ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
IMAM GAIB


"Assalamu'alaikum," ucap sosok yang sangat mirip dengan Mbah Siji.


"Waalaikum salam warohmatulohi wabarakatuh."


"Ini adikku, Ndok. Namanya Wisnu."


"Iya, aku sudah pernah bertemu dengannya."


"Mosok?" tanya Mbah Siji, tampak sangat kaget.


"Ealah ... Jangan-jangan dia yang kamu ceritakan, Sarah?" tanya Wiro sambil menatapku dan melihat ke arah Mbah Pecek.


"Iya, tapi nggak ada yang percaya padaku."


"Habis ndak nyangka Kok, Sarah."


"Iya, aku mengerti. Silahkan duduk Mbah Wisnu," ucap ku sambil mempersilahkan nya duduk di pendopo.


Mbah Wisnu melihat ke arah ku tanpa henti, lalu sekali-kali ia juga melihat ke arah yang lainnya. Mungkin di dalam hati ia bertanya, kenapa bisa seperti ini? Tuannya muslim, tapi pengikutnya dari golongan hitam.


"Aku ndak tahu kalau nama rambet ku itu Siji."


"Itu nama pemberian tuanku sebelum Sarah," jawab Mbah Siji.


"Oh begitu." Mbah Wisnu mulai memahami situasinya.


"Dan kamu, bagaimana kamu bisa sampai ke sini?" tanya Mbah Siji sambil terus memperhatikan adiknya tersebut dari atas kepala hingga ujung kaki. "Beberapa ratus tahun yang lalu, aku pernah mencari kamu dan yang lainnya di gua dimana Bapak dan Ibu meninggalkan kita bertujuh. Tapi aku ndak menemukan kalian semua."


"Aku juga ndak tau yang lainnya dimana saat ini, yang jelas dua sudah binasa. Sementara yang lainnya diambil oleh orang pintar untuk dimanfaatkan sebagai alat pembunuh karena rata-rata mereka tipe petarung. Tidak sama seperti ku," ucapnya sambil tertunduk.


"***Siapa yang sudah binasa?"


"Kang Ambarawa dan Kan Guama. Mereka binasa karena menyelamatkan aku, waktu itu aku mau dikerangkeng***." Mbah Siji tampak mengeluh dan bersedih setelah mendengar cerita dari adik bungsunya tersebut.


"***Lalu kamu gimana bisa sampai ke sini, Wisnu?"


"Tujuh hari yang lalu, aku bertemu dengan gadis ini saat aku ingin mengumandangkan suara adzan di langit tertinggi untuk mengantarkan tuanku menemui ajalnya. Dia bertanya kepadaku, mau ke mana Mbah siji? begitu. Tapi aku balik bertanya siapa Siji?"


"Lalu? "


"Setelah tuanku tiada, aku dikeluarkan dari istana karena mereka menganggap jika memeliharaku sama dengan dosa syirik karena keturunan Rajaku adalah muslim yang tidak bisa menerima kehadiranku. Tapi mereka sadar akan bantuanku selama ini, jadi mereka menyiapkan sebuah masjid besar di lingkungan istana dan meletakkan ku di sana***."


"Maksudnya Tuan mu adalah seorang raja, Mbah?" tanyaku yang sangat penasaran.


"Ia, di daerah Timur Negri. Sekitar 3 hari yang lalu aku selalu terngiang pertanyaan ucapan dan juga wajahmu, sepertinya ada ikatan batin yang membawaku untuk mencarimu dan dengan indra penciuman ku yang kuat, aku dapat menemukan rumah ini di mana kamu berdiam."


"Harusnya kamu Bertanya saja baik-baik jika kamu tidak menyerang, maka aku juga tidak akan menelanmu. Jadi jangan takut!" kata Mbah Pecek dengan matanya yang besar seperti seseorang yang sedang mengancam musuhnya.


Mbah Wisnu tersenyum dan mengatakan, "Tidak ada satupun yang aku takutkan di atas dunia ini kecuali, Allah. Aku hanya tidak ingin bertarung dan aku datang ke sini bukan untuk menjadi musuh melainkan mencari jawaban atas pertanyaan di dalam hatiku," sahut Mbah Wisnu sambil menatap Mbah Pecek.


"Untung kami tidak menyerangmu secara tiba-tiba," sambung Wiro, "Karena siapapun yang mengancam Tuan kami pasti akan berurusan dengan kami."


"Aku hanya ingin mencari tahu kebenaran tentang siapa Siji, tapi tadi wajah kalian semua tidak ada yang aku kenali."


"lah Iya, soalnya aku di dalam menjaga perbatasan akhir," sahut Mbah Siji memberi penjelasan kepada Mbah Wisnu mengapa ia tidak keluar rumah atau tidak menampakan diri. "Aku merasa ada sesuatu yang buruk akan menimpa Sarah," sambungnya.


"Jika Mbak Wisnu tidak memiliki tuan, bagaimana jika Mbah di sini saja tinggal bersamaku dan ikut membantuku untuk mengajarkan tentang ilmu agama kepada semua yang ada di sini? Bukankah itu pahala yang luar biasa besar?" tanya ku seolah mendapat jawaban dari pertanyaan sebelumnya tentang apa yang harus aku lakukan pada parewangan titipan Nenek Nawang Wulan.


"Untuk itu aku harus memikirkannya terlebih dahulu karena ini bukanlah hal yang mudah. Kita yang benar-benar mengerti dan dapat melihat seperti kamu Sarah, maka kamu harus menyiapkan jiwa dan raga untuk melakukan semua ini karena ini benar-benar sangat berat. Ketika mereka semua menyebut dua kalimat syahadat dan masuk ke dalam agama Islam, maka mereka harus siap menerima konsekuensinya."


"Aku ingin menunaikan keinginan ku untuk semua yang dititipkan oleh nenek Nawang Wulan kepadaku. Lagipula aku sangat ingin menjadi seseorang yang meninggal nya bukan dipersulit karena memiliki banyak pengawal gaib seperti kalian semua. melainkan aku ingin saat aku meninggal dunia aku bisa mendengarkan suara azan dari pendampingku seperti yang baru saja dilakukan oleh Mbah Wisnu."


"Bisa tinggalkan kami berdua saja?" tanya Mbah Wisnu kepada yang lainnya karena ia ingin berbicara empat mata terhadap diriku.


"Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu itu, Sarah?" tanya Mbah Wisnu kembali setelah yang lainnya pergi.


"Iya. Dan selama ini aku selalu mencari jalan keluar untuk urusanku yang satu ini."


"Begini, aku akan memberikan gambaran kepadamu."


"Iya, Mbah."


"Saat azan berkumandang, maka kulit mereka akan terbakar hingga tuannya mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat nya. Bagi mereka yang kuat, mereka akan mampu untuk bertahan dan jika mereka lemah atau dalam keadaan sakit (terluka), maka kemungkinan besar mereka akan binasa."


Aku menghela nafas panjang seketika setelah mendengarkan informasi yang Mbah Wisnu sampaikan kepadaku. Aku sama sekali tidak tahu bahwa hal seperti ini akan terjadi.


"Kalau begitu, bagaimana jika aku dalam keadaan tidak bersih atau datang bulan karena aku ada seorang wanita yang setiap bulannya mendapatkan masa kotor?"


"Kamu bayangkan sendiri hal itu, Sarah! Makanya sejak awal aku katakan ini sama sekali tidak mudah."


Aku sangat bingung dan terdiam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan perbuat. Kedua tanganku mulai gemetaran mengingat tanggung jawab yang diberikan kepada aku dari nenek nama Wulan.


"Tapi perlu kamu ingat satu hal, Sarah. Bahwa makhluk yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat (kembali pada jalur islam), maka ia akan kembali menjadi suci apalagi jika mereka dari golongan hitam termasuk para jin. Jika pun dipertimbangkan antara dosa dan pahala, namun kita tetap saja berharap pada akhirnya mereka akan mendapatkan surganya Allah."


"Bukan hanya mereka, tapi juga kita semua Mbah."


"Amin. Aminnya rabbal alamin."


"Amin ... Allah itu maha baik, aku yakin akan ada ampunan bagi kita semua."


"Jadi apa keputusanmu, Sarah?"


"Aku tetap ingin menjalankan niat ku, Mbah."


"Aku ada saran. Yang pertama, kamu perlu menanyakan kepada mereka tentang siapa yang masih ingin tetap bersamamu dengan konsekuensi mengikuti semua aturan mu, termasuk masuk dalam ajaran agama Islam. Sementara makhluk yang tidak mau, kamu harus ikhlas melepaskan nya."


"Itu ide yang bagus Mbah karena walaupun sakit dan menderita, jika mereka ikhlas, Insyaallah semuanya akan baik-baik saja termasuk binasa," ucap ku dengan suara yang lemah.


"Dan menurutku untuk mengurangi rasa sakit yang kamu tanggung, sebaiknya aku membawa mereka bersamaku. Biarkan mereka tinggal di masjid yang sudah disiapkan untuk ku, agar kami sama-sama bisa belajar dan menuntut ilmu di sana tanpa kamu harus melihat mereka terluka."


"Benar."


"Tapi, sebelum mereka melakukan semuanya. Kamulah orang pertama yang harus ikhlas Sarah dan kamu harus menyadari satu hal. Jika mereka nantinya kembali, maka mereka akan sama sepertiku secara wujud. Namun jika mereka tidak bisa kembali bersamaku, berarti mereka sudah berjuang keras sebelum binasa untuk menjadi seorang muslim yang hanya menyembah kepada Allah."


"Aku paham, Mbah."


"Alhamdulillah. Kuatkan hatimu, Sarah! Karena kemungkinan besar mereka tidak akan mau meninggalkan mu dan ikut denganku, jika kamu dalam keadaan lemah. Bagi mereka, keselamatan dan nyawa tuannya adalah hal yang paling utama."


Aku menganggukkan kepalaku tanpa suara karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengatakan hal apapun. Entah bagaimana aku mulai merasakan kasih sayang yang begitu besar kepada makhluk-makhluk hitam yang berada di sekelilingku dan sebenarnya aku tidak sanggup jika harus mendengarkan mereka binasa.


"Baiklah, Sarah. Jika kamu sudah siap, maka aku juga akan siap. Ambillah air wudhu dan aku akan menyatukan diriku, padamu."


Bersambung.


Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.