
Malam sangat terasa sejak aku tinggal di rumah ini, seperti ada sesuatu sedang menantikan ku sesuatu yang tidak aku pahami, sesuatu yang tidak bisa aku pikirkan, dan tampaknya sesuatu yang tidak aku sukai.
Bagi sebagian besar orang, malam adalah waktu yang terbaik dan tepat untuk beristirahat tapi beda denganku. Aku tidur cukup lelap disiang hari dan terganggu di malam hari.
Ya ampun, ini sudah pukul 23.00 wib. Tanpa aku sadari, aku sudah melewatkan banyak waktu di kamar ini. Aku bergegas membersihkan diri dan keluar dari kamar untuk mengisi perut yang terasa kosong. "Aku sangat lapar." ucapku sambil berjalan dengan cepat mencari makanan.
"Semoga saja makanan favorit ku masih ada di atas meja makan." kataku sambil berjalan mendekati meja makan. Benar saja, ternyata semur ayam kesukaanku memang masih ada dan itu berhasil membuat aku tersenyum lebar.
Tapi aku tidak ingin makan di sini karena terasa sangat sepi. "Sebaiknya aku makan di kamar saja." Sambil membawa makanan dan minuman ke kamarku. Perlahan saja, aku menikmati makanan ku dengan santai.
35 menit berlalu. "Selesai ...." ujarku sambil mengangkat kedua tanganku ke atas dengan tawa dan semangat yang membara. Mata ringan, perut kenyang, tubuh segar, tapi aku merasa malas untuk membawa piring kotor sisa makan ku ke dapur.
Apa sebaiknya aku meletakkan piring kotor ini di meja kamarku saja? Tapi aku khawatir akan memimbulkan bau tidak sedap di kamarku.
"Hah, aku harus antar ini ke dapur." kataku sambil menggerutu dan berjalan dengan malas.
Setibanya di dapur aku langsung mencuci dan menyusun piring dan gelas makan ku, setelah ini aku berniat untuk kembali ke kamar ku. Seperti biasa aku melewati meja makan sebelum tiba di kamarku.
Tapi baru beberapa langkah melewati meja makan, aku mendengar suara yang tipis namun menusuk di telingaku.
"Cap cap cap cap cap cap cap cap cap cap cap cap cap cap." Itu seperti suara kecapan seseorang yang sedang makan dengan sangat enak, padahal saat aku melewati meja makan tadi, tidak ada siapa-siapa di sana.
Suara itu terdengar sangat keras dan basah sehingga memancing rasa takutku. Penasaran karena yakin dengan apa yang aku lihat sebelumnya kalau disana tidak ada siapapun, aku memberanikan diri untuk melihat ke meja makan.
Sosok perempuan dengan perawakan yang mirip sekali dengan Ibu. Melihat hal tersebut, aku merasa lega, ternyata Ibuku.
"Ibu? " sapaku sambil berjalan mendekatinya. Rasa takut ku mulai berkurang walaupun selama ini aku tidak pernah mendengar Ibu makan dengan mengeluarkan suara kecapan seperti itu karena biasanya Ibu bilang pamali.
Panggilan pertama sudah aku lakukan tapi ibu tidak memberikan respon, mungkin beliau makan terlalu nikmat pikir ku.
"Bu .... " sapaku lembut sambil memegang bahu kanan Ibu. Namun saat iya menoleh aku sangat terkejut hingga aku mundur beberapa langkah.
Aku berteriak dengan histeris, aku sangat kaget saat melihat wajah Ibu yang pucat, matanya putih dengan tatapan yang terasa dingin saat dia memandangi aku, mulutnya mengeluarkan aroma tidak sedap, giginya berwarna hitam, lidahnya panjang dipenuhi darah, seperti sedang memakan bangkai.
Tidak, aku tidak mengenali wajah itu. Sambil terus mundur dan menjauhi sosok menyeramkan tersebut.
Dalam ketakutan ku aku berpikir untuk keluar dari rumah ini, aku tidak mau di rumah ini. Ini bagaikan teror yang tiada hentinya. Dengan sigap aku berlari hendak keluar rumah pintu depan terkunci dan kuncinya tidak ada disini (tidak ada di pintu).
Sosok itu seakan terus mengikuti ku sehingga membuat aku sangat ketakutan dan kedua kakiku menjadi lemah untuk melangkah.
Aku memutuskan untuk keluar lewat pintu belakang, pintu dekat gudang tua karena di sana pintu hanya di kunci dari dalam dan aku pasti bisa membukanya, pikirku.
Aku mengumpulkan tenaga dan berlari, kali ini langkahku lebih cepat dari pada sebelumnya. Aku membuka pintu ke arah gudang tua, ini adalah pintu sebelum menuju pintu keluar tapi langkahku terhenti.
Aku melihat sosok yang aku kenali.
"Si mbok?" Sepertinya aku melihat si mbok berdiri di depan ku walaupun jaraknya cukup jauh tapi aku sangat jelas melihat si mbok.
Perlahan, aku melangkah mendekati si mbok. "Ya ampun mbok, si mbok kemana saja? Aku mencari si mbok. Kenapa pakaian si mbok basah semua?" tanyaku sambil mengusap air mata yang terlanjur menetes.
"Iya Non." jawab si mbok singkat.
"Si mbok dari mana? Aku terus bertanya sambil menangis.
"Si mbok di sini saja kok Non." sahut si mbok sambil berdiri di tempat gelap.
"Mbok, ayo kesini mbok! Kenapa berdiri di genangan air seperti itu? Nanti si mbok sakit." ujarku sambil menggerakkan tangan kanan mengajak si mbok bergerak ke arahku.
"Terimakasih Non ...." Si mbok terlihat kaku dan dingin, tidak seperti biasanya.
"Mbok, di dalam ada sesuatu mbok. Ada setan mbok, aku takut sekali." kataku mengadu dengan suaraku gemetaran.
"Sudah, nggak perlu takut Non, ada si mbok." ujar si Mbok melangkah menuju ke arah ku.
Dengan langkah pasti si Mbok mendahului tubuh ku dan masuk ke dalam rumah. Kami tiba di ruang tengah, mataku hanya tertuju pada meja makan, tapi tidak ada apapun disitu, tidak ada siapapun. "Tadi ada di situ mbok, di meja makan." kataku sambil mengisap air hidung ku yang terasa cair.
"Lihat lagi Non! Tidak ada apa-apa kan? "
"Iya mbok, tapi aku sangat yakin melihat makhluk itu." sahut ku sambil terus berjalan ke arah kamar berdampingan dengan si Mbok.
"Ndak perlu Non, si Mbok nggak papa kok. "
"Jangan gitu Mbok, selama ini si mbok selalu menjaga dan mengurus aku. Malam ini juga si mbok sudah menyelamatkan aku dari ketakutanku Mbok."
"Itu sudah jadi tanggung jawab si mbok Non." berkata dengan pandangan lurus kedepan.
"Tapi Mbok." ujarku masih berusaha membujuk.
"Sudahlah Non, sebaiknya Non tidur, ini sudah larut malam."
"Tapi aku takut Mbok ...." ucapku sambil menangis kembali.
"Ndak usah takut! Si mbok akan menemani sampai non Sarah tertidur. Setelah non Sarah tidur, si mbok baru ganti pakaian", balik membujuk ku.
"Janji y mbok!"
"Iya Non." ujar si mbok dan aku berjalan terlebih dahulu ke kamar, aku ingin mencari pakaian yang pantas untuk si Mbok.
Aku mencari pakaian ganti untuk si mbok di lemari pakaian ku, dan si mbok berada tepat di dekat pintu masuk kamarku. Aku mencari dan mengeluarkan baju tidur bermotif batik dengan harapan si mbok mau memakainya.
Sambil tersenyum aku menutup pintu lemari ku. Tanpa sengaja, aku melihat kaca besar yang menempel di pintu lemari, tapi dari kaca itu aku melihat tidak ada si mbok di dekat pintu kamar ku.
Perlahan aku memutar kepalaku melihat ke arah si Mbok tapi si Mbok masih berdiri disitu. Seharusnya bayangan si mbok ada di dalam kaca ini sama seperti aku, gumam ku di dalam hati.
Pikiranku mulai terusik namun si mbok memanggil ku sehingga pikiranku teralihkan.
"Non ...."
" I - iya, iya mbok." sahut ku dengan suara yang terbata-bata.
"Ayo cepat tidur Non, tunggu apa lagi? Ini sudah lewat tengah malam. " Tiba-tiba aku merasa suasana di kamar ku berubah, yang semula hangat menjadi dingin.
"Baiklah mbok, iya. " ucapku sambil meninggalkan lemari pakaian dan menuju ranjang ku.
"Mbok ini pakaian buat si Mbok, jangan lupa ganti pakaian y mbok ...!" kataku seraya merebahkan tubuh di atas ranjang.
"Iya Non." sahut si Mbok sambil tersenyum kecil dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sebenarnya aku takut pada si Mbok malam ini tapi aku tetap merasa nyaman. Ini perasaan yang aneh, berbicara di dalam hati sambil terus memejamkan mataku.
Aku berharap apa yang aku lihat tadi hanyalah halusinasi semata, mungkin karena penglihatan ku yang tidak menentu jadi aku tadi melihat si mbok tidak ada di dalam cermin, aku terus mencoba menenangkan hatiku.
Si Mbok mendekat dan membelai rambutku, dari jarak yang cukup dekat ini, aku bisa merasakan kalau seluruh tubuh si Mbok dingin. Mungkin karena pakaian si Mbok basah dan belum di ganti.
"Tenanglah Non, tidurlah! Si mbok di sini menemani si Non dan menjaga si Non. " ujarnya sambil terus mengelus kepala ku.
Perkataan si mbok mampu menenangkan hati dan pikiran ku. "Mbok bisa tolong menyanyikannya lagu pelangi-pelangi?"
"Iya Non, bisa. " jawab si mbok.
"Pelangi-pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru. Pelukismu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan tuhan".
Si mbok mengulang kembali lagu itu, tapi kali ini terdengar suara yang lirih dari si mbok. seperti hatinya tengah tersayat sayat, sesekali isak tangis terdengar dari bibirnya.
Suasana menjadi semakin beku, entah mengapa aku merasa haru, seperti larut dalam suasana yang aku tidak ketahui. Ada sesuatu yang begitu berat, sesuatu yang sangat menyakitkan bagi si mbok.
Perasaanku ini sama dengan perasaanku pada saat aku melihat bayangan Tania menyanyi bersama adiknya di hadapan ku, dingin dan membeku.
Aku berfikir, apa ini karena si mbok menyanyikannya dengan penuh perasaan? atau aku seperti ini karena memang lagunya? lagu ini sangat familiar untukku.
"Huuaaaaah, aku mengantuk dan ingin tidur Mbok, makasih untuk tetap di sini ya mbok." ucap ku sambil tersenyum.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘