
Aku menyadari bahwa kehidupan selalu bergerak, dan setiap perubahan terjadi atas suatu alasan. Waktu kita melihat batasan sebagai kesempatan, dunia akan menjadi tempat bebas hambatan. Untuk itu, aku memberanikan diriku untuk mengambil langkah setapak untuk akhirnya berlari bebas.
Pukul 06.30 Wib. Kak Rio datang menjemput ku seperti yang telah Ia katakan kemarin sore, rasanya tidak percaya. Akhirnya selain Ayah, aku memiliki teman jalan lain dan kali ini merupakan makhluk nyata bukan makhluk astral.
"Kamu tampak cantik pagi ini Sarah. Sudah siap menatap kampus? " ujar kak Rio terkesan sangat bersemangat sembari memainkan pijaran matanya yang berwarna.
"Makasih Kak, Iya sudah tapi rasanya sangat gugup sekali. " sahut ku sambil berjalan ke arah mobil Kak Rio.
"Om Ardy mana? "
"Sudah pergi subuh-subuh sekali Kak. Aku lihat, pekerjaan Ayah sangat banyak yang menumpuk dan aku tahu persis itu semua gara-gara aku. Ayah terlalu sibuk mengurusku sehingga pekerjaannya terbengkalai. Kasihan Ayah .... " ucapku lirih.
"Aku rasa Ayah mu sama sekali tidak berpikiran seperti itu, malah dia mungkin sangat merasa senang karena selalu bisa berada di sisimu. Ya setidaknya, itulah yang bisa aku simpulkan selama beberapa waktu ini berdiskusi dengan om Ardi. Jujur, kamu beruntung memiliki Ayah seperti beliau Sarah."
"Iya kak, 1 banding 1000."
"Bener banget. Ya sudah, kita jalan yuk ...! Khawatir telat. "
"Iya kak. " sahut ku sambil menggenggam tali tas yang aku letakkan di atas pangkuanku.
Selama di perjalanan aku menatap setiap sudut ruas jalan kiri dan kanan. Aku menikmati cahaya matahari yang mulai menyinari bumi, walau tak langsung menghampiri kulit tubuhku karena terhalang oleh kaca mobil yang ditutup rapat oleh Kak Rio.
Alangkah nyamannya dunia ini jika kita bisa menikmatinya dengan baik tanpa gangguan yang menakutkan dan menyeramkan. Selama ini aku lebih memilih untuk menutup kedua mata daripada membukanya. Bukan tidak ingin mencoba normal seperti gadis pada umumnya. Hanya saja aku tidak ingin semakin menggila.
"Kita hampir tiba Sarah. Dengar! Aku sudah menitipkan kamu kepada temanku yang berjaga di setiap pos, dimana kamu akan melakukan titik pengenalan kampus. Jadi tenang saja, semua sudah ku atur sedemikian rupa. " Kak Rio sambil menarik stir mobilnya ke kiri dan mengatur letak atau posisi mobilnya di area parkiran.
"Iya Kak. "
"Satu lagi. Jam pulang nanti kamu bisa menungguku di dalam kelas saja, jika memang aku belum menjemputmu. Karena tugasku jauh lebih banyak dibandingkan teman-teman yang lainnya. Apa kamu bisa Sarah? "
"Iya Kak, bisa. "
Aku dan Kak Rio turun dari mobil secara bersamaan. Di sini sangat ramai dan banyak sekali orang-orang berkumpul. Ya Tuhan ... aku sama sekali tidak mengenali satupun dari mereka dan hal ini membuat aku merasa canggung dan tidak nyaman.
Setelah menatap sekitar, aku kembali tertunduk, tapi sekali lagi Kak Rio berhasil meyakinkan aku, jika aku mampu melewati semuanya dengan baik dan dia akan membantuku sekuat tenaganya.
Melihat aku tegang dan kaku, Kak Rio langsung menggenggam tangan kananku dan menariknya hingga jarak kami sangat dekat. Kak Rio seakan membimbingku dan itu membuat aku merasa tidak sendirian.
Aku menatap Kak Rio dari arah samping tapi pandangan Kak Rio tetap lurus ke depan, seakan tidak peduli dengan kiri dan kanan serta orang-orang yang memandangi kami. Kak Rio terus mendampingi aku hingga seseorang menghentikan langkah kami dengan senyumnya yang menawan.
"Rio, ini siapa?
"Oh iya, perkenalkan ...! Ini Sarah, dan Sarah, perkenalkan ini Linda. " ujar Kak Rio sambil memperkenalkan aku dan Linda secara bergantian.
"Aku jalan dulu ya, soalnya mau mengantarkan Sarah ke kelasnya. Maklum, dia baru di kampus ini, bahkan baru di daerah kita ini.
"Ok." ucap Linda dengan suaranya yang tidak bersemangat.
Saat kami meninggalkan Linda beberapa langkah, aku membalik wajah dan menatap Linda. Pada saat yang bersamaan, Linda memandangku dengan tatapan yang penuh kebencian. Aku pura-pura tidak mengetahui hal itu dan langsung menundukkan wajahku lalu menatap lurus ke depan.
"Mungkin setelah ini akan banyak yang iri padamu Sarah. Bukan karena aku tampan dan laki-laki nomor satu di kampus ini, melainkan Aku adalah laki-laki yang sering dipertaruhkan karena aku tidak pernah menggandeng seorang wanita selama aku kuliah di sini dan itu memancing rasa penasaran para wanita terhadap diriku. "
"Apa Kakak yakin hanya itu alasannya? Tapi kenapa ya, aku merasa sulit mempercayai hal tersebut. Sepertinya firasatku mengatakan bahwa Kakak adalah laki-laki favorit di kampus ini. "
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Jangan mengada-ngada Sarah! Itu sama sekali tidak lucu." ucap Kak Rio sambil tersipu malu dan merasa jika aku memperhatikannya dalam diamku.
"Kenapa kita masuk ke dalam kelas Kak? Bukannya di luar ya? " tanyaku heran karena saat ini masih waktunya pengenalan kampus.
"Aktivitas di lapangan sudah tiga hari terakhir kemarin dan hari ini hingga hari Jumat akan dilaksanakan pengenalan akademik di dalam ruangan (di dalam gedung). "
"Oh, gitu ya Kak .... "
"Iya. Mulai dari ruang rektor, ruang administrasi, ruang dosen, ruang laboratorium, perpustakaan, dan lain sebagainya, serta peraturan-peraturan kampus yang harus ditaati. Jadi aku harap kamu bisa fokus dan tenang di dalam, kecuali kalau kamu lapar kamu bisa ke kantin tanpa aku. "
"Ya sudah, kalau gitu kamu silakan masuk ke dalam kelas dan pilih bangku yang kosong! Jangan sampai berdebat hanya karena posisi duduk. "
"Siap Kak. " ucapku lalu Kak Rio meninggalkan aku di dalam kelas bersama beberapa teman lainnya dan aku tidak tau Kak Rio pergi kemana.
Seperti kata Kak Rio sebelum meninggalkan aku sendiri di dalam ruangan kelas. Aku langsung mencari posisi duduk yang tampak kosong karena aku yang terlambat datang sehingga wajar saja jika aku yang harus mengalah dan berbaur dengan teman-teman lainnya.
Aku berusaha menghilangkan rasa gundah dan gelisah ku. Dengan rasa percaya diri, aku berdiri dari bangku dan menyapa semua teman-teman yang berada di dalam kelas serta memperkenalkan diri dan mengatakan alasan mengapa aku baru hari ini dapat masuk dan bergabung bersama mereka semua.
Aku berusaha tersenyum dan ramah terhadap mereka. Walaupun ada beberapa diantaranya yang tampak menatapku dengan pandangan yang berbeda bahkan tajam sehingga aku ragu untuk mendekati mereka.
Tetapi tidak sedikit pula yang tampak membuka diri bahkan mengajak Aku bercerita tentang beberapa hal serta pengalaman mereka saat melaksanakan pengenalan kampus di lapangan selama tiga hari kemarin.
Dari posisi berdiri ini, aku melihat bangku di ujung depan kelas sebelah kiri. Di sana tampak seorang mahasiswi berambut panjang yang tengah sibuk dengan dirinya sendiri. Sepertinya ia sedang fokus menulis sesuatu hingga tidak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.
Sebenarnya, aku sangat ingin mendekati mahasiswi tersebut, tapi salah satu teman baruku yang bernama Lia menarik tanganku dan mengajakku berbicara tentang hobiku, dan ia juga bertanya apakah aku tipe orang yang suka berbicara atau tidak.
Aku berusaha menjawab setiap pertanyaan yang Lia berikan kepadaku dengan sopan dan senyum yang hangat. Sesekali aku mengintip ke arah salah satu teman (seorang mahasiswi berambut panjang yang tengah sibuk dengan dirinya sendiri) yang tengah menulis hebat hingga meja kecil pada bangkunya bergetar dan tampak dari sini.
Sangking herannya dengan cara menulis mahasiswi tersebut, Aku berusaha untuk terus memperhatikannya dengan fokus sembari menekuk kedua ujung alisku dan tidak menghiraukan setiap pertanyaan berikutnya yang diberikan oleh Lia.
Tak lama, seorang dosen muda masuk ke dalam kelas kami dan mengenalkan dirinya. Setelah itu beliau mengajak kami berkeliling ruangan disekitar kampus seperti yang telah dijelaskan oleh kak Rio terhadapku sebelumnya.
Seluruh mahasiswa/mahasiswi lainnya tampak antusias dan berdiri berjajar dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari dosen muda tersebut. Tetapi mahasiswa misterius yang tampak tidak suka banyak bicara tersebut, hanya berdiri di ujung barisan dan sesekali menatapku dengan matanya yang hanya satu arah.
Saat matanya bertemu dengan mataku, aku merasa ada gendang besar di dadaku yang ditepuk hingga membuat aku bergetar hebat. Tapi aku berusaha untuk menahannya dengan menggenggam kedua tanganku sangat erat.
Sepertinya ada yang tidak beres dengan apa yang aku lihat barusan. Di dalam hati aku bertanya, apakah dia bukan manusia seperti aku? Karena hingga sampai detik ini, aku tidak mampu membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan ketika wajahnya tampak normal dan tidak menyeramkan.
Rencana konsentrasi ku gagal total. Alhasil, aku selalu berusaha mencuri pandang dan menatap mahasiswi misterius tersebut dari belakang tanpa henti. Ini sangat tidak nyaman, dan aku berusaha keras untuk membuang jauh semua perasaanku saat ini.
Empat ruang sudah kami jelajahi dalam waktu hampir 90 menit. Tapi aku terus saja melihat ekspresi mahasiswa tersebut tanpa henti. Ia tampak misterius dan tidak seorang pun dari teman-teman yang berada di sisinya mengajak ia bercerita atau hanya sekedar bertegur sapa. Aneh bukan?
Tanda tanya besar di dalam hati dan pikiranku membuat aku bingung dan merasa tidak menentu. Tiba-tiba saja aku ingin ke kamar mandi sekedar untuk buang air kecil.
Setibanya di kamar mandi, aku sangat ingin cepat-cepat kembali kepada kelompok ku. Rasanya disini sepi dan dingin sekali. Perubahan cuaca dan suasana yang ekstrim. Ucapku di dalam hati sambil mengingat perkataan Pak Yusuf.
Seketika, jantungku bergejolak, dan rasa takut mulai menghantui. Sambil mengatur nafas, aku berusaha bergerak cepat mengambil gayung untuk membersihkan milikku yang paling berharga. Tapi pada saat yang bersamaan, saat aku meraba bak mandi, yang aku rasakan bukanlah gagang gayung, melainkan sebuah tangan lengkap dengan jari-jarinya.
Mataku terbelala dan jantungku semakin kuat berpacu. Apa ini? Tanyaku di dalam hati pura-pura tidak tau dan bodoh. Padahal aku sangat yakin dengan apa yang aku rasakan.
Dengan cepat aku menarik tangan kananku dan menaikkan celanaku, lalu berdiri dan membuka pintu kamar mandi dengan cepat. Tapi saat aku sudah keluar dari pintu kamar mandi dalam menuju pintu kamar mandi luar, aku dihadapkan kembali dengan pintu yang lainnya.
Aneh ... padahal aku sangat yakin sekali. Bahwa di kamar mandi ini hanya ada dua pintu. Yaitu pintu luar yang dihadapkan dengan beberapa kaca besar yang menempel di dinding dan yang kedua adalah pintu kamar mandi tepat dimana aku ingin membuang kotoranku. Lalu bagaimana ini bisa terjadi?
Tidak ingin lama-lama terperangkap di tempat ini, aku kembali membuka pintu yang berada tepat dihadapan ku tapi setelah aku berhasil, aku malah masuk kembali ke dalam kamar mandi pertama, dimana aku kencing.
Nafasku mulai terasa sesak karena aku sangat yakin bahwa ada yang tidak beres saat ini. Tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri. Dengan cepat aku kembali membuka pintu kamar mandi yang berada di hadapanku hingga aku tidak tau berapa kali aku melakukannya.
Tanganku dan bibirku semakin gemetaran, nafasku semakin berantakan. Lalu tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang bergerak mendekat padaku. Bahkan aku dapat merasakan helaian kain tipis yang sosok itu kenakan. Bau anyir yang semerbak, ucapku diriku yang lainnya.
Sudah tidak tahan lagi, aku memutuskan untuk menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut dari dalam tanpa melihat ke belakang.
"Tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong .... " teriakku sekuat tenaga sambil meneteskan air mata ketakutanku yang besar.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘