ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PULIH


Feli mendekatiku dan menanyakan tentang keadaannya? Tapi aku belum sanggup untuk menjawab. Aku seperti tumpukan daging yang tidak bertulang.


"Anak itu, dia memiliki bakat yang luar biasa," ucap Paman seakan kagum dengan makhluk ciptaan Allah tersebut. "Aku tidak bisa membayangkan ratusan tahun yang akan datang, tentang bagaimana bocah itu karena sekarang saja dia sudah mampu bagi jiwa," ucap Paman yang sudah duduk di kursi dalam keadaan pulih.


Aku berjalan berdampingan dengan Feli ke kursi tidak jauh dari Paman. Pada saat yang bersamaan, aku melihat Datuk Belang memapah tubuh Kakek Singgih dan membawanya pergi entah kemana.


Sekarang di sekeliling ku hanya tinggal manusia saja dan pandanganku yang sangat ramai sebelumnya hilang. Sepertinya mereka pergi entah kemana aku tidak tahu.


"Bagaimana kondisi Paman?" tanya Rian yang baru buka mulut.


"Paman sudah pulih, Rian. Tidak perlu menunggu waktu lama, sepertinya Nenek sungguh-sungguh ingin melihat Paman dalam keadaan baik."


"Mereka sangat perduli dan setia. Rasanya aneh sekali," ucap Rian yang tampaknya mulai berpikir tentang makhluk-makhluk yang ada di sekeliling nya, walaupun tak kasat mata.


"Bagi kami, jika sudah bertuan, maka nyawa kami hitungannya terakhir. Jika tuan kami, anaknya, suaminya dalam masalah, maka kami yang akan jadi perisainya. Tidak perduli walaupun kami akan menjadi debu," ucap Datuk Belang.


Bagi kami, jika sudah bertuan, maka nyawa kami hitungannya terakhir. Jika tuan kami, anaknya, suaminya dalam masalah, maka kami yang akan jadi perisainya. Tidak perduli walaupun kami akan menjadi debu," ucap ku mengulang perkataan Datuk Belang untuk menjawab pertanyaan Rian.


"Dimana Kakek dan yang lainnya, Datuk?"


"Mereka sedang beristirahat dan aku diminta oleh Singgih untuk selalu bersamamu/mendampingimu."


"Makasih, Datuk."


"Paman, apa Paman mau istirahat di kamar?"


"Tidak, Paman ingin pulang saja. Paman ingin sendiri untuk beberapa waktu."


"Aku mengerti, Paman. Lagipula aku yakin Sarah juga butuh waktu untuk sendiri," ucap Rian yang menatapku dalam posisi yang hanya tertunduk lemas.


"Sarah, terimakasih. Paman pamit ya."


"Sarah, kamu butuh apa?" tanya Feli yang tampak cemas dengan keadaanku.


"Mungkin tidur, Feli. Aku ingin melupakan segalanya."


"Baiklah, aku antar ke kamar ya."


*****


Selang 20 menit berlalu, ayah datang menghampiri dan duduk tidak jauh dari tempat tidur ku. Wajah Ayah tampak sedih melihat keadaanku saat ini. Sebenarnya aku tidak ingin Ayah khawatir padaku, tapi aku sungguh tidak mampu menutupi semua rasa bersalah dan kesediaan di dalam hatiku.


"Tidurlah! Ayah akan menjagamu, Sarah."


"Ayah, kenapa jalan hidupku seperti ini?"


"Ayah yakin ada sesuatu di depan sana yang akan menghampiri dirimu (cobaan berat), hingga kamu diberikan banyak teman untuk bertahan dan berjuang."


"Tapi aku lelah, Yah. Aku ingin tidak perduli, tapi aku tidak bisa."


"Menurut Ayah, jiwa menolong mu itulah yang akan menyelamatkan kamu, Nak."


"Ayah ...."


"Tidurlah ...." sahut Ayah sambil membelai rambutku dan menghisap air hidungnya.


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca