
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rian sekali lagi dan dengan gamblang, Feli menceritakan tentang awal kejadiannya hingga saat ini.
"Apa kamu mengerti soal ini, Sarah?" tanya Rian yang mulai khawatir.
"Tadinya aku pikir makhluk itu sejenis leak, tapi Datuk Belang bilang bukan. Aku juga belum sempat bertanya panjang lebar karena kondisi beliau sangat tidak memungkinkan."
"Aku jadi penasaran," ucap Rian sambil memegang kepalanya.
"Kita bisa tanyakan pada Mbah Pecek, jadi tenang aja dulu."
"Kita akan sulit tau apa yang kita hadapi jika kita tidak mengenalinya," sahut Rian yang masih panik.
"Apa kamu tidak percaya padaku, Rian? Aku akan menjaga Feli lebih dari diriku sendiri," ucap ku seraya mengepal kedua tanganku dengan keras.
Rian menatap ku tajam dan setelah itu pandangannya luluh. Aku tau, Rian sangat takut kehilangan Feli, makanya ia berpikir harus segera menyelesaikan semuanya hingga ke akar-akarnya (tuntas).
"Feli, Rian, duduklah! Ada yang ingin aku katakan," ucap ku sambil berjalan lamban ke arah keduanya.
"Iya," sahut keduanya.
"Menurutku, sebaiknya kalian kembali tinggal di rumah Ayah saja karena di sana ramai. Tapi kalau memang masih ingin disini, tidak masalah yang penting Feli ada temannya. Coba diskusikan pada Mama, Rian!" ucap ku dengan ekspresi yang sungguh-sungguh.
"Sarah, kalian berdua sama aja ya. seharusnya kalian nggak perlu terlalu khawatir dengan keadaan dan keberadaanku karena selama ini aku selalu tinggal sendirian dan aku sudah biasa. Jadi jangan khawatir!" ucap Feli sambil memegang tanganku dan tangan Rian.
"Tapi kamu istriku sekarang, Feli."
"Dan situasi kita sangat jauh berbeda dengan yang dulu," sambung ku. "Kita tidak pernah tau, makhluk apa yang selalu mengintai kita karena aksi kita selama dua tahun terakhir ini. Bagi kita, apa yang kita lakukan sudah benar, tapi bagi mereka, kita ini musuh bebuyutan."
"Aku cuma tidak enak hati jika harus berbicara pada Mama dan Papa soal semua ini. Rasanya seperti kita tidak menghargai apa yang sudah diberikan orang tua kepada anaknya."
"Sayang, itu nanti urusanku," ucap Rian sambil menimpa tangan Feli dengan tangannya. "Bagiku, yang paling utama adalah keselamatan kamu, Feli."
"Dan keselamatan bayi yang ada di dalam rahimmu," ucap ku sambil tersenyum. Perkataanku sontak memancing arah wajah Feli dan Rian kepadaku.
"Bayi?" tanya Feli dan Rian bersamaan.
"Sarah?" tanya Feli.
"Untuk itu kita harus mengeceknya langsung ke dokter atau bidan." Rian melongo dan terdiam saat mendengar ucapan ku yang terdengar sok tau.
"Kamu tau darimana, Sarah? Sejak kapan jadi cenayang?"
"Dari Datuk Belang."
Rian mengatur nafasnya yang mulai tidak terkendali. Aku bisa melihat ia tampak sangat bahagia, tapi juga bingung dan kaget atas berita yang baru saja ia dengar. Tidak ingin langsung percaya, Rian pun mengajak aku dan Feli untuk ke dokter praktek guna memeriksa kandungan Feli.
Bersambung.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca