
Suasana yang mencekam untuk Bagas sudah berakhir. Dia tampak sangat tenang dan tidak merintih kesakitan lagi seperti sebelumnya. Seperti melihat film pembunuhan kelas atas, saat ini seluruh tubuhku tidak dapat di gerakan dengan leluasa seperti biasanya, hanya ada getaran hebat yang terasa.
Dari sini, tampak Bagas sudah tidak lagi bergerak dan bernafas. Setelah mainannya rusak dan hancur, wanita misterius tersebut beralih pandang kepada Rido yang masih gemetaran dan tetap menatap ke arah Bagas yang sudah bergelimang darah.
"Tidaaak ... hah hah hah hah hah hah hah. Bagaaas ... hah hah hah hah hah hah hah hah hah .... " teriak Rido sambil mengatur nafasnya yang pendek dan ia tampak meneteskan air mata.
Belum selesai teriakannya, belum habis air matanya, tiba-tiba wanita misterius tersebut sudah berada sangat dekat dengan wajah Ridho wanita misterius tersebut tampaknya ingin mengakhiri riwayat Ridho yang mungkin memang menurutnya sama sekali sudah tidak mengasyikkan lagi karena Ridho terlihat sangat lemah tidak berdaya.
Tak lama, dengan ringan dan mudah, perempuan tersebut menggenggam dan menarik baju kaos yang Rido kenakan, lalu menempelkan tubuhnya di dinding. Semakin lama, tubuh Ridho semakin terangkat ke atas dan kakinya semakin menjauhi lantai ruangan.
Saat ini aku berpikir bahwa wanita misterius tersebut pasti akan mengakhiri kisah hidup Rido di dunia sekarang juga, tapi ternyata aku salah. Sentuhan kasarnya terhadap Rido berhenti seketika, sesaat setelah Rido mengatakan sesuatu.
"Mama, maafkan aku."
Tiba-tiba tangan wanita misterius itu seperti lunglai dan tidak mampu mencengkram, apalagi memtahan tubuh Rido yang sudah terangkat cukup tinggi. Tanpa angin, tanpa hujan, wanita misterius tersebut hilang entah kemana.
Sepertinya Rido tiba-tiba teringat kenangan antara dia dan Mamanya yang melarang dirinya pergi untuk bertamasya ke luar rumah beberapa hari yang lalu, tapi Rido malah bersikap cuek dan tidak peduli dengan ucapan Mamanya.
Saat ini dia tengah menyesal, hingga di ujung hidupnya, Rido mengatakan kalimat terakhir. Namun siapa sangka, ternyata kalimat itu jugalah yang menjadi mantra penyelamat untuk Rido. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi itulah yang aku lihat saat ini.
Saat Rido dalam posisi aman, namun tidak sanggup bergerak dengan cepat. Dari dalam ruangan ini, kami mendengar suara teriakan histeris dari macam-macam suara dan semua itu kembali memancing air mata Rido yang memang belum sanggup untuk berdiri.
Tak lama, suara-suara yang menjerit kesakitan tersebut lenyap seperti ditelan malam. Rido menatap ke Arab Bagas dan mencoba menggapai sahabatnya tersebut dengan menyeret tubuhnya.
Tampak sekali usaha Rido yang kuat untuk menggapai Bagas yang sebenarnya tidak berjarak terlalu jauh dari dirinya. Sesekali ia menatap ke depan (arah Bagas), lalu ia kembali menempelkan wajahnya di lantai dan menyeretnya dengan bantuan kedua tangan yang masih kuat.
Saat tubuh Rido cukup dekat dengan Bagas, tanpa sengaja ia memegang sesuatu yang lunak dan berlendir. Rido mengangkat kepalanya dan melihat apa yang ada di bawah telapak tangan kirinya. Saat ia membukanya, ia langsung menangis dan berteriak histeris karena ternyata benda tersebut adalah bola mata milik Bagas yang sudah terlepas dari cangkangnya.
Rido menangis dengan tangannya yang gemetar hebat. Dia tampak bingung harus apa? disatu sisi, dia sangat jijik dan takut saat menyentuh dan melihat bola mata tersebut, tapi disisi lain itu adalah bola mata milik sahabatnya, Bagas.
Rido kembali menagis terguguh-guguh sembari berteriak dan memanggil-manggil Mamanya berkali-kali. Mungkin memang seperti itu seorang anak, meskipun ia sudah dewasa, tapi disaat ia dalam kesakitan yang tinggi dan ketakutan yang luar biasa, ia akan berteriak dan memanggil Mama, Ibu atau Bundanya.
Tampaknya Rido lebih memilih memegang bola mata milik Bagas dan kembali menggapai sahabatnya tersebut. Saat Rido mampu menyentuh Bagas, ia kembali menangis sambil mengoyang-menggoyangkan tubuh dan memanggil nama Bagas. Tampak sekali Rido masih berharap jika Bagas masih hidup dan dapat keluar dari tempat ini hidup-hidup, tapi Bagas benar-benar sudah tiada.
"Aaaakkk ... aaaaaak ... aaaaakkk ...." Terdengar kembali suara teriakan berantai dari teman-teman wanita Rido yang tampaknya masih hidup.
Rido berusaha mengalahkan perasaannya yang tidak tenang dan berusaha untuk berdiri. Dia tidak ingin lagi korban seperti Bagas. Dengan bantuan dinding, Rido berusaha untuk berdiri dan melangkah perlahan namun pasti. Sementara aku, aku hanya dapat memperhatikan dan melihat arah Bagas.
Sebenarnya aku sudah berpikir tentang kenapa hanya Rido yang dapat aku lihat saat ini? apakah karena Feli hanya menyentuh Rido saja? bukan yang lainnya. Tapi sejak kapan Feli mampu seperti ini? aku bertanya sambil terus mengikuti arah langkah Rido.
Kami tiba di dekat pintu ke luar dari ruangan ini dan saat Rido membukanya, aku sudah tidak lagi dapat melihat Rido di hadapanku dan itu semua membuat aku menjadi bingung dan heran.
Sendirian, tapi aku terus melangkah mengikuti perasaanku yang sepertinya sudah dibimbing oleh Feli. Tiba-tiba aku sudah berada pada situasi lainnya yang masih berhubungan dengan Rido.
Saat ini tampaknya memasuki waktu magrib, mataku selalu tertuju pada sebuah kamar, tapi aku ragu untuk memasukinya. Dari arah tangga, aku melihat Rido berjalan cukup lambat dan tampaknya ia memutuskan untuk
menonton televisi. Saat itu, aku memilih untuk berdiri tidak jauh dari Rido (dihadapan Rido).
Tidak lama, Mama Rido tampak berdiri di belakang kursi sofa dimana Rido duduk bersantai diri, tapi entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak dan tidak nyaman.
Aku melihat Rido membalik badan dan berbicara ke pada Mamanya, tapi Mama tidak merespon dengan baik seperti biasanya.
Rido meminta Mamanya untuk duduk di sampingnya, untuk menonton bersama dan Mama pun sepertinya tidak keberatan.
Walaupun melangkah dengan lambat, namun Mama bergerak dan duduk di sebelah Rido
Aku yakin, ini adalah bau yang selama ini tidak pernah tercium ataupun keluar dari tubuh Mama. "Ma, apa Mama tidak memakai parfum kesayangan Mama?" tanya Rido yang duduknya cukup berjarak dengan Mama. "Atau Mama belom mandi? kenapa bau Mama tidak enak sekali?" Rido terus bertanya tanpa henti, namun tak satupun dari pertanyaan tersebut mendapat jawaban dari Mamanya.
"Aduh .... " keluh Rido saat fokus menatap Mama, hingga remot TV yang dia pegang terjatuh di lantai.
Remot TV tersebut terjatuh di lantai dekat dengan kaki Mama, aku melihat Rido merunduk dan mengambilnya. Saat tangannya menyentuh remot tersebut, ia melihat dari kaki Mamanya mengeluarkan lendir putih kekuningan yang berbau sangat busuk dan sangat menyengat.
Aku dan Rido sangat heran dan perasaanku berubah menjadi sangat tidak menentu. apalagi Rido saat itu, dia pasti bingung dan ketakutan setengah mati. Aku tau ada yang tidak beres saat ini.
Aku melihat, Rido kembali menegakkan tubuhnya dan menyandarkannya di kursi. Matanya melirik ke arah posisi Mama duduk. Seperti awal, pandangan Mama selalu
pada satu titik. Wajahnya pucat pasi, denyut jantungku mulai meningkat, tangan ku mulai gemetaran, apa mungkin ini bukan Mamanya Rido? aku yakin Rido juga memikirkan hal yang sama.
Dari arah belakang, seseorang membuka pintu dan keluar dari kamarnya, "Bagas, malam ini kalau kamu tidak ingin tidur sendiri, kamu boleh tidur bersama Mama ya, Nak."
Rido segera menoleh ke belakang dan memastikan apa yang ia dengar. Benar saja, itu memang Mama. Kemudian saat ia kembali menghadap ke kiri, wanita yang menyerupai Mamanya tersebut sudah hilang, lenyap dan tidak ada siapa-siapa lagi di sisi kiri Rido.
Mama mendekati Rido dan memegang bahunya karena merasa anaknya tersebut masih dalam trauma sehingga sulit untuk berkomunikasi. "Kenapa, Rido?"
"Tidak ada apa-apa, Ma." Rido memilih tidak menceritakan apapun kepada Mama, sepertinya dia tidak ingin Mamanya lebih khawatir lagi.
Tak lama, Mama duduk di sebelah Rido dan mengatakan sesuatu padanya, "Rido, kamu dan Papamu adalah harta Mama yang paling berharga, Mama tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada kalian berdua. Lebih baik, Mama yang menderita dari pada kamu dan Papamu."
Mendengar perkataan Mama hatiku sangat tersentuh, aku yakin sekali ini Mamanya Rido dan ia memeluknya. Mungkin Rido memang seorang laki - laki dewasa, tapi di saat seperti ini, mungkin dia merasa, bahwa Mamanya lah yang bisa melindunginya, sungguh pemikiran yang terbalik.
Hari mulai larut, pukul 21.00 WIB. Rido meminta izin kepada Mama untuk kembali ke kamar. Setelah Rido tiba di kamarnya, aku seperti melihat seseorang berada di ruang TV tersebut dan itu bukan Mamanya Rido.
Aku memutuskan untuk berdiri di sisi
Mama yang masih menonton acara kesayangannya. Tiba-tiba, Mama merasa dari arah belakang ada seseorang yang melintas dengan cepat, tapi Mama tampak mengabaikannya.
Sementara dari bawah kaki Mama, aku melihat ada tangan yang bergerak ingin memegang kaki beliau, tapi Mama tiba-tiba berdiri karena horden jendela yang berkibaran dengan kuat.
"Ya ampun, ternyata jendelanya belum di tutup dan di kunci?" gumam Mama sambil berdiri.
Setelah menutup jendela, Mama langsung mematikan televisi karena merasa kesepian. Kemudian Mama masuk ke kamarnya dan berbaring sekitar pukul 23.00 WIB. Aku terus mengikuti langkah Mama dengan alasan yang tidak aku ketahui.
Sekitar 10 menit berlalu, dari arah bawah ranjang. Mama mendengar suara ketukan, seperti seseorang sedang mengetuk pintu.
Mama tampak heran, siapa yang melakukan keusilan seperti itu di jam malam seperti ini? lalu Mama mengintipnya.
Saat kepala Mama melihat ke bawah kolong ranjang, Mama sangat terkejut sehingga tidak dapat bersuara. Sepasang tangan misterius menarik kepala Mamanya Rido dengan kuat sehingga tubuh Mama ikut terjatuh.
Kening Mama mengenai lantai terlebih dahulu sehingga mengeluarkan darah yang cukup banyak. Mama segera berdiri dan memegang kening dengan tangan kiri untuk menghentikan darahnya.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘