
Saat mendengarkan ucapan dari Pamannya Rian, tiba-tiba hatiku bergetar hebat. Bahkan rasanya jauh lebih kuat dari pada ketika aku berhadapan dengan iblis. Aku memegang dadaku dan tanpa aku sadari air mataku menetes tidak tertahankan.
Rasanya, sudah lama sekali aku tidak bersujud kepada-Nya. Apakah Tuhan semesta alam masih mau menerima sujudku? Aku bertanya di dalam hati, seakan kembali menemukan asal pemberontakan hati yang beberapa saat ini aku rasakan.
Mungkinkah cobaan yang aku terima beberapa waktu ini merupakan sentilan halus dari-Nya, agar aku kembali bersujud dan memohon perlindungan serta pertolongan? tiada apapun yang kuat melebihi kekuatan Allah, aku percaya itu.
"Maaf, Pak. Apakah yang aku hadapi beberapa waktu ini adalah teguran dari Allah terhadap diriku?" tanyaku dengan suara yang gemetaran.
"Memangnya apa yang terjadi dan apa kesalahanmu sehingga kamu berpikir demikian?"
"Selama ini aku tinggal bersama Paman dan Bibikku. Aku bahkan hampir tidak merasakan kasih sayang dari keluarga kandungku. Tiba-tiba aku pulang ke rumah ini dan aku dapat merasakan kasih sayang dari Ayah dan Ibu," ujarku lalu menangis.
"Tenangkan dirimu agar bisa bercerita dengan baik, Sarah!" ucap Pak Ahmad.
"Baru dua hari aku di rumah ini, aku mulai merasakan sesuatu yang janggal dan makhluk astral selalu hadir di dalam tidurku. Tadinya aku berpikir mereka adalah makhluk yang jahat dan ingin menyakitiku, tapi ternyata aku salah. Mereka memberikan aku peringatan agar aku waspada terhadap bahaya yang sebenarnya, yaitu Tante Rima."
Aku menjelaskan tentang Tante Rima dan semua yang terjadi, serta hal yang ia lakukan termasuk semua pembunuhan yang dia lakukan. Aku juga menceritakan apa yang sudah aku rasakan dan aku lihat setelah kejadian itu dan hingga saat ini, aku dapat melihat makhluk tak kasat mata.
"Sebenarnya aku ini siapa? aku ini apa? dan apakah orang sepertiku tidak akan dapat mencium surga karena aku pernah mendengar sebuah ceramah waktu aku masih SMP, saat itu Pak Ustad mengatakan, bahwa manusia itu sebenarnya tidak mampu melihat makhluk astral dan jika ia bisa melihat makhluk tersebut, maka di dalam tubuhnya ada atau bersemayam makhluk sejenis jin yang merasuki dirinya."
"Beberapa waktu yang lalu aku dan Ayah pernah mendatangi orang pintar di dalam hal ini dan menanyakan mengenai keadaanku. Saat itu dia berkata, bahwa hanya ada 2 kemungkinan. Jika mata batin ku tidak bisa ditutup dan aku tetap memaksakannya, maka aku akan buta seumur hidupku."
"Aku harus bagaimana? apakah aku adalah golongan orang-orang yang tidak akan pernah mencium aroma surga?" tanyaku sambil terus menangis terisak-isak, lalu Feli memelukku dengan sangat erat.
"Tenanglah Sarah, sabar! jika memang kamu tidak bisa mencium aroma surga seperti yang kamu katakan barusan, berarti kamu tidak sendiri karena ada aku yang akan selalu bersamamu," ucapnya sambil menangis dan memelukku dengan erat. Sedangkan Ayah terdiam sambil menahan air matanya.
"Saya tidak mampu menjawab pertanyaan seperti itu, Sarah!" ujarnya sambil mengelus rambutku dengan lembut. "Jangankan saya, malaikat pun tidak mampu untuk menjawabnya, karena sesungguhnya hanya Allah Subhanallah Ta'ala lah yang dapat menjawab dan menentukannya."
"Dulu, ada cerita dari dua orang pemuda yang diperkirakan akan masuk surga dan neraka oleh para malaikat," ucap Pak Ahmad dan aku langsung memperhatikan ulasan beliau.
"Seorang pemuda petani yang hidup hanya berdua dengan seekor bab*, kemana-mana ia selalu membawa hewan tersebut, bahkan ia menyuapi makannya, memandikan dan menidurkan nya. Saat itu para malaikat langsung berkata, huh ... pemuda itu pasti masuk neraka karena ia selalu menyentuh hewan haram itu."
"Tidak. Ia adalah seorang ahli surga," kata Allah.
Seketika malaikat terdiam, tapi rasa tidak percaya masih menghampiri pikiran mereka. Lalu pandangan semuanya berpindah kepada seorang pemuda yang shaleh dan selalu beribadah kepada Allah.
"Kalau sekali ini, aku yakin bahwa pemuda ini akan masuk surga. Aku yakin sekali," ucap malaikat yang lainnya sembari menatap sang pemuda tampan dengan jubah dan sorban putih.
"Tidak. Ia akan berdiri di lapisan terbawah, tepat di kerak neraka."
"Ya Allah ya Tuhan ku, apa salahnya pemuda tersebut?" tanya malaikat hingga menangis.
"Lihat 3 tahun ke depan wahai malaikatku!"
"Tampak pemuda tersebut kedatangan seorang tamu laki-laki dengan jubah dan sorban yang lebih putih bersih dari pada miliknya. Lalu sang tamu meminta izin untuk shalat. Di dalam shalatnya, tamu tersebut tampak menangis terisak-isak ditambah lagi saat ia mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a, air matanya kembali tumpah. Tingkah laku tamu tersebut diperhatikan oleh sang pemuda," ucap Pak Ahmad dan kami semua memperhatikan ceritanya dengan serius.
"Sesaat setelah shalat, sang pemuda mengatakan, Wahai tamu ku, bagaimana engkau bisa begitu khusuk menjalankan shalatmu? bahkan engkau menangis saat berdo'a? sementara aku, aku sama sekali tidak pernah meneteskan air mata. Sungguh khusuk shalatmu. Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan ke khusukan yang sama seperti mu, Tuan?"
"Tamu menjawab, cobalah membuat dosa agar saat shalat, anda benar-benar merasa bersalah dan benar-benar memohon ampun kepada Allah!"
"Tapi ... aku takut melakukannya."
"Lakukan saja dosa kecil! lalu setelah itu shalat taubat!"
"Apa itu, wahai tamu ku?"
"Baiklah wahai tamu ku." Lalu dengan langkah cepat dan pasti, si pemuda menuju rumah bebas alkohol dan memesan minuman. Tak cukup satu, ia menambah deretan gelas di atas mejanya hingga ia lupa diri dan berniat buruk kepada penjaga rumah bebas alkohol tersebut (Seorang wanita bersuami), lalu ia memperk*sanya.''
"Tak cukup sampai disitu, saat ia melakukan rudapaksa, sang suami wanita tersebut pulang dan terjadilah pertengkaran hebat hingga si pemuda shaleh menusuk suami wanita tersebut dengan pisau berkali-kali hingga tewas."
"Satu dosa kecil, 2 dosa besar," ujar Rian dengan suara yang lirih.
"Masih belum selesai. Pemuda tersebut di penjara dan akan dihukum gantung sore harinya karena melakukan pemerk*saan dan pembunuhan. Lalu sang tamu datang menghampirinya."
"Wahai tamu ku, apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin mati sebelum beribadah kepada Allah. Lalu sang tamu tersenyum simpul dan meninggalkan pemuda tersebut."
"Waktu peradilan segera dimulai. Sang pemuda sudah berdiri di tengah-tengah lapangan, siap untuk dihukum gantung. Saat kepalanya sudah masuk ke dalam lingkaran tali tambang, sang tamu berdiri di hadapannya dan mengatakan, aku akan membantumu keluar dari masalah ini, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu? katakan saja! aku tidak ingin mati seperti ini," ujar si pemuda dengan air matanya yang banyak.
"Kamu harus bersaksi bahwa aku," ujarnya sambil memegang dada dengan tangan kanannya. "Sang iblis adalah Tuhanmu."
"Ditengah kebimbangan, pemuda itu berfikir, tak apalah aku bersaksi seperti itu, nanti aku akan shalat taubat dan memohon ampun kepada Allah. Yang penting aku selamat dulu kali ini. Akhirnya si pemuda mengucapkan, ia bersaksi bahwa iblis adalah .... "
"Lalu apa yang terjadi, Pak?" tanyaku perasaan.
"Seketika tali tambang tersebut ditarik ke atas hingga mengangkat seluruh tubuhnya, lalu sang iblis tertawa terbahak-bahak (Tertawa puas). Kamu adalah budak ku, kamu sudah menyekutukan Tuhanmu, dosa terbesar dari segala doa yang tidak akan diampuni."
"Ya Allah .... " ucap kami serentak karena merasa sulit untuk diposisi tersebut.
"Begitulah cara iblis menggoda manusia."
"Lalu bagaimana dengan pemuda petani tersebut? apa yang membuat dia menjadi ahli surga?" tanya Feli.
"Karena ia mengurus bab* itu dengan baik, bahkan lebih baik dari pada ia mengurus dirinya sendiri. Bab* tersebut adalah ibu kandungnya yang dikutuk karena menghina seorang ulama besar saat sedang berceramah di waktu shalat jum'at ketika berada di dalam mesjid."
"Subhanallah ...." ujar Rian lalu terdiam.
"Pemuda itu terus mengurus ibunya seperti ibunya mengurus dirinya dahulu ketika masih kecil. Ia menyuapi nya, ia memandikan nya, ia menemani nya, ia menjaga nya, iya menidurkan nya, ia memberikan kehidupan yang layak bagi ibunya yang sudah tidak lagi seperti seorang ibu," ujar Pak Ahmad sangat emosional hingga ia menangis.
"Surga itu di bawah telapak kaki ibu, maka dari itu, diangkatlah derajatnya oleh Allah dan ia menjadi ahli surga. Tidak hanya itu, karena sang pemuda berdo'a siang dan malam meminta maaf atas dosa ibunya, maka Allah mengembalikan wujud sang ibu ketika beliau memasuki detik-detik nafas terakhir (Wafat). Maka wafat lah ibu dari pemuda petani tersebut sebagai seorang manusia."
Lalu kami semua menangis, seakan jiwa kami terguncang oleh sesuatu yang tidak kami ketahui. Selama ini, aku kurang meluangkan waktu untuk mendengar ceramah dan kisah-kisah berbau agama. Aku kurang belajar agama sehingga kau buta.
Setelah puas menangis, Pak Ahmad mengatakan padaku, "Jadi, Nak. Tidak ada satu makhluk pun di atas muka bumi ini yang tau siapa yang pantas masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka. Marilah bersama-sama kita memohon ampun kepada Allah dan memohon penjagaan dari hasutan iblis baik berupa manusia maupun makhluk lainnya!"
"Maukah Bapak membimbing kami untuk shalat taubat?" tanya Ayah yang juga tampak terpukul.
"MasyaAllah ... tentu saja. Setiap manusia pasti memiliki dosa. Tidak ada satu pun manusia yang tidak berdosa. Karena itu, Islam memberikan solusi dan jalan keluar bagi orang yang pernah melakukan dosa yaitu taubat dan minta ampun kepada Allah SWT. Sebaik-baik orang yang berdosa ialah orang yang bertaubat. Demikianlah Islam mengajarkannya."
Kami pun menghabiskan pertemuan kami dengan shalat taubat dan melanjutkan dengan dzikir serta membaca surat yasin dan tahlil.
Bersambung ....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘