ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
1 BULAN KEMUDIAN


Satu bulan berlalu, Kak Rio kembali mempertanyakan bagaimana tentang perasaanku terhadap dirinya. Tadinya aku pikir Kak Rio sudah cuek bahkan lupa dengan apa yang pernah ia tanyakan epadaku.


Ternyata aku salah, hanya saja dia memang benar-benar memberikan aku waktu untuk berpikir dan aku mengatakan, "Iya aku menerima perasaan cintanya dan aku akan berusaha untuk setia. "


Jujur saja aku merasa bahwa diriku adalah gadis yang aneh tapi beruntung karena aku memiliki Ayah dan juga Kak Rio serta Feli. Aku harap hubungan ini akan selalu terjaga, tidak ada kebencian dan sakit hati, tidak ada penghianatan dan permainan hati, tidak ada konspirasi dan tidak ada perasaan iri hati.


Aku mengatakan pada Kak Rio tentang hubunganku dengan Feli. Aku cukup banyak menceritakan tentang dirinya dan aku merasa bahwa dirinya dan diriku hampir sama sehingga aku meminta Kak Rio untuk memberikan aku peluang waktu demi bersama Feli, bukan hanya untuk bersama Ayah dan dirinya.


Setelah mendengar penjelasanku, tampaknya Kak kak Ruo berusaha untuk mengerti dan ia meminta agar aku selalu mawas diri serta tidak memilih jalan hidup yang salah. Kak Rio mengatakan padaku bahwa, "Aku berniat untuk menjadikan kamu cinta pertama dan istri selamanya. " Kak Rio tidak ingin terjadi sesuatu pada diriku dan aku sangat bahagia dan bangga dengan ucapannya untukku.


Bagaimana dengan Ayah? Tentu saja Ayah setuju dan sangat senang melihat putri satu-satunya bahagia. Ayah juga berpesan agar aku dan kak Rio tidak melakukan hal-hal yang diluar batas sehingga menentang hukum dan adat istiadat di dalam kehidupan norma-norma bermasyarakat.


Ayah yakin kami sudah dewasa dan Ayah memperlakukan kami sebagai anak-anak yang dewasa. Rasanya, hidupku membaik, aura hidupku menerang, aku memiliki cinta dan sahabat sehingga tidak ada lagi rasa ketakutan yang dalam. Walaupun aku masih sering dapat melihat mereka yang tak kasat mata berkeliaran di sisiku.


Sejak kejadian terakhir kali di kampus bersama Kak Linda dan antek-anteknya, hubunganku dengan Feli semakin dekat. Feli sering menginap di rumahku begitu juga sebaliknya.


Selain itu, sudah 1 bulan ini Feli tampak berbeda. Ia lebih ceria, terbuka, rajin tertawa, rajin berbicara, rajin menggoda, rajin mengejek, dan rajin mengintip jika aku sedang bersama Kak Rio. Fali bilang aku dan Kak Rio itu cocok dan punya kesamaan visi dan misi di dalam hidup. Dia pun berdoa, agar aku dan kak Rio menjadi jodoh abadi.


Saat ini Feli sangat terbuka dan selalu bersedia mendengarkan ucapan maupun saran dariku, termasuk untuk tatanan rambutnya. Ternyata setelah dipotong dan dirapikan, ia lebih tampak bersih dan cantik (Rambut Feli dipotong pendek diatas bahu dan poni manja juga menghiasi dahinya).


Aku juga mengajarinya dan memberikannya bedak, lipstik warna nude, serta parfum untuk ia kenakan saat ke kampus. Satu hal yang yang terjadi yaitu salah seorang mahasiswa yang sekelas dengan kami selalu melirik dan mencuri perhatian Feli dan itu selalu menjadi bahan olokan ku terhadap dirinya.


Selama satu bulan ini, aku banyak belajar dari Feli karena setelah aku berusaha untuk menutup mata batin ku melalui Pak Yusuf, ternyata beliau mengatakan bahwa tingkat kesuksesan ritual kami dalam menutup mata batin ku adalah 75%.


Jadi jalan satu-satunya jika aku ingin menutup mata batin ku 100%, maka aku harus siap dengan konsekuensinya yaitu buta. Rasanya aku lebih tidak siap untuk menerima kenyataan jika aku harus buta seumur hidupku.


Jadi, saat ini aku terus belajar bagaimana cara mengendalikan hati dan pikiranku saat aku berpapasan atau bersinggungan dengan makhluk astral. Bagiku Feli bukan hanya sekedar saudara yang baik tapi juga guru yang hebat.


Feli tidak hanya memberikan aku teori dan kata-kata semata melainkan praktek langsung di lapangan sehingga aku mudah memahami apa yang disampaikan oleh Feli. Walaupun hal tersebut terlihat sukar saat Feli mengungkapkannya dengan kata-kata.


Tapi jika dihitung-hitung, dalam 1 bulan terakhir ini aku hanya dapat melihat beberapa bayangan yang menurut Feli auranya sangat kuat. Tapi untuk Aura yang lemah seperti anak kecil dan roh biasa (Tanpa kebencian) akan sangat sulit untuk menyapa atau menyentuh diriku.


Kemudian untuk Kak Linda dan teman-temannya, sejak saat itu aku sama sekali tidak pernah lagi melihat mereka mengerjai orang-orang yang lemah di kampus. Kemudian saat kami berpapasan, mereka lebih memilih untuk diam dan membuang wajah mereka. Tidak masalah menurut aku dan Feli, yang penting mereka tidak menyakitiku atau Feli itu sudah lebih dari cukup.


Pagi ini, aku sudah berjanji dengan Kak Rio untuk berangkat ke kampus bersama-sama. Untuk itu aku bangun lebih awal guna membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan untuk Ayah dan Kak Rio.


Pukul 05.00 WIB (Selepas azan subuh). Aku memilih untuk membersihkan rumah terlebih dahulu. Aku membuka semua jendela, menyapu, lalu mengepel agar rumah terasa lebih segar dan bersih.


Awalnya semua terasa normal-normal saja, namun setelah aku selesai mengerjakan pekerjaan tersebut dan hendak meletakkan sapu di atas gantungan paku, aku merasa bahwa sapu yang aku pegang sangat berat seperti ada sesuatu atau seseorang yang tengah duduk di bagian rambut-rambut pembersih sapu, tapi aku tidak dapat melihatnya.


Pukul 05.45 WIB. Dari sini aku langsung ke dapur untuk membuat sarapan pagi berupa roti hangat oles dan seceret kaca ukuran sedang teh panas. Lalu aku menyusun sarapan pagi tersebut di atas meja makan.


Merasa siap aku berniat untuk kembali kedalam kamarku untuk membersihkan dan merapikan diri. Tapi pada saat aku membalik tubuhku ke arah kamar, tiba-tiba aku mendengar suara seperti seseorang yang tengah memotong-motong sayuran dengan cepat, persis seperti apa yang pernah aku dengar ketika Tante Rima bersamaku di dapur.


Tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak tak ....


Merasa heran karena hanya aku dan Ayah saja yang berada di dalam rumah ini, dan aku sangat yakin bahwa Ayah masih di dalam kamarnya, aku pun segera melangkah lambat menuju ke arah dapur dan melihat meja dimana biasa aku mengiris sayuran tapi tidak ada apapun di sini dan tidak ada siapa-siapa di sini. "Huuuuuh .... " keluh ku sembari menarik nafas dan membuangnya perlahan.


Aku menundukkan kepalaku dan memejamkan kedua mataku untuk bisa lebih berkonsentrasi. seluruh bulu-bulu halus di tangan leher dan tubuhku merinding sesaat setelah aku melakukannya dan aku yakin memang ada sesuatu yang tengah menggangguku sejak tadi.


"Jika niatmu buruk, pergilah dari sini dan jangan pernah kembali lagi !! Tapi jika niatmu baik, maka mudahkanlah aku untuk memahaminya. Siapapun kamu, apapun kamu aku akan menerimanya dengan baik. " ucapku sambil memperhatikan sekitarku tapi setelah 5 menit berdiri di tengah-tengah dapur ini aku sama sekali tidak bisa merasakan apapun, baik itu petunjuk atau aura.


Aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Setelah siap membersihkan dan merapikan diri, aku segera keluar dari kamar. Tapi tiba-tiba boneka milik Tania terjatuh dari atas lemari. "Tania ...." ucapku dengan lembut penuh kasih sayang. Seolah-olah saat boneka itu jatuh, aku merasa tubuh Tania lah yang terjatuh dan aku sangat merasa sedih.


Aku memeluk boneka Tania setelah aku memungutnya dari lantai. Entah mengapa aku sangat ingin membawa boneka ini keluar untuk sarapan bersama ku. Setelah perasaanku cukup senang, aku membalik tubuh dan kembali berjalan ke arah luar kamarku.


Tiba-tiba di ujung tembok tidak jauh dari kalender yang aku sudah tandai hari dan waktu, tubuhku seakan terdorong ke kiri dan melekat di tembok tersebut, seakan-akan ada seseorang yang mendorong ku dengan kuat sehingga aku menatap lama ke arah kalender yang sudah aku beri tanda silang sebanyak 37 kali yang artinya 37 hari.


Aku menatap kalender tersebut dengan mataku yang besar dan aku menyadari sesuatu bahwa ada seseorang yang ingin memberikan aku petunjuk tentang apa yang akan terjadi padaku dalam waktu dekat ini.


Aku menyentuh kalender tersebut terutama dibagian silang merah yang aku berikan. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang buruk terjadi pada Ayah. Aku melihat ada pisau tertancap di perut Ayah dan Ayah memeganginya dengan sangat erat. Darah berserakan di mana-mana, tangisan terdengar sangat kuat. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya? Ini seperti gambaran kotor dari sebuah peristiwa buruk.


"Kak Tania, apa kamu ada disini? Aku rindu .... " ucapku sambil berpikir tentang apa yang akan terjadi dan menangis karena memang sangat rindu dengan sosok Tania yang tidak lagi pernah muncul baik di dalam penglihatanku maupun di dalam mimpi mimpiku.


Aku pun langsung merasakan reaksi pada boneka kak Tania yang ia tinggalkan untuk ku dan aku menyadari sesuatu bahwa Kak Tania memang benar-benar ada disini bersamaku. Aku sangat yakin, petunjuk saat ini adalah gambaran yang ia berikan untuk adiknya yang sangat ia cintai dan selalu ia lindungi selama ini.


Biasanya Kak Tania memberikan aku petunjuk selama 40 hari sebelum kejadian, dan aku menyadarinya sehingga tanpa sengaja aku memberikan tanda ini di kalender kamarku. Berarti, waktu ku kurang dari 3 hari lagi untuk mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi padaku dan Ayah.


Aku harus meminta bantuan kepada Feli. Ucapku di dalam hati sembari menghapus air mataku yang sudah terlanjur membasahi pipi, aku tidak ingin Ayah melihat ku seperti ini. Ucapku di dalam hati.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘