
Aku berusaha menenangkan hati dan menghapus air mata yang sudah terlanjur menetes dan membasahi setengah wajahku. Jika ada orang yang memperhatikan aku saat ini pasti dia mengatakan bahwa aku sudah tidak waras atau sedang sakit dan depresi.
Bagaimana tidak, karena tiba-tiba dari ekspresi tenang, aku menjadi sangat emosional. Padahal, sebenarnya aku sedang melihat apa yang tidak orang lain lihat dan aku tengah merasakan apa yang tidak dapat orang lain rasakan.
Saat ini Aku sama sekali tidak mampu menggigit makanan dan menghisap minumanku. Tiba-tiba aku terbayang dan teringat perkataan Feli, "Penasaran ya? Tapi itu bagus juga. Sebaiknya kamu mencari tahu kebenarannya, agar kamu mengerti bahwa mereka tidak hanya jahat, menakutkan, menyeramkan, bahkan mematikan, tapi banyak diantara mereka yang baik dan dapat menyejukkan hati.
Ketika itu, aku menatap Feli dan berusaha mencerna ucapannya dan aku melihat senyum dari Feli yang tampak tenang. Saat itu aku sama sekali tidak paham maksud dari perkataan Feli. Setelah kejadian ini terjadi, aku baru mengerti dan ternyata ucapan Feli benar. Feli memang lebih pengalaman bersama gaib dibandingkan dengan ku.
Aku menarik helaian tisu yang berada di atas meja dan menurutku, aku akan menghabiskan seperempatnya, hanya untuk menghapus air mataku seorang. Aku merasa ini waktunya untuk masuk ke dalam kelas dan untuk itu, aku berusaha menenangkan diri dengan cara menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan selama 3 kali berturut-turut.
Merasa siap, aku segera membayar makanan dan minuman yang sudah kupesan lalu meninggalkan pondok milik Mirna dengan senyuman. "Terima kasih Pak untuk makanan dan minumannya, lain kali aku pasti akan kembali lagi ke sini dengan sahabat ku." ucapku dengan senyum dan mata yang basah.
"Terima kasih kembali Non dan ini uang sisanya. " ucap Ayah Mirna sambil memberikan kembalian uang belanja ku.
"Tidak usah Pak ...! kembaliannya Bapak simpan saja. Anggap saja itu bonus, aku senang makan dan minum di sini dan aku harap, sahabat ku juga akan merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan, jika aku membawanya kemari. Sarah permisi dulu ya Pak. " ucapku dengan santun.
"Terimakasih Non ... terimakasih .... " sahut Ayah Mirna sambil memegang uang kembalian dari belanjaanku, kemudian ia meletakkannya di dahi dan di bibirnya (mencium uangnya), lalu Ia memasukkan ke dalam kotak sederhana tempat penyimpanan uang yang mereka miliki.
Ada ketenangan hati dan kelapangan jiwa setelah aku melakukan perjalanan sederhana di pondok Mirna. Hal ini memancing emosi ku tapi setelah itu aku merasakan kenyamanan bahkan kelapangan hati.
Ya Tuhan .... alangkah besar karuniaMu dan semua ini masih belum bisa menggambarkan seluruh kekuasaanMu, atas langit, bumi beserta isinya. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk menerima cobaan yang tengah aku hadapi saat ini.
Aku berjalan santai dengan mata yang cerah dan bibir yang sedikit tersenyum. Tapi ketika aku melewati tangga yang mengarah ke kelas Kak Rio, tiba-tiba aku terjatuh. Ada kaki seseorang yang menekel kakiku dan mengakibatkan aku tersungkur lalu bibirku menghentak lantai hingga sedikit pecah dan terluka.
Situasi:
Feli memperhatikan aku dari luar kelas sambil mengepal kedua tangannya dan tampak sangat marah melihat perlakuan Kak Linda beserta teman-temannya terhadap ku.
Ketika Kak Linda memintaku untuk ke ujung bagunan, mata Feli terus mengarah kepadaku tanpa aku sadari. Sesuatu berkecamuk di dalam hati Feli, seakan ingin menghisap darah saat ini, Feli tampak sangat haus dan lapar.
*****
Sadar dengan kenyataan tersebut, aku segera berdiri dan membersihkan telapak tangan serta celanaku. Kemudian aku mendengar suara tawa dari balik tubuhku dan aku menyadari bahwa mereka (Kak Linda beserta teman-temannya) tengah mengerjai aku sekali lagi.
"Ngak bisa Kak. Aku harus ke kelas, maaf. "
Aku tidak tau apa yang ingin mereka lakukan kepadaku lagi, yang jelas jika mereka macam-macam saat ini, aku tidak akan segan untuk melawannya. Aku tidak ingin lagi dianggap sebagai wanita lemah dan mudah diperdaya walaupun harus melawan 1:5.
"Ikut!! " ujar Kak Linda dengan matanya yang melotot dan suaranya yang membentak.
"Jangan membentak ku...! " ucapku dengan suara yang agak keras. Lalu aku melangkah dan berjalan lebih dulu ke arah yang mereka inginkan (sudut ruang laboratorium). Kemudian mereka mengikuti dan menggiring langkah ku dengan posisi setengah lingkaran.
"Dengar ya ... jangan pikir gue takut sama lo. Biarpun lo itu anak dukun atau punya piaraan iblis sekalipun, gue kagak takut. " ucap Kak Linda membalik tubuhku ketika tiba di ujung bagunan tersebut sambil tertawa mengejek dan menunjuk-nunjuk dada kiriku dengan jari telunjuknya beberapa kali.
"Jangan asal fitnah Kak! Aku tau Kakak cemburu dan tidak suka padaku tapi bukan berarti Kakak boleh mengatakan hal yang tidak benar tentang diriku. "
"Suka-suka gue dong. Mulut-mulut gue, emang lho bisa nahan mulut gue? Ini 100℅ milik gue. " ucap Kak Linda sambil menunjuk ke arah bibirnya.
"Bener tuh, lagian yang dibilang sama Linda benar kok. Kita kagak takut samo lho, walaupun lo anak dukun atau punya piaraan iblis. Dan ini mulut milik kita, so ... suka-suka kita mau diapain. " ucap antek-antek Kak Linda yang lainnya dengan mata yang besar seperti melotot dan bibir yang menipis seakan mengejek dan meremehkan aku.
"Kalau begitu sebaiknya kalian jaga mulut kalian baik-baik! Sebelum aku yang menjaganya!! " ucap Feli yang tiba-tiba berada di sampingku dan membelaku dengan ucapan dingin dan tatapan matanya yang tajam.
"Hari ini kita masih ada urusan senior dan junior ya. Jadi jangan nyolot. "
"Kalau gitu nanti malam bisa saya teruskan dengan urusan iblis dan tumbalnya. Bagaimana senior? " ucap Feli dengan suara yang dingin dan menakutkan.
"Lho jangan pernah berani-beraninya ngancam gue ya ...! Lho ngak tau siapa gue? " ucap Kak Linda sembari mendekatkan wajahnya pada Feli bahkan sangat dekat hingga mereka saling dapat merasakan nafas lawan mereka masing-masing. Melihat hal tersebut, aku malah terdiam dan tidak melerainya seakan mulutku terkunci dan tubuhku mematung.
Tiba-tiba Kak Linda bergerak mundur perlahan sesat setelah Feli menatapnya terus-menerus tanpa henti. Dan aku melihat Kak Linda memegang dahinya seperti sedang pusing atau sakit kepala. Tak lama kemudian darah mulai mengucur dari kedua lubang hidungnya.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘