ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
SATU JAM BERSAMA


"Sayaaaaaang .... " Suara ceria dan hangat mampir di telingaku. Ini adalah suara yang sangat asing bagiku tapi terasa begitu akrab di hatiku. "Saraahhh ... ayo bangun! Jangan malas, katanya mau menemani kakak ke sekolah hari ini, jangan gara-gara kamu kakak terlambat ya."


Suaranya kecil dan berbicara sangat cepat, apa Dia? Bagaimana mungkin? Tania? Apa benar? Aku terus bertanya dengan mata yang tertutup


"Ibuuuuuu ... Ibu ... Ibu, coba lihat! Sarah belum juga bangun, aku bisa terlambat Bu ... bagaimana ini? Ibu harus membantuku ...!"


Aku mengucek-ngucek mataku dan segera membukanya. Aku memperhatikan sekelilingku, ternyata aku sedang berbaring di ranjang ku.


Tiba-tiba seseorang yang sangat ceria melompat di ranjang ku dan mengacak-acak rambut ku. Aku mengenali wajahnya yang sangat cantik, Tania kecil ... ini Dia Tania yang sering aku lihat lewat bayangan, air mataku langsung menetes.


"Heeeei, kenapa menagis? Apa tanganku terlalu kuat? Maafkan Kakak ya Sarah." ucapnya sembari memeluk ku dengan erat.


Air mataku semakin deras mengalir. Tania ... Tania ... Tania .... " Teriakku sambil memeluk tubuhnya yang mungil.


"Saraaah, ada apa?" katanya sembari melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku. " Sudah sudah, jangan menangis! Aku akan menjaga kamu selalu, jangan menangis lagi. " ucap Tania menenangkan aku dan itu membuat aku semakin terharu.


Dari arah luar, masuk seseorang yang wajahnya sangat aku kenali. "Ibu? ...." ucapku lirih setengah tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Apakah aku sudah bersama mereka semua? Tanyaku di dalam hati.


"Aduh, ada apa ini? Kenapa semua pada menangis? Apa kamu mencubit adikmu Tania ?" tanya Ibu dengan senyumnya yang lebar dan pura-pura memarahi Tania.


"Tidak Bu, Sarah sudah begini sejak tadi." Tania sambil menundukkan kepalanya. Aku terus memandangi keduanya, Ibu dan juga Kakak ku. Rasanya, aku tidak percaya tapi aku benar-benar melihat dan menyentuh mereka, Aku benar-benar bersama mereka.


"Kenapa Sarah?" Ibu memeluk ku.


"Tidak Bu ... apa boleh aku minta pelukan yang lama dan banyak hari ini? " ucapku berbicara dengan cedal dan air mataku yang terus menetes.


"Ha ha ha ha ha ha ha, tentu saja sayang, tapi kenapa hari ini anak ibu jadi rewel dan bawel ya? Biasanya hanya diam saja. Tidak seperti Tania yang tidak bisa diam." Ibu sambil melihat Tania dan mencubit pipinya


"Maaf Nyonya, Non Tania, Non Sarah, sarapannya sudah siap. Si Mbok juga memasak makanan kesukaan Non Sarah dan Non Tania, semur ayam pedas manis. " ucap si Mbok dengan ekspresi yang sangat aku pahami.


"Horeeee." Teriak Tania keluar dari kemurungan nya.


"Si Mbok, si Mboooook." ucapku berteriak dengan air mata yang kembali menetes. "Si Mbook ... si Mboookkk." Aku terus berteriak memanggil-manggil si Mbok, lalu si Mbok datang mendekati aku dan memeluk ku.


"Ada apa Non? Kok ya begini?" tanya si Mbok dengan raut wajah heran.


"Sepertinya Sarah mimpi buruk tadi malam, sikapnya aneh sekali pagi ini. Sejak tadi Dia hanya menangis. " ujar Ibu.


"Pada kemana ini? Kok semuanya menghilang? Ayah jadi bingung." Terdengar suara Ayah sedang menggerutu. Tak lama Ayah masuk ke dalam kamarku dan melihat aku menangis sejadi-jadinya.


Dengan suara yang pelan, Ayah bertanya kenapa aku begitu? Ibu, kak Tania, dan si Mbok pun bingung menjelaskannya pada Ayah. " Dari bangun tidur tadi anakmu sudah begini yah." Jelas Ibu kepada Ayah.


Ayah bergerak mendekati kak Tania "Siapa pun yang berani mengganggu anak Ayah Sarah. " Tangan ayah menarik kedua pipi kak Tania tapi kak Tania terus tertawa. "Akan ayah hukum."


"Si Mbok juga dengarkan?" ucap Ayah sambil melihat si Mbok dengan mata yang melotot dan bibir yang memanjang.


"Iya Den, ngerti Den, ampun Den .... " ucap si mbok lalu mereka semua tersenyum kecil.


Siap dengan usahanya mengelabui aku, Ayah menarik tanganku. "Ayo Sarah, hari ini kamu ikut Ayah ke kantor saja ... nanti Ayah traktir makan es cream."


"Aku juga mau Ayah ...." ucap Tania sambil mengejar akun dan Ayah.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha. " Ibu pun tertawa lebar


Ayah, Ibu, kak Tania semua duduk di meja makan yang sama denganku, pemandangan dan perasaan yang sangat bahagia, hanya itu yang bisa aku rasakan. Air mataku terus menetes dan aku terus menghapusnya.


"Mbooookkk, si Mbokkk. " Ayah memanggil


"Iya Den .... "


"Ayo makan di sini bersama kami. "


"Tapi Den .... "


Ayah berdiri memegang kedua bahu si Mbok dan mengajak si Mbok makan bersama. "Sudah lama Mbok ngak manggil saya begitu, Aden, jadi ingat masa kecil dulu. " ucap Ayah.


"Si Mbok ini yang sudah merawat dan menjaga Ayah sejak kecil. Beliau mengurus Ayah dengan cinta dan kasih sayang yang melimpah, aku harap si Mbok juga melakukannya untuk kedua putri cantik ku ini." Lalu Ayah meminta Tania dan aku untuk selalu menghormati si Mbok! Jangan kasar pada si Mbok!


"Si Mbok juga berjanji akan selalu menjaga Non berdua sampai nyawa terlepas dari raga." ucap si Mbok sambil menyuap nasi ke dalam mulut dan meneteskan air mata.


"Mbak, terimakasih ya Mbok .... " ucap Ibu.


Kamipun sarapan dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Kali ini aku sangat merasa bahagia. Se-umur hidupku, baru kali ini aku merasa benar-benar bahagia. Ternyata beginilah kehidupan ku yang sebenarnya saat bersama keluargaku yang sebenarnya.


Bersambung...


Bagaimana kelanjutannya? Apakah yang sebenarnya terjadi pada Sarah?


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘