ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KELUARGA KAK RIO


"Assalamu'alaikum .... " ucapku dan Kak Rio bersamaan saat membuka pintu kamar perawatan Rian.


"Waalaikum salam .... " jawab semua yang ada di dalam ruangan tersebut. Kenapa aku bilang semua? karena di dalam sana sangat banyak/ ramai makhluk yang sudah sangat aku kenali.


Ternyata mereka semua milik Pamannya Rian. Apakah mereka yang disebut dengan jin muslim atau jin islam? aku bertanya di dalam hati sambil memperhatikan mereka satu persatu.


Aku mengingat wajah salah satu jin yang hancur di hadapanku satu menghalau dan membakar iblis jahat saat hendak menghantam kami di dalam mobil. Lalu aku memandang salah satu jin yang sudah tampak tua dengan alias dan jenggotnya yang berwarna putih sambil memegang tongkat.


"Tangannya hilang," ujarku cukup kuat karena terkejut dengan keadaan beliau.


"Ada apa, Sarah?"


"Tidak ada apa-apa, Paman. Hanya saja .... "


"Yang mana?" bertanya padaku sepertinya ingin tau.


"Yang sangat tua, Paman."


"Dengan tongkat di tangannya?"


"Iya, Paman."


"Saya pernah melihatnya dulu sekali. Saat itu saya baru belajar di pondok pesantren. Tak lama, guru besar saya memanggil dan memperlihatkan mereka semua. Tapi itulah saat pertama dan terakhir saya melihat semuanya karena memang pada dasarnya mata batin saya tidak kuat."


"Iya, Paman. Dan salah satu dari mereka ada yang terbakar bersama iblis tersebut saat ingin melindungi kami."


"Eeeeemmh ... namanya Brahma. Sebenarnya itu adalah milik Kakeknya Rian."


"Maksud, Paman?" tanya Rian yang sepertinya tidak tau apa-apa.


"Kakek kamu adalah orang yang kuat ibadahnya dan jin islam biasanya sering mengikuti Kakekmu. Mereka bersama saat di pondok, bertemu lalu beribadah beraama."


"Oh begitu. Bukan menuntut kan, Paman?


"Tentu saja tidak."


"Maaf Paman, apa ada sesuatu?" ucapku karena melihat ekspresi tersembunyi dari Paman.


"Kalian semua sudah bersatu dan sangat dekat. Paman rasa, tidak ada salahnya jika paman bercerita sedikit tentang, Rian."


"Iya, silahkan Paman," ujar Kak Rio dan kami langsung duduk mengelilingi Paman.


"Kami adalah keturunan dari orang tua yang yang sangat memegang teguh ilmu agama. Dulu, Kakeknya Rian mewajibkan kami untuk hidup dan tinggal di pondok pesantren minimal 3 tahun Lamanya. Hal itu juga berlaku untuk Mamanya Rian."


"Tapi Mamanya Rian memutuskan untuk keluar dari pondok pesantren dan kuliah di Universitas umum. Pada saat itulah Kakak saya, Tantri bertemu dengan suaminya yaitu Ayahnya Rian saat ini, Reno."


"Awalnya tidak ada masalah antara hubungan mereka berdua karena Reno dianggap sebagai laki-laki santun dan mampu menjaga Tantri dengan baik, tapi setelah hubungan mereka cukup lama, sekitar 1 tahun. Ayahnya Rian baru mengatakan tentang jati dirinya yang sebenarnya yaitu dirinya seorang non-muslim dan pada saat itu Kakek sama sekali tidak menyetujui hubungan mereka," jelas Paman.


"Walau seperti itu, Kakak saya Tantri tetap saja mencintai dan menikah dengan Reno. Saat itulah Kakek mulai sakit-sakitan dan saat Kak Tantri menikah, Kakek pun meninggal dunia."


"Innalillahi WA innalillahi toziun."


"Lalu apa hubungannya jin Islam yang ada di dalam ruangan ini dengan Rian, Paman?" tanyaku sekali lagi karena sangat ingin tahu.


"Jadi sebelum Kakek Rian meninggal dunia beliau sempat mengatakan sesuatu dan itu berdasarkan kesaksian nenek, yaitu jika cucuku seorang laki-laki muslim yang taat, maka aku menitipkan kalian semua kepadanya."


"Itulah kira-kira kata-kata yang membuat apa yang kamu lihat saat ini berada bersama Rian dan saya karena mereka semua belum penuh pindah kepada Rian. Itu semua karena memang Rian masih muda, masih banyak kekurangan dan masih belum mampu untuk memikul beban yang berat."


"1 tahun setelah Kakek meninggal, Kak Tantri melahirkan dan anaknya itu seorang laki-laki yaitu Rian. Tapi di dalam adat keluarga Papanya Rian, anak harus ikut Ayah dan Mamanya Rian sangat keras mempertahankan bahwa Rian tetap ikut agama Islam. Oleh karena itu, saat Rian sudah dewasa, Rian dititipkan kepada saya untuk belajar ilmu agama."


"Begitu ternyata," kata Rian baru menyadari kebenaran dan alasan ia di titipkan kepada Paman.


"Awalnya Rian sangat sulit untuk berbaur dengan ilmu agama dan saya, karena selama Rian tinggal bersama keluarga Papanya, ia sama sekali tidak mengenal Islam. Sebenarnya Rian Ini adalah anak yang periang, lucu dan suka bercerita, tapi sejak terjadi guncangan ganjing antara Papa dan Mamanya, ia menjadi anak yang pendiam (tidak banyak bicara)."


"Saat Rian bertemu dan tinggal bersama saya, saya tahu bahwa dia pun sangat tertekan dengan aturan dan ajaran saya.Tapi dengan paksaan saya yang terus memberi masukan-masukan dan ilmu agama kepadanya, walaupun saat ia sedang tertidur. Lama-kelamaan Rian pun terpanggil untuk memahami dan bersedia mempelajari agama Islam."


"Sejak saat itu, sekitar 2 tahun yang lalu. Pelan-pelan apa yang kamu lihat di sisi-nya (jin islam), mulai bisa menyatu dan secara gaib menjaga Rian dari makhluk-makhluk yang tak kasat mata dan berniat ingin menyakiti atau menyesatkan hati dan pikiran Rian. Kira-kira seperti itu keadaannya."


"Aku ingat sekali saat itu aku hampir tertidur pulas, tapi Paman terus membisikkan kepadaku ayat-ayat suci Alquran beserta artinya dan fungsi dari ayat-ayat itu. Makanya lama kelamaan telingaku terbiasa untuk mendengar kalimat-kalimat Alquran yang Paman bisikan kepadaku, malah sekarang aku merasa ayat-ayat itu sebagai pengantar tidur."


"Maafkan jika selama ini sikap Paman kurang baik padamu. Di dunia ini hanya kamu yang Paman miliki, ya semenjak meninggalnya istri dan anak Paman. Maka dari itu, Paman berusaha untuk mengurus dan mengajarkan Rian dengan telaten sebagaimana Paman mengurus dan mengajari anak paman sendiri."


"Mungkin ini yang pertama kalinya Paman mengatakan hal seperti ini kepadamu Rian. Bagi paman kamulah kekuatan sehingga Paman bisa berdiri dan tersenyum sampai saat sekarang ini," ujar Paman sambil menatap Rian yang sedang terbaring menghadap ke arahnya.


"Terimakasih Paman dan aku juga meminta maaf karena selama ini sudah menyusahkan Paman bahkan mungkin menyakiti hati Paman. Tapi percayalah, bahwa aku tidak sengaja melakukannya. Selain itu, ilmu apa yang telah Paman tanamkan kepadaku sangat berguna dan saat ini aku sangat bisa merasakan manfaatnya."


Sungguh kasih sayang yang luar biasa dari seorang Paman kepada keponakannya. Ternyata semua orang memiliki kisah dan Rian mampu menerima kisah hidupnya dengan baik dan lapang dada. Ucapku tanpa suara.


"Ini makanlah apelnya!" ucap Paman sambil menyuapi Rian apel yang baru saja ia kupas.


"Rian sangat manja dan aku iri," ujar Feli dan itu membuat Paman bereaksi kemudian langsung menyuapi potongan apel berikutnya kepada Feli, kepada Kak Rio dan kepadaku.


"Jika kalian berdua sudah siap, tutuplah aurat kalian rapat-rapat!"


"Baik, kami akan belajar, Paman."


"Baiklah ... semoga Allah selalu menjaga kalian semua. Amin."


"Amin ya robbal alamin .... " ucap kami bersamaan.


Kami berbagi cerita dan tawa serta pengalaman dengan Paman. Aku juga menceritakan tentang semua apa yang aku lihat malam itu, kemudian Paman mengajarkan aku ayat-ayat pendek sebagai pegangan ku dan beliau juga mengatakan bahwa kami harus ikhlas dengan jalan hidup kami.


*****


Sesuai rencana, setelah ke rumah sakit menjenguk Rian, kami langsung pergi untuk bersenang-senang. Di dalam otakku saat ini kata bersenang-senang adalah jalan-jalan atau makan-makan berdua saja, tapi ternyata aku salah. Kak Rulio mengajakku ke rumahnya untuk berkumpul bersama Sinar, Papa dan juga Mamanya.


"Jangan kecewa!" ujar Kak Rio sambil memegang daguku perlahan. "Aku memang sengaja memilih rumah ini sebagai tempat kita bermesraan, karena aku ingin membiasakan kamu bersama keluargaku. Selain itu, aku juga ingin menghindari sentuhan-sentuhan yang berbahaya agar kita berdua tidak mengumpulkan dosa."


Aku tersenyum simpul saat mendengar ucapan dan penjelasan Kak Rio karena menurutku, apa yang ia lakukan adalah hal yang tidak terduga dan mungkin tidak dilakukan oleh pemuda lainnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? asal kamu tahu saja Sarah. Saat ini aku tengah menjaga dirimu dari diriku sendiri."


"Terima kasih, Kak," ucapku sambil tersenyum dan tidak berpikir apa apa lagi.


"Papa, Ma ...." teriak Kak Rio sambil masuk ke dalam rumahnya. "Coba lihat siapa yang datang!" sambung kak Rio sekali lagi.


"Sarah, apa kabar?" tanya Mama yang tampak sangat akrab dengan diriku. Padahal kami hanya beberapa kali saja bertemu semenjak kejadian pertemuan gaib ku dengan Kak Maharani.


"Papa, kemari dan coba lihat siapa yang datang!" panggil Mama kepada Papa seolah menyambut ku dengan baik dan terbuka di rumah ini.


Aku masuk ke dalam rumah Kak Rio disambut senyum ceria dari semuanya. Kemudian saat aku hendak duduk di ruang tamu, Mama menarik tanganku dan mengatakan bahwa aku adalah bagian dari rumah ini. Jadi aku tidak boleh duduk di ruang tamu karena ruang tamu adalah tempat khusus untuk tamu.


Aku segera melangkah ke ruang keluarga yang terbentang karpet berwarna merah dan dilengkapi dengan televisi layar datar ukuran cukup besar. Di sana, aku juga melihat sosok mungil Sinar yang tampak sangat lincah bergerak dan mulai berlatih untuk berdiri serta berjalan.


"Sinar ...." panggilku sambil menepuk-nepuk kedua tanganku agar matanya mengarah pandang kepadaku. "Halo, Sayang," sapaku kepada gadis kecil yang cantik tersebut.


"Halo Tante ...." jawab Kak Rio seolah-olah mewakili suara Sinar dan saat itu, Sinar tersenyum seolah mengerti tentang komunikasi ringan yang kami lakukan.


"Apa kabar?" tanyaku seolah-olah Sinar mampu menjawab pertanyaan dari ku.


"Sinar semakin pintar dan tumbuh sehat, Tante," jawab Mama dengan sangat ringan dan tersenyum lebar.


Aku berusaha mendekati dan mengangkat tubuh Sinar yang terlihat sangat berisi dan padat dengan kulitnya yang putih bersih.


Saat aku melihat reaksi Sinar yang tidak buruk terhadap diriku, aku langsung menggendongnya dan membawanya berjalan memutar-mutar ruang keluarga tersebut.


"Mama ke belakang sebentar ya," ujar Mama sambil meninggalkan kami di ruang keluarga tersebut.


"Sarah, terima kasih ya. Berkat bantuan kamu, kami semua bisa bertemu dan berkumpul dengan Sinar. Papa tidak tahu apa yang akan terjadi pada Mama jika Sinar tidak berada di sini bersama kami."


"Sama-sama, Om," sahut ku.


"Panggil saja Papa supaya lebih akrab. Lagipula menurut perbincangan Rio kepada Papa dan Mama, katanya kalian berdua memiliki hubungan khusus dan Rio meminta izin kepada kami untuk membawa kamu ke rumah ini."


Aku menatap Kak Rioyo saat Papa sedang berbicara kepadaku. Jujur saja, saat ini perasaan ku sangat bahagia karena ternyata posisi dan kehadiranku di rumah ini sudah diterima dengan baik dan hal ini membuktikan bahwa Kak Rio tidak main-main terhadap hubungan ku dan dirinya.


Aku berharap Tuhan benar-benar menyatukan kami dalam kondisi dan keadaan seperti apapun karena aku memang sangat mencintai kak Rio. Mungkin dia akan akan menjadi sumber kebahagiaan bagi diriku selanjutnya.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘