
Aku tahu bahwa ini adalah perang kecil karena hanya menyangkut dua jenis makhluk hitam yang ada di hadapanku. Sementara sebelumnya aku pernah melihat dan merasakan sendiri bagaimana perang yang sesungguhnya saat melawan bandit berwujud setengah kuda saat di kampus.
Sesuatu yang aneh terjadi padaku saat ini yaitu tubuhku seakan ingin bergerak dan menyerang musuh ku. Biasanya aku sangat takut saat melihat wajah mereka yang tampak aneh bagiku. Tapi sekarang aku jadi sangat bersemangat untuk mengubahnya menjadi arang dan abu.
Mungkin semua ini karena aku sudah mengetahui bagaimana cara kerja ayat-ayat suci Al-Qur'an di dalam membinasakan musuh yang merupakan penganut ilmu sesat. Selain itu, aku juga memiliki banyak hal yang masih berdiri di sekeliling ku dan aku merasa semuanya harus dipertahankan dan diselamatkan.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rian yang tidak bisa melihat bagaimana rupa musuhnya dan seberapa banyak jumlahnya.
"Jika kalian mempertanyakan hal itu kepadaku, maka aku dengan yakin menjawab bahwa biar aku saja yang mengurus mereka. Sedangkan kalian hanya perlu memperhatikan dan jika aku terdesak, maka aku akan segera meminta pertolongan," ucap Mbah Pecek dengan nada angkuh seperti biasanya.
"Raja memang gitu, kalau nggak angkuh ya pemarah," olok Wiro sambil menatap ke arah tanah dan pura-pura tidak melihat Mbah Pecek.
"Hemmm," desis Mbah Pecek tampak kesal.
"Rian, sebaiknya kita ke pendopo saja! Mereka minta kesempatan untuk unjuk gigi," ucap ku mulai merasa tenang.
Entah dari mana asalnya, tapi aku sangat yakin bahwa musuh kali ini bisa diatasi dengan baik oleh Mbah Pecek dan juga Wiro. Walaupun kondisi keduanya tidak sempurna dan masih tergolong lemah.
lagi pula jika aku ingin leak tersebut kehilangan ilmunya, tali masih memiliki nyawanya. Mungkin saja jalan ini merupakan jalan yang paling tepat. Ucap ku di dalam hati sambil berjalan ke arah pendopo yang sudah dibuatkan Pak Antok untuk ku.
"Kalau bisa, jangan dibunuh Mbah. Hilangkan saja ilmunya dan biarkan ia kesempatan untuk bertaubat," ucap ku sambil melihat Mbah Pecek dan berjalan ke arah pendopo bersama Rian.
"Heh, dasar anak kecil. Dia pikir itu hal yang mudah? Orang kalau ndak tau apa-apa yo ngono," gerutu Mbah Pecek, tapi aku tidak memperdulikannya.
"Aku rasa karena ia berpikir bahwa kamu adalah raja, jadi kamu bisa menuruti permintaannya tersebut. Bagi raja, tidaklah sulit untuk diwujudkannya, bukan?" ucap Wiro yang membakar perasaan Mbah Pecek.
"Hiiis ...." desis Mbah Pecek.
Mungkin jika aku bisa melihat wajahnya, aku dapat melihat bibir Mbah Pecek yang maju ke depan atau di tarik ke samping. Namun sayangnya, ia masih mempertunjukkan sosok kepala ularnya di hadapan ku.
Serangan di mulai, tiba-tiba leak merubah wujudnya menjadi bola api dan mulai menghantam tubuh Mbah Pecek, mulai dari badan hingga ekornya. Saat itu, mataku terbelalak karena aku melihat wujud leak yang hampir menyerupai banaspati.
"Dimana dia menyembunyikan taringnya?" tanya Wiro sambil terus memperhatikan peperangan satu lawan satu tersebut. Tampak sekali bahwa Wiro tidak pernah berhadapan dengan makhluk semacam ini.
"Wiro, ini bukan waktunya untuk bersikap lucu!" ucap ku sambil menahan senyum. Sementara Rian hanya menatap ku penuh kebingungan.
"Rian, coba lihat di sana!" kata ku sambil menunjuk ke arah bola api yang terbang dan saat ini terus menyerang bagian wajah atau kepala Mbah Pecek.
"Itu bola api. Dari mana asalnya?"
"Leak itu merubah dirinya menjadi seperti itu."
"Tapi dia hanya bergerak disitu-situ saja ya, Sarah?"
"Bukan begitu, tapi dia sedang menyerang Mbah Pecek supaya bisa masuk ke dalam rumah ini."
"Agh, beginilah kalu buta," ucap Rian sambil mengusap wajahnya berulang kali.
"Mau lihat?"
"Iya," sahut Rian dengan suara yang cepat.
"Kalau begitu kamu harus janji dulu untuk tetap tenang dan tidak melakukan apapun di luar rencana ku!"
"Baiklah, aku paham."
Saat mata batinnya sudah terbuka, aku melihat mata Rian terbelalak mengarah kepada bola api yang tadi tampak hanya seperti bulatan dengan kobaran api. Namun setelah dibuka mata batinnya, Rian juga bisa melihat seperti raut wajah sesuatu yang tampak sangat menyeramkan.
Tampaknya bukan hal itu saja yang membuat Rian terdiam dan terpaku, tapi juga sosok Mbah Pecek yang selama ini tidak pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Itu," ucap Rian sambil menunjuk ke arah Mbah Pecek. "Dia seperti parewangannya para petinggi kerajaan di dalam cerita rakyat yang melegenda."Ternyata cerita itu benar dan semuanya diangkat berdasarkan pengalaman dan ilmu, bukan hanya sekedar imajinasi semata," oceh Rian tanpa henti karena baru menyadari sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama ini dan ternyata ada.
"Iya, Rian. Itulah Mbah Pecek."
"Kenapa kita tidak membantunya? Bukankah lebih cepat lebih baik?"
"Tipe seperti Pecek, sangat suka berkelahi atau berperang. Jika tanpa semua itu maka ia akan lemah dan bosan," sahut Wiro dan saat Rian melihat ke arahnya, aku dapat merasakan detak jantung Rian berpacu.
"Kamu?"
"Dia teman, namanya Wiro."
"Ya ampun ... kenapa milikmu semuanya tampak sangat aneh, Sarah?"
"Aku tidak aneh. Aku hanya sedang gosong." Wiro berbicara dengan nada yang tinggi kepada Rian. Ternyata Wiro memang gendeng.
Dari awal, apapun yang muncul dari mulutnya adalah kelucuan. Selain itu aku juga menyadari tentang sesuatu, ternyata mereka sangat angkuh jika berbicara kepada orang lain, selain diriku. Kata ku di dalam hati sambil memperhatikan Wiro.
"Sial, dia dikeroyok," ucap Wiro sambil bergerak sangat cepat untuk membantu Mbah Pecek.
Tiba-tiba saat itu aku melihat kablek yang tadinya berukuran mini, berubah menjadi ukuran yang jauh lebih besar. Bahkan ia tampak seperti rajawali raksasa dalam jumlah yang cukup banyak dan menyerang Mbah Pecek secara bersamaan.
Tidak ingin berperang sendiri, Wiro langsung terbang ke arah Mbah Pecek dan merubah dirinya menjadi keris persis seperti saat ia berada di dalam genggaman tanganku, ketika perang di kampus terjadi.
Keris terbang, ular raksasa, bola api raksasa dan burung yang yang tampak tidak dalam ukuran normal. Semua itu membuat Rian semakin mengagumi kekuasaan Allah dan ia mengatakan sesuatu.
"Sarah, menurutmu adakah makhluk yang mampu menciptakan semua ini kecuali, Allah?
"Aku rasa tidak, Rian. Allah adalah satu-satunya Dzat yang bisa."
"Allahu Akbar," ucap Rian dengan bibirnya yang bergetar.
Pertarungan terjadi cukup lama rumah kira-kira sekitar lebih dari 1 jam dan di saat itu aku melihat sesekali leak dan keblek tersebut terlempar jauh hingga menabrak beberapa atap rumah masyarakat di sekitar tempat tinggal ku. Begitu juga dengan Mbah Pecek dan Wiro yang beberapa kali tampak terbakar api dan terjatuh, namun tetap melanjutkan pertarungannya.
"Sarah, kita harus membantu mereka!" ucap Rian yang mulai gusar.
"Kita belum mendapatkan tanda, Rian."
"Tapi sampai kapan? Lihat! Mata ular itu terluka," kata Rian sambil menunjuk ke arah Mbah Pecek.
"Tunggu sebentar lagi, Rian. Tenanglah!" Rian memegang jari-jari tangannya sangat erat. Sebenarnya dibandingkan Rian, aku jauh lebih khawatir dan hatiku sangat sakit ketika melihat Mbah Pecek dan Wiro terluka.
Namun aku tidak ingin menganggap remeh pusaka pemberian Nenek Nawang Wulan. Untuk itu, aku menahan sara di dalam hatiku dan memberi mereka kesempatan untuk bertarung menjagaku, layaknya seorang pengawal.
Bersambung
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.