ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
RINDU


Pagi menjelang, tapi tak satupun kenangan buruk dapat hilang. Jangan trauma! Bisik sisi hatiku yang lainnya seakan mampu melihat dan membaca isi otakku. Tapi mana boleh kita selalu terpuruk dan mengingat segala hal buruk. Hidup harus dijalani. Jadi, berjalanlah pada arah yang indah dan bercahaya.


"Sarah ... bangun! Sebentar lagi dokter visit akan datang. Ayo bersihkan wajah ayah! Ayah ingin tampak segar agar bisa segera pulang ke rumah."


"Iya Yah," jawabku sambil menguap dan mengucek kedua mataku.


"Setelah ini kamu mandi ya, Nak! Kamu terlihat kusut."


"Iya Ayah."


"Oh iya. Dimana Rio?"


"Lagi mengurus KKN yah. Mungkin masih survey lokasi."


"Pantas ngak pernah kelihatan. Apa dia ngak rindu ya?"


"Ha, apa Yah?" tanyaku karena ragu dengan pendengaran ku.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Tidak tidak ... Ayah hanya bercanda."


"Uh ... Ayah ini. Nyebelin."


"Apa kalian berdua pacaran?"


"Ngak mau jawab Yah."


"Ngak usah malu ataupun takut! Kamu sudah dewasa, jadi wajar saja kalau jatuh cinta. Itu hal yang normal Sarah, asal jangan kebablasan saja ya, Nak!"


"Iya Yah ... makasih ya Yah."


Tak lama setelah aku membersihkan wajah Ayah, dokter visit bersama dua orang perawat lainnya datang dan langsung memeriksa Ayah. Menurut Dokter, Ayah sudah bisa pulang besok siang.


Ayah, ayo makan cemilannya! " ujar ku sambil terus menyuapi Ayah.


"Sarah, Ayah tidak tau apa yang akan terjadi pada Ayah jika kamu tidak bersama Ayah. Ayah tau, sebenarnya lebih enak, nyaman, dan aman bagimu untuk tinggal bersama Paman dan Bibik."


"Mungkin Ayah memang benar soal itu. Tapi aku merasa lebih bahagia tinggal bersama Ayah. Selama ini aku selalu bertanya di dalam hati, mengapa aku tidak hidup bersama Ayah dan ibu?"


"Heeemh ... Ayah sangat trauma setelah kehilangan Tania saat itu karena Ayah yang berada di rumah. Jadi Ayah merasa lalai dan selalu menyalahkan diri Ayah sendiri atas hilangnya Tania. Ayah tidak ingin hal buruk terjadi untuk yang kedua kalinya. Ditambah lagi dengan kondisi ibu saat itu yang depresi berat, ternyata dia bukan ibumu yang sebenarnya Sarah."


"Iya Yah, sekarang aku sangat mengerti alasannya. Tetap saja semua itu demi kebaikan ku kan, Yah?"


"Ia Sarah, itu fakta bukan mengada-ada," kata Ayah sambil memandang ke ujung kakinya dengan mata yang sayup.


"Ayah, apa Ayah percaya jika roh bisa meminta pertolongan atau memberikan sesuatu?"


"Tadinya tidak Sarah, tapi setelah kejadian Tania, Ibumu, dan si Mbok. Ayah jadi sangat percaya. Menurut Ayah, selama masih ada kasih sayang dan ikatan yang kuat, selama itu juga hubungan akan terus terjalin walaupun pada dasarnya mereka sudah tiada."


"Tania pernah bilang Yah, katanya "Tubuhku saja yang pergi tapi tidak dengan hatiku."


"Tania adalah anak yang hebat dan Kakak yang kuat. Sayang saja saat itu dia masih kecil Yah, seandainya dia adalah gadis dewasa, maka tidak akan sulit baginya untuk mengalahkan Tante Rima."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha ha, kamu benar Sarah, " tawaku dan Ayah saling bersahutan.


"Permisi .... "


"Silahkan masuk! " jawabku.


Seseorang masuk dengan senyumnya yang menarik dan pakaian yang sopan, tanpa robekan di celana ataupun baju jaketnya. "Maaf, Rio baru pulang dari survei lokasi tadi malam dan Rio baru tahu tau tentang kejadiannya, jadi Rio baru bisa datang sekarang Om," ujar Kak Rio memberi penjelasan kepada Ayah.


"Rio, iya ngak papa. Semua baik-baik saja."


"Ini ada makan siang dari Mama. Mama dan Papa belum bisa jenguk Om, soalnya Sinar sedang panas tinggi dan Papa juga harus ke luar kota pagi ini. Jadi Mama menitipkan ini," kata Kak Rio sambil menyodorkan rantang stainless berwarna silver.


"Jangan repot-repot Rio."


"Ngak repot kok Om. Mama yang masak tadi dan Rio cuma gendong Sinar aja."


"Sinar sakit apa?"


"Panas tinggi dan diare Om."


"Anak kecil biasa sakit begitu apalagi kalau tambah umurnya, biasanya mereka sakit dulu terus baru pintar."


"Iya Om."


Kak Rio melihat ke arahku dan tersenyum. "Kamu ngak papa Sarah?" tanya Kak Rio dalam jarak yang cukup jauh.


"Iya Kak, aku baik-baik saja. Ayah dan Feli yang terluka."


"Dimana Feli?"


"Ada di ruangan ujung Kak."


"Nanti kita jenguk bersama ya."


"Iya Kak."


"Ayo silahkan duduk Rio. Om mau ke kamar mandi sebentar," ujar Ayah yang tampaknya sengaja memberikan sedikit ruang dan waktu buatku dan Kak Rio.


Kak Rio membantu Ayah berdiri dan aku segera mematikan aliran cairan infus dan mengangkat botolnya. Sesampainya di pintu kamar mandi, Ayah bilang, "Sampai disini saja! Ayah bisa kok. Badannya sudah enak dan ngak gemetaran lagi."


Aku dan Kak Rio melihat ke arah Ayah dan menutup pintu kamar mandinya. Saat aku akan meninggalkan pintu kamar mandi, Kak Rio menarik tangan kanan ku dan berkata, "Rindu kamu Sarah," ujar Kak Rio, lalu ia memberikan aku kecupan hangat di dahiku.


Aku mengangkat wajahku dan menatap mata Kak Rio dalam-dalam. Saat mataku dan matanya bertemu, aku bisa melihat pelangi dan binaran cahaya cinta yang kuat. "Aku-aku juga begitu Kak," ucapku dengan suara yang terbata-bata.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, dengan segera Kak Rio menjaga jaraknya denganku. "Bagaimana Om, segeran setelah cuci muka?" tanya Kak Rio sambil menarik nafasnya yang panjang.


"Permisi .... " Terdengar suara yang sangat ramai dari luar pintu kamar perawatan Ayah. Kak Rio membawa Ayah ke ranjangnya, sementara aku membukakan pintu kamar.


"Sarah ...."


"Pak, apa kabar? "


"Sehat. Ini teman-teman dari kantor Ayahmu pada datang buat menjenguk," ujar Papanya Indah dengan senyum yang lebar.


"Iya Pak, silahkan masuk," kira-kira ada sekitar 8 orang rekan kerja ayah yang menjenguk dan itu membuat Ayah tampak lebih bahagia dan bersemangat.


Aku segera mendekati Ayah yang sudah duduk di atas ranjang, lalu aku mulai memainkan jari tanganku untuk longgarkan kembali saluran infus agar bisa berjalan normal seperti biasanya. Setelah itu, aku langsung menyajikan minuman dan makanan alakadarnya bagi rekan-rekan kerja Ayah.


"Ini anak kamu Dy?"


"Iya Pak Yoan," jawab Ayah pada temannya yang terlihat dari keturunan Cina.


"Dia punya aura yang bagus, ini anak lahir tahun berapa?" bertanya sekali lagi.


"Tahun 1987."


"Owh ... ini 2006, masih muda. Shio kelinci ya, pembawa keberuntungan."


"Apa benar begitu? " tanya Ayah mulai penasaran.


"Ini berdasarkan perhitungan kita olang. Shio Kelinci itu memiliki sifat cenderung lembut, pendiam, anggun, dan waspada dengan cepat. Mereka juga merupakan orang yang terampil, baik hati, sabar, dan sangat bertanggung jawab. Namun, mereka juga mungkin agak sedikit dangkal, keras kepala, melankolis, dan terlalu bijaksana," jelasnya.


"Oh begitu .... " kata Ayah sambil berpikir dan mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali.


"Iya, kalau sifat dan karakter shio kelinci wanita biasanya, lembut, baik hati, memiliki penampilan yang cantik, sopan, dan memiliki hati yang murni. Kebanyakan Shio Kelinci setia kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, tetapi mereka enggan mengungkapkan pikiran mereka kepada orang lain. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk melarikan diri dari kenyataan."


"Lari dari kenyataan? " tanya Ayah sambil menatapku dan aku membalasnya dengan senyuman.


"Heeemh, Iya. Mereka terlalu berhati-hati dan konservatif, yang bisa berarti mereka kehilangan peluang yang bagus. Makanya mereka membutuhkan bimbingan dari orang dewasa dan orang-orang yang mengerti masalah yang tengah mereka hadapi. Jika tidak, mereka bisa kehilangan diri sendiri, jati diri, bahkan jiwanya," jelas Pak Yoan.


"Heeemh .... " keluh Ayah yang terbayang bagaimana saat aku mengeluh tentang keadaanku.


"Tapi itu kan hanya ramalan dari Cina dan bisa saja Sarah memiliki karakter yang lebih kuat daripada ramalan tersebut, ya kan Pak Yoan?" tanya Papanya Indah sambil memegang kepalaku dan mengelusnya perlahan.


"Iya, benar sekali. Tapi dia gadis yang cantik. Makanya saya bilang, untuk saya saja. Saya punya anak laki-laki muslim yang sekarang sedang bertugas di kepolisian. Orangnya pendiam dan pemalu jadi tidak punya pacar."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha haha ha ha ha ha ha ha, tidak disangka ya ... pertemuan kali ini bisa menjadi ajang mencari jodoh." tambah Pak Salman, salah satu teman kantor Ayah yang lainnya.


"Em em em ... tapi putri saya ini sudah punya soulmate. Sepertinya Pak Yoan harus mengurungkan niatnya."


"Oooh ya ini? " tanya Pak Yoan sambil menunjuk Kak Rio. "Ya ya ya ... mereka masih muda. Biasakan mereka menjalaninya terlebih dahulu. Tapi, tawaran saya akan terus berlaku hingga anak saya belum mendapatkan pasangannya. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha haha ha ha."


Aku hanya terdiam dan tertunduk sambil melirik ke arah Kak Rio yang sudah sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. "Sarah, kalau kamu ingin menjenguk Feli, pergilah Nak! Mumpung Ayah ramai disini."


"Baik Yah. Sarah permisi dulu Pak," ucapku sambil menatap semua orang. "Kak, ayo kita ke ruangan Feli! "


"Baiklah," shahir Kak Rio dengan nada yang malas.


Kami mulai meninggalkan ruang perawatan Ayah menuju ke ruang perawatan Feli. Tapi aku melihat Kak Rio berjalan dengan lambat dan tampak malas. Sepertinya aku tahu apa yang dia rasakan dan aku melihat sekitarku. Karena tampak sepi dari orang-orang yang lalu-lalang, aku langsung memberikan ciuman ku tepat di pipi kanan Kak Rio dan dia terdiam sambil memegang pipi kanan dengan tangan kanannya.


"Aku akan menunggu Kakak berhasil dan memiliki pekerjaan yang layak, kemudian melamar ku. Bagaimana? Apa itu bisa membuat Kakak tersenyum lebar? "


"Sarah .... "


"Heemh ... apa Kak? "


"Ternyata, rasa cemburu itu sangat menyakitkan ya .... " ucap Kak Rio lirih.


"Apa Kak? " tanyaku pura-pura tidak mendengar ucapan Kak Rio sebelumnya.


Kak Rio membelok tubuhnya hingga kami saling berhadapan. "Sarah, kamu memang bukan pacar pertamaku. Dulu, aku pernah mencintai seorang gadis dengan sungguh-sungguh, tapi tanpa alasan yang jelas dia meninggalkan aku. Aku tidak ingin hal ini terjadi kembali di dalam hidupku. Jadi jika aku ada kesalahan, baik dari segi perbuatan maupun perkataan, tolong tegur dan ingatkan aku! Jangan kamu meninggalkan aku. Kecuali jika kesalahan ku benar-benar fatal dan kamu sudah tidak mampu lagi untuk memaafkannya."


"Apakah itu sebuah permintaan? "


"Tidak."


"Heeemh .... "


"Itu sebuah permohonan." Aku melihat Kak Rio dengan tatapan yang lebih berani.


Semakin lama wajah Kak Rio semakin dekat dengan wajahku. Tapi dari kejauhan kami mendengar suara kereta dorong yang biasa digunakan untuk mengantar makanan kepada pasien di setiap ruangannya. Karena hal itu Kak Rio menarik kembali wajahnya dan mengurungkan niatnya untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.


"Heeemh ... padahal aku sudah sangat rindu," keluh Kak Rio sekali lagi.


"Mungkin kita bisa melakukannya di lain waktu."


"Kapan? "


"Setelah Ayah dan Feli keluar dari rumah sakit. Bagaimana? "


"Baiklah ... aku akan sabar menunggu Sarah."


"Itu lebih baik Kak."


Kami mengakhiri keinginan kami yang tertunda dengan bergandengan tangan dan berjalan dengan santai menuju arah ruang perawatan Feli. Tangan Kak Rio terasa hangat di tangan ku dan aku sangat merasa nyaman saat bersama dengan dirinya.


Bersambung....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘