ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TRAGEDI DI DEPAN MATA


Aku seperti bayangan hampa tanpa tuannya. Dari sisi sudut ruangan, aku berlari kesana kemari. Terkadang aku berlari ke arah Rido untuk mengetahui kondisinya dan terkadang aku berlari ke arah Bagas untuk melihat gerakan tubuhnya.


Saat melihat kedua tubuh anak muda pada posisi yang berjarak tersebut terangkat ke langit-langit kamar, aku hanya terpelongo dan terdiam. Tubuhku gemetaran, seakan tau apa yang sebentar lagi akan terjadi.


Braaaak ....


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha," disambut suara tawa yang sangat menggema di telingaku dari mulut iblis betina yang busuk dan berbau anyir tersebut. Dari suara tawanya, ia seperti manusia yang mati tanpa ridho dari Ilahi. Itu kuntilanak, ucapku di dalam hati berbicara dengan sangat yakin.


"Jangan, jangan sakiti kami!" ucap Rido yang sudah tergeletak untuk kesekian kalinya sembari menyemburkan darah yang kental dari dalam mulutnya. "Kami hanya ingin bermain, tidak punya niat apapun," ucapnya sambil menahan rasa sakit yang sepertinya sudah sangat menyiksa.


"Kalian terbiasa bermain-main dengan semua, terbiasa seenaknya. Mungkin ini adalah waktu pembalasanku. Setelah puluhan tahun, kalian datang sendiri ke dalam pelukan maut," ucap makhluk misterius dengan nada suara penuh kebencian dan menggema.


Apa maksud perkataan makhluk tersebut? tanyaku di dalam hati. Bahkan dia sepertinya mengenal anak-anak muda ini. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Apa maksud kamu? kami tidak mengerti dan kami tidak mengenali makhluk seperti kamu. Selain itu, kami tidak pernah mengganggumu," ujar Bagas tampak penasaran.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha," tawanya terdengar kembali. "Dengan kalian menginjakkan kaki disini saja, itu berarti sudah menggangguku. Manusia memang begitu, untung saja aku tidak lagi menjadi bagian dari mereka. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."


Setelah puas dengan tawanya, makhluk tersebut menyentuh dan mencengkram leher Bagas sangat kuat, dia bahkan mencekik dan mengangkat tubuh Bagas hingga ia terangkat cukup tinggi. 


Dari sisiku, terlihat sekali jika Bagas berusaha melepaskan cengkraman tangan wanita misterius tersebut. Sementara kaki Bagas yang sudah menggantung, meronta-ronta menahan kesakitan yang luar biasa. Mata Bagas pun mulai melotot dan mengeluarkan air.


Saat mata Bagas mulai akan terpejam, wanita itu melepaskan genggaman tangannya dari leher Bagas dan dia melempar tubuh laki-laki muda tersebut ke tembok seperti boneka kecil yang sudah tidak diinginkan lagi.


Dada Bagas terbentur tembok dengan keras dan menyebabkan ia muntah darah. Bagas tetap berusaha untuk berdiri dan berlari, tapi wanita itu menggerakkan kayu di ujung ruangan, lalu menghantamkannya ke tubuh belakang Bagas hingga punggungnya tampak remuk.


Melihat penderitaan dan darah yang terus mengalir dari Bagas, wanita iblis itu terlihat bahagia dan tertawa terbahak-bahak dan puas.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... " Suaranya melengking hingga terdengar sangat menyeramkan bagiku yang menyaksikan permainan kematian untuk Bagas. Sementara Rido sudah sangat sulit untuk bergerak karena kedua kakinya seperti diikat oleh tali gaib yang besar.


Dalam kondisi tertekan, Bagas masih berusaha berdiri dengan bantuan tembok di samping kiri tubuhnya. Ia sudah lemas hingga tak mampu berteriak untuk mendapatkan pertolongan. Namun ia terus berusaha membuka pintu ruangan untuk melarikan diri.


Tangan Bagas sudah memegang gagang pintu dan membukanya. Lalu ia keluar dari dalam ruangan, tapi sepertinya tidak semudah itu. Dengan rambutnya yang panjang, wanita misterius tersebut menarik kaki Bagas kembali ke dalam ruangan tersebut. Bagas pun hanya bisa berteriak. "Aaaak ... aaaak ... aaaak .... "


Tidak tinggal diam, Bagas terus berusaha melawannya. Saat kakinya ditarik masuk ke dalam ruangan, tangan Bagas menahan tubuhnya pada kayu penyanggah di pintu.


Saat tubuh Bagas sudah masuk ke dalam ruangan, tarikan rambut wanita itu lebih kuat dari pada pertahanan Bagas. Kemudian tangan Bagas yang masih memegang ujung kayu pintu, dihentak si wanita misterius dengan papan pintu ruangan hingga tangan Bagas terluka dan ia tidak mampu lagi memegang ujung pintu tersebut.


Wanita itu kembali mengangkat tubuh Bagas dan mencekiknya hingga ia merasa tidak berdaya, bahkan setengah mati. Tapi wanita tersebut kembali tertawa bahagia.


Tak lama, wanita misterius tersebut mendekatkan ujung-ujung kukunya ke bagian mata Bagas. Sepertinya dia ingin memasukkan ujung jari-jarinya ke dalam mata Bagas dan mengambil bola matanya. "Ini adalah tatapan mata yang sangat ku benci."


Lama kelamaan, jari jemari itu semakin dekat, dan dekat, lalu ia mencungkil mata kiri Bagas kemudian menjatuhkan tubuh bagas ke lantai.


Bagas merintih kesakitan sambil memegang mata kirinya, kemudian Bagas terus meronta-ronta kesakitan. "Aaaak ... aaaak ...


aaaaak ...." Tapi wanita itu terus tertawa.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... "


"Bagas ... Bagas ...." ucap Rido yang tergeletak tidak berdaya sambil menangis dan hanya mampu melihat permainan kematian yang iblis wanita itu ciptakan.


Tubuh Bagas bergetar hebat, kaki, tangan, mulut dan kepalanya tidak lagi bisa ia kontrol. "Siapa kamu? apa salahku padamu? aku tidak pernah menyakiti siapa pun. Kenapa kamu menyakiti aku?" tanya Bagas yang sudah gemetar hebat di atas lantai kotor yang gelap tersebut.


"Kalian darah kotor, pecundang bejat ... aku akan menghabisi kalian semua hingga ke akar-akarnya." Wanita itu berkata - kata yang tidak aku mengerti. Suaranya sangat tipis, lembut, namun tajam dan dingin.


"Sampai mati pun, aku tidak akan pernah lupa dengan suara ini," ucap Bagas sambil menatap iblis tersebut.


Aku melihat wanita itu memainkan bola mata Bagas, dia memutar - mutarnya seperti bola kecil, dia mengangkat bola mata Bagas dan dan menggoyang - goyangkannya di atas telapak tangan seperti tengah memainkan kelereng ukuran besar.


"Kamu memang iblis yang jahat," ucap Bagas belum puas dengan perkataannya sendiri. Lalu wanita misterius tersebut, berhenti memainkan bola mata Bagas dan kembali menatap Bagas penuh kebencian.


"Bunuh saja aku jika kamu mampu!"


Setelah mendengar ucapan menantang dari dalam mulut Bagas, wanita misterius itu mengerakkan tangan kirinya dan mengarahkannya pada Bagas. Saat itu juga, tubuh Bagas kembali terpental.


Namun kali ini Bagas sepertinya sudah tidak sanggup lagi bertahan, darah pun keluar dari telinga kiri dan kanan Bagas dalam jumlah yang sangat banyak. Bahkan seperti membentuk kolam kecil yang membenamkan sedikit bagian pipi Bagas yang menyentuh lantai.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘