... " teriak ku berulang-ulang kali.
Namun pada saat yang bersamaan, dari arah belakang, aku merasa ada seseorang atau sesuatu yang mendorong tubuh ku sangat kuat, hingga aku tersungkur. Sesuatu tersebut memegang dan menyeret kerah baju yang aku kenakan, hingga bagian depan tubuhku terseret, bahkan sesekali membentur anak tangga yang keras.
Gerakannya sangat cepat, hingga aku tidak bisa berbuat. Jangankan untuk mempertahankan tubuhku agar tetap aman, untuk berteriak pun aku tidak mampu. Berkali-kali wajahku terhentak di sudut pembatas ruangan, begitu juga dengan dada dan perutku.
Brak ... tubuhku dilempar bak HP rusak.
"Aaah ... ya Allah .... " ucap ku sambil menyentuh wajah dengan tangan kiri dan perut dengan tangan kanan.
Aku berusaha membuka mataku lebar-lebar untuk melihat dimana aku berada dan siapa yang melakukan tindakan keji seperti itu karena hanya musuh yang lemah dan dzolim lah yang bersedia menyerang lawannya dari belakang.
Pandanganku kabur, semua tidak tampak jelas oleh ku. Belum lagi rasa sakit di seluruh tubuh hingga jika aku sentuh, aku langsung meringis bahkan hampir menangis. Aku berusaha memfokuskan pandanganku dengan memejamkan dan membuka mata berkali-kali. Rasanya banyak sekali sarang laba-laba di dalam bola mataku.
"Ayah .... " panggil ku karena tiba-tiba merasa sangat rindu pada Ayah. "Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... "
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ... kamu memang masih sangat kecil dan lemah. Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir untuk menyelamatkan orang lain, sementara kamu sendiri tidak cukup ilmu?"
"Bukan aku, tapi Allah," sahut ku masih dengan tubuh yang tergeletak di lantai dan gemetaran.
Pandangan mataku masih berkunang-kunang. Tapi keinginan hati yang kuat, mampu membuat tubuhku yang terluka kembali berdiri tegak dan menatap tubuh besar berwarna hitam, botak, bagian bawah matanya berwarna hitam, berkalung kuning keemasan yang sangat panjang dan besar, bertelinga lebar, dan berekor. Jika diukur, lengannya sama dengan besarnya pahaku.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?"
"Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang ingkar janji."
"Bukannya itu semua bagian dari tipu daya bangsa kalian?"
"Pintar juga mulutmu, Bocah."
"Kalian memberikan perangkap mutlak setelah kalian memberikan kenyamanan."
"Ha ha ha ha ha ha ha ... kamu ingin tau kebenarannya?"
"Tentu saja."
"Kalian sudah berhasil menyelamatkan 6 orang, tapi tidak dengan yang satunya lagi," ucapnya sambil menatap ke arah kiri ujung tidak jauh dari tembok. Di sana aku melihat seorang mahasiswi lainnya, yang sepertinya sudah tidak bernyawa. "Dia makanan yang cukup, jiwanya tidak tentram, weton nya tepat, masih gadis suci, jadi tidak sulit menggiringnya."
"Kejam."
"Aku sudah lama tidak makan, menahan diri hanya untuk kesempatan. Kemudian saat manusia-manusia itu tengah bahagia dan lengah, aku mengambil keuntungan darinya. Dengan begini, aku menjadi sangat kuat dan siapa pun yang datang untuk menyembah ku, maka aku akan mengabulkannya. Tentu saja dengan syarat sesuai dengan permintaannya."
"Aku tidak mengerti dan tidak mau tau tentang janji yang kalian buat ataupun kalian ingkari. Yang aku tau, kamu dan aku adalah makhluk diciptakan Allah dan kita berada di dunia ini hanya untuk menyembahNya."
"Ha ha ha ha ha ha ha ... anak kecil bermulut besar. Aku ingin lihat seberapa kuat dan hebat kamu!?" Lalu makhluk tersebut mendorong tubuh mungil ku ke tembok sekali lagi, hanya dengan mengibaskan ekornya.
"Allahu Akbar ...." ucapku saat kembali terjatuh di lantai. "Apapun itu ya Allah ... tolong berikanlah bantuan Mu kepadaku, agar tidak ada lagi bencana atau pun kematian di hadapan ku yang lemah ini karena aku tidak mampu untuk menyaksikannya."
"Sudah ku duga, kamu memang lemah. Bahkan sangat lemah, makanya kamu tidak memiliki apapun. Kamu tidak memiliki penjaga, pendamping, atau ataupun yang sejenisnya. Tapi nyali mu cukup besar untuk menghadapi ku, ha ha ha ha ha ha."
"Jika Allah sudah menghendakinya, jangankan penjaga, malaikat pun akan turun dan memberikan aku kekuatan untuk memusnahkan makhluk seperti mu."
بِسْــــــــمِ اللَّــــــــهِ الرَّحْمَــــــــنِ الرَّحِيــــــــمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) Yang menguasai hari pembalasan (4) Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (5) Tunjukilah kami jalan yang lurus (6) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (7) (surat Al Faatihah : 1-7)"
"Beraninya kamu menantang ku," teriaknya sangat marah.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
"Aku akan segera membunuh mu!!" ancam nya sambil berlari sangat cepat ke arahku. Tubuhnya sangat besar hingga rasanya bumiku berguncang.
"Bismillahirrahmanirrahim ... qul a'ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad," ucap ku dengan penuh keyakinan walaupun kesulitan ada tanganku gemetaran.
"Bismillahirahmanirrohim ... tabbat yadā abī lahabiw wa tabb, ma agna anhu maluhu wa ma kasab, sayasla naran zata lahab, wamra atuhu hamalatal hatab, fijidiha hablum mim masad," sambung ku sambil meluruskan tangan kanan dan ketika makhluk tersebut sudah sangat dekat denganku, aku berlari dengan cepat ke arah meja belajar dan menaikinya.
Saat aku merasa mampu menggapai lehernya, aku segera meloncat setinggi-tingginya sembari bergerak seperti menebas. Namun ternyata ia cepat mengelak dan aku hanya mampu menanggalkan bagian telinga serta memutus lengan kirinya.
"Aaagggh .... " teriak makhluk bertubuh besar tersebut sambil berputar-putar menahan kesaktiannya, lalu ia mundur. Sementara aku, tubuhku kembali tergeletak di lantai dengan sikut dan pinggang bagian kanan yang terasa sangat sembilu, akibat membentur lantai sekali lagi.
"Ya Allah ... bagaimana ini? tubuh bagian kanan ku, sudah tidak lagi mampu untuk digerakkan. Nafas ku juga terasa sangat sesak," kata ku dengan suara setengah berbisik sambil menitikkan air mata. "Allahu Akbar ... Allah .... "
"Aaagggh .... " raungnya. "Aku pasti akan menghabisi kamu!!" teriaknya tanpa henti.
Setelah 10 menit berlalu, tiba-tiba makhluk tersebut membungkam mulutnya yang besar. Matanya melotot seakan hendak keluar, dia tampak sangat marah. Sambil menggenggam tangan kanannya, ia berlari ke arah ku dan aku tau apa yang ingin ia lakukan. Tentunya menghantam wajah atau tubuhku dengan tinjunya yang lebih besar dari pada kepalaku.
"Hanya kepadaMu hamba berserah, ya Rob ... hanya kepadaMu hamba bersujud," ujar ku sambil berusaha bangkit dengan bertumpu pada bagian kiri tubuhku dan juga leherku (menegakkan kepala dengan posisi dahi ditempelkan pada lantai dibantu tangan dan kaki kiri agar dapat berdiri).
Dalam posisi tidak normal dan setengah sempoyongan, aku melihat ayunan tangan kanannya yang sangat besar. Aku tau, jika tinju itu mengenai ku, mungkin aku akan terlempar keluar dari ruangan ini bersama temboknya yang berlubang.
"Syaaays .... " teriak seseorang yang seketika menghadang tinju makhluk besar tersebut dengan tongkat yang sangat aku kenali.
"Nenek .... "
"Maaf, aku terlambat, Sarah," ucap Nenek Nawang Wulan sembari mendaratkan ujung tongkatnya di atas lantai.
"Uweeek .... " Darah segar keluar (mucrat) dari dalam mulutku akibat terkena angin yang tercipta dari tinju makhluk tersebut.
"Mundurlah, Sarah ...!"
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.