
"Saraaah ... Sarah ... Sarah ... Sarah .... "
Suara misteri itu kembali membangunkan aku. Tersentak, lalu aku terduduk dengan nafas yang pendek, aku melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00 wib.
Aku teringat sesuatu. "Mbok, mbook. " Aku tidak mengerti entah kemana si mbok pergi, bahkan si mbok tidak mengganti pakaiannya.
"Aku tidak tau, aku tidak mengerti tentang semua ini, apa yang terjadi di dalam rumah ini? Apa yang terjadi pada sikap ayah? Dari mana saja Ibu? Dan yang paling penting lagi adalah siapa Tania? Kemudian siapa yang aku lihat semalam? Siapa sosok yang sangat menyeramkan itu? " Aku berbicara sendiri di dalam hati dengan emosi.
Emh, itu suara mobil Ayah. Dengan cepat aku berdiri dan melihat Ayah dari jendela kamar ku. Ayah terlihat sangat lelah, Pak Antok pun begitu. Jadi, tidak mungkin bagiku untuk bertanya lagi tentang sobekan koran ini.
Aku membersihkan diriku, lalu keluar mencari si mbok terlebih dahulu. Dapur, itu tempat yang paling sering di datangi si mbok. tapi si mbok tidak ada. " Aduh ...." keluhku karena seluruh tubuhku terasa sakit, ini membuat aku begitu malas untuk bergerak.
Aku memilih tetap di dapur, duduk di sebelah dispenser kotak. Aku hanya menunduk, cahaya redup dari jendela dapur membuat aku merasa ini seperti malam hari. Aku menyandarkan diri dan kepalaku di tembok, entah apa yang aku lamunkan.
Tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak ....
Suara itu memecah lamunanku, aku mencari asal suara itu dan memfokuskan penglihatan ku. Ternyata ibu sedang memotong sesuatu, mungkin untuk makan siang kami.
"Bu, sedang masak apa?" tanyaku dalam posisi duduk.
"Hem .... "
"Mau aku bantu Bu?" Ibu menjawabku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa oleh aku tetap duduk disini Bu?" Ibu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau cuma memotong-motong sayuran aku bisa kok bu." ucapku dengan nada agak memaksa karena aku ingin sekali membantu Ibu.
Mendengar perkataan ku, tiba tiba Ibu mengehentikan gerakan memotongnya. Hatiku segera berkata bahwa Ibu tidak suka dengan perkataan ku barusan.
Aku yang merasa salah dan takut ibu marah, langsung berdiri dan berjalan menuju ke dekat ibu. Aku hanya ingin memastikan kalau Ibu tidak marah padaku.
Dengan langkah pelan dan suara yang lembut aku menyapa ulang ibuku. "Bu.... " ucapku tapi Ibu seperti nya tidak perduli dan tetap fokus untuk memotong.
Aku bergerak dan sekarang berada tepat di belakang Ibu. Sikap Ibu itu memancing keinginan ku untuk melihat ekspresi wajahnya.
Aku memajukan tubuhku hingga sejajar dengan Ibu, aku melihat tangan Ibu yang terus fokus dengan apa yang Iya kerjakan. Hal itu juga membuatku terpancing untuk melihatnya.
Tapi saat aku melihat ke arah Ibu dan tangannya, aku langsung berteriak sekencang-kencangnya.
Spontan, aku mundur menjauhi ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku melihat Ibu sedang memotong-motong tangan yang masih menempel jari mungil di ujungnya. Itu tangan manusia, itu tangan anak-anak. "Tidak, tidaaaaaaaaaak .... " ucapku berteriak tanpa henti.
Klenting ....
Suara sesuatu yang keras terjatuh dan itu membangunkan ku. Aku terduduk dalam keadaan tegang di kursi di samping dispenser.
"Hah hah hah hah hah hah hah hah hah hah hah hah hah .... " ucapku sambil mengatur nafas yang sesak.
Ternyata tadi aku tertidur dan bermimpi, ya Tuhan mimpi yang sangat menyeramkan.
Aku menangis dan merasa lemas, aku menundukkan kepala ku sambil menghapus air mata ku.
Aku menutup wajah dengan tanganku, tapi mimpi itu masih berputar-putar di mata dan kepalaku, membuat aku tidak bisa menyeka air mataku dengan cepat.
Tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak ....
Suara itu muncul kembali. Dengan rasa takut dan tangan yang bergetar aku menurunkan tanganku perlahan. Aku kembali melihat Ibu tengah memotong motong sesuatu. Cara dan gayanya sama persis dengan mimpiku.
Aku sangat takut sekali, aku tidak lagi berniat ingin melihat apa yang tengah Ibu lakukan. Aku memutuskan untuk pergi dari dapur ini secepat mungkin.
Aku berdiri lalu tiba-tiba Ibu menghentikan pekerjaannya, seolah Ibu tau kalau aku ingin meninggalkan dapur. Jantungku berdegup kencang, perasaan ku semakin tidak karuan. Air mataku kembali menetes perlahan.
Walaupun mungkin Iya akan marah tapi aku memutuskan untuk tetap berlari keluar dan meninggalkan dapur beserta Ibu. Aku berlari sangat cepat dan air mata penuh di mataku.
Tiba-tiba, braaak
Aku terjatuh di lantai.
Tak lama, suara tenang menyapaku, "Kamu tidak apa-apa nak?" ucapku Ibu dengan penuh kasih sayang.
Untuk memastikannya, aku melihat ke arah sumber suara. "Bukannya tadi Ibu masih di dapur?" tanya ku masih terduduk di lantai.
"Tidak nak, Ibu dari tadi di kamar tanya Ayahmu kalau tidak percaya. Ini Ibu baru mau ke dapur untuk memasak. "
"Sebenarnya ada apa nak?" tanya Ibu.
"Tadi aku melihat Ibu di dapur sedang memotong-motong sesuatu bu." ucapku dengan tatapan tajam.
"Masak sih? Tapi Ibu dari tadi berada di kamar bersama Ayah mu." ujar Ibu dan aku terus memperhatikan ucapannya dan jujur saja, aku meragukan perkataan Ibu saat ini.
"Ayah yaaah .... " Melihat keraguanku, Ibu langsung memanggil Ayah.
"Ada apa Bu?" jawab Ayah dari dalam kamar menuju ke sisi ibu.
"Yah, ini lho anakmu."
"Kenapa nak? " sambil melihat ke arah ku.
"Itu yah, tadi aku melihat Ibu di dapur. " kataku sambil menunduk.
"Ya ampuuun Sarah, hanya lihat Ibu di dapur kok sampai pucat begitu?" kata Ayah dengan ekspresi heran.
"Tapi nyatanya Ibu ada di sini ayah. Lalu siapa yang ada di dapur tadi?" sahut ku.
"Barusan Ibu sudah jelaskan pada Sarah, kalau dari tadi Ibu bersama Ayah tapi nampaknya anak Ayah ini meragukan perkataan Ibu yah."
"Iya nak, dari tadi Ibu bersama Ayah. Ayahkan pulang sekitar pukul 08.00 wib, seluruh badan ayah terasa sakit jadi Ayah meminta Ibu untuk memijat ayah." ucap Ayah terus menjelaskan dan menegaskan kenyataan sesungguhnya menurut Ayah.
Aku terus memperhatikan Ayah, dari cara bicara ayah aku sangat yakin kalau dari tadi Ibu bersama Ayah. Tapi bagaimana dengan yang aku lihat tadi? Apakah mungkin aku bermimpi di dalam mimpi? Hal itu membuat aku terdiam.
"Ya sudah Ibu ke dapur dulu ya, kelihatannya si mbok nggak datang hari ini jadi Ibu mau memasak dulu, takut kesiangan nanti semua pada kelaparan." kata Ibu sambil meninggalkan aku menuju dapur.
"Ayah juga mau kembali ke kamar ya nak, Ayah ingin beristirahat. Nanti bangunkan Ayah saat makan siang ya Bu. Satu lagi, Pak Antok di suruh pulang saja! Ayah tidak ingin kemana mana lagi hari ini." ucap ayah dengan tegas.
"Ibu, bolehkan aku membantu ibu memasak?"
"Tentu saja nak, lagi pula selama kamu disini kamu lebih sering di kamar." Lalu aku dan Ibu pergi ke dapur bersama.
"Bu .... "
"Iya nak."
"Apa Ibu pernah mengalami hal aneh selama di rumah ini?"
"Hal aneh seperti apa?" tanya Ibu mengerutkan keningnya.
"Seperti suara teriakan atau jeritan?"
"Tidak." jawab Ibu dengan cepat.
"Bagaimana dengan suara-suara yang memanggil nama Ibu?"
"Tidak juga."
"Atau mimpi-mimpi buruk?"
"Tidak Saraaaah." ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat yakin.
"Atau melihat bayangan-bayangan misterius?" Aekali lagi Ibu menggelengkan kepalanya.
"Begini Sarah, Ibu dan Ayah sudah lama sekali tinggal di rumah ini, tepatnya sejak kami baru menikah. Kami di rumah ini bertiga, ada Ayah, Ibu, dan si Mbok."
"Si mbok itu sejak lama mengabdi pada keluarga Ayahmu, beliau yang merawat Ayahmu sejak kecil. Itu makanya saat Ayahmu sudah menikah si Mbok meminta kepada Ayah untuk tetap ikut dengan Ayahmu dan mengabdikan hidupnya pada keluarga ini."
"Si mbok pun pernah bilang ingin merawat keturunan Ayah dengan baik dan ingin mati di dalam pelukan keluarga ini." jelas Ibu dan saat mendengar perkataan Ibu aku pun tersenyum.
"Apa kamu sudah mulai bisa tenang Sarah?" tanya Ibu sambil melihat ke arahku dengan senyuman hangatnya.
"Iya bu, terimakasih ...." sahut ku langsung memeluk Ibu dari belakang. Kami mengakhiri pembicaraan hari ini dengan canda tawa.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘