
Sinar matahari mulai menarik mataku ke atas dan ke bawah, seakan menyuruhku untuk bangun dan tidak bermalas-malasan lagi. Sebenarnya seluruh tubuhku terasa sangat berat. Sepertinya aku butuh suplemen jiwa raga.
Pink
"Sarah, pagi."
"Pagi, Kak. Tumben ngabarin pagi-pagi.
Pink
"Iya. Aku ingin menagih janjimu padaku."
"Janji. Janji yang mana, Kak?"
Pink
"Heeeemm ... kemarin katanya kalau urusan Bu Marisa sudah selesai, kita mau pacaran?"
"Ha ha ha ha ha ha ... iya, Kak. Aku ngak akan lupa kok.
Pink
"Ya sudah, kalau gitu nanti sekitar jam 11.00 WIB aku jemput ya? kita ke rumah sakit dulu, terus baru jalan-jalan."
"Iya, Kak. Setuju."
Aku tidak tau Kak Rio akan mengajakku kemana hari ini setelah pulang dari rumah sakit. Yang jelas ke mana pun itu, aku pasti akan merasa sangat bahagia. Karena aku juga merasakan kerinduan yang sama pada dirinya.
Jujur saja, sebenarnya tadi malam aku memimpikan Kak Rio yang bersikap manis kepadaku. Semoga semua ini bukan hanya mimpi kosong dan iya benar-benar akan membahagiakan aku hati ini.
"Sarah .... " panggil Ayah sembari mengetuk pintu kamarku.
"Iya Ayah ... sebentar."
"Ada apa, Yah?" tanyaku sambil membuka pintu kamarku dan melihat Ayah yang sudah terlihat sangat rapi dengan jas dan celana hitam setelan.
"Ngak apa-apa. Ayah cuma cemas karena sudah jam segini kamu belum bangun. Ngak biasanya seperti ini."
"Iya, Ayah. Bahkan aku sampai melewatkan shalat subuh. Capek sekali Ayah rasanya badanku sakit-sakit semuanya."
"Mungkin itu karena kamu bersinggungan dengan makhluk halus beberapa waktu ini, jadinya begitu. Apa kamu mau pergi urut ke tempat Mbok Yati untuk urut, Nak?" tanya Ayah sambil memegang bahu kanan ku.
"Sebenarnya pengen sih yah, tapi kayaknya nggak hari ini deh Yah. Soalnya aku ada janji sama teman-teman dan aku tidak ingin mengingkarinya. Bagaimana kalau besok?"
"Boleh juga, tapi sore ya, Sarah. Ayah usahakan pulang lebih cepat besok," kata Ayah sambil memegang kepalaku.
"Baiklah kalau begitu, Yah."
"Ya sudah, kalau begitu Ayah berangkat dulu ya. Walaupun hari minggu, Ayah tetap harus menyelesaikan pekerjaan Ayah agar Ayah tidak keluar kota."
"Makasih banyak, Yah."
"Ya sudah, kalau begitu Ayah berangkat dulu," ujar Ayah sambil meninggal aku, tapi saat Ayah sudah cukup jauh, Ayah membalik tubuhnya dan menghadap kepadaku lalu Ayah berkata, "Ayah bangga padamu, Sarah. Ayah Yakin sekali, Ibu dan Tania juga merasakan hal yang sama padamu," ucap Ayah, lalu beliau meninggalkan aku dengan senyuman.
"Ayah ... terimakasih dan hati-hati ya, Yah."
"Iya, kamu juga hati-hati dan jangan bertindak gegabah lagi!"
"Siap, Yah," ucapku sambil mengangkat tangan kanan ku di ujung kening sebelah kanan, seperti sedang hormat kepada bendera.
*****
Pukul 10.45 WIB, aku sudah siap dengan pakaian sopan dan duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Kak Rio. Tak lama, ia datang dengan baju kaos merah dan jaket hitam serta celana jeans. Dia terlihat lebih tampan dari pada biasanya.
"Sudah siap, Sayangku?"
"Siap, Kak," sahut ku sambil tersenyum dan tersipu malu.
Kak Rio menjepit tangan kanan ku dengan lengan kirinya. Rasanya kami seperti sepasang kekasih yang hendak pergi ke acara kondangan pernikahan. Sebenarnya aku malu dilihat orang, tapi aku menyukainya. Gimana tuh? jadi bingung sendiri akunya. Ucapku berbincang pada diriku sendiri.
Kami masuk ke dalam mobil dan saat aku aku ingin memasang sabuk pengaman, Kak Rio mengatakan kepadaku bahwa sebaiknya aku melepas ikat rambut ku karena dia ingin melihat rambut ku tergerai hari ini.
Menurut Kak Rio, rambutku ini sangat cantik dengan warnanya yang hitam, panjang, lurus, tebal dan berat. Setelah aku membuka ikat rambut, Kak Rio menyelipkan jepit rambut berwarna kuning keemasan berukuran kecil di bagian depan rambutku (bagian poni).
"Kakak beli jepit rambut dimana?"
"Ini punya Kak Rani, aku yakin dia tidak akan marah karena dia sangat menyayangi aku dan itu artinya dia juga akan sangat menyayangi kamu, Sarah."
"Iya, Kak. Makasih."
"Begini sangat cantik," ucapnya lalu ia menatapku dari jarak pandang yang sangat dekat.
Mataku bertemu dengan matanya, saat itu terjadi, rasanya jantung ku ingin melompat keluar dan berlari-lari kecil sambil menari. Ya Tuhan ... pandangan matanya lebih indah dari pada rembulan di malam hari. Ucapku tanpa suara sembari menelan air liur ku yang terasa berat.
Apa yang terjadi padaku ya? kenapa aku merasa seperti sedang menuruni perosotan yang sangat tinggi sambil digelitiki dengan banyak bulu ayam di seluruh tubuh ku?
Semakin lama, wajah Kak Rio semakin dekat dengan wajahku. Aku hampir gemetaran dan mataku terus mengikuti arah bibirnya yang merah. Aduuuuuh ... teriakku di dalam hati saat bibirnya mulai menyentuh bibirku.
Cup cup cup cup cup cup cup ....
Terdengar suara basah dari bibir kami yang beradu. Walau berdebar hebat, aku berusaha mengikuti gerakan dan sentuhan bibir Yang diberikan Kak Rio padaku. Rasanya nikmat sekali, walaupun tidak ada rasa (plain).
Nafasku mulai tersengal, d*daku mulai naik dan turun dengan sendirinya. Saat Kak Rio melihat reaksi ku yang sudah sangat gelisah, ia menghentikan permainan bibirnya yang sangat apik.
Saat dia melepaskan bibirku, aku langsung menarik nafas berkali-kali dalam jumlah yang banyak. "Wajah kamu memerah Sarah, apa kamu sedang sakit?"
"Jangan mengejekku! Itu tidak baik," sahutku sambil mengatur nafas dan terus memperhatikan matanya yang selalu fokus pada wajahku.
"Kalau sudah menikah nanti, aku akan rajin melakukannya dan bukan hanya di bibirmu itu, tapi juga .... " ucapnya lalu tersenyum simpul.
"Apa?"
"Ada deh."
"Jangan membuatku penasaran!" berkata dengan suara yang manja.
"Semuanya."
"Maksudnya?"
Kak Rio kembali menyentuhkan bibirnya pada bibirku, tapi kali ini dia mengambil lajur kanan melewati pipi kiri ku dan mendekati bagian telingaku yang sensitif, sembari mengecupnya dengan lembut.
"Aku akan melakukannya disini," ucapnya dengan suara yang sangat pelan di telingaku.
"Sayang .... " sahut ku sambil bergerak gelisah dengan suara yang terdengar sangat berbeda dan manja.
Kak Rio tidak berhenti dan dia menurunkan bibirnya di leher kiri ku. "Aku juga akan melakukannya disini," ujarnya sambil terus menyentuh leherku dengan bibirnya.
"Kak .... "
"Dan juga di seluruh bagian tubuhmu yang lain. Tidak akan aku biarkan kering sejengkal pun."
Aku memeluk tubuh Kak Rio dan mengatakan pedanya kalau aku ini sangat sensitif, jadi tolong jangan mengerjai aku seperti ini. Kak Rio tersenyum dan mengatakan padaku, "Besok kalau sudah halal, aku akan melakukannya hingga puas, jadi jangan melarangku ya, Sayang."
"Apa pun yang Kakak inginkan."
"Setuju. Sekarang kita sabar dan tahan dulu ya! Setelah wisuda dua bulan ke depan, aku akan segera mencari pekerjaan yang layak. Saat aku sudah cukup mapan, aku akan menikahimu Sarah."
"Aku akan sabar menunggu waktu itu, Kak Rio."
"Aku percaya padamu, Sarah."
"Aku juga percaya padamu, Kak Rio." Lalu ia memberikan kecupan di dahiku.
"Sebaiknya kita jalan sekarang ya Sarah, sebelum bibirku ini nakal kembali. Ha ha ha ha ha ha .... " ucapnya sambil merapikan rambutku yang sudah kusut.
"Baiklah .... "
Heemmh ... aku baru tau kalau Kak Rio ternyata sangat nakal dan bersemangat. Aku pikir dia adalah laki-laki yang dingin dan terlalu santai, ternyata dia sangat hangat. Tidak, bukan hangat, tapi panas. Ucapku di dalam hati sambil tersenyum kecil.
"Jangan senyum-senyum sendiri! Nanti kena serangan bibir lagi baru tau rasa."
"Iiihhh .... " ucapku sambil mencubit sayang pinggang kiri Kak Rio.
"Sayang, sakit! Tapi mau lagi ... ha ha ha ha ha ha ha ha."
"Iiiighhhh ... Kakak jadi nakal banget sekarang."
"Sebenarnya sudah nakal dari dulu, Sayang. Tapi ditahan-tahan aja, takut kamunya syok dan lari," kata Kak Rio sambil menyetir mobil ke arah rumah sakit.
"Eeeemmm ...."
"Aku sudah sangat sulit menahan perasaan seperti ini padamu, Sarah."
"Kenapa begitu Kak?"
"Entahlah. Yang jelas, sejak kejadian kamu jadi perisai ku saat kebakaran di ruang ritual di bawah tanah rumah Bu Puji. Sejak saat itu, perasaanku padamu meningkat drastis."
"Sama, aku juga begitu Kak. Saat Kakak menangkis pecahan beling yang terbang ke arah mataku saat kejadian di rumah Bu Marisa dengan tangan Kakak, sejak saat itu perasaanku semakin dalam."
"Kita tidak tau apa yang akan terjadi pada hubungan kita ini kedepannya, Sarah. Namun yang jelas, apapun yang terjadi aku yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu dan menghapus nama kamu di dalam hatiku."
"Kita hanya bisa berdo'a dan berharap agar kita dipertemukan dalam jodoh dunia akhirat, Kak."
"Amiiiin ... makanya jangan tinggalkan shalatnya dan berdo'a agar kita dijodohkan oleh Allah."
"Amin ... iya Kak, aku mengerti."
*****
Kami tiba di rumah sakit dan langsung menemui Rian plus Feli. Ternyata mereka juga sedang asik berdua. Tidak-tidak, ternyata aku salah. Di dalam kamar Rian, ternyata sudah ada Pak Ahmad yang sedang mengupas apel di ujung ruangan.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘